Akhir Manis Polemik Fatwa MUI Jatim tentang Kesesatan Syiah di Harian Republika

Polemik penyikapan Fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah bermula ketika KH. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat, Baca: http://www.lppimakassar.com/2012/11/mui-pusat-mengesahkan-dan-mendukung.html) menulis dukungan beliau terhadap Fatwa MUI Jawa Timur dan MUI Sampang tersebut di Harian Republika Kamis, 8 November 2012 dengan judul "Menyikapi Fatwa MUI Jatim" (Baca: http://www.lppimakassar.com/2012/11/menyikapi-fatwa-mui-jatim.html) yang kemudian dijawab oleh Jalaluddin Rakhmat dengan menulis artikel bantahan di harian yang sama dengan judul "Menyikapi Fatwa tentang Fatwa" (10/11/2012) yang sangat melecehkan ulama-ulama di Majelis Ulama Indonesia Pusat dan Daerah.(Baca: http://www.lppimakassar.com/2012/11/jalaluddin-rakhmat-melecehkan-majelis.html)

Berikutnya opini jawaban Jalaluddin Rakhmat ini ditanggapi oleh KH. Tengku Zulkarnain dengan judul "Akar Masalah Yang Diabaikan" (13/11/2012) yang pada intinya menyimpulkan bahwa salah tembak jika memakai peluru Risalah Amman untuk membunuh fatwa MUI Jatim dan MUI Sampang tentang kesesatan Syiah. (Baca: http://www.lppimakassar.com/2012/11/pukulan-ko-ulama-riau-kepada-jalaluddin.html)

Prof. Dr. Moh. Baharun, M.A, Ketua Komisi Perundang-undangan MUI Pusat kemudian ikut memberikan dukungan terhadap KH. Ma'ruf Amin di harian yang sama dengan judul, "Meneguhkan Fatwa-fatwa MUI" (23/11/2012).

Dua artikel terkahir akhirnya ditanggapi oleh Haidar Bagir (Direktur Penerbit Mizan/ Dosen di ICAS-Paramadina) dengan judul "Proporsional Menyikapi Fatwa" (27/11/2012) yang pada intinya berusaha mengaburkan masalah dan berusaha keluar dari sasaran fatwa MUI Jatim tersebut dengan menyebut bahwa Fatwa tersebut hanya untuk ajaran yang dibawa Tajul Muluk, dan juga bertaqiyah dengan menyebut bahwa mainstream Syiah mengharuskan bersikap hormat terhadap sahabat Nabi.

Namun alhamdulillah, artikel jawaban ini akhirnya ditanggapi balik oleh Henri Shalahuddin, MIRKH, Peneliti MIUMI dan INSIST, beliau menulis tanggapannya dengan judul "Amanah atau Kompromi Politis" pada Jumat, 30 November 2012. Dalam artikel tersebut Henri mengungkap akidah asli kaum Syiah yang diambil langsung dari kitab-kitab induk Syiah yang diantaranya menjadikan laknat terhadap sahabat sebagai taqarub ilallah, sebagai bentuk ibadah kepada Allah. (Baca: http://www.lppimakassar.com/2012/12/fatwa-amanah-diniyah-atau-kompromi.html)

Artikel ini juga menjadi penutup dari polemik tentang Fatwa MUI Jatim dan MUI Sampang tentang kesesatan Syiah, "Dengan dimuatnya artikel ini maka polemik fatwa MUI Jatim soal Sampang kami akhiri" tutup Redaksi Harian Republika (30/11/2012).

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More