Sedikit Tentang Pahlawan Revolusi Iran


Khomainy Namanya
Tokoh yang sudah akrab dan jelas bagi sebagian kita. Jelas akan kebenciannya, jelas akan permusuhannya, dan jelas tentang akidah yang dianutnya. Tak seorangpun dibiarkannya berada dalam kebingungan tentang sosok, keyakinan dan pemikirannya. Sebab semuanya telah dikumpulkannya dalam buku dan khutbah dengan penjelasan yang begitu gamblang.
Dalam lembaran-lembaran ini  kita akan mengenal siapa sebenarnya Khomainy. Mengenalnya langsung melalui sekelumit kenyataan yang menggambarkan  tentang sosoknya. Mengingat telah lama kebenaran tentangnya disembunyikan oleh para pengikutnya. Padahal Khomainy pun tak menginginkannya. Gambaran-gambaran menjemukan tentang sosok Khomainy telah lama mereka lukiskan dengan penghormatan yang berlebihan, bahkan sampai-sampai mereka beranggapan bahwa dialah satu-satunya pintu mengenal akidah Islam.
Mengenalnya Langsung
Alih-alih menjadikan perkataan para pengikut Khomainy sebagai acuan, lebih baik kita merujuk langsung ke Khomainy itu sendiri guna menyingkap hakikat  jati dirinya. Tidak diragukan lagi bahwasanya pada akhirnya tulisan ini akan jadi penuh sesak. Sebab telah kami tekadkan agar faktalah yang berbicara. Demikian tulisan ini dibuat.
Dua Puluh Lima Fakta Tentang Khomainy
Khomainy  berkata: “Kami tidak menyembah Tuhan yang membangun sebuah bangunan tinggi dari ketuhanan, keadilan dan agama lalu kemudian menghancurkannya dengan tangannya sendiri”.
“ Kami menyembah Tuhan yang kami tahu perbuatannya dibangun atas dasar logika dan bukan yang bertentangan dengan hal itu. Tidak ada Tuhan yang membangun sebuah bangunan tinggi dari ketuhanan, keadilan dan agama lalu kemudian menghancurkannya dengan tangannya sendiri . Tidak ada Tuhan yang mengamanahkan pemerintahan kepada Yazid, Muawiyah, Utsman dan yang semisalnya dari kalangan Muhajirin. Tidak ada Tuhan yang tidak menentukan sepeninggal  Nabi Muhammad hingga hari akhir zaman orang-orang yang diperlukan dalam pemerintahan, sehingga tidak ada celah membangun sebuah kezhaliman”.  [Kasyfu al-Asrar, 116-117]
Khomainy mengakui adanya perombakan dalam al-Quran.
“ Sesungguhnya hanya Yang Mulia Wali Allah Ali bin Abi Thalib sajalah yang sanggup mengemban al-Quran adapun selain beliau tidaklah sanggup kecuali jika manusia itu sanggup berpindah dari alam ghaib ke alam nyata, mengalami perubahan layaknya malaikat dan menguasai semua bahasa yang ada di dunia. Inilah salah satu makna dari perombakan yang terdapat dalam setiap kitab ketuhanan, al-Quran dan dalil-dalil lainnya. Setelah mendapati begitu banyak perombakan kucantumkan hal tersebut dalam kitab Mutanawilu al-Basyar berdasarkan kedudukan dan tingkatan ….? Dan Jumlah perombakan yang ada menyamai jumlah isi al-Quran. Sama persis. [Al-Quran Bab Ma’rifatillah, 50]
(Catatan: Khomeini mencoba berfilsafat dengan berpendapat adanya perombakkan. Akan tetapi apa manfaat dari hal tersebut? dalam hal ini ia tidak mungkin bisa ngeles sebab pendapatnya tentang perombakkan al-Quran sudah sangat jelas.)
Khomainy menyimpang dalam memahami ayat-ayat Allah dan menafsirkan firman Allah yang artinya { supaya kalian meyakini pertemuan dengan Rabb kalian } dan berkata: “Rabb kalian maksudnya adalah Imam”.
“ Allah berfirman yang artinya : { …supaya kalian meyakini pertemuan dengan Rabb kalian …}[ar-R’ad: 2],  yang dimaksud dengan Rabb kalian ialah imam. Maka lihatlah betapa penuh hikmahnya kalam Allah dan betapa sempurnanya ciptaan-Nya”. [Mashabih al-Hidayah Ila al-Khilafah wa al-Wilayah, 145].
(Catatan: lihatlah bagaimana penyimpangan Khomainy terhadap firman Allah dan  penyelewengan makna yang dilakukannya. Lihatlah sikap ghuluw dan syirik nampak begitu jelas dari perkataannya.)
Khomainy berkata:  sesungguhnya Nabi ShAllahu Alahi Wa Sallam tidak berhasil dalam dakwahnya.
“Perkara  hilangnya imam adalah perkara penting yang menjelaskan kepada kita bahwasannya tidak seorangpun dari anak Adam sanggup menunaikan sebuah tugas besar – yakni penerapan keadilan dalam makna yang sebenarnya di seluruh dunia- kecuali Imam Mahdi al-Muntazhar salamullah ‘alaih yang diutus Allah kepada manusia. Seluruh Nabi diutus hanyalah untuk menegakkan keadilan namun mereka tidak berhasil. Bahkan penutup Nabi yang datang untuk memperbaiki keadaan umat  juga belum berhasil menerapkannya. Dan sesungguhnya yang akan berhasil dalam menegakkan keadilan diseluruh dunia hanyalah al-Mahdi”. [Mukhtarat Min al-Ahadits Wa al-Khutabats li al-Imam al-Khomainy, 2/32]
(Catatan: apakah ada celaan kepada Nabi yang lebih keras dari celaan di atas? Apakah ada perkataan musuh Allah yang lebih buruk dari perkataan di atas?)
Khomainy menuduh bahwasanya Rasulullah takut menyampaikan risalah karena khawatir Quran akan dirubah.
“Tampak jelas dari dalil-dalil yang ada bahwasanya ada kegentaran dalam diri Nabi untuk menyampakan risalah imamah kepada umat. Setiap yang merujuk kepada sejarah pasti akan mengetahui bahwasanya kegentaran tersebut adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi kemudian datanglah perintah Allah untuk menyampaikannya dan Allah menjamin keselamatan beliau.” [Kasyf al-Asrar, 150]
“ Sejak awal sudah kami tegaskan bahwasanya Nabi menahan diri dari mengarahkan langsung  dakwah beliau pada imamah karena khawatir akan terjadinya perubahan terhadap al-Quran sepeninggal beliau.” [Kasyfu al-Asrar, 149]
(Catatan: Dalam hal ini Khomainy menyampaikan seburuk-buruknya penghinaan. Tidak cukup baginya menyandangkan sifat gentar dan takut pada diri Rasul. Bahkan menciptakan baginya ‘udzur yang mungkin tidak akan terlintas dalam benak kaum muslimin bahkan munafiq sekalipun. Taruhlah misalnya kita menerima apa yang ia  katakan bahwasanya Nabi takut -Maha suci Allah yang menjauhkan dari beliau rasa takut dalam menaati perintah Allah- apakah khawatir al-Quran akan dirubah sepeninggalnya layak menjadi penyebabnya? Apakah Rasulullah lupa? – Maha Suci Allah yang menjauhkan beliau dari hal tersebut- Allah telah menjamin akan menjaga kitabnya. Atau apakah ia ragu? –Maha Suci Allah yang menjauhkannya dari hal tersebut- dengan kejujuran beliau. Tidak ada yang lebih diutamakan Khomainy selain berkhidmat pada madzhabnya. Untuk hal itu ia bahkan telah siap menohok Allah dan Rasul-Nya. Betapa beraninya ia memesan tempat di neraka.)
Khomainy menuduh Rasulullah telah gagal dalam berdakwah
“Dan jelas sekiranya Rasulullah telah menyampaikan perkara imamah sebagaimana mestinya tentunya Allah tidak akan memerintahkannya lagi untuk hal tersebut dan tidak perlu mengerahkan upaya dalam menunaikan perkara ini. Juga tidak akan tumbuh perbedaaan, pertengkaran dan peperangan di negri- negri Islam. Serta tidak akan muncul perselisihan dalam hal ushul dan furu’ dalam agama ini”. [Kasyfu al-Asrar, 155]
“ sesungguhnya seluruh Nabi telah diutus untuk meletakkan kaidah-kaidah keadilan di muka bumi akan tetapi mereka tidaklah berhasil bahkan penutup para Nabi yang diutus untuk memperbaiki keadaan umat dan mewujudakan keadilan juga tidak berhasil dalam merealisasikan hal tersbut”. [diambil dari Khutbah Maulid Mahdi 1400 H. Lihat Kitab Nahju Khomainy halaman 46].
(Catatan: Bagaimana mungkin seorang alim ulama apalagi rujukan dakwah Islam mensifati Nabi bahwasanya beliau tidak menyampaikan risalah sebagaimana yang diiginkan Allah. Lalu sesuai keinginan siapa? Khomeny belum lagi menjawab pertanyaan ini. Sebelumnya ia menuduh Rasul itu takut dalam menyampikan risalah dan kali ini setelah datang keberanian dalam menyampaikan- dituduhnya lagi dengan kegagalan dalam menyampaikan risalah. Agama apa yang dianut orang ini? Keyakinan macam apa yang dipegangnya?! Dalam hal ini para ulama menyatakan bahwasanya perkataan seperti ini adalah perkataan orang zindiq dan tidaklah keluar dari lisan seorang muslim.)
Khomainy berkata: Sesungguhnya Nabi tidaklah sanggup membangun pemerintahan sebagaimana yang diinginkannya.
“ Dua hal yang membuatku sedih salah satunya yang lebih kusesalkan adalah sejak awal Islam dan Nubuwah tidak ada seruan untuk mewujudkan pemerintahan sebagaimana yang Islam inginkan. Walhasil pada zaman Rasul pemerintahan Islam belumlah mampu diwujudkan seabagaimna yang diinginkan oleh Nabi itu sendiri”. [Mukhtarat Min Ahadits Wa Khutabats al-Imam al-Khomainy, 2/520]
Khomainy memastikan keberadaan Nabi lain. Diantara wahyu yang diturunkan padanya adalah hadits tentang revolusinya.
Tujuh puluh lima hari pasca kematian anaknya dilalui Fathima al-Zahrah dalam kesedihan . Dalam pada itu Jibril mendatanginya dengan niatan berta’ziah sembari menyingkap kabar-kabar yang akan terjadi dimasa mendatang.  Dari riwayat ini jelas bahwasanya dalam rentang waktu tujuh puluh lima hari Jibril mendatangi Fathima berulangkali dan saya tidak percaya kejadian semacam ini bisa terjadi dalam kehidupan seseorang kecuali jika dia termasuk  dari kalangan Nabi. Dalam hal ini Imam Ali telah menuliskan apa-apa yang diwahyukan Jibril pada Fathima. Bisa jadi perkara tentang Iran termaktub didalamnya.[dari khutbahnya pada Hari Wanita di Iran 2/3/1986 H, disiarkan oleh Radio Tahran dan dinukil oleh al-Shuhuf al-‘Arabi]
(Catatan: Kami tidak beranggapan bahwa perkataanya tidak butuh lagi digaris bawahi. Segala puji bagi Allah yang menganugrahkan kepada kita akal dan pemahaman. Dan kita memohon perlindungan agar tidak dikembalikan dalam keadaan hina.)
Khomainy memastikan adanya mushaf baru selain al-Quran
“Sepeninggal Nabi Jibril datang pada Fathima dengan kabar tentang hal-hal yang ghaib dan amirul mukminin menuliskannya dalam mushaf. Itulah yang dikenal dengan sebutan mushhaf Fathima”.[Kasyu al-Asrar, 143]
Khomainy beranggapan bahwasanya Ali menanggung dosa yang diperbuat manusia
Sesungguhnya pemilik Wilayah menanggung dosa yang diperbuat oleh anak manusia….[Mashabihu al-Hidayah Ila al-Khilafah Wa al-Wilayah, al-Khomainy halaman 153]
Khomainy berkata: Sekiranya Ali datang sebelum Nabi untuk menegakkan syariah maka pasti dia termasuk dari kalangan para Nabi
Sekiranya Ali hidup sebelum masa Nabi untuk menegakkan syariah sebagaimana Nabi menegakkannya maka pastilah ia termasuk Nabi yang diutus. Hal itu dikarenakan ruh mereka berdua telah menyatu secara maknawi maupun zhohir.
Sesungguhnya Ali adalah segalanya bagi kita, kedudukanya menempati urutan teratas dalam seluruh sendi kehidupan manusia dan wajib bagi kita untuk mengikutinya
Kalian haruslah menundukkan sisi ruhani untuk melatih jasmani. Lihatlah Ali kemanapun kita pergi pasti akan kita dapati namanya. Dalam urusan fiqih dikenal dengan fiqih Ali. Dalam urusan zuhud ada zuhudnya Ali. Dalam hal tasawuf ada pula tasawuf Ali. Dalam hal ilmu pasti maka kita saksikan mereka mengulang-ulang menyebut nama Ali dan memulai karya mereka dengan menyebut nama Ali. Sesungguhnya ia telah menempati posisi teratas dalam seluruh sendi kehidupan manusia dan wajib bagi kita untuk mengikutinya. Dalam hal ibadah pun ibadahnya melampaui ibadahnya para abid. Dalam hal zuhud pun zuhudnya melampaui kezuhudan para ahli zuhud. Dalam hal jihad beliaupun melampaui seluruh mujahdin. Dalam hal kekuatan beliaulah yang paling kuat, seperti sebuah keajaiban beliau sanggup mengumpulkan semua kebaikan. [Mukhtarat Min Ahadits Wa Khutabats al-Imam al-Khomainy, 1/294]
(Catatan: Orang yang berkata demikian tidaklah beriman bahwasanya Muhammad Rasulullah walaupun mengaku-ngaku demikian. Adapun bagi orang-orang yang berakal maka kami katakan: masihkah kalian mencari kepastian perkataan tentang sesatnya orang terpercaya? Itulah yan diucapkan oleh Khomainy dan ditulis pula oleh tangannya.

(Ibnu Saibun/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More