Proporsional dalam Memuliakan Al-Husein


Tanggapan atas tulisan Ismail Amin, “Sekali Lagi, Mengenang Asyura Itu Penting”
Sejujurnya penulis tidak begitu tertarik berpolemik tentang tragedi kematian al-Husein yang terjadi di Padang Karbala pada 10 Asyura tahun 61 Hijriah. Namun atas permintaan saudara Ismail Amin agar penulis menanggapi tulisannya yang berjudul "Revolusi al Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis" (Tribun Timur, 23/11), karena menurut beliau artikel saya yang berjudul "Keutamaan Muharram dan Keagungan Asyura" (Tibun Timur, 30/11) sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan apa yang beliau tulis, dan tidak layak disebut sebagai tanggapan, idealnya berdiri sendiri. Oleh karena itulah beliau kembali menulis tanggapan dengan judul, “Sekali Lagi, Mengenang Asyura Itu Penting” (Tribun Timur, 3 Desember 2012).
Namun saya mengapresiasi saudara Ismali Amin yang ‘merangsang’ saya untuk banyak mengeksplorasi sejarah, baik itu versi Sunni maupun Syiah, karena hemat penulis sikap Sunni dan Syiah terhadap Imam Husain sangat erat kaitannya dengan latar belakang pemahaman kedua aliran di atas. Ada clash of theology, walaupun pada awalnya tragedi Karbala hanyalah sebuah tragedi kemanusiaan. Saya juga sangat berterima kasih kepada Harian Tribun Timur yang menjadi media yang selalu menampilkan tulisan-tulisan yang mengandung pencerahan. Trima kasih Tribun!
Etika dalam menanggapi sebuah tulisan tidaklah mesti menguliti tulisan yang ditanggapi tersebut dari kata per kata, kalimat per kalimat, atau paragraf per paragraf. Bagi saya, sebuah tanggapan bisa manjadi sebuah penerang, atau penyempurna, bahkan mengalihkan para pembaca ke hal-hal yang lebih rasional dan terang berdasarkan analisis penanggap terhadap para pembaca. Teori yang terakhirlah yang masuk dalam kategori tanggapan saya, dan ini bukanlah hal baru dalam dunia tulis-menulis. Bahkan Alquran pun mengabadikan bagaimana Rasulullah menjawab pertanyaan orang Arab terkait ‘hilal’ atau bulan sabit yang perlahan membulat, besar dan terang, lalu kemuadian mengerucut, gelap, dan hilang. Nabi menjawab dengan mengalihkan kepada jawaban yang dianggap lebih rasional, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia untuk melakukan ibadah Haji.” (QS. [2]: 189), jawaban semacam ini dalam Ilmu Balaghah -termasuk dalam kategori Ilmu Retorika- disebut ‘Ushlubul Hakim’. Inti dari tulisan saya adalah menerangkan kepada pembaca bahwa memang ada anjuran untuk menggenjot ibadah pada bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura, namun tidak sedikit juga amalan yang dilakukan oleh para penganut Syiah yang tidak berdasar seperti berdemonstrasi sambil memukul bahu, pipi, punggung dengan cemeti, pedang, dan sejenisnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri, dengan mudah kita saksikan di ragam media. Jin, iblis, dan setan pun tak akan bisa mengingkari adanya ritual sesat tahunan itu.
Imam Makshum
Al-Husein yang kata dan perbuatannya telah diridhai Allah pada dasarnya telah mendapat tuduhan dan hinaan dari kaum yang mengaku mencintai beliau dan menganggapnya sebagai salah satu imam makshum. Sebagaimana yang termaktub dalam literatur Syiah bahwa telah dikisahkan tentang kabar gembira kelahiran bayinya itu sampai beberapa kali, sepertti halnya Rasulullah tidak mau memerhatikan kabar gembira itu. Maka, Fatimah dengan terpaksa, bahkan dengan bencinya sehingga al-Husein tidak disusuinya. Al-Kulani meriwayatkan dari Ja’far yang berkata bahwa Jibril telah datang kepada Rasulullah dan mengatakan, “Fatimah akan melahirkan seorang bayi laki-laki yang nantinya akan dibunuh oleh ummatmu setelah engakau wafat.” Ketika melahirkan, Fatimah pun membenci bayinya karena ia tahu putranya akan dibunuh. (Al-Ushul Minal Kafi, Kitabul Hujjah, Jiz 1, hal. 464). Penghinaan terhadap al-Husain tetap berlanjut, al-Kulaini menulis, “Al-Husein tidak menyusu kepada Fatimah atau kepada wanita lainnya, seperti pernah dialami oleh Nabi, tetapi ia cukup menghisap ibu jarinya untuk minum dua atau tiga hari.” (Basha’irud Darajat Lish Shafar, hal. 10).
Semua ahli sejarah Syiah menyebutkan bahwa rakyat Kufah adalah kubu Syiah saat itu, dan di situ pula al-Husein disanjung, disambut, dan dielu-elukan sebagaimana yang diriwayatkan bahwa Ja’far telah mengatakan, “Wilayah (hak imamah) kita telah ditawarkan kepada langit dan bumi, gunung-gunung, dan negeri-negeri, tetapi tak satu pun yang menerima seperti penerimaan penduduk Kufah.” Dan dikatakan pula bahwa Allah telah memilih empat negeri melalui firman-Nya, “Demi pohon tin dan pohon zaitun, demi bukit Sinai. Dan negeri yang aman ini.” Yang dimaksud ‘pohon tin’ adalah kota Madinah, ‘pohon zaitun’ adalah Baitul Maqdis, ‘bukit Sinai’ adalah Kufah, dan ‘negeri yang aman’ adalah Makkah, sebuah penafsiran yang sesat dan tak berdasar. (Kasyful Gumam, II, hal. 223; Al-Irsyad, hal. 203; al Fushul al-Muhimmah fi Ma’rifati Ahwalul A’mmah, hal. 182).
Konon kota Kufah telah tertulis sekitar seratus lima puluh sambutan untuk al-Husein, antara lain berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim, untuk al-Husein bin Ali Amirul Mukminin, dari Syiah ayahnya. Keselamatan bagimu, Amma ba’du. Semua orang telah menanti Anda, tak seorang pun yang dinantikan kecuali Anda. Cepat-cepatlah datang! Segeralah, wahai Putra Rasulullah.”
Dalam surat lain, orang Syiah merayu al-Husein agar segera ke Kufah, “Amma Ba’du. Telah menghijau semua kebun, telah ranum semua buah-buahan, kalau Anda berkehendak kami akan datang dengan beribu-ribu pasukan, Wassalam.”
100.000 Pedang
Demi memastikan kebenaran berita tentang bagitu banyaknya pendukung al-Husein di Kufah, maka ia pun mengutus Muslim bin Aqil untuk kroscek langusung. Ternyata benar adanya, untuk itulah Muslim bin Aqil menulis surat kepada Husein, “Anda memiliki seratus ribu pedang, janganlah mundur.” Al-Husein menjawab surat tersebut, “Aku telah datang dari Makkah hari Selasa tanggal 8 Dzulhijjah hari Tarwiyah, kalau utusanku datang kepada kalian, cepatlah kalian menyiapkan diri, aku akan segera datang!” (Ath-Tabrusi, A’lamul Wara, hal. 223).
Akhirnya yang terjadi adalah suatu keadaan yang jungkir balik, orang-orang Syiah yang katanya siap membela al-Husein justru berbalik menjadi pengkhianat. Utusan al-Husein, Muslim bin Aqil terbunuh oleh pasukan Ubaidillah bin Ziyad tanpa ada yang membelanya. Ketika al-Husein sampai di Kufah, sebelum syahid, beliau sempat berpidato, “Wahai umat, aku tak datang andaikan aku tidak menerima surat kalian yang hendak membelaku. Tenyata kita memiliki imam, semoga Allah menyatukan kita dalam menuju ke jalan yang benar.” Namun rakyat Kufah malah meninggalkannya, menentang, dan menyerahkannya kepada musuh, sampai al-Husein syahid di tangan pasukan arahan Ubaidillah bin Ziyad. Teranglah sudah, siapa sebenarnya yang mengkhianat.
Peristiwa terbunuhnya al-Husein jika disikapi secara proporsinal, tidaklah melambangkan sebuah pertempuran antara hak dan batil secara mutlak. Bukankah yang dibunuh dan yang membunuh memiliki Syahadat, Nabi, Kitab, dan Kiblat yang sama? Pertempuran ini adalah pertempuran antarsesama muslim. Jika dianalogikan, tidak jauh beda dengan pertempuran antara TNI yang diarahkan oleh Sukarno kepada Jenderal M. Yusuf untuk menumpas pasukan DI/TII di bawah komando Abdul Qahhar Muzakkar yang berjuang demi menegakkan Syariat Islam. Satu membela Negara yang beideologi sekuler atau ‘thaghut’ –jika meminjam istilah Islam militan- dan yang lain berusaha mendirikan Negara dengan berlandaskan syariat ilahi.
Adalah naif jika kita terus-menerus mengutuk pihak yang bersalah dan berlebih-lebihan dalam memuliakan pihak yang kita anggap benar. Sikap yang bijak adalah mendoakan mereka, seperti Ubaidillah bin Ziyad, Yazid bin Muawiyah dan segenap pasukannya yang telah berbuat zalim terhadap al-Husein karena mereka juga adalah bagian dari umat ini. Wallahu A’lam!

Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur.
(Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More