Masyarakat Religius

 
Oleh: Ilham Kadir
Pengurus FUI, BKPRMI dan Peneliti LPPI Indonesia Timur

Awal tahun 2013 ini, rakyat Sulawesi Selatan akan menikmati meriahnya pesta demokrasi lima tahunan dengan memilih nakhodanya satu priode kedepan. Tiga calon terbaik sebagai perwakilan dari rakyat Sulsel maju menawarkan diri sebagai pelayan rakyat, semuanya menjual program-program yang menawan. Satu di antara program dari salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang menurut penulis cukup unik dan layak untuk didiskusikan adalah “Masyarakat Religius” yang diwacanakan oleh pasangan Ilham Arief Sirajuddin-Aziz Qahhar Muzakkar.
Dianggap unik karena program ini tidak bisa dijangkau dengan indra perasa sebagaimana program kesehatan gratis dan tidak pula berkaitan dengan perut dan isinya alias ekonomi. Masyarakat religius lebih identik dengan penekanan nilai-nilai moral, syariat, dan akidah yang menjadi pondasi berdirinya sebuah tatanan kehidupan yang berbasis agama sebagaimana yang telah dicontohkan pada era terbaik (khaerul qurun) umat Islam.
Dalam buku “Destiny Disrupted: A History of the World though Eyes, 2009,” karya sejarawan muslim kontemporer Amerika, Prof. Tamim Ansary, menuturkan sedikit gambaran tentang masyarakat religius yang dipelopori oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para pemegang estafet khalifah, Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.
Dikisahkan pada zaman kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab terdapat seorang pengembara muda yang ditangkap karena membunuh seorang lelaki tua. Anak lelaki korban membawa pemuda itu ke hadapan Khalifah Umar. Sang pengembara mengakui perbuatannya. Sebenarnya ada keadaan khusus yang meringankan dirinya namun ia menolak untuk memohon itu: dia telah mengambil nyawa orang lain dengan paksa, maka ia ingin mengorbankan dirinya. Namun dia mengajukan satu permintaan. Bisakah eksekusi ditunda selama tiga hari agar dia dapat pulang ke rumah dan membereskan sedikit urusan? Ada seorang anak yatim dalam pengasuhannya di sana, dia telah mengubur warisan itu di tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun, dan jika tidak menggalinya sebelum dia meninggal, anak itu tak akan memiliki uang sepersen pun. Sungguh tidak adil jika anak itu menderita karena kejahatan pengasuhnya.
“Jika Anda membiarkan saya pergi hari ini, saya berjanji akan kembali tiga hari dari sekarang dan menyerahkan diri untuk dieksekusi,” pinta sang pembunuh. “Ya, baiklah. Tapi hanya jika Anda menyebut nama seseorang untuk bertindak sebagai wakil Anda, seorang yang akan setuju untuk menanggung hukuman jika Anda tidak datang kembali,” tegas Umar.
Hal itu membingungkan bagi sang pengelana muda. Dia tidak punya teman atau kerabat di wilayah itu. Orang asing mana yang akan cukup percaya kepadanya untuk menanggung resiko menggantikannya?
Pada saat itu, Abu Dzar, salah satu sahabat Nabi, menyatakan bahwa dia akan menjadi wakil pemuda asing itu. Dengan jaminan Abu Dzar, pembunuh itu pun pergi. Tiga hari kemudian dia tak kembali. Tidak ada yang terkejut, apalagi was-was, mereka juga tak menangisi Abu Dzar yang malang, dengan setia ia meletakkan kepalanya di atas kayu balok talenan. Algojo sedang meminyaki kapaknya ketika pemuda itu datang berderap di atas kuda berdebu, penuh dengan peluh. “Saya mohon maaf, mohon maaf, saya terlambat,” Ibahnya. “Tapi di sinilah saya sekarang. Mari kita lanjutkan dengan eksekusi.” Desak sang pemuda.
Kerabat korban pembunuhan (penuntut), sekarang berlutut memohon pada Umar. “Jangan bunuh dia please! Bagaimana mungkin kita menjadi orang yang membuat dunia berkata tidak ada pengampunan dalam Islam?”
Para penonton yang berdatangan ingin menyaksikan eksekusi fenomenal itu, tercengang. “Anda bebas. Anda benar-benar lolos. Tak seorang pun bisa menemukan Anda dan membawa kembali. Kenapa Anda pulang?” Kata Umar. “Karena saya berkata akan kembali, dan saya seorang muslim. bagaimana mungkin saya memberi dunia alasan untuk mengatakan bahwa kaum muslim tidak lagi dapat memenuhi janji-janjinya?” jawab pemuda itu.
Hadirin berpaling kepada Abu Dzar. “Apakah engkau mengenal anak muda ini? Apakah engkau tahu tentang karakter mulianya? Apakah karena itu engaku setuju dengan menjadi wakilnya?
“Tidak! Saya tidak pernah bertemu dia sebelumnya dalam hidup saya, tapi bagaimana bisa saya menjadi orang yang membiarkan dunia mengatakan kaum muslim tidak lagi berbalas kasih?” Kata Abu Dzar.
Mencari Pemimpin Religius
Masyarakat adalah kumpulan dari satuan individu yang membentuk koloni dalam sebuah teritorial tertentu. Prilaku individu dari sebuah masyarakat sangat tergantung dengan lingkungannya, jika berada dalam lingkungan yang menekankan pentingnya mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan yang didasari oleh agama, maka anggota masyarakat tersebut akan berbuat sesuai norma-norma agama yang dapat diuji kebenarannya dengan mutlak.
Agama berfungsi sebagai tuntunan bagi segenap umat manusia agar dapat hidup teratur, untuk itulah dalam ajaran agama terdapat perangkat-perangkat (syariat-aturan) yang manjadi acuan bagi segenap pemeluknya agar tidak melenceng dari koridor kebenaran. Ajaran-ajaran dalam Islam contohnya, sangat manusiawi dan kebenarannya tidak dapat disangkal oleh siapa pun di muka bumi ini. Kita berbeda pandang worldview dengan para pengusung liberaslime bahwa agama adalah biang kerok keonaran di tengah masyarakat, menjadi pemicu kekerasan, agama telah tertuduh dan duduk di kursi pesakitan. Intinya agama bagi kaum liberalisme telah menjadi motor penggerak konflik sosial yang kerap terjadi di negara ini, dengan itu menurut mereka, agama harus direduksi dari ruang publik.
Sejatinya tidaklah demikian, konflik-konflik yang terjadi selama ini kerap timbul karena ketidak-mampuan pemimpin kita membina masyarakat dan menjadi imam yang benar, terdapat kesewenang-wenangan dalam penegakan hukum, tidak adanya keadilan bagi rakyat kecil, perampokan harta milik rakyat oleh para koruptor, hingga ketidak-pekaan para perwakilan rakyat dalam menyuarakan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Semua itu terakumulasi, hingga menjadi pemantik api konflik.
Mengambil contoh dari cerita di atas yang terkait dengan kejujuran. Andai saja sang pembunuh ingin berbohong dan ingkar janji, tentu saja tak ada halangan baginya, namun karena agama melarang hal tersebut, dan kelak akan dipertanggung-jawabkan di hari pembalasan, untuk itulah sang pengelana tak mau mengingkari janjinya.
Tidak ada satu ajaran dari agama mana pun –kecuali ajaran Syiah dengan taqiyah-nya yang menjadikan bohong sebagai bagian dari agama [la dina liman la taqiyata lahu]- yang membolehkan berbohong, hingga para pembohong sekali pun tidak mau dibohongi, begitu juga mencuri atau korupsi. Sejatinya para pencuri tak satu pun ingin agar barang curiannya kembali dicuri oleh orang lain, sebagaimana para koruptor tak ada yang rela jika hasil korupsinya ada yang merampok atau mencurinya.
Namun membentuk karekter religius tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, butuh waktu yang panjang, keteladanan dari para penganjur agama, guru, orang tua hingga pemerintah. Di sinilah pentingnya menekankan agar selalu berbuat dengan berlandaskan ilmu dan agama. Hal tersebut bisa dimulai dengan pembinaan sejak dini, perlu ditanamkan pada generasi pelanjut bahwa berkakter baik dan taat agama adalah suatu keniscayaan, di samping akan hidup lebih bermakna dan bermanfaat, di akhirat akan mendapat reward dari Allah berupa surga. Begitu pula sebaliknya, jika melanggar aturan agama, akan menjadikan hidup seseorang terombang-ambing dalam ketidak-jelasan, dan kelak di akhirat mendapat siksa. Contohnya adalah para koruptor yang mengambil hak orang lain secara batil.
Wal hal, yang sangat penting adalah adanya contoh dari para pemerintah yang bertindak sebagai imam, agar rakyat sebagai makmum dapat mengikuti para imamnya. Jika imamnya tak bisa jadi contoh pastinya masyarakat ibarat anak ayam kehilangan induk. Bangsa ini sudah kehilangan tokoh-tokoh panutan yang bisa menjadi imam, namun bukan bararti kita larut dalam keputus-asaan. Di zaman demokrasi terbuka seperti saat ini, kita bisa memilih dan memilah mana kira-kira calon pemimpin yang lebih minus rusaknya dan lebih baik karakternya. Indikasinya? Cukup melihat track record-nya selama ini, apakah dia termasuk religius atau tidak? Jika ia religius, berarti akan ada harapan untuk mewujudkan masyarakat religius dambaan seluruh umat beragama. Wallahu a’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

Catatan: Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Sindo (Seputar Indonesia),  6 Januari 2012.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More