Salah Paham tentang Konsep 'Adalah Sahabat, Jawaban Lengkap atas Makalah Jalaluddin Rakhmat tentang 'Adalah Sahabat

Salah Paham Tentang Konsep ‘Adalah Sahabat

Oleh: Abdul Hayyie Al-Kattani

NB: Sebelum membaca ini kami sarankan bagi anda untuk mendownload file di bawah ini, mengingat jumlah halaman yang agak panjang (36 halaman), silakan download dengan klik disini

Apakah konsep tentang 'Adalah Sahabat bermakna mensakralkan mereka? Dan menganggap mereka manusia-manusia suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan? Atau memuja mereka seperti sesembahan? 

Pendahuluan
Di Facebook, Dr. Jalaluddin Rakhmat mengundang saya untuk mengomentari tulisannya, sebagai berikut: "posts another article about "Sahabat dalam Timbangan Al-Quran" and invite people who sacralize sahabat to comment, including Abdul Hayyi alKattani and others."

Membaca kalimat di atas, saya tertegun sejenak: apakah konsep tentang 'Adalah Sahabat bermakna mensakralkan mereka? Dan menganggap mereka manusia-manusia suci yang tidak mungkin melakukan kesalahan? Atau memuja mereka seperti sesembahan?


Salah Paham Tentang Konsep 'Adalah Sahabat

Di sini, saya melihat ada kesalah pahaman tentang konsep 'adalah para sahabat. Sebenarnya konsep "'adalah sahabat" sederhana saja. Yaitu menilai diri para sahabat Nabi saw. sebagai jalur penyampai yang bisa dipercayai bagi Al Qur`an, hadits-hadits Nabi saw., serta seluk beluk kehidupan Nabi saw. selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya.

Hal tersebut tidak berarti memberikan penilaian mereka sebagai sosok yang maksum yang tak mungkin berbuat salah, tidak mungkin lupa, tidak mungkin berbuat dosa, atau melakukan suatu kemaksiatan. Mereka bisa saja melakukan semua itu. Karena sifat maksum atau terhindar dari dosa hanya bagi Nabi saw. saja.

Secara logika, ini sangat diterima. Mengapa? Karena di mana pun di dunia ini, ketika orang ingin mengetahui sejarah dan catatan-catatan tentang kejadian sebelum kelahirannya, pasti memerlukan info dari orang yang hidup sebelumnya. Kita bisa saja lebih berpendidikan dari orang tua kita. Tapi kejadian-kejadian di tengah keluarga kita, sebelum kita lahir, atau ketika kita masih balita, pastilah mereka yang tahu. Sepintar dan sesuci apa pun kita melihat diri kita, tidak mungkin kita lebih tahu dari orang tua kita tentang semua kejadian sebelum kita lahir. Di sini, keinginan kita untuk mengetahui sejarah otentik keluarga kita atau masa-masa balita kita, harus meletakkan orang tua kita sebagai sumber informasi yang terpercaya. Kecuali jika mereka terbukti senang berdusta. Karena jika tidak, kemana lagi kita mesti mencari informasi tersebut?

Membatasi sumber informasi, membuat kita menghasilkan gambaran yang tidak otentik terhadap objek yang ingin kita ketahui.

Demikian juga dengan keinginan kita untuk mengetahui riwayat otentik Al Qur`an dan sunnah-sunnah Nabi saw. Melalui siapa kita mengetahui semua itu? Tentu jawabnya melalui para sahabat, isteri-isteri beliau dan anak-anak serta menantu beliau yang pernah mengalami hidup bersama beliau atau mendengar suatu riwayat dari beliau.

Di sini kita mesti meletakkan para sahabat sebagai sumber informasi atau riwayat otentik dari Nabi saw. Kecuali jika orang tersebut terbukti pernah berdusta terhadap Nabi saw. Atau Nabi saw. sudah memberikan kata pasti bahwa si A adalah sosok yang tidak bisa dipercayai/ munafik.
Apakah ada alternatif selain itu untuk mengetahui riwayat otentik dari Nabi saw.?

Orang bisa mengatakan: "Ada, yaitu lewat anak dan menantu serta keturunannya. Yaitu anak beliau, Fathimah r.a. dan menantu beliau, Ali bin Abi Thalib serta kedua anak mereka, Hasan dan Husein. Karena merekalah Ahli Bait yang masuk dalam hadits Kisaa`".

Tapi nyatanya untuk mengetahui keutamaan/fadhail diri mereka saja kita harus mengandalkan riwayat-riwayat dari para sahabat. Bayangkan jika kita mencampakkan para sahabat atau isteri Rasulullah saw. sebagai sumber riwayat dari Nabi saw., dari mana lagi kita mengetahui keutamaan atau fadhaail Ali bin Abi Thalib r.a. dan keluarganya yang disampaikan langsung oleh Rasulullah saw.? Bukankah hadits Kisaa` yang diagung-agungkan sebagai keutamaan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya itu diriwayatkan oleh Aisyah r.a. isteri Nabi saw.?

Orang bisa meneliti, kitab-kitab ulama Imamiyah Ja'fariyah yang mengklaim hanya mengandalkan riwayat dari Ahli Bait, nyatanya mereka hampir tidak memiliki riwayat-riwayat yang bersambung dengan sanad sahih hingga Rasulullah saw. melalui jalur Ahli Bait. Apakah seperti itu otentik?

Kalau orang menisbahkan riwayat Ahlul Bait kepada Ja'far Shadiq, namun hingga saat ini kita tidak pernah tahu Ja'far Shadiq mempunyai kumpulan hadits atau karya tulis yang bisa dijadikan rujukan. Jadi dari mana kita tahu ajaran Nabi saw. yang otentik melalui Ahlul Bait?

Dan Al Qur`an yang sampai kepada kita saat ini juga tidak diriwayatkan melalui Ahli Bait. Tapi melalui jalur periwayatan para sahabat. Bagaimana jadinya jika kita menolak para sahabat sebagai jalur periwayatan Al Qur`an dan hadits-hadits Nabi saw.? Dari mana kita mengetahui teks dan bacaan Al Qur`an yang benar?

Oleh karena itu, tidak aneh jika para imam dari kalangan keluarga Ali bin Abi Thalib r.a. mengambil riwayat-riwayat sunnah dari kalangan sahabat serta berdalil dengan perbuatan mereka. Seperti diriwayatkan dalam salah satu dari empat kitab terpenting dalam Imamiyah Ja'fariyah, yaitu kitab Man La Yahdhuruhul Faqih sebagai berikut:

قال الشيخ الصدوق 4242: وروى عبد الله بن ميمون عن أبي عبد الله ، عن أبيه عليهما الصلام قال : ":ان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وآله بتبوك يعبون الماء ، فقال رسول الله صلى الله عليه وآله : اشربوا في أيديكم فإنها من خير آنيتكم " . ( من لا يحضره الفقيه ج 3 ص 353)

Syekh Shaduq berkata: Abdullah bin Maimun meriwayatkan dari Abi Abdillah (Ja'far Shadiq) dari ayahnya a.s. ia berkata: "Para sahabat Rasulullah saw. saat di Tabuk minum dengan secara langsung ke tempat air. Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Minumlah dengan tapak tangan kalian, karena ia adalah gelas yang paling baik bagi kalian." (Man La Yahdhuruhu al Faqih: juz 3 hal. 353) 

Selanjutnya bisa dibaca di file download PDF di atas

http://nosra.islammemo.cc/onenew.aspx?newid=2776
Ditulis Oleh Abdul Hayyie Al Kattani  (http://hakekat.com)  

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More