Selamat Natal Dalam Al-Qur'an?

Isa putra Maryam dalam pandangan kaum muslimin, kendati tidak dianggap sebagai Tuhan sebagaimana umat Kristiani, namun bukan berarti beliau tidak mendapat penghormatan yang tinggi. Umat Islam menganggap bahwa Isa alaihissalam (as) adalah seorang nabi sekaligus rasul yang mendapat gelar ulul azmi atau memiliki peran besar dalam berdakwah.
Sangat banyak ayat Alquran yang menceritakan kemuliaan dan kehebatan rasul Allah yang datang sebelum Nabi Muhammad ini, sebutlah misalnya Surah Ali Imran (keluarga Imran) yang merawat Maryam yang kelak menjadi Ibu dari Nabi Isa; Surah Alma’idah (Hidangan) yang ceritanya bersumber dari dialog antara Nabi Isa dan umatnya yang meminta hidangan berupa hati burung puyuh campur madu dari langit (QS. 5:114); Surah Maryam yang merupakan ibu kandung Nabi Isa, hingga sebuah surah yang bernama surah as-Shaf. Tidak ada rasul yang mendapat porsi cerita dalam Alquran sebesar Isa as.
Mengambil teori Alquran jika berbicara tentang Isa, maka mengangkat tokoh utama dibalik lahirnya nabi yang diangkat naik ke langit tersebut versi Alquran adalah sebuah keniscayaan. Dialah Maryam.
Menurut Mufassir muktabar, Al-Qurthubi rahimahullah, Maryam adalah seorang nabiyah alias nabi berkelamin perempuan. “Yang sahih ialah Maryam itu seorang nabiyah karena Malaikat menyampaikan wahyu kepadanya, mengandung perintah Allah, perkabaran, dan kabar selamat. Sebab itulah dia nabiyah,” begitu kesimpulan Al-Qurthbi dalam kitab “Tafsir Ayatul Ahkam” karya monumentalnya.
Terlahir dari pasangan Yahudi, Hanna dan Yoakin yang hidup sekitar satu abad sebelum Masehi di Nazareth Palestina. Maryam, sejak dalam kadungan, sang ibu selalu berdoa agar anaknya kelak menjadi manusia yang taat.
Sumber-sumber klasik baik dari pihak Kristen (Genesis) maupun Islam (Alquran dan Tafsir) mengisahkan bahwa pasangan suami istri, Yoakin dan Hannah hidup dalam keadaan bahagia dan berkecukupan. Sayangnya, sudah lama menikah namun tak jua mendapatkan keturunan. Dalam kegalauan itulah sang suami, Yoakin lantas mendatangai Baitul Maqdis sebuah kuil di Yerussalem yang sangat disucikan kaum Yahudi. Bangunan tersebut telah runtuh dan kini dinaungi Kubah Sakhrakh yang telah dibangun oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah tahun 691 M, kuil yang merupakan bangunan Nabi Sulaiman, yang kini berusaha dibangun kembali oleh Zionis Israli dengan cara merobohkan masjid saat ini. Di tempat itulah Yoakin melampiaskan kegalaunnya, mengutuk dirinya yang mandul, dan terus-menerus mengasingkan diri.
Ada pun istrinya, juga tak kalah galau, betapa tidak suaminya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Dalam kegalauan yang memuncak itulah sang istri berdoa dan bernazar kepada Allah yang diabadikan dalam Alquran (QS. [3]:35), “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku yang menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis, karena itu terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Sang ibu menginginkan agar kelak anak yang terlahir dari kandungannya dapat menjadi pelayan dan penjaga rumah suci. Tapi rasa ragu membalut Hannah karena ternyata dia melahirkan bayi perempuan bukannya laki-laki, sesuai tradisi, hanya laki-laki saja yang kerap melayani Baitul Maqdis.
Namun harapan sang ibu tetap terwujud. Maryam, sejak usia tiga tahun sudah menjadi pelopor gender, mengambil tugas yang selama ini didominasi kaum lelaki. Nazar ibunya untuk menjadikan dirinya pelayan Baitul Maqdis tewujud di bawah asuhan dan bimbingan Nabi Zakaria.
Ketika berusia tiga tahun dan mulai menjadi pelayan, hak asuh atas Maryam pernah diperebutkan oleh para ulama Yahudi, karena dia berasal dari keturunan Bani Israil yang sangat terhormat. Mereka berebut dengan Nabi Zakaria. Pada akhirnya sengketa tersebut diselesaikan dengan mengundi. Caranya: melempar anak panah ke dalam kolam air, anak panah yang paling lama terapung berhak menjaga Maryam. Nabi Zakariyalah yang memenangi undian tersebut dan memelihara Maryam hingga usia 12 tahun.
Maryam tumbuh sebagai gadis cantik dan cerdas namun salihah, gadis yang menanjak usia remaja ini berusaha mendedikasikan hidupnya hanya untuk Allah swt semata, untuk itulah ia memilih uzlah atau menyendiri pada arah timur Baitul Maqdis dalam sebuah kampung bernama ‘Baitlaham’ yang kini menjadi Bethlehem, ia memasang tabir agar tidak diganggu oleh siapa pun.
Hari-harinya diisi hanya dengan beribadah kepada Allah, berzikir sembahyang dan berpuasa sehari serta berbuka dua hari. Kerena itulah Allah selalu menurunkan mukjizat kepadanya, berupa makanan berasal langit yang selalu ada dalam kuil. Dari situlah Nabi Zakaria heran, dan menanyakan asal makanan tersebut. “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehedaki tanpa perhitungan,” jawab Maryam sebagaimana firman Allah (QS. [3]:37).
Ketika larut beribadah dalam kesendirian, tiba-tiba seorang laki-laki tanpan berjubah putih nyelonong masuk ke kamarnya wanita dara lagi suci itu. Maryam pun terkejut, “Sungguh aku berlindung kepada Tuhan yang Maha Pengasih terhadapmu, jika kamu orang yang bertakwa.” Kata Maryam pada lelaki asing itu.
Lelaki itu menceritakan jati dirinya, bahwa dia adalah Malaikat Jibril yang diberi tugas menyampaikan perkara penting kepada Maryam, bahwa dirinya akan segera mendapat anugrah berupa bayi lelaki yang suci. Hal ini menjadikam Maryam kian heran dan terkejut dengan mengaskan bahwa tidak mungkin dirinya akan melahirkan anak lelaki, karena dia tidak pernah disentuh oleh lelaki asing dan bukan pula seorang pezina. Namun Jibril menegaskan bahwa hal demikian hanyalah perkara muda bagi Allah (QS. [3]:47; [19]:20).
Bisa dibayangkan bagaimana tekanan psikis yang dialami Maryam ketika terdengar kabar kehamilannya, untuk itulah demi keselamatan diri dan bayinya ia menjauhkan diri dari orang banyak. Sebagai perempuan yang taat beragama dan memiliki rasa malu dan harga diri begitu tinggi, sehingga dia mengucapkan. “Aduhai alangkah baiknya aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi tak berarti lagi dilupakan!” (QS. [19]:23).
Benar saja, ketika tersiar kabar kehamilannya, kaumnya dari spesis Bani Israil yang memang doyan fitnah dan bikin onar mencemooh dan menghinanya habis-habisan. Namun sebagai nabiyah, Maryam menerimanya dengan ikhlas dan penuh tawakkal. Bahkan ia berpuasa untuk tidak berbicara, sebuah ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh Maryam dalam sejarah umat manusia.
Sendiri di tempat sunyi tanpa ditemani siapa pun dalam keadaan hamil tua, menjadikan kesedihannya semakin dalam. Maryam terus berusaha mencari makanan dan minuman agar diri dan janinnya tetap tercukupi asupan gizinya. Tapi sekali lagi, tak ada seorang pun yang dapat membantunya. Dalam kesedihan yang mendalam itulah, Jibril kembali menampakkan dirinya, lalu berkata. “Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak padamu!” (QS. [19]:24-25). Kisah ini mengingatkan kita kembali pada perjuangan heroik Hajar yang ditinggal pergi oleh Ibrahim as bersama bayinya Ismail as di sebuah lembah yang tandus dan tak berpenghuni tanpa bekal apa-apa kecuali keyakinan kepada Allah. Dikala bekalnya habis, sang ibu berlari-lari kecil mencari bantuan dari Bukit Shafa ke Marwah –kelak menjadi rute umrah- berkali-kali, dapat dibanyangkan bagaimana lelahnya. Dalam keadaan yang sangat genting itulah pertolongan Allah datang lewat sebuah air terpancar dari tumit Ismail as. Sejak itulah kehidupan bermula di tempat gersang itu, yang kini disebut Makkah. Kedua wanita di atas mengajarkan kita bahwa pertolongan Allah selalu datang setelah usaha dan perjuangan, agar hidup terasa berwarna.
Tidak lama setelah itu, Maryam pun melahirkan seorang bayi lelaki. Di saat bersamaan kaumnya juga berduyun-duyun datang kepadanya, menghina dan mencercanya. “Hey, Maryam, Engkau telah berbuat sesuatu yang mungkar! Ayahmu bukanlah orang jahat, dan ibumu bukan pula pezina!” (QS. [19]:27-28). Maryam hanya mengisyaratkan kaumnya yang menuduh tanpa bukti, agar bertanya sendiri kepada anaknya yang baru lahir itu. Ketika ditanya, sang anak benar-benar berbicara, katanya. “Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari wafatku, pada hari lahirku, juga pada hari aku dibangkitkan kembali.” (QS. [19]:33).

Itulah kata-kata Isa as sebagai pembelaan terhadap ibunya –hingga saat ini masih banyak yang menganggap dari kalangan Bani Israil jika Isa as adalah anak zina- dan penegasan akan eksistensi dirinya, bahwa kesejahteraan itu ada bukan hanya pada waktu kelahiran, tapi mencakup hari wafat dan waktu kebangkitan. Jika natal diartikan sebagai kelahiran Isa al-Masih putra Maryam, maka demikianlah natal menurut Alquran. Wallahu a’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More