Sikap Syiah Terhdap Ulama-ulama Mereka yang Mengatakan Al-Qur’an telah Dirubah

Sikap kita terhadap orang-orang yang mengatakan Al-Qur’an tidak lengkap, telah dikurangi, dirubah dan diganti adalah jelas, mengkafirkan mereka dan memvonis mereka keluar dari daerah Islam dan keimanan. Karena kitab Allah adalah pokok dari agama ini, dengannya agama ini ada, darinya umat ini berpedoman.
Namun kita atau mungkin sebagian dari kita –termasuk orang Syiah- berhasil ditipu oleh Syiah dan ulama-ulamanya, pasalnya mereka mengakui bahwa tidak sedikit ulama Syiah yang berkeyakinan ditahrifnya Al-Qur’an, bahkan yang berpendapat tahrif tersebut adalah ulama-ulama besar, namun itu semua –kata mereka- bukanlah perkataan yang muktabar dalam agama Syiah, bukanlah pendapat ulama yang mesti dipedomani, karena banyak juga ulama Syiah yang membantah mereka dan menulis kitab-kitab yang menguatkan keyakinan dasar kaum Muslimin akan terjaganya Al-Qur’an suci ini.
Sampai disini, kita pun merasa puas dan hati kita menjadi lapang karena -Alhamdulillah- ada ulama mereka yang masih beriman terhadap kitabullah, sama dengan kita. Kita tak perlu lagi mencaci mereka bahkan tidak boleh menganggap mereka sesat dan kafir dalam hal ini karena merekapun berkeyakinan sama dengan kita terhadap Al-Qur’an.
Namun kita dikagetkan dengan sikap ulama-ulama tersebut terhadap ulama yang meyakini Al-Quran telah ditahrif, kita mendapati mereka ternyata tidak berlepas diri dari ulama-ulama pendukung tahrif tersebut, padahal jika bersikap adil dan inshof mestinya mereka umumkan bahwa ulama-ulama tersebut minimal telah sesat, padahal sebenarnya telah kafir terhadap Al-Qur’an, kitabullah yang terjaga.
Bahkan lebih dari itu, kita dapati adanya dukungan, penghormatan, pemuliaan dan pengagungan terhadap orang-orang yang kafir terhadap Kitabullah Al-Karim tersebut.
Tidak Mau Mengkafirkan
Salah seorang Ayatullah agung mereka, marja’ agama yang paling alim zaman ini, melakukan dosa besar  ini, pelecehan terhadap keagungan Kitabullah, ia telah menzalimi Al-Quran dan dirinya sendiri, dia mengatakan bahwa ulama yang berpendapat Al-Qur’an telah mengalami perubahan tidak berkurang kedudukannya dan kehormatannya, bahkan tidak wajib mengkafirkannya, ia sebutkan ini di bawah judul Sikap yang Tepat Terhadap Orang yang Berpendapat Tahrif Al-Qur’an,  “Iya, tidaklah bagus untuk terlalu mempermasalahkan orang yang berpendapat Al-Qur’an telah dirubah, meskipun mereka telah jatuh pada sebuah kesalahan yang tidak semestinya, namun itu merupakan kesalahan ilmiah karena kalalaian, dan itu tidak menyebabkan kehormatannya jatuh dan tidak mengharuskannya menjadi kafir.” (Fi Rihaabil Aqidah, Karya Al-Hakim, Juz 1 hal 149.)
Selanjutnya, Ulama agung mereka, Ali Al-Milani menegaskan bahwa tidak bisa mengkafirkan orang yang berpendapat tahrif, “Hanya saja mereka masih membantah buku kelompok Syiah yang lain, yaitu buku Fashlul Khithaab, karya Al-Mirzi An-Nuri. Benar bahwa Al-Mirzi An-Nuri merupakan ahli hadis terbesar, kita menghormati Al-Mirzi An-Nuri, beliau adalah seorang ulama besar, tidak ada peluang bagi kita untuk memusuhinya sedikit pun, tidak boleh, dan ini haram, karena beliau adalah muhaddis besar di antara ulama-ulama kita.” (Muhadharaat fil I’tiqadaat, Ali Al-Milani, Juz 2, hal 602)
Bahkan mati-matian dia membelanya, di bawah judul Sikapa Para Ulama Terhadap Al-Mirzi An-Nuri dan Kitabnya, ia menulis, “Para ulama telah membantah bukunya, sudah banyak kitab yang ditulis untuk menjawabnya, baik itu dari orang-orang yang sezaman dengannya dan ulama-ulama belakangan….Adapun kita mengkafirkannya, menolak, serta mengeluarkannya dari kelompok kita sebagaimana yang diminta oleh para penulis Ahlu Sunnah masa kini maka ini adalah sebuah kesalahan dan sangat tidak akan mungkin terjadi.” (Ibid, hal 608)
Beginilah kedudukan Al-Qur’an di hati mereka, ulama mereka lebih mereka muliakan daripada Al-Qur’an itu sendiri. Na’udzubillah.
Pujian Terhadap Mereka
Al-Majlisi, Seorang ulama besar Syiah, penulis buku Biharul Anwar, Mir’aatul ‘Uquul  dan selain itu. Dia-lah salah seorang yang mengatakan, “Riwayatnya shahih, tidak diragukan lagi bahwa riwayat ini dan banyak riwayat shahih yang lainnya dengan sangat jelas menerangkan bahwa terjadi pengurangan dan perubahan di dalam Al-Qur’an, dan menurut saya riwayat-riwayat tentang ini maknanya mutawatir ” (Mir’aatul ‘Uquul, Juz 12, hal 525)
Mestinya orang seperti ini divonis kafir, atau minimal sesat, tidak dihormati apalagi disanjung serta dipuji, namun apa yang terjadi, bagaimana penyikapan Syiah terhadapnya;
Abul Qasim Al-Khu’i menyebut dalam kitab Rijaal-nya, Mu’jam Rijaal Hadiis, “Syekh Al-Hurr menyebut Muhammad Baqir bin Muhammad Taqiy Al-Majlisi dalam Tadzkiratul Mutabahhirin sebagai Seorang alim, mulia, mahir, ahli tahqiq, mendalam ilmunya, Allamah, fahhamah, faqih, mutakallim, muhaddis, tsiqah tsiqah, mengumpulkan semua kebaikan dan keutamaan, memiliki kemampuan yang besar, kedudukan yang tinggi, semoga Allah memanjangkan jejak-jejak peninggalannya” (Mu’jaam Rijaal Hadiis, juz 15, hal 221)
Pada kitab yang sama berulang-ulang ia sebutkan pujian terhadap penghina Al-Qur’an ini,
“…..sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Majlisi semoga Allah merahmatinya di dalam kitabnya ­Al-Mir’aah” (Juz 5, hal 37)
“….Disebutkan oleh Al-Majlisi­ semoga Allah menyucikan jiwanya dalam kitabnya Al-Mir’aah” (Juz 11, hal 231)
“…Dan Syekh kami, Al-Majlisi semoga Allah menyucikan ruhnya condong kepada pendapat tersebut” (Juz 19, hal 106)
“Al-Majlisi, semoga Allah menyucikan rahasianya” (Juz 20, hal 93)
Dan begitu seterusnya, pujian-pujian datang silih berganti terhadap musuh Al-Qur’an ini.
Al-Khumaini tidak mau ketinggalan dalam memuji-muji orang yang telah mengatakan Al-Quran tidak asli lagi, berturut-turut ia puji dalam kitabnya Al-Arba’una Haditsan,
Berkata Ahli Taqiq agung, Ahlu Hadis terkemuka, Maulana Al-Majlisi” (hal 143)
“Dinukil oleh Al-Majlisi semoga Allah merahmatinya” (hal 329)
“Telah dijelaskan oleh Ahli Hadis agung, Al-Majlisi baginya rahmat” (hal 587)
“Adapun apa yang disebutkan oleh Al-Marhum, yang telah dirahmati Al-Majlisi” (hal 589)
Husein An-Nuri Al-Mirzi Ath-Thibrisi, Seorang penulis buku Fashlul Khithah Fi Itsbat Tahriif Kitaab Rabb Al-Arbab, sebuah buku yang menegaskan dengan sangat jelas akan terjadinya tahrif di dalam Al-Qur’an, bahkan dalam buku itu sebutkan surat-surat sebagai ganti dari Al-Qur’an yang diklaim telah dirubah-rubah tersebut, bagaimana sikap ulama-ulama Syiah terhadapnya?, mari kita baca di bawah ini,
Ayatullah Al-Uzhma, Abdul Husein Al-Musawi mengatakan, “Dialah guru para ahli hadis pada zamannya, orang jujur pembawa riwayat-riwayat, guru kami dan tuan kami yang paling wara’, Al-Mirzi Husein An-Nuri.” (An-Nash wal Ijtihad, hal 95)
Al-Khumaini juga memujinya dengan mengatakan, “Seorang alim, zuhud, faqih, ahli hadis, Al-Mirzi Husein An-Nuri, semoga Allah menerangi tempatnya yang mulia” (Arba’una Haditsan, hal 21-22)
Abul Qasim Al-Khu’i kembali menegaskan sikapnya terhadap musuh Allah ini, ia mengatakan, “Bersama dengan itu, maka Syekh kami ahli hadis, An-Nuri, telah mengeluarkan segala kemampuannya, semoga Allah menyucikan ruhnya
Begitulah sikap Syiah terhadap musuh Al-Qur’an ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari hakekat yang telah kita ketahui ini. Semoga Allah membuka hati yang tersesat. Amin.

Bahan bacaan: kitab Al-Fisham An-Nakd; Dirasah Lihaqiqah Al-Azimah Baina Ulama Asy-Syiah wal Qur’an, karya Abdul Malik bin Abdurrahman Asy-Sayfi’i, Cet 1, 2010.)
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More