Jalaluddin Rakhmat: Para Sahabat itu MURTAD Sepeninggal Nabi

IJABI Sulawesi Selatan bekerjasama dengan IJABI Jawa Barat membagi-bagikan buletin dakwah (baca: dakwah pemecahabelahan umat) Al-Tanwir pada acara asyura Syiah 1431 H di Makassar. Makalah pertama dalam bulletin tersebut adalah tulisan ‘KH’. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Bersama Al-Husein: Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah (Sebuah Pengantar Asyura)”
Mengapa Imam Husein bertekad menemui kesyahidannya? Apa yang melatarbelakangi beliau untuk tetap berangkat? Itu yang menjadi pertanyaan banyak orang. Dan sekarang saya akan menjelaskan mengapa. Latar belakang ini cukup panjang sebenarnya. Banyak hadis yang membicarakannya, tetapi di sini akan saya bacakan beberapa saja” tulis pak Jalal mengawali tulisannya.
Di antara jawaban yang dikemukakan Jalaluddin Rakhmat adalah karena para sahabat yang baru saja ditinggal oleh Nabinya itu merubah-rubah agama dan kembali murtad. Kembali menjadi orang-orang jahiliyah. Dan kembali menjadi orang kafir.
Dia beralasan dengan beberapa hadis, “Di salam Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim, Nabi bercerita tentang hari kiamat. ‘Nanti pada hari kiamat -kata Rasulullah- aku akan menunggu di telaga al-Kautsar, kemudian datanglah kepadaku serombongan orang yang mengenalku dan aku mengenal mereka. Begitu dekat tiba-tiba mereka ditarik lagi dan aku berteriak, ‘Ini Sahabatku. Ini sahabatku’, lalu dikatakan kepadaku: Kamu tidak tahu bahwa mereka sudah mengubah-ubah agama sepeninggalmu.’ Lalu Rasulullah Saw bersabda: ‘Semoga dijauhkan dari kasih sayang Allah buat orang-orang yang mengubah-ubah agama sepeninggalku’.” Tulis Jalaluddin Rakhmat.
“Masih dalam Shahih Bukhari diriwayatkan oleh beberapa sahabat lain, di antaranya ialah Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata: Ketika sahabat-sahabat itu digiring dijauhkan, Rasulullah bertanya, ‘Mau dibawa kemana ini sahabatku?’ ke neraka, jawabnya. Lalu dikatakan kepada Rasulullah Saw: Tidak henti-hentinya mereka itu murtad meninggalkan agama kamu setelah engkau meninggalkan mereka. Innahum lam yazaaluu murtaddiin ‘ala a’qabihim mundzu faraqtahum. Rasulullah sangat sedih, bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.” Jalaluddin Rakhmat melanjutkan.
Jalaluddin Rakhmat dalam makalah Asyura-nya tersebut sengaja mengutip hadis dan membiarkan maknanya secara zahir ditangkap oleh orang awam, yaitu murtadnya para sahabat. Dan begitulah memang yang diinginkannya. Dan bahkan menyimpulkannya dengan berkata, ‘Rasulullah sangat sedih, bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.’ 

(Catatan: Buka gambar scan ini pada tab yang baru agar tampilannya lebih besar)
Tanggapan dan Jawaban
Jalaluddin Rakhmat memang berniat menggiring para pembaca menuju konklusi tersebut di atas tanpa menjelaskan makna hadis yang sebenarnya dan kemudian berkilah ‘Pekerjaan saya hanya mengutip dari kitab-kitab.’ Padahal hadis seperti ini haruslah disertai dengan penjelasan para ulama.
Maka untuk menjawab dan menjelaskan hadis Haudh yang derajat validitasnya shahih tersebut kami nukilkan penjelasan Syaikh Dr.  Utsman Al-Khumais dalam bukunya, “Membantah Argumentasi Syi’ah” hal 99-104 berikut ini,
Yang dimaksud dengan hadis haudh adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“(Kelak) datang kepadaku orang-orang yang kukenal mereka dan mereka pun mengenalku. Tapi, mereka lantas disingkirkan dari telaga (yakni telaga nabi di hari kiamat). Sehingga, aku berkata, ‘Mereka itu sahabat-sahabatku.’ Lantas dijawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka buat-buat sepeninggal dirimu’.” (Shahih Al-Bukhari, no. 474, 7049; dan shahih Muslim, no. 37)
Dalam jalur-jalur periwayatn lain, hadis ini memiliki tambahan, bahwa di akhir, Nabi bersabda, “Maka aku pun berkata, ‘Sungguh celaka mereka. Sungguh celaka mereka’.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7051; dan Shahih Muslim, no. 39)
Pertanyaannya, siapakah orang-orang yang disingkirkan dari telaga itu? Syiah Itsna Asyariyah mengatakan, bahwa mereka adalah para sahabat Nabi. Jikalau memang demikian, maka apa gunanya kita memuji-muji sahabat Nabi karena pada dasarnya mereka disingkirkan dari telaga, dan diteruskan dengan penilaian Nabi, “Sungguh celaka mereka.”
Oleh karena itu, seraya memohon pertolongan kepada Allah, kami perlu menjelaskan secara gamblang hal ini. Pertama, bahwa sahabat-sahabat yang dimaksud dalam hadis di atas adalah orang-orang munafik yang ketika hidup di dunia menjadi sahabat Nabi. Di hadapan Nabi, mereka menampakkan keislaman, tetapi di dalam hati mereka menyembunyikan kekafiran. Ini sejalan dengan firman Allah, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya -benarkamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah pun menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (Al-Munafiqun (63): 1)
Bisa saja seorang mempertanyakan, bukankah dahulu Nabi telah mengetahui siapa saja yang munafik, sehingga semestinya di hari kiamat beliau tidak perlu terkejut seperti itu? kami jawab, memang benar, tetapi beliau hanya mengetahui sebagian mereka, tidak semuanya. Oleh sebab itu Allah berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (juga ada orang-orang munafik). Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi kami mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali, kemduian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (At-taubah (9): 101)
Allah menjelaskan, bahwa Nabi tidak mengetahui semua orang munafik, sehingga beliau mengira mereka termasuk sahabatnya padahal sebenarnya bukan, karena mereka adalah kaum munafik.
Kedua, yang dimaksud dengan sahabat-sahabat dalam hadis ini adalah orang-orang yang murtad setelah Rasulullah wafat. Diketahui, setelah Nabi meninggal dunia, sebagian orang Arab murtad. Mereka murtad meninggalkan agama Allah sehingga Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama para sahabat memerangi mereka. Pertempuran-pertempuran itu dikenal dengan sebutan perang Riddah (perang terhadap gelombang kemurtadan). Jadi, maksud orang-orang yang dinilai celaka oleh Nabi di atas adalah orang-orang yang murtad dari Islam sepeninggal beliau.
Baik tafsiran yang pertama maupun tafsiran yang kedua di atas, para sahabat Nabi tidak termasuk di dalamnya. Kenapa? Karena dalam mendefinisikan sahabat Nabi, kita berkata: “Setiap orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman pada beliau dan mati dalam keadaan tersebut (tetap beriman dan berislam)”. Sehingga, tafsiran pertama bahwa orang-orang yang disingkirkan dari telaga adalah orang-orang munafik, itu karena mereka tidak beriman secara lahir dan batin kepada Nabi, dan dengan demikian mereka tidak masuk dalam kategori sahabat Nabi. Untuk tafsiran yang kedua bahwa orang-orang itu adalah kaum murtadin, itu karena mereka mati tidak dalam keadaan Islam, dan dengan begitu mereka juga tidak masuk dalam kategori sahabat Nabi.
Adapun bila definisi yang mereka pakai terhadap sahabat Nabi adalah setiap orang yang melihat Nabi, maka konsekuensinya Abu Jahal juga termasuk sahabat Nabi. Demikian pula Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Ubay bin Khalaf, Walid bin Utbah dan orang-orang musyrik lainnya, mereka semua termasuk sahabat Nabi. Jelas definisi semacam ini tidak bisa kita terima selamanya.
Yang kita nyatakan sebagai sahabat Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Thalhah, Abu Ubaidah, Saad bin Abu Waqqash, Saad bin Muadz, Muadz bin Jabal, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin Ash, Fathimah, Aisyah, Hasan dan Husein serta masih banyak lagi lainnya. Mereka inilah para sahabat Nabi. Siapakah di antara mereka yang menjadi munafik? Dan siapakah di antara mereka yang murtad meninggalkan agama Allah? Tidak ada. bahkan sebaliknya, mereka semua beriman kepada Rasulullah, bertemu dengan beliau dan mati dalam keadaan yang tetap sama seperti itu. Inilah yang dapat kita saksikan dari berbagai fakta sejarah. Adapun tentang keadaan mereka yang sebenarnya, itu hanya Allah yang tahu.
Intinya, jawaban atas syubhat hadis haudh ini adalah: pertama, bahwa sabda Nabi “Sungguh celaka mereka” ditujukan pada orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, sedangkan Nabi tidak mengetahui jati diri mereka itu di dunia.
Atau kedua, mereka adalah orang-orang yang murtad sepeninggal Rasulullah. Ketika Nabi masih hidup mereka termasuk muslimin, tetapi setelah Nabi wafat mereka murtad dan meninggalkan Islam.
Ada jawaban ketiga, yakni setiap yang bersahabat (berteman) dengan Nabi tetapi tidak mengikuti beliau. Contohnya seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, yang sebagaimana diketahui, dia adalah pemimpin kaum munafik. Ia pulalah yang berkata, “Sungguh jika kami kembali ke Madinah, niscaya orang yang terhormat akan mengusir orang yang hina.” Dan dia juga yang berkata, “Tiadalah perumpamaan kita dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya kecuali seperti perkataan orang-orang dulu, ‘Gemukkan anjingmu, ia pasti memakanmu’!” orang seperti ini disebut Nabi termasuk sahabat beliau. Jadi, menurut jawaban yang ketiga, inilah maksud sahabat dalam hadis tadi.
Maka di sini tampak bahwa definisi tentang sahabat yang telah kami sebutkan tadi, yaitu, “Setiap yang bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman pada beliau dan mati dalam keadaan tersebut (tetap beriman dan berislam)” merupakan definisi yang dinyatakan oleh generasi belakangan. Adapun ucapan orang-orang Arab bahwa “Setiap orang yang menyertai seseorang berarti ia termasuk sahabatnya, tanpa memandang apakah dia muslim atau tidak, mengikuti jalan hidupnya atau tidak.” Maka ini konteksnya umum dan bukan dalam persoalan mendefinisikan sahabat Nabi. Karenanya, ketika Abdullah bin Ubay bin Salul mengeluarkan perkataan busuknya, “Niscaya orang yang terhormat akan mengusir orang yang hina”, Umar bin Khathab berdiri mendatangi Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya memenggal leher orang munafik ini.” Maka Nabi bersabda, “Tidak wahai Umar, jangan sampai manusia mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.” (Shahih Al-Bukhari, no. 4907; Shahih Muslim, no. 63). Nabi memang menyebutnya dengan kata sahabat, sekalipun ia dedengkot kaum Munafik. Namun, maksudnya tetap dia tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang secara istilah khusus dinamai sebagai sahabat Nabi.
Selain itu, bisa jadi maksud sahabat yang dinyatakan celaka dalam hadis haudh tadi juga adalah orang-orang yang mengikuti agama Nabi ini walaupun tidak bertemu langsung dengan beliau. Dan kemudian setelah itu, orang-orang itu mengalami kondisi kemunafikan ataupun kemurtadan. Jika begitu, maka kita juga termasuk dalam celaan di hadis ini jika kita mengalami kemunafikan dan kemurtadan. Karena itulah, maka sebagian riwayat hadis tadi dari jalur lain berbunyi, “Ummati, ummati (mereka itu umatku)” (Shahih Al-Bukhari, no. 7048) sebagai ganti bagi penyebutan sahabat. Dan kita ini, termasuk dalam umat beliau.
Mungkin ada yang masih belum bisa menerima, “Bagaimana mungkin maksudnya seperti itu, sementara dalam hadis tadi tersebutkan kata Nabi, ‘Aku mengetahui mereka dan mereka mengetahuiku’?” Maka kita jawab, bahwasanya Nabi telah menerangkan bahwa beliau mengenali umatnya melalui bekas-bekas wudhu.
Jika seandainya ada orang-orang nawashib –orang yang membenci keluarga Nabi yaitu Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan lainnya- mengatakan, “Mereka itulah –maksudnya Ali dan lain-lain itu- yang murtad. Merekalah yang dihalau dari telaga. Mereka adalah Ali, Hasan dan Husein.” Bagaimana kita akan memberi jawaban pada mereka? kita bisa mengutarakan pada mereka, “Sahabat-sahabat yang disebut dalam hadis ini (dan bahkan dicela Nabi) bukanlah mereka yang kalian maksud itu. justru nama-nama yang kalian sebut itu, tentang mereka terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka.”

Kembali kepada Syiah, bukankah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abu Ubaidah juga ada riwayat-riwayat yang menuturkan keutamaan mereka? lantas mengapakah Ali –oleh kaum Syiah- tidak dimasukkan dalam kategori sahabat yang dicela Nabi jika Abu Bakar dan Umar dimasukkan kesana? Jadi, inti kesimpulannya, hadis haudh tadi tidak berbicara mengenai sahabat-sahabat Nabi. (lppimakassar.com)

24 komentar:

dalil yg dipaparkan oleh kang jalal benar, tapi JANGAN MEMUKUL NYAMUK DENGAN PALU LAH PROF... anda pintar secara akademik tapi sebenarnya anda bodoh, tafsirkan hadits tersebut.........

tobat kang Jalal mumpung masih ada umur

liat mukanya aja udah enegh!! suram,tidak kena air wudhu!

Kita tunggu ja matinya orang kayak gini gimana? Allah SWT maha tahu tentang kebenaran.

IJABI = Ikatan Jamaah Buatan Iblis

Kalau Allah maha tahu kenapa anda mencel ?

Udah mulai terang2an ya sekarang orang ini... baguslah, tak selamanya orang syi'ah bisa bertaqiyah...lambat laun kedoknya akan terbuka juga

Waduh ini orang g usah dipertanyakan lagi, agen dajjal la'nat!!!
Liat aja mukanya kayak iblis la'natullah alayh!

"Sebuah lompatan cara berpikir yang menakjubkan dan sekaligus menampilkan 'kebegoannya'." Mbok ya, klo punya kebegoan itu jangan suka dipamer-pamerkan githu. Jadinya ketahuan dech.
Bagaimana bisa sich hadits Haudh disimpulkan sbg hadits yang tidak berbicara ttg sahabat Nabi. Malah dikatakannya sebagai 'kesimpulan inti', lagi.

Sebuah cermin ttg cara pandang orang yang telah dikungkung oleh fanatisme buta yang keterlaluan. Na'uwdzu billahi min dzaalik !!!

yang jadi pertnyaan adalah, dari komunikasi antara abu hurairoh dan Nabi Muhammad SAW. itu setelah Nabi WAFAT ATAU MASIH HIDUP ?????? Kok tahu-tahunya bahwa sahabat nabi akan berhianat terhadap Nabinya yang mulia.!!! ??? Ini Profesor apaan... anda itu kyai, ulama, ustadz atau apa... kalo memang tidak paham agama dan hadits jangan suka ngomong seenaknya dan memutar balikan fakta!!! yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan. ingat orang macam anda sudah dijamin Alloh dimasukan ke NERAKA JAHANAM yang paling dalam. Naudzubillah min dzalikh...!!!!! Insyaf Frof....

Cepetan tobat kang Jalal mumpung masih di beri nafas sama Allah SWT n jgn sotoy tentang sahabat Nabi Muhammad SAW

Menurut saya Kang Jalal ini cerdas dalam gaya komunikasi, yaitu membiarkan orang awam "menyimpulkan" sendiri tafsiran hadits itu, yaitu "semua sahabat Rasulullah murtad sepeninggal beliau". Kalau sampai ada yang terpengaruh (dan pasti ada, karena umumnya masyarakat kita sekarang ogah mendalami agama) maka level Kang Jalal berada pada "dhallun mudhillun"- sesat dan menyesatkan.
Nauzbillah

Wallahu A'lam
Beau Masul (aslinya Barra Mas'ul, tersalah tulis karena petugas registrasi salah baca)
@neoracik

Detik demi detik Allah semakin menampakan kesesatan dan kejahilan mereka (Sy'ah).
Semoga umat Islam selalu dalam lindungan Allah dalam menghadapi fitnah dan tipu daya syi'ah la'natullah alayh! ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ

Kok mereka masih pakai hadist2 bukhari muslim. Bukankah menurut mereka bukhari dan muslim juga kafir karena termasuk ahlul sunnah. Terus hadistnya dipilih-pilih lagi. Yang gak sesuai bagi mereka disingkirkan.

Maaf, setahu saya dia belum Prof. Dr. ditambahi sendiri di depan namanya.
Tambahan lagi Sdr. Plesetan: Hadis larangan kawin mut'ah diriwayatkan oleh ahlul bait, tapi tidak dipakai karena menghalangi mereka untuk mengumbar nafsu bejat mereka. Gak ngerti cara pikir mereka....

jalal,,,jalal,,,,loe toe ye,,,,

waduh, skalipun sudah meninggal, klo semakin bnyak orang mengikuti apa yang dia ajarkan brarati dia akan terus dapat aliran dosa pengikutnya dunk, aich............... seremnya. apalagi klo sampai kiamat dapat tabungan trus, iya klo tabungan pahala, lha klo tabungan dosa. alamaaaaaaaak.........................
hmmmmmmmmm......
buat kang jalal, semoga Allah memaafkanmu dan memberikanmu hidayah, bgitupun syi'i-syi'i yang lain. amin

Wahai admin web ini, ada yg memalsukan web anda di lppimakassar.net . Itu jelas Rafidah. Mohon pemberitaan ini disebar luaskan.

Dari abu hurairah, tatkala nabi saw wafat, abu bakar diangkat menjadi khalifah dan orang-orang arab kembali menjadi kafir , wahai nabi mereka ini telah menjadi murtad mereka kembali kezaman jahiliyah (shahih bukhari jilid 7 hal 207 hadist no 6585 )

Wahai nabi saw tatkala engkau berpisah daripada umat dan sahabatmu mereka ini senantiasa murtad ( shahih bukhari jilid-5 hal.240)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (innahum irtaddu ba‘da-ka ‘ala Adbari-himi l-Qahqariyy). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. KULIHAT TIDAK ADA YANG SELAMAT DAN LOLOS KECUALI BEBERAPA ORANG SAJA YANG JUMLAHNYA CUKUP SEDIKIT, SEPERTI JUMLAH ONTA YANG TERSESAT DARI ROMBONGANNYA (fala ara-hu yakhlusu minhum illa mithlu hamali n-Na‘ am)” (Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi).

Kalo antum mengartikan bahwa sahabat yg dimaksud adalah kaum munafiq yg tak diberitahu oleh Allah maka konsekwensinya adalah sahabat yg hidup setelah nabi saw wafat ( defenisi ibnu hajar ttg sahabat yaitu orang yg bersahabat dgn nabi saw dan wafat dalam keadaan beriman) maka dapat dipastikan jumlah sahabat hanya beberapa saja. KALO KITA LIHAT KONTEKSNYA DGN HADIST DIATAS (AL-HAUD) “KULIHAT TIDAK ADA YANG SELAMAT DAN LOLOS KECUALI BEBERAPA ORANG SAJA YANG JUMLAHNYA CUKUP SEDIKIT, SEPERTI JUMLAH ONTA YANG TERSESAT DARI ROMBONGANNYA”….

MUNGKIN HADIST DIATAS Syaikh Dr. Utsman Al-Khumais (dalam bukunya, “Membantah Argumentasi Syi’ah” hal 99-104) LUPA ATAU PURA-PURA LUPA DGN HADIST Shahih Bukhari,8/150 , yg dgn terang2an mengatakan sahabat yg selamat “SEPERTI JUMLAH ONTA YANG TERSESAT DARI ROMBONGANNYA”

Menurut antum berapa jumlah unta yg tersesat dalam dunia nyata yang dikiaskan nabi saw dalam hadist tersebut ?? silahkan dijawab. ditunggu

melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia MELEGALKAN PERAMPASAN TANAH FADAK, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. DAN IMAM ALI AS MENYATAKAN ABU BAKAR DAN UMAR ADALAH PEMBOHONG, PENDOSA, PENIPU DAN PENGHIANAT didalam hadis muslim
Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:
فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! فرأيتماهكاذبا آثما غادرا خائنا والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق …..
“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:“Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”, LALU KALIAN BERDUA MEMANDANGNYA SEBAGAI PEMBOHONG, PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT. Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, LALU KALIAN BERDUA MEMANDANGKU SEBAGAI PEMBOHONG, PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT…. “ (HR. Muslim, Kitab al Jihâd wa as Sair, Bab Hukm al Fai’,5/152)


Sekarang ana mau Tanya sama penulis bloq :
1. apakah imam ali as yg memfitnah abu bakar dan umar dengan mengatakan kedua khalifah tersebut SEBAGAI PEMBOHONG, PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT

2. atau memang abu bakar dan umar memang seorang pembohong, pendosa, penipu dan penghianat ??

3. atau hadist muslim ini adalah hadist palsu ???

untuk point pertama mustahil imam ali as menyebarkan fitnah dgn mengatakan mereka adalah SEBAGAI PEMBOHONG, PENDOSA, PENIPU DAN PENGKHIANAT. Sebab imam ali as adalah orang yg disucikan oleh Allah dalam al-quran surat al-ahzab ayat 33. Dan penjelasan ayat tersebut dapat dilihat dalam hadist al-kisa bahwa nabi saw mengatakan bahwa manusia yg dimaksud suci tersebut adalah 4 orang yaitu imam ali as, syaidah Fatimah, imam hasan dan imam husein as

dan dalam hadist yang lain dalam kitab suni dikatakan bahwa nabi saw bersabda ali selalu bersama al-quran dan al-quran selalu bersama ali
atau
ali selalu bersama kebenaran dan kebenaran selalu bersama ali.

.

Allah berfirman :
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan memsuci kamu sesuci-sucinya. (QS.al-ahzab 33)
Kepada siapa ayat ini ditujukan mari kita simak asbabun nuzul ayat ini siapa manusia2 yg telah disucikan Allah dari ahlul bait nabi saw ? silahkan baca hadist al-kisa (selimut)
Silakan perhatikan para pembaca, setelah dipahami dengan baik kedua lafaz yang menurut anggapan aswj dan nashibi bertentangan sebenarnya memiliki makna yang sama:

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha’ dari Ummu Salamah dan dari Dawud bin Abi ‘Auf dari Syahr bin Hawsyaab dari Ummu Salamah dan dari Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berada di rumahku di atas tempat tidur yang beralaskan kain buatan Khaibar. Kemudian datanglah Fathimah dengan membawa bubur, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “panggillah suamimu dan kedua putramu”. [Ummu Salamah] berkata “kemudian ia memanggil mereka dan ketika mereka berkumpul makan bubur tersebut turunlah ayat Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil sisa kain tersebut dan menutupi mereka dengannya, kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengulurkan tangannya dan berkata sembari menghadap langit “YA ALLAH MEREKA ADALAH AHLUL BAITKU DAN KEKHUSUSANKU MAKA HILANGKANLAH DOSA DARI MEREKA DAN SUCIKANLAH SESUCI-SUCINYA.
[Ummu Salamah] berkata “aku memasukkan kepalaku kedalam kain dan berkata “Rasulullah, apakah aku bersama kalian?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kamu menuju kebaikan kamu menuju kebaikan. [Ummu Salamah] berkata “mereka adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], ALI, FATHIMAH, HASAN DAN HUSEIN RAIDALLAHU ‘ANHUM” [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/383 no 1650]

Hadis di atas kedudukannya shahih diriwayatkan oleh Abu Laila Al Kindy, Syahr bin Hausab dan Atha’ dari Ummu Salamah dan merupakan hadis kisa’ Ummu Salamah yang paling shahih. Dalam hadis tersebut Ummu Salamah mengakui bahwa ahlul bait dalam al ahzab 33 adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Banyak diantara ulama ahlussunnah yang mengakui bahwa al ahzab 33 turun untuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husain diantaranya Ath Thahawiy, Al Ajjuriy, Asy Syaukaniy, Ibnu Asakir dan Adz Dzahabiy. Adz Dzahabiy pernah berkata
وفي فاطمة وزوجها وبنيها نزلت إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا فجللهم رسول الله صلى الله عليه وسلم بكساء وقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي
Dan untuk Fathimah, suaminya dan kedua anaknya turun ayat “sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyelimuti mereka dengan kain dan berkata “ya Allah mereka ahlulbaitku” [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 3/44]
.

KOMENT TERAKHIR DARI 4 KOMENT YG ANA KIRIM

Ayat Tathir ternyata memiliki dalil shahih tentang Asbabun Nuzulnya dan ternyata berdasarkan Asbabun Nuzulnya Ayat Tathir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as,Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Terdapat hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Siti Fathimah,Hasan dan Husain,lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871).

Hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dan 3781. Selain itu hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy.
Dalam hadist shahih jelas menyatakan mereka yaitu sayyidah Fatimah imam ali as , hasan as, dan husein as adalah manusia2 maksum atau suci dimana Allah telah menghilangkan kotoran (dosa) dari mereka. HANYA ORANG YG PUNYA PENYAKIT SAJA YG MAU MEMUTAR,DAN MENGUTAK-ATIK MAKNA MAKSUM ATAU SUCI DGN MAKNA LAIN.
SEBAB KALO MAZHAB SUNI MENERIMA HAL INI MAKA KONSEKWENSINYA ADALAH BATALLAH KHALIFAH ABU BAKAR, UMAR DAN USMAN SEBAB SETELAH NABI SAW WAFAT MASIH ADA MANUSIA2 YG DISUCIKAN ALLAH YG LEBIH BERHAK DAN LAYAK DALAM MEMIMPIN UMAT INI.

pilihan ahlus sunah dan wahabi tinggal 2 lagi yaitu point 2 dan 3. keduanya sama2 berat.
jika antum katakan abu bakar dan umar memang seperti yg dikatakan imam ali as maka mazhab antum akan hancur sebab mazhab suni dan salafi-wahabi menempatkan kedua khalifah tersebut adalah org yg terbaik setelah nabi saw walaupun tanpa dalil alias DOKTRIN.

DAN JIKA ANTUM KATAKAN PALSU HADIST MUSLIM TERSEBUT MAKA LUNTURLAH DOKTRIN SUNI BAHWA HADIST BUKHARI MUSLIM ADALAH HADIST TERSHAHIH SETELAH AL-QURAN.

SOLUSINYA LEBIH BAIK ANTUM PULANG DAN BELAJAR YG BANYAK DAN JANGAN SUKA MENYEBAR FITNAH TTG SYIAH KALO ILMU ANTUM MASIH SEDIKIT. PAHAM

Note: seperti biasa org salafi-wahabi tak ada yg jujur dalam diskusi dan selalu menyembunyikan atau menghapus coment lawan jika berhasil mematahkan argumentasi salafi-wahabi. .....itu pasti...kata iwan fals..

bener tuh ada yg memalsukan website http://www.lppimakassar.com/ jadi http://www.lppimakassar.net/ tapi website yg itu kontra sama syiah.

Rosulullah tidak pernah mengajarkan caci maki terhadap orang lain, saya menghormati Sayidina Ali sebagaimana saya menghormat Sayidina Abu Bakar , Syaidina Umar dan Sayidina Usman.
kita tidak perlu berargumen apapun tentang siapa yang menjadi kalifah , karena Rosul tidak pernah mewasiatkan ..... , buat abu hanifah sepanjang apapun tulisan anda tidak akan mempengaruhi keyakinanku.....

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More