Bertaqiyah dengan gelar “Professor”

Selama ini kita mengetahui Jalaluddin Rakhmat sebagai salah satu tokoh penyebar ajaran Syiah di Indonesia sudah bergelar “Professor” sebagaimana yang kita kenal selama ini dari yang kita baca dan lihat di media massa, di antaranya:
Harian Fajar, tgl 28 Februari 2008, tulisan Supa Atha’na, Direktur Iranian Corner UNHAS, tentang “Madzhab Akhlak dan Cinta” catatan kecil untuk menyambut Munas III IJABI

Harian Fajar, tgl 25 Januari 2009, Wawancara wartawan Fajar, Akbar Hamdan, dengan Jalaluddin Rakhmat


Harian Tribun Timur, tgl 17 Juli 2011, Headline halaman pertama tentang “Ulama Sulsel Tolak Kang Jalal Doktor di UIN”

Harian Tribun Timur, tgl 19 Juli 2011, klarifikasi dari ketua IJABI Sulsel Syamasuddin Baharuddin mengenai Jalaluddin Rakhmat yang membantah menghalalkan Nikah Mut’ah dan membantah kafirkan sahabat Nabi

Harian Fajar 26 Februari 2011, laporan hasil Dialog Sunni-Syiah di UIN Alauddin

Harian Fajar 27 Februari 2011, berita tentang Diskusi Masyarakat Madani yang diselenggarakan oleh beberapa pihak, salah satunya IJABI Sulsel dan Jalaluddin Rakhmat sebagai salah satu pembicaranya

Dialog Sunni-Syiah, 24 Februari 2011 antara IJABI dan LPPI, di UIN Alauddin Makassar, Jalaluddin Rakhmat mewakili IJABI, dalam spanduk tertulis "Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Si", namun selama berjalannya dialog Jalaluddin Rakhmat tidak merevisi kepada panitia agar gelar yang disandangkan pada namanya dihapus karena dia belum memperoleh gelar Professor.

Dari semua data-data di atas, baik koran ataupun video dialog sunni-syiah, Jalaluddin Rakhmat diperkenalkan dengan gelar “Professor”. Gelar “Professor” yang bergengsi itu tidaklah mudah diperoleh, untuk mendapatkannya butuh pengorbanan tenaga, waktu dan pikiran. oleh karenanya kami ingin mengklarifikasi gelar tersebut kepada Universitas Padjadjaran Bandung tempat Jalaluddin Rakhmat “memperoleh” gelar tersebut, berikut Surat LPPI Perw. Indonesia Timur ke Universitas Padjadjaran.

Setelah  menunggu kurang lebih dua bulan akhirnya surat kami dibalas langsung oleh Rektor Universitas Padjadjaran dengan menjelaskan sebagai berikut:
1.      Bapak Jalaluddin Rakhmat, belum memiliki gelar Guru Besar di Universitas Padjadjaran
2.      Untuk gelar doktor (Dr), secara administratif kami belum menerima ijazahnya

Kalau boleh, kami tanya kepada Jalaluddin Rakhmat, “Kenapa anda tidak mengklarifikasi ‘pemberitaan salah’ tersebut dan seakan-akan anda tenang-tenang saja dengan semua itu?! atau apakah pemberitaan salah itu digunakan sebagai alat dan kendaraan untuk melegitimasi ajaran SYIAH yang anda sebarkan?!!”.
Mungkin ini didasari dari ajaran Syiah yang membolehkan bertaqiyah (berbohong), di mana dikatakan dalam kitab-kitab rujukan Syiah;
Ja’far Ash Shadiq: “Jikalau kamu mengatakan bahwa yang meninggalkan taqiyyah itu seperti orang yang meninggalkan shalat, maka kamu benar!” (Man Laa yahdhuruhul Faqih, Ibnu Babawaih, juz 2 hal 80)

Al Baqir: “Sesungguhnya 9/10 agama merupakan taqiyyah. Tidak ada agama bagi yang tidak mengamalkan taqiyah!” (Ushul al Kafi, al Kulaini, juz 2 hal 217)

Ibn Babawaih al Qummi: “Bertaqiyyah itu wajib, tidak boleh ditinggalkan sampai munculnya al Qa’im (Imam mahdi), maka siapa yang meninggalkannya sebelum munculnya al Qa’im maka ia telah murtad dari agama Allah Ta’ala, murtad dari agama Imamiyah, dan juga menyelisihi Allah, Rasul-Nya dan para Imam !” (al I’tiqadaat, Ibn Babawaih al Qummi, hal 114-115)

Inilah dia gambaran keyakinan seseorang yang ditopang dengan taqiyah, oleh karena itu melalui data-data ini kami mengajak pembaca sekalian agar berhati-hati dengan sekte ini. Kita bersyukur kepada Allah subhana wa ta'ala yang menjadikan kita berada di atas agama Islam yang menjunjung tinggi kejujuran.

(LPPIMakassar.blogspot.com)







Penikmat Situs-Situs Anti Islam Ternyata Kalangan Manula Berusia 65 Tahun ke Atas



Pria rumahan yang usianya lebih dari 65 tahun, dengan sedikit pendidikan serta tidak ada memiliki anak dilaporkan mewakili rata-rata pembaca situs-situs anti-Islam.
Surat kabar Klassekampen dalam investigasinya mengungkapkan bahwa kelompok pembaca situs anti Islam seperti Gates of Vienna, Jihad Watch, The Brussels Journal, Islam Watch, Atlas Shrugged, Tundra Tabloid, Vladtepesblog dan The Green Arrow menunjukkan pola yang jelas bahwa para pembaca situs-situs anti Islam tersebut kalangan manula.
Ketika disajikan dengan hasil investigasi tersebut, Andreas Malm, jurnalis dan penulis buku The Hate Against Muslims, mengatakan kepada surat kabar itu (Klassekampen), "Tipikal profil khas para penikmat teori konspirasi adalah kalangan tua, pria kesepian, yang menjadi terobsesi dengan pertanyaan tertentu, dan kemudian mungkin tertarik untuk teori konspirasi anti-Islam. "
"Didominasi pria manula, pengangguran, yang mungkin merasa dikucilkan dari masyarakat, dan kemudian mencari penjelasan dan kambing hitam," ujarnya.(fq/frgnr)

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/dunia/penikmat-situs-situs-anti-islam-ternyata-kalangan-manula-berusia-65-tahun-ke-atas.htm

Memperjelas Posisi Hamka soal Pluralisme Agama


Oleh: Dr. Adian Husaini

BELUM lama, pada 20 Maret 2012, salah satu peneliti INSISTS, Akmal Syafril, ST., M.Pd.I., menerbitkan bukunya yang berjudul Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme.  Buku ini sebenarnya merupakan Tesis Master Pendidikan Islam di Universitas Ibn Khaldun Bogor. Penerbitan buku ini sangat penting untuk menjernihkan dan mempertegas pemikiran Buya Hamka tentang Pluralisme Agama.


Menurut penulisnya, pada awalnya penulisan buku ini bersumber dari sebuah makalah yang dibuatnya saat sedang mengikuti studi di Program Pascasarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA), Bogor. Isinya mengulas sebuah artikel karya Ahmad Syafii Maarif yang dimuat di Rubrik Resonansi, surat kabar Republika, edisi 21 November 2006, yang diberi judul “Hamka Tentang Ayat 62 Al-Baqarah dan Ayat 69 Al-Maidah”. 


Sebagian besar isinya adalah kutipan-kutipan dari Tafsir Al Azhar karya Buya Hamka. Di bagian awalnya, Syafii Maarif menjelaskan alasan di balik penelitiannya terhadap kedua ayat ini: “Pada suatu hari bulan November 2006 datanglah sebuah pesan singkat dari seorang jenderal polisi yang sedang bertugas di Poso menanyakan tentang maksud ayat 62 surat al-Baqarah.  Kata jenderal ini pengertian ayat ini penting baginya untuk menghadapi beberapa tersangka kerusuhan yang ditangkap di sana.”

Di antara berbagai kutipan Tafsir Al Azhar dari artikel tersebut, inilah salah satunya yang nampaknya paling penting: “Inilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu.”

Setelah menjelaskan bahwa Hamka menolak pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah telah di¬-nasakh oleh ayat ke-85 dalam Surah Ali ‘Imran, Syafii Maarif pun memungkas artikelnya dengan opini berikut: “Sikap Hamka yang menolak bahwa ayat 62 al-Baqarah dan ayat 69 al-Maidah telah dimansukhkan oleh ayat 85 surat Ali ‘Imran adalah sebuah keberanian seorang mufassir yang rindu melihat dunia ini aman untuk didiami oleh siapa saja, mengaku beragama atau tidak, asal saling menghormati dan saling menjaga pendirian masing-masing.  Sepengetahuan saya tidak ada Kitab Suci di muka bumi ini yang memiliki ayat toleransi seperti yang diajarkan Al-Quran.  Pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Al-Quran (lih. al-Baqarah 256; Yunus 99).”

Memang, setelah keluarnya tulisan Syafii Maarif tersebut, terjadi perdebatan yang cukup seru di Rubrik Opini Harian Republika. Saya pun segera menulis artikel yang menjawab artikel Syafii Maarif tersebut. Intinya, saya menegaskan, bahwa Buya Hamka sama sekali bukan seorang Pluralis Agama. Perlu dicatat, bahwa Pluralisme Agama, dalam CAP ini adalah paham yang  menyatakan bahwa semua agama merupakan jalan yang sah menuju inti realitas keagamaan. Dalam Pluralisme agama, tidak ada satu agama yang merasa superior dibanding yang lain. Tapi, setiap agama dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah menuju kebenaran dan Tuhan (In pluralism, no one religion is superior to any other; each and every religion is equally valid way to truth and God). (Alister E. Mcgrath, Christian Theology: an Introduction, (Oxford: Blackwell Publisher, 1994).

Menurut Akmal, dalam makalahnya, ia mengaku menemukan beberapa kesalahan fatal yang telah dilakukan oleh Syafii Maarif dalam pengutipan Tafsir Al Azhar tersebut, terlepas dari ada-tidaknya unsur kesengajaan.
Kesalahan pertama,  adalah perihal penggunaan kedua ayat tersebut yang jauh dari konteks aslinya. Syafii Maarif – dan sang Jenderal Polisi yang berkonsultasi dengannya – menganggap bahwa kedua ayat ini dapat digunakan untuk menanggulangi konflik horizontal di Poso. Dari paragraf kesimpulan yang ditulis oleh Syafii Maarif sebelumnya, kita dapat memahami bahwa konflik horizontal yang dimaksud adalah konflik antar umat beragama. Karena digali dari al-Qur’an, maka dapat dipahami pula bahwa penelaahan ini digunakan untuk meredam keinginan sementara pihak di kalangan umat Muslim untuk melakukan kekerasan pada umat lain.
Padahal, tegas Akmal, jika Tafsir Al Azhar dibaca secara runut, akan ditemukan asbabun nuzul dari ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah itu, yakni untuk menjawab pertanyaan Salman al-Farisi r.a. seputar orang-orang sholeh yang dijumpainya di masa lampau, sedangkan orang-orang tersebut beragama Nasrani, Yahudi dan lain-lain. Kesalahan kontekstual ini akan terlihat jelas kemudian.

Kesalahan kedua disebabkan oleh kelengahan Syafii Maarif untuk melacak penjelasan nama-nama agama “Yahudi”, “Nasrani” dan “Shabi’in” dalam Tafsir Al Azhar. Padahal, Buya Hamka sudah menjelaskan masalah ini. Menurut Hamka, “Yahudi” (berasal dari nama Yehuda, salah satu anak Nabi Ya’qub as) pada hakikatnya adalah agama-keluarga, “Nasrani” (berasal dari nama Nashirah, yaitu daerah kelahiran Nabi ‘Isa as) pada hakikatnya adalah agama-bangsa, dan “Shabi’in” adalah nama yang diberikan bagi orang yang keluar dari agama nenek moyangnya, sehingga Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah disebut sebagai shabi’.

Dengan definisi tersebut, maka orang yang terlanjur dikenal sebagai Yahudi, Nasrani dan Shabi’in di masa lampau (yaitu sebelum masa kenabian Rasulullah saw) bisa beriman dan tak beriman. Contoh yang dapat diambil adalah Pendeta Bahira. Sejarah mengenalnya sebagai tokoh yang pertama kali membenarkan kenabian Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wassalam berdasarkan tanda-tanda yang diketahuinya dari Injil, dan oleh karena itu, ia dikategorikan sebagai orang yang beriman.

Meski demikian, Bahira tetaplah dikenal sebagai penganut agama Nasrani, karena memang ia tidak sempat mengikuti ajaran Nabi Muhammad. Tentu saja, Bahira dapat dianggap sebagai Nasrani yang beriman hanya karena ia hidup pada masa pra-kenabian Rasulullah saw. Jika ia sempat bertemu dengan dakwah Rasulullah, tentu ia harus mengucap syahadatain, dan hanya dengan cara itulah ia bisa dianggap sebagai orang yang beriman. Hal ini akan semakin jelas pada poin berikutnya.

Kesalahan ketiga – mungkin yang paling fatal – adalah tidak dicantumkannya sebuah paragraf penting yang dapat ditemukan di akhir penjelasan ayat ke-62 dalam Surah al-Baqarah dalam Tafsir Al Azhar yang justru menyimpulkan pendapat Buya Hamka yang sebenarnya secara utuh. Penjelasannya adalah sebagai berikut: “Yahudi dan Nasrani sudah sepatutnya terlebih dahulu percaya kepada kerasulan Muhammad apabila keterangan tentang diri beliau telah mereka terima. Dan dengan demikian mereka namanya telah benar-benar menyerah (Muslim) kepada Tuhan. Tetapi kalau keterangan telah sampai, namun mereka menolak juga, niscaya nerakalah tempat mereka kelak.”

Umumnya, kesimpulan dari sebuah uraian ilmiah, termasuk penafsiran al-Qur’an, dapat dijumpai di bagian akhirnya. “Dengan menyimak betapa pentingnya penjelasan di atas, kita pun bertanya-tanya mengapa Syafii Maarif justru memilih untuk meninggalkan penjelasan ini, yang – jika dicantumkan – akan segera menghapus kesan pluralis dari sosok Buya Hamka dalam artikel tersebut?” tulis Akmal, yang sebelumnya sudah dikenal sebagai penulis buku “Islam Liberal 101”. .

Opini dan kesan bahwa ‘Buya Hamka seorang pluralis’, bagaimana pun, telah terlanjur bergulir. Hanya berselang enam hari dari dimuatnya artikel Syafii Maarif tentang Tafsir Al Azhar di surat kabar Republika, Ayang Utriza NWAY menyampaikan makalahnya dalam acara diskusi publik bertajuk Islam dan Kemajemukan di Indonesia. Diskusi publik tersebut diadakan sebagai rangkaian kegiatan dalam Nurcholish Madjid Memorial Lecture di sebuah Perguruan Tinggi di Banten. Makalah yang dibawakannya berjudul “Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”. Dalam makalahnya, Ayang bahkan telah melangkah lebih jauh lagi daripada Syafii Maarif. Setelah mengutip beberapa poin dalam Tafsir Al Azhar – lagi-lagi untuk QS. al-Baqarah [2]: 62 – Ayang menyimpulkan:

“Ini berarti bahwa walaupun seseorang mengaku beragama Islam, yang hanya bermodalkan dua kalimat syahadat, tetapi tidak pernah menjalankan rukun Islam, maka ia tidak akan pernah mendapat ganjaran dari Allah, yaitu surga.  Sebaliknya jika ada non-Muslim yang taat dan patuh menjalankan ajaran agamanya, walaupun tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, maka dia akan mendapatkan ganjaran dari Allah: surga.”
Menurut Akmal, tidaklah sulit menunjukkan kesalahan (untuk tidak menyebutnya ketidakjujuran) fatal yang dilakukan oleh Ayang Utriza NWAY.  Saya pribadi (Adian Husaini) juga menemukan tulisan Ayang Utriza yang menfitnah Buya Hamka dalam buku Bayang-bayang Fanatisisme: Esei-esei untuk Mengenang Nurcholish Madjid, (Jakarta: Universitas Paramadina, 2007). Kutipan makalah Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina itu dimuat di halaman 307.

Saya sudah menulis jawaban terhadap tulisan Ayang tersebut untuk buku 100 Tahun Buya Hamka. Bahkan, saat bertemu keluarga Hamka, saya sampaikan keprihatinan saya tentang tulisan-tulisan yang menfitnah Buya Hamka.  Akan tetapi, meskipun artikel dan makalah sudah kita tulis di berbagai media massa, tetap saja pendapat yang mengutip tulisan Buya Hamka secara tidak proporsional juga terus berkeliaran. Bahkan, hingga kini, tak ada koreksi terhadap kekeliruan yang sudah dilakukan.

Dalam kaitan itulah, hadirnya buku Akmal ini menjadi penting. Fungsinya, untuk memperjelas posisi Hamka dalam soal Pluralisme Agama dan membentengi upaya orang-orang yang mengutip tulisan Hamka secara tidak proporsional atau bahkan memuarbalikkan makna tulisan Hamka yang sebenarnya. Menurut Akmal, itulah yang mendasarinya mengembangkan makalahnya menjadi sebuah Tesis dengan judul Studi Komparatif Antara Pluralisme Agama dengan Konsep Hubungan Antar Umat Beragama dalam Pemikiran Hamka. Sesuai dengan judulnya, tesis ini tidak hanya membahas kontroversi dari artikel Syafii Maarif dan makalah Ayang Utriza NWAY belaka, melainkan mengupas tuntas jawaban dari sebuah pertanyaan besar: apakah Buya Hamka memang seorang pluralis? Buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme merupakan hasil adaptasi dari tesis tersebut.

Persoalan paling fundamental yang pasti muncul ketika membahas pluralisme, sebagaimana dijelaskan oleh Anis Malik Thoha dalam bukunya Tren Pluralisme Agama, adalah mendefinisikan makna Pluralisme itu sendiri. Masing-masing pihak yang mengusung pluralisme memiliki konsepnya sendiri-sendiri, bahkan tidak jarang orang menulis sebuah makalah atau buku tentang pluralisme tanpa pernah memberikan definisi pluralisme itu. Oleh karena itu, buku ini pun menguraikan secara mendalam persoalan definisi pluralisme, sejarah pluralisme dan tren-tren pluralisme yang ada. Hal-hal ini dijabarkan di dalam bab ketiga.

Setelah menjelaskan tren-tren tersebut, bab keempat dalam buku ini menguraikan argumen-argumen yang digunakan oleh kaum pluralis dari kalangan Muslim, terutama dengan bersandar pada sejumlah ayat al-Qur’an. Pembahasan ini cukup penting, selain karena posisi sentral al-Qur’an dalam ajaran Islam, juga karena tokoh yang pemikirannya sedang dibahas – yaitu Buya Hamka – adalah seorang mufassir. Dengan memperbandingkan penafsiran Hamka dengan penjelasan ayat-ayat tersebut oleh kaum pluralis Muslim, kita bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan/atau perbedaan cara berpikir keduanya.
Karena pada masa hidup Buya Hamka dahulu istilah “pluralisme” belum dikenal, maka penulis buku ini merasa perlu menguraikan konsep hubungan antar umat beragama menurut Hamka ke dalam beberapa poin penting. Poin-poin ini merupakan hal-hal yang sangat fundamental dalam gagasan pluralisme, misalnya konsep agama, posisi Islam di antara agama-agama lainnya, pandangan seputar aliran-aliran yang menyimpang, pengejawantahan toleransi beragama, dan sebagainya.

Sebagai contoh, seorang pluralis pasti menganggap Islam sejajar dan tidak lebih unggul daripada agama lainnya. Siapa pun yang berpikiran seperi itu, maka ia memang seorang pluralis. Tetapi Hamka tidak berpikiran seperti itu. Referensi yang telah ditinggalkan oleh Hamka begitu berlimpah, sehingga usaha pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidaklah sulit untuk dilakukan.

Walhasil, di tengah carut-marutnya pemikiran di Indonesia dewasa ini, buku Buya Hamka: Antara Kelurusan ‘Aqidah dan Pluralisme karya Saudara Akmal ini cukup memberikan penjelasan tuntas seputar kesemrawutan konsep pluralisme. Karya ini diharapkan mampu merangsang kembali minat para pemuda Muslim untuk menggali kembali warisan intelektual dari Buya Hamka, dan juga dari para cendekiawan Muslim terdahulu lainnya.

“Adapun seputar ‘klaim pluralisme’ terhadap pribadi Hamka, insya Allah mereka yang sudah tuntas membaca buku ini tidak akan memiliki keraguan lagi,” tulis Akmal yang menyelesaikan sarjana S-1 nya di bidang civil engineering di Institut Teknologi Bandung.

Semoga bermanfaat, dan kita menunggu terus karya-karya ilmiah yang bermutu dari para pejuang Islam lainnya.*/Jakarta, 20 April 2012

Penulis Ketua Program Studi Pendidikan Islam—Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor). Catatan Akhir Pekan (CAP) bekerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

FUUI: Tutup Pintu Dialog dengan Syi’ah


Hidayatullah.com--Sudah tidak ada waktu dan tempat lagi untuk berdialog dengan penganut Syi’ah. Sebab mayoritas ulama Ahlu Sunnah sudah sepakat bahwa faham Syi’ah itu sesat dan menyesatkan serta di luar Islam. Hal tersebut tidak saja di fatwa ulama di Indonesia tetapi juga ulama Timur Tengah termasuk para ulama Rabithah Alam Islami.


“Sekarang bukan saatnya lagi dialog atau debat tentang sesatnya faham Syi’ah.Tetapi sikap dan tindakan nyata yang harus kita lakukan,” demikian ungkap Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), KH Athian Ali Da’i, Lc, MA usai menutup acara “Musyawarah  Ulama dan Ummat Islam Indonesia ke-2” yang berlangsung di Masjid Al Fajr Kota Bandung, Ahad (22/4/2012).

Athian menambahkan jalan panjang telah  dilalui dan sejak  kelahirannya sejarah tidak pernah mencatat bahwa ada kesepahaman dan kesepakatan Sunni-Syi’ah, karena sudah menyangkut perbedaan aqidah. Karenanya,  perbedaan mendasarnya persoalan tersebut seharusnya tidak lagi menjadi perdebatan yang berkepanjangan.

Hal tersebut juga di amini Habib Thohir Alkaf dari Yayasan Al Bayyinat Bangil. Menurut Habib Thohir Alkaf, persoalan Syi’ah jangan dipandang sebagai berbedaan fiqh atau yang bersifat furu’ (cabang) namun persoalan aqidah.

“Kalau terpaksa debat dengan mereka langsung saja pada isi 4 buku rujukan utama Syi’ah (Al Kahfi, Al Istibshar, At Tahdzib dan Man Laa Yahduruhul Faqih), mereka pasti akan terdiam. Tetapi mereka masih bisa mengelak dengan taqiyah,” ungkapnya.

Thohir Alkaf menambahkan, biasanya, taqiyah (berbohong) adalah senjata utama kaum Syi’ah untuk “lari” dari kaum Sunni. Karena, taqiyah adalah bagian dari aqidah mereka sehingga akan sulit mendapatkan titik temu.

Warga Jerman: Iran Lebih Bahaya Dibanding Israel


Hidayatullah.com—Hampir separuh dari warga Jerman menilai Iran lebih membahayakan keamanan dunia dibanding Israel. Begitu menurut hasil jajak pendapat yang dipublikasikan harian Jerman, lansir Reuters (22/04/2012).

Hasil jajak pendapat yang dimunculkan harian Die Welt am Sonntag bersama hasil wawancara panjang dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu itu menunjukkan, 48% warga Jerman menilai Iran sebagai negara yang paling berbahaya bagi perdamaian dunia. Sementara yang menilai Israel sebagai bahaya terbesar bagi dunia hanya 18 persen saja.

Di mata 22% rakyat Jerman, Iran dan Israel sama-sama berbahaya bagi keamanan dunia. Sementara sisanya memilih tidak menyatakan pendapatnya.

Lebih dari separuh responden percaya, program nuklir Iran berbahaya bagi Israel.
Hasil jajak pendapat oleh Infratest/DIMAP itu menunjukkan perbedaan pendapat antara warga dengan penyair Jerman penerima hadiah Nobel kesusastraan Gunther Grass, yang belum lama merilis puisi terbarunya berisi kecaman terhadap Israel yang dipandangnya membahayakan perdamaian dunia, dengan ambisinya menghancurkan Iran.

FUUI Desak MUI Segera Keluarkan Fatwa Sesat Syiah


Sekitar 200 ulama pada Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia ke-2 merekomendasikan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengeluarkan fatwa tentang kesesatan ajaran Syi’ah dan menghentikan seluruh kegiatan Syi’ah dari pusat sampai daerah.

Ratusan ulama itu berkumpul di Sekretariat Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) di Masjid Cijagra, kemarin Ahad (22/4). Dalam rilis yang diterima detikbandung, Senin ini (23/4/2012), sedikitnya 200 ulama dan tokoh muslim dari seluruh Indonesia, di antaranya seluruh Jawa, Madura, Bali, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Aceh yang hadir.

"Kami juga minta Menkum HAM, Mentreri Agama, dan Kejaksaan Agung agar mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, atau lembaga yang berada di bawah naungan Syi’ah dan atau yang berfaham Syi’ah. Kami juga merekomendasikan pada pemerintah melalui Mendiknas agar menutup kegiatan Iranian Corner di seluruh perguruan tinggi Indonesia," ujar Ketua FUUI Athian Ali.

Poin kesepakatan yang dihasilkan dalam musyawarah tersebut masih banyak, namun intinya seluruh ulama di Indonesia harus terus memberikan pemahaman kebenaran Ahli sunnah wal jamaah dan bahaya kesesatan Syi’ah dengan berbagai cara.

Hasil lengkap Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia tentang Langkah Strategis Hadapi Aliran Sesat Syi’ah


Inilah hasil lengkap musyawarah:

MUSYAWARAH ‘ULAMA DAN UMMAT ISLAM INDONESIA KE-2
MASJID AL-FAJR, BANDUNG – JAWA BARAT, AHAD 30 JUMADAL AWWAL 1433/22 APRIL 2012
“MERUMUSKAN LANGKAH STRATEGIS UNTUK MENYIKAPI PENYESATAN DAN PENGHINAAN PARA PENGANUT SYI’AH”

 بسم الله الرحمن الرحيم

Pada hari Ahad 30 Jumadal Awwal 1433/22 April 2012, mulai pukul 09.00 s.d. 17.00 WIB., bertempat di Masjid dan RSG Al-Fajr, Jl. Situsari VI No.2 Cijagra, Buah Batu, Bandung, Jawa Barat, telah dilaksanakan “Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia Ke-2″ dengan agenda:  “Merumuskan Langkah Strategis untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syi’ah”. Musyawarah berjalan lancar dan dibuka oleh sambutan dari Walikota Bandung Dada Rosada dan Gubernur Jawa Barat DR. Ahmad Heryawan, Lc. Hadir sedikitnya 200 ‘Ulama dan Tokoh Muslim dari seluruh Indonesia, di antaranya seluruh Jawa, Madura, Bali, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Aceh dan lain-lain.
  • Target Musyawarah.
Agenda musyawarah tersebut dilatarbelakangi oleh fakta mengenai banyaknya keputusan dan fatwa mengenai Syi’ah yang semuanya dapat menjadi tidak efektif tanpa rumusan tindak lanjut yang jelas. Oleh karena itu, pada prinsipnya, musyawarah yang telah dilaksanakan bukanlah untuk membuat pernyataan sikap atau fatwa mengenai Syi’ah, melainkan untuk merumuskan tindak lanjut atas semua keputusan dan fatwa mengenai sesatnya Syi’ah.
  • Hasil Musyawarah.
 “Musyawarah ‘Ulama dan Ummat Islam Indonesia Ke-2” dibagi dalam 3 komisi, yakni Komisi Strategis dengan Ketua KH. Drs. M. Nuruddin A. Rahman, SH., Komisi Taktis dengan Ketua KH. Luthfi Bashori, Lc dan Komisi Sosialisasi dengan Ketua KH. DR. Muhammad Rizal Ismail. Hasil musyawarah setiap komisi telah dibawa ke dalam Sidang Pleno yang akhirnya secara bulat menyepakati hal-hal sebagai berikut :
Komisi Strategis
  1. Merekomendasikan kepada MUI Pusat agar mengeluarkan Fatwa tentang kesesatan faham syi’ah dan menghentikan seluruh kegiatan syi’ah dari pusat sampai daerah.
  2. Mensosialisasikan kepada masyarakat tentang kesesatan syi’ah melalui berbagai lembaga atau forum halaqoh yang bersifat ilmiah bekerajasama dengan berbagai lembaga sosial keagamaan di seluruh Indonesia.
  3. Meminta kepada Menkumham, Mentreri Agama, dan kejaksaan Agung agar mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, atau lembaga yang berada di bawah naungan syi’ah dan atau yang berfaham syi’ah.
  4. Merekomendasikan kepada pemerintah melaui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar menutup kegiatan Iranian Corner di seluruh perguruan tinggi Indonesia.
  5. Memperkokoh Ukhuwah Islamiyyah melalui pertemuan tahunan seluruh tokoh, ormas, para ulama dan cendekiawan Islam seluruh Indonesia.
  6. Mengajak bertaubat kepada seluruh tokoh dan penganut syiah agar kembali kepada ajaran Islam yang benar (Ahlussunnah Wal Jama’ah) dan apabila tidak, maka akan memproses secara hukum mereka sebagai bentuk penistaan agama seperti pada kasus Jalaluddin Rakhmat di Makassar dan kasus Tajul Muluk di Sampang Madura.
  7. Forum ini bersama-sama seluruh masyarakat muslim Indonesia siap mengawal seluruh hasil rekomendasi sampai ada tindakan kongkrit dari pihak terkait (MUI Pusat, Kejaksaan Agung, Menteri Agama, Menteri Hukum dan HAM, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Mabes POLRI).
  8. Mengusulkan kepada UIN Alauddin Makassar agar meninjau kembali rencana pemberian gelar doktor by riset kepada Jalaluddin Rakhmat , yang ditengarai sebagai tokoh  penggiat syi’ah di Indonesia.
Komisi Taktis
  1. Memperkuat Masyarakat dengan cara memberikan pemahaman kebenaran Ahli sunnah  wal jamaah dan bahaya kesesatan syiah, melalui penerbitan buku, penyampain para Da’i, Khotib, DKM, dan ormas yang ada:
    1. Membentengi Ummat Islam Internal dan Eksternal
    2. Tembusan kepada seluruh DKM
    3. Pembuat an Enslikopedi  dan buku ringkas Bahaya Syiah
    4. Menugaskan Para Da’i untuk memberi pencerahan  kepada Masyarakat tentang bahaya syiah
    5. Memasukan kedalam Kurukulum / Ektrakulikuler tentang bahaya syiah
    6. Membekali para Khotib Jum’at untuk menerangkan tentang kesesatan syiah

Benarkah Quraish Shihab penganut faham Syi’ah?


 

Benarkah Quraish Shihab penganut faham Syi’ah?

LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) di Jakarta pernah mendapatkan surat pernyataan dari Osman Ali Babseil (PO Box 3458 Jedah, Saudi Arabia, dengan nomor telepon 00966-2-651 7456). Usianya kini (tahun 2008) sekitar 74 tahun, lulusan Cairo University tahun 1963.
Dengan sungguh-sungguh seraya berlepas diri dari segala dendam, iri hati, ia menyatakan:
  1. Sebagai teman dekat sewaktu mahasiswa di Mesir pada tahun 1958-1963, saya mengenal benar siapa saudara Dr. Quraish Shihab itu dan bagaimana perilakunya dalam membela aqidah Syi’ah.
  2. Dalam beberapa kali dialog dengan jelas dia menunjukkan sikap dan ucapan yang sangat membela Syi’ah dan merupakan prinsip baginya.
  3. Dilihat dari dimensi waktu memang sudah cukup lama, namun prinsip aqidah terutama bagi seorang intelektual, tidak akan mudah hilang/dihilangkan atau berubah, terutama karena keyakinannya diperoleh berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan ikut-ikutan.
  4. Saya bersedia mengangkat sumpah dalam kaitan ini dan pernyataan ini saya buat secara sadar bebas dari tekanan oleh siapapun.

Shalat dan Berdoa di Kuburan



“RIWAS (Ritual Ziarah Wali Songo)” sebuah istilah yang amat familiar di telinga sebagian kalangan. Mereka seakan mengharuskan diri untuk melakukannya, minimal sekali setahun. Apapun dilakukan demi mengumpulkan biaya perjalanan tersebut. Manakala ditanya, apa yang dilakukan di sana? Amat beragam jawaban mereka. Ada yang ingin shalat, berdoa untuk kenaikan pangkat, kelancaran rezeki atau agar dikaruniai keturunan dan lain-lain.
Kepada siapa meminta? Ada yang terang-terangan meminta kepada mbah wali. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa ia tetap meminta kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, tapi supaya cepat dikabulkan mereka sengaja memilih makam orang-orang ‘linuwih’ tersebut.
Yang akan dibahas dalam tulisan sederhana berikut bukan hukum ziarah kubur. Karena itu telah maklum disunnahkan dalam ajaran Islam, jika sesuai dengan adab-adab yang digariskan. Namun, yang akan dicermati di sini adalah: hukum shalat di kuburan dan berdoa di sana. Semoga paparan berikut bermanfaat!
PERTAMA: SHALAT DI KUBURAN
Shalat di kuburan hukumnya haram, bahkan sebagian ulama mengategorikannya dosa besar.[1] Praktik ini bisa mengantarkan kepada perbuatan syirik dan tindakan menjadikan kuburan sebagai masjid. Karena itulah, agama kita melarang praktik tersebut. Amat banyak nash dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menegaskan hal tersebut. Di antaranya:
Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَا تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلَا تُصَلُّوا إِلَيْهَا
Janganlah duduk di atas kuburan dan jangan shalat menghadapnya. (H.R. Muslim (II/668 no. 972) dari Abu Martsad radhiallahu ‘anhu)
Imam Nawawi rahimahullah (w. 676 H) menyimpulkan, “Hadits ini menegaskan terlarangnya shalat menghadap ke arah kuburan. Imam Syâfi’i rahimahullah mengatakan, ‘Aku membenci tindakan pengagungan makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid. Khawatir mengakibatkan fitnah atas dia dan orang-orang sesudahnya.”[2]
Al-‘Allâmah al-Munawy rahimahullah (w. 1031 H) menambahkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan; dalam rangka mengingatkan umatnya agar tidak mengagungkan kuburannya, atau kuburan para wali selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, bisa jadi mereka akan berlebihan hingga menyembahnya.”[3]
Berdasarkan hukum asal, larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menunjukkan bahwa perbuatan yang dilarang hukumnya adalah haram. Demikian keterangan dari Imam ash-Shan’any rahimahullah (w. 1182 H).[4]
Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
اجْعَلُوا فِي بُيُوتِكُمْ مِنْ صَلَاتِكُمْ، وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا
Laksanakanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian dan janganlah kalian menjadikannya kuburan. (H.R. Bukhâri (I/528-529 no. 432) dari Ibn Umar radhiallahu ‘anhuma)

Subhanallah!! Gubernur Jawa Barat Dukung Ulama Bahas Bahaya Syiah


Bandung (VoA-Islam) - Tak kurang dari 200 ulama dari berbagai wilayah di Indonesia hadir dalam Musyawarah Ulama dan Umat Islam di Masjid al-Fajr (21/4) Kota Bandung. Acara ini digelar oleh Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) untuk “Merumuskan Langkah Strategis Untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syi’ah”. Kegiatan ini dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, dan dihadiri oleh Wali Kota Bandung, Dada Rosada.

Ulama-ulama yang hadir tersebut datang dari berbagai pesantren dan ormas Islam yang ada di Indonesia seperti Persis, Muhamadiyah, NU, Hidayatullah, Al Irsyad, DDII, PUI, termasuk MUI Pusat.Melalui musyawarah ulama, diharapkan dapat mengingatkan umat Islam, khususnya di Jawa Barat dan sekitarnya untuk membentengi aqidah yang menyimpang.

Dalam sambutannya Ahmad Heryawan menyambut baik acara tersebut. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa salah satu tugas ulama adalah menjaga aqidah umat.“Fatwa ulama sudah jelas tentang posisi Syi’ah ini dalam keyakinan Ahlu Sunnah wal Jamaah,maka sikap kita juga harus jelas juga,”katanya.

Untuk itu dirinya berharap rekomendasi dari ulama yang akan mengadakan musyawarah hingga malam hari nanti diharapkan menghasilkan hal yang mampu menyelesaikan masalah umat ada, sehingga bisa direkomendasikan kepada pemerintah Kota Bandung maupun langsung kepada Pemerintah Jawa Barat.
Menurutnya, rekomendasi tersebut bisa menjadi acuan gubernur dalam mengeluarkan peraturan jika dianggap perlu.Hingga menjelang shalat dhuhur peserta mendengarkan pandangan umum dari elemen ormas Islam yang hadir tentang posisi Syi’ah dalam pandangan Sunni. Hasilnya semua ormas Islam memberi pandangan bahwa Syi’ah sesat dan menyesatkan.

Musyawarah dilanjutkan usai shalat dhuhur, peserta yang hadir di bagi ke dalam tiga komisi, yakni: Komisi Strategis, Komisi Taktis dan Komisi Sosialisasi.Masing-masing komisi mempresentasi hasil dari musyawarahnya tentang rekomendasi penanganan Syi’ah di Indonesia.

Bahaya dan Ancaman Shiah di Seluruh Dunia Islam


Bermula  1 Februari 1978 ketika Ayatullah Khomeini pulang ke Iran dari pengasingan di Paris. Kepulangannya disambut gegap gempita oleh ribuan rakyat Iran.

Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi perpanjangan tangan Shah Iran.

Itulah awal mula revolusi  Iran, yang kemudian dikumandangkan sebagai revolusi “Islam” ala Khomeini. Terdengar menggelegak ke seluruh jagad.

Khomeini seakan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Seakan Khomeini menjadi sosok atau tokoh anti Amerika dan Barat. Khomeini menjuluki Amerika sebagai “setan besar”. Suara Khomeini yang penuh dengan emosi menggetarkan Dunia Islam, yang masih dalam perbudakan Amerika dan Barat.

Karena itu, banyak kalangan muda di Dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang  menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka.

Betapa Ayatullah Khomeini menjadi pahlawan mereka dan dapat menjadi “katarsis” (pelepasan) ketertindasan mereka oleh rezim-rezim yang menjadi kolaborator dan kaki tangan Amerika Serikat dan Barat. Kaum muda di Dunia Islam yang sudah lama tertekan dan tertindas itu, dan dengan penuh semangat dan mengindetikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam “ Iran ala Khomeini.

Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke Dunia Islam, dan lebih-lebih di  dunia Sunni, yang sebagian besar dikuasai rezim-rezim yang pro-Amerika dan Barat. Mereka membenci terhadap rezim-rezim di negara mereka, yang korup dan menindas. Mereka membenci kekuasaan yang sangat rakus dan menindas. Ucapan Khomeini yang menyebutkan Amerika Serikat sebagai “setan besar”, menjadikan mereka, terutama kalangan muda, memuaskan dahaga mereka dengan khayalan Khomeini itu.

FUUI Keluarkan Fatwa Sesat Syiah

 

Bandung (Voa-Islam) – Hari ini, Ahad (22/4), di Bandung, Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) yang diketuai oleh KH. Athian Ali M Dai, mengeluarkan fatwa sesat Syiah. Fatwa ini untuk merespon pertanyaan kaum muslimin, sekaligus menyikapi gerakan Syiah di Bandung, Jawa Barat dan sekitarya. Demikian dilaporkan oleh koresponden Voa-Islam di Bandung.

Pada 28 Februari 2012, ulama di Bandung berkumpul untuk merumuskan langkah strategis dalam menyikapi pergerakan dan penghinaan kepada para sahabatr Nabi saw oleh kaum Syiah. Sehingga disepakati untuk segera mengeluarkan fatwa tentang Syiah.

Selanjutnya, pada 17 Maret 2012, kembali berkumpul para ulama, diantaranya: Ustadz Amin Jamaludin, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, Ustadz Luthfi Basori, Ustadz Daud Rasyid, Ustadz Ihsan Setiadi Latief, sedangkan Ustadz Adian Husaini berhalangan hadir. Semua membicarakan tentang perlunya Fatwa Syiah.

Pada 22 Maret 2012 telah dirumuskan Fatwa tentang Kesesatan Syiah yang ditandatangani oleh Ketua FUUI KH Athian Ali M Dai dan penasihat FUUI, KH Abdul Qodir Sodiq. Fatwa tersebut akan dipublish di Masjid al-Fajar Cicagra, hari ini, Ahad, 22 April 2012.

Makin Gila!! Simbol Dajjal Jadi Maskot Olimpiade London 2012

 

VOA-ISLAM.COM - Simbol-simbol Dajjal yang berkaitan dengan Zionis Yahudi seperti mata satu bermunculan di mana-mana dari mulai uang 1 dolar AS hingga pernah menjadi cover album sebuah band di Indonesia.
Seperti dilansir republika, sangat mencengangkan, ternyata simbol mata satu juga digunakan dalam olimpiade London 2012, bukankah simbol mata satu adalah simbol Dajjal?
Olimpiade London 2012 akan digelar di London, Inggris, Britania Raya pada 27 Juli sampai 12 Agustus 2012. Menurut Wikipedia, London akan menjadi kota pertama yang secara resmi mengadakan Olimpiade modern sebanyak tiga kali. Dua olimpiade sebelumnya telah digelar di London pada 1908 dan 1948.

Setiap pesta olahraga multieven pasti memiliki maskot. Olimpiade London 2012 menampilkan sosok Wenlock dan Mandeville sebagai maskot pesta olahraga terakbar tahun 2012 ini. Wenlock dan Mandeville adalah animasi yang menampilkan dua tetes baja dari industri baja di Bolton.

Wenlock diambil dari nama kota Much Wenlock di Shropshire.  Sedangkan Mandeville diambil dari nama Stoke Mandeville, sebuah desa di Buckinghamshire tempat pendahulu Paralimpiade diadakan.

Yang mengejutkan, kedua maskot olimpiade London 2012 itu hanya memiliki satu mata besar. Bukankah itu simbol dajjal? Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, ''Aku memperingatkan kalian untuk melawannya (Dajjal) dan tidak ada Nabi yang memperingatkan umatnya untuk melawan. Tapi aku akan mengatakan sesuatu yang belum pernah diungkapkan oleh nabi sebelumku. Kalian harus tahu bahwa ia (dajjal) bermata satu...'

Dalam hadis lainnya disebutkan, Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwasannya Rasulullah menyebutkan Dajjal di tengah-tengah manusia seraya berkata: ''Sesungguhnya Allah ta’ala tidak Buta. Ketauhilah bahwa al-Masih ad Dajjal buta sebelah kanannya. Seakan-akan sebuah anggur yang busuk.'' (HR. Bukhari)

Pernyataan Daulah Islam Irak terkait serangan terakhir: sebagai balasan atas kejahatan Safawi


IRAK (Arrahmah.com) - Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (Al-Fath: 22-23)

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله ربّ العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.. وبعد

Setelah bertawakkal kepada Allah dan melakukan alasan-alasan yang Dia fasilitasi untuk hamba-hambaNya, dan sebuah balasan atas aksi penahanan, kekerasan, pengepungan dan pengambil alihan tanah wilayah Ahli Sunnah yang sudah terpapar, dan terutama wilayah Baghdad dan sekitarnya yang semakin parah dan meningkat dengan jelas baru-baru ini sebelum puncak kekejian di Baghdad, dan masih terus berlanjut, dan telah digunakan oleh pemerintah Zona Hijau untuk menekan proyek kejahatan Safawi kedepan, dengan berkolusi bersama para pengkhianat dari mitra Ahli Sunnah dalam permainan 'Demoksratis'.

Menggugat Ajaran Tasawuf, Sebuah Wacana Mencari Kebenaran


             
    TASAWUF DALAM AJARAN ISLAM*                                    

Oleh: KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc.**

“Ilmu kita harus selalu disesuaikan dengan al Qur’an dan sunnah. Maka barang siapa yang tidak menghafal al Qur’an dan tidak menulis Hadis, maka ia dianggap belum paham tentang agama dan tidak layak dijadikan qadhi (hakim).” (Junaid Al-Bagdadi)[1]

A.    Pendahuluan
Surah yang paling mulia dalam al Qur’an adalah surah al Fatihah, maka dapat dikatakan bahwa do’a yang paling penting ialah do’a yang terdapat dalam  al Fatihah xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# $tRÏ÷d$#  Tunjukilahk kami jalan yang lurus. (QS. [1]: 6). Kenapa kita harus memohon ash Shiraath al Mustaqiim ? pentingkah? Karena ash Shiraath al Mustaqiim adalah jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah Ta’ala.  tûüÏj9!$žÒ9$#  Ÿwur  öNÎgøn=tãÅ óUqàÒøóyJø9$# ÎŽöxîOÎgøn=tæ |MôJyè÷Rr& tûïÏ%©!$# xÞºuŽÅÀ “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. [1]: 7).
Di dalam Surah an Nisa’ ayat ke-69, disebut bahwa orang-orang yang telah mendapat nikmat ialah para Nabi, ash Shiddiqiin, asy Syuhada’, dan ash Shalihin. Agar Allah menempatkan kita kelak bersama dengan mereka, maka kita harus mentaati Allah dan Rasul-Nya (al Qur’an dan Hadis). Namun dalam memahami al Qur’an dan Hadis, kadang terjadi perbedaan dan silang pendapat, maka Nabi saw memberi petunjuk.
قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَعَظْتَنَا مَوْعِظَةَ مُوَدِّعٍ فَاعْهَدْ إِلَيْنَا بِعَهْدٍ فَقَالَ عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
 
"...Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di tengah-tengah kami. Beliau memberi nasihat yang sangat menyentuh, membuat hati menjadi gemetar, dan airmata berlinangan. Lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, engkau telah memberikan nasihat kepada kami satu nasihat perpisahan, maka berilah kami satu wasiyat,’ beliau bersabda, ‘Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat meski kepada seorang budak Habasyi. Dan sepeninggalku nanti, kalian akan melihat perselisihan yang sangat dahsyat, maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham, dan jangan sampai kalian mengikuti perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya semua bid'ah itu adalah sesat’.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Addarimi).[2]

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
"Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al Jama'ah." (Silsilah Hadis Shohih, Al Albani. 204).
 
               Juga sebagaimana sabda Nabi bahwa seluruh umatnya akan masuk neraka kecuali satu golongan,
 
كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلّا مِلَّةً وَاحِدةً : مَــا أَنـَا عَلَيْهِ وَأَصْحَــابِيْ
 
    “...semuanya akan masuk neraka kecuali satu  golongan: ialah orang yang melakukan seperti aku dan para sahabatku.” (HR. At Tirmizi, dan Al Hakim). 
 
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“...Sebaik-baik kalian adalah orang yang hidup pada masaku (periode sahabat), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (Tabi'in), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (Tabi'ut tabi'in)...” (HR. Muslim).
 
Berdasarkan kandungan dalil-dalil di atas nyatalah bahwa pemahaman dan pengamalan Islam yang terbaik dan harus menjadi standar dalam menilai aliran yang berkembang dalam masyarakat termasuk tasawuf,  ialah al Qur’an dan Hadis sesuai dengan pemahaman dan pengamalan generasi yang terbaik dalam Islam yaitu para Sahabat, tabi’in, tabi’i-tabi’in, temasuk para Imam yang mu’tabarah seperti Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Generasi inilah yang disebut salaf (para pendahulu) dalam Islam. Merekalah para Ahlussunnah wal Jama’ah dan atau pengikut mereka disebut Sunni.
Berkata al Junaid al Bagdadi, “Ilmu kita harus selalu disesuaikan dengan al Qur’an dan Assunnah. Maka barang siapa yang tidak menghafal al Qur’an dan tidak menulis Hadis, maka ia dianggap belum paham tentang agama dan tidak layak dijadikan qadhi (hakim).”[3] Dan berkata Imam al Auza’i, “Hendaklah kamu mengikuti jejak para salaf, meskipun manusia menolakmu, jauhilah (yang semata-mata) pendapat pribadi meskipun mereka menghiasi pendapat itu bagimu. Semua itu akan jelas dan engkau (tetap) di atas jalan yang lurus. “[4]