'MUI: Syiah Sah Sebagai Mazhab Islam' Adalah Berita Bohong!


Sebelumnya artikel ini kami posting dengan judul "Wartawan Syiah di Harian Fajar dan Berita Bohong", namun karena ada kritikan dari wartawan Fajar yang lain, maka kami merubah judul bahasan ini menjadi 'MUI: Syiah Sah Sebagai Mazhab Islam' adalah Berita Bohong, dan menambah beberapa maklumat MUI Pusat yang sebenarnya tentang Syiah, berikut ulasannya, 

Pada tanggal 1 Mei 2011, Harian Fajar menurunkan berita yang membuat kaget masyarakat, "MUI: Syiah Sah Sebagai Mazhab Islam". Ketua MUI Pusat Prof. Dr. KH. Umar Shihab menandatangani naskah kesepahaman (MoU) dengan sekjen majma Taqrib bainal mazahib, Ayatullah Ali Taskhiri. Poin penting dalam MoU tersebut adalah pengakuan bahwa Syiah adalah termasuk mazhab Islam yang sah di Indonesia.

Dan IJABI dengan bangganya mengutip berita ini dalam bukunya yang terbaru, "Risalah Ulama Pecinta Persatuan"



Menguji Kebenaran Berita dan Fatwa
Pada selasa sore, 28/02/12  kami kirim pertanyaan  kepada beberapa pengurus MUI Pusat, tentang perjalan ke Iran kali ini, maka Dr. KH. Cholil Nafis (Sekertaris Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Pusat) menjawab, “Itu bukan keputusan dan bukan kerjasama resmi MUI.” Lebih tegas lagi Prof. Dr. Yunahar Ilyas (Ketua MUI Pusat) menyatakan , “Rapat MUI sudah memutuskan bahwa tidak ada kunjungan resmi atasnama MUI ke Iran, itu semua kunjungan atasnama pribadi walaupun pengurus MUI baik Pusat maupun Daerah.” Setahu kami ini adalah untuk keduakalinya pengurus MUI Pusat Prof. Umar Syihab melakukan inisiatif pribadi dengan mengatasnamakan MUI Pusat, dengan mengirim para Guru Besar dan Doktor UIN Alauddin Makassar dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ke Iran untuk menerima “pelajaran” dari para Ayatullah di sana, agar kembali ke Indonesia dan menyampaikan pesan dan kesan yang berbeda dengan sikap resmi MUI Pusat.

Bahkan MUI Pusat dalam rapat Dewan Pimpinan MUI Pusat hari Selasa, 9 shafar 1433 H/ 3 jan 2012 mengadakan rapat rutin. Agendanya membahas masalah syiah. Hasilnya antara lain sbb :
  1. Rapat memutuskan Umar Shihab (salah satu ketua MUI, bukan ketua umum!) bersalah karena menyatakan Syiah tidak sesat dengan mengatasnamakan institusi MUI. Yang berhak memberi statement adalah K.H. Ma’ruf Amin (selaku koordinator Ketua II MUI) atau yg ditunjuk oleh Rapim DP MUI.
  2. MUI tetap konsisten dengan Keputusan Rakernas MUI tgl 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (yang berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).
Sumber: MUI Pusat.

Dari sini kita tahu kelicikan Umar Shihab yang selalu mengambil inisiatif pribadi dan kemudian memanfaatkan jabatannya di MUI Pusat.

Sikap MUI Pusat Secara Resmi

Berikutnya, MUI tidak pernah secara resmi mengakui Syiah sebagai mazhab dalam Islam, berikut ini bukti-buktinya,  


Perbedaan yang berada diluar Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah penyimpangan, sesuai dengan fatwa MUI, Ijtima Ulama Se-Indonesia ke II di Gontor, 2006, 


Fatwa MUI tentang Nikah Mut'ah, pada poin pertimbangan nomor tiga disebutkan, "Bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus.


Fatwa MUI mewaspadai Syiah menyebutkan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah perbedaan pokok,

 


Fatwa MUI Jatim yang menyatakan Syiah Sesat dan Menyesatkan adalah sederajat dengan Fatwa MUI Pusat, sehingga MUI Daerah hanya berhak melaksanakannya. “Fatwa MUI Pusat maupun MUI Daerah yang berdasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan dalam surat keputusan ini mempunyai kedudukan sederajat dan tidak saling membatalkan.





KH. Ma'ruf Amin (Ketua MUI Pusat yang diberikan wewenang untuk berbicara atas nama MUI Pusat melalui Rapat Dewan Pimpinan 3 Jan 2012) Mendukung Fatwa MUI Jatim



Dalam penjelasannya di Harian Republika pada hari ini (8/11/2012), Ketua MUI Pusat, KH. Ma'ruf Amin mengatakan, "Setelah melakukan serangkaian penelitian dan berkonsultasi dengan MUI Pusat, MUI Jatim mengukuhkan fatwa serupa. Mencermati hal itu, penulis menyimpulkan, bahwa Fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah sudah pada tempatnya dan sesuai aturan."

Sebelumnya, MUI Pusat  juga mengukuhkan dan mendukung Fatwa MUI Sampang tentang kesesatan Syiah, beliau mengatakan, "Berdasarkan bukti-bukti lapangan, akhirnya MUI Sampang menetapkan bahwa ajaran Syiah yang diajarkan Tajul Muluk adalah menyimpang dan ditetapkanlah fatwa sesat terhadap ajaran tersebut. Dalam kajian MUI Pusat, fatwa MUI Sampang tersebut sudah memenuhi aturan dalam menetapkan sebuah fatwa, sebagaimana diatur dalam internal MUI. Fatwa tersebut juga telah memenuhi aspek sistematika, yakni melakukan studi lapangan, studi kitab-kitab rujukan, merujuk fatwa MUI tahun 1984, dan menggunakan tool kriteria aliran menyimpang, sebagaimana hasil keputusan Rakernas MUI tahun 2007."

MUI Daerah Punya Wewenang

Banyak di antara orang-orang Syiah atau yang pro ke Syiah menanggapi Fatwa MUI Jatim bahwa itu hanyalah Fatwa untuk daerah Jawa timur saja yang bersifat lokal, maka MUI Pusat melalui KH. Ma'ruf Amin menjawab, "MUI Juga mempunyai enam aturan khusus terkait dengan kewenangan dan wilayah fatwa ini. Dalam aturan itu jelas bahwa MUI (MUI Daerah-red) juga punya kewenangan menetapkan fatwa sepanjang hal itu belum difatwakan MUI Pusat. Dan. fatwa MUI Daerah itu juga hendaknya telah dikonsultasikan dengan MUI Pusat."

Fatwa MUI Pusat tidak dapat membatalkan Fatwa MUI Daerah

Dalam penjelasannya, beliau mengatakan, "Apakah fatwa MUI daerah bisa direvisi atau dibatalkan? Pada hakikatnya, fatwa MUI merupakan hasil ijtihad jama'i (ijtihad kolektif) yang dilakukan oleh para pengurus MUI, baik pusat atau daerah, khususnya yang ada di komisi fatwa. Sebagai hasil ijtihad, fatwa tidak bisa dibatalkan, dianulir, atau direvisi sesuai kaidah al-ijtihadu la yanqudhu bil-ijtihadi. Hasil ijtihad pun tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lainnya."

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

2 komentar:

dari facebooknya, sangat terlihat bahwa wartawan ini membela syiah
http://www.facebook.com/akbarhamdan?ref=ts&fref=ts

Semoga ini dapat dibaca luas oleh masyarakat, khususnya kaum Muslimin.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More