Revolusi Iran: lahirnya Khomeinisme dan Bencana Bagi Dunia Islam

Berikut adalah petikan dari buku “Tantangan Syiah terhadap Ahlus Sunnah” yang merupakan rangkuman wawancara ekslusif DR. H. Mohammad Baharun, SH. MA Seputar Syiah, diterbitkan oleh Pustaka Sidogiri, 2008. Berikut ulasan khusus mengenai Revolusi Iran, selamat membaca.
Banyak yang terpukau dengan Revolusi Iran. Bahkan ada yang berpendapat itu awal kebangkitan Islam. Bagaimana pendapat anda?
Revolusi Iran bukanlah keberhasilan dunia Islam, tapi bencana baru. Revolusi Iran bukan pula kemenangan Islam atas Barat, melainkan keberhasilan Khomeini dengan Syiah Konservatifnya atas Shah Reza Pahlevi dengan Syiah modernnya.
Media Internasional justru melukiskan Revolusi tersebut sebagai bapak yang memakan anak kandungnya sendiri. Coba lihat, Sadeq Gotbzadeh (Perdana Menteri) dihukum mati; Presiden pertama Revolusi, Bani Sadr, lari terbirit-birit ke Prancis (sampai sekarang buron) karena takut mengalami nasib yang sama dengan Sadeq.
Ayatullah Bahesti dan anggota parlemen lainnya tewas dibom. Bahkan, last but not least, rival politik Khomeini sendiri, Ayatullah Syariat Madari, dikucilkan sampai mati dalam derita tahanan rumah. Sejak saat itu sampai sekarang yang menonjol adalah Khomeinisme, bukan semangat Pan-Islamisme. Ini jelas menjadi penghalang terjadinya reformasi di negeri itu.
Jargon anti-Amerika yang digembar-gemborkan Iran
Ketika ada tawaran damai perang Iran-Irak, Ayatullah Khomeini menerima dengan berat seraya mengatakan bahwa penerimaan damai itu rasanya seperti minum racun. Isu anti-AS dan Israel selama itu tiba-tiba buyar setelah terkuak skandal Iran-Contra (penjualan senjata secara gelap) yang melibatkan AS dan Israel. Bahkan mentor Revolusi Khomeini, Ayatullah Abul Qasim Kashani, telah disebut sebagai agen penting CIA (Baca, Devil’s Game Orkestra Iblis: 60 tahun perselingkuhan Amerika-Religions Extremist, SR-Ins, Yogya, 2007)…
Ayatullah Khomeini Pemimpin Umat Islam?
Ayatullah Khomeini dengan wilayat al faqihnya berusaha memosisikan dirinya sebagai pemimpin umat Islam. Dialah yang menentukan jalannya pemerintahan dan kekuasaan Islam. Itu dimaksudkan tidak hanya buat umatnya sendiri (kaum Syiah), melainkan juga untuk negeri-negeri kaum muslimin lainnya.
Oleh karena itu, dengan ambisi wilayat al faqih tadi ia pernah memekikkan “Ekspor Revolusi” ke negeri negeri Islam. Tapi ambisi itu gagal karena kini semua kaum sunni sudah mengetahui ambisi politik tersebut. Perlawanan terhadap kekuasaan mutlak wilayat al faqih tak hanya datang dari umat Islam, melainkan kalangan umat Syiah sendiri menentangnya pula dengan keras, seperti Ayatullah Syari’at madari, Presiden Bani Sadr, dll.
Saya tertarik mengkaji Syiah sejak Revolusi Iran, bahkan sebagai kenangan, saya sudah membuat dua buku mengenai Syiah dan Iran saat itu. dari kajian atas Syiah inilah saya menemukan ada beberapa prinsip Syiah yang berbeda secara diametral dan bersifat antagonistis dengan Ahlus Sunnah. Yaitu doktrin diskualifikasi para pemuka sahabat nabi dan standar ganda dalam menerima hadits ahlu sunnah. Hadits yang berkenaan dengan Sayyidina Ali, Fatimatuz Zahra, al Hasan dan al Husain diterima, namun hadits mengenai para pemuka sahabat dan para istri Nabi (kecuali Khadijah radhiyallahu ‘anha) ditolak.
Sesungguhnya Syiah Itsna Asyariah itu menolak semua hadits-hadits Sunni kecuali yang sejalan dengan ideology mereka.  ini harus kita kritisi sebab jika tidak umat yang dibawah akan membenarkan penolakan Syiah ini melalui hadits-hadits musykil seperti tentang tawar menawar shalat, Nabi kencing berdiri, Nabi terkena Sihir, dan lain-lain. hadits kodifikasi Bukhari dan Muslim dinyatakan tidak rasional. Padahal, semua Hadits musykil ini sudah dijelaskan oleh para ulama ahli Hadits.
Lagi, tentang Revolusi Iran.
Revolusi Iran itu bukan Islam versus Barat atau AS. Tapi itu adalah hasil konfllik sosial-politik antara Syiah modern (Syiah Reza Pahlevi dan ulama Syii Sekulernya) dengan Syiah konservatif (Ayatullah Khomeini dan Wilayatu al Faqihnya). Ratusan ribu bahkan, mungkin jutaan rakyat Iran yang tak berdosa tewas dalam Revolusi itu, hingga pers international pernah menyebut bahwa Revolusi Iran telah makan anak kandungnya sendiri. PM. Sadeq Qotbzadeh dibunuh karena tak sejalan dengan garis politik Khomeini, Presiden pertama, Bani Shadr, andai ia tak lari ke Prancis, pasti akan mati. Ayatullah Bahesti dan anggota Parlemen terbunuh bersama-sama di kantor karena bom “Revolusi” itu, Ayatullah Syari’at Madari dihukum di rumah sampai mati ngenes.
Tentang Pertemuan Sunni-Syiah di Bogor
Pertemuan apapun namanya jika bermaksud baik harus didukung, apalagi tema yang diusung adalah ukhuwah, tapi pertanyaan yang menggantung adalah apa mungkin Sunnah-Syiah itu disatukan secara akidah? Apa sudah ada contohnya dalam sejarah mereka berkompromi, dan salah satu tak dikhianati? Padahal sejak tahun 1984, MUI Pusat menyatakan harus diwaspadai (Syiah sesat-menyesatkan)

(Sulfandy/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More