Muhammadiyah dan Pendidikan Keberpihakan

Pengikut Muhammad, itulah makna Muhammadiyah secara etimologi. Diambil dari nama Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Sedangkan “iyyah” dalam bahasa Arab disebut huruf syibhu atau nisbi yang artinya menyerupakan, menjeniskan, atau mengidentikkan. Sehingga dimaknai sebagai orang-orang yang mengikuti apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW lewat tingkah laku yang berlandaskan Alquran dan Assunnah.
Pendiri Muhammadiyah adalah KH. Ahmad Dahlan yang lahir pada tahun 1868 M. Beliau adalah putera yang lahir dari pasangan KH. Abu Bakar yang menjadi Khatib di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta (Masjid Gede di Kauman) dan istrinya yang dikenal dengan sebutan Nyai Abu Bakar.
Sebenarnya sudah sejak 1905, K.H.A. Dahlan telah banyak melakukan dakwah dan pengajian-pengajian yang berisi faham baru dalam Islam, yang menitikberatkan kepada amaliyah. Bagi beliau, Islam adalah agama amal, suatu agama yang mendorong umatnya untuk banyak melakukan kerja dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Dengan bekal pendalaman beliau terhadap Alquran dan Sunnah Rasul, sampai pada pendirian dan tindakan yang banyak bersifat pengamalan isi dalam kehidupan.
Enam tahun kemudian, pada tahun 1911 Kyai Dahlan mendirikan “Sekolah Muhammadiyah” yang bercorak modern, menempati sebuah ruangan dengan sepasang meja-kursi dan papan tulis. Dalam sekolah tersebut, dimasukkan pula beberapa pelajaran yang lazim diajarkan di sekolah-sekolah Belanda seperti ilmu bumi, ilmu alam, ilmu hayat, dan sebagainya. Begitu pula diperkenalkan cara-cara baru dalam pengajaran ilmu-ilmu keagamaan sehingga lebih menarik dan meresap. Dengan murid yang tidak begitu banyak, jadilah sekolah Muhammadiyah sebagai tempat persemaian bibit-bibit pikiran-pikiran pembaharuan dalam Islam di Indonesia. Dan satu tahun kemudian, tepatnya 8 Dzulhijjah 1330 H yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912  M, Kyai Ahmad Dahlan dengan bantuan beberapa orang murid dan sahabatnya, dengan resmi mendirikan Muhammadiyah.
Masa kepemimpinan KHA Dahlan (1912-1923) merupakan masa perintisan, pembentukan jiwa dan amal usaha serta organisasi. Sehingga program-program yang dibuat oleh beliau diarahkan pada pembentukan jiwa dan amal usaha serta organisasi. Kondisi agama, sosial, politik, dan ekonomi masa itu yang pada umumnya kurang baik.
Keberpihakan
Berbicara Muhammadiyah adalah berbicara keberpihakan. Berpihak pada kaum lemah dan terpinggirkan (proletar). Melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan. 
Kiprah keberpihakan Muhammadiyah bagi bangsa dan negara tidak lagi diragukan. Di usianya yang kini menginajak 100 tahun, Muhammadiyah memiliki sepak terjang yang ulet bagi pembangunan pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Menurut data yang diperoleh oleh penulis, hingga kini Sekolah Dasar (SD) berjumlah 1132, Madrasah Ibtidaiyah/Diniyah (MI/MD) berjumlah 1769, Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 1184, Madrasah Tsanawiyah (MTs) berjumlah 534, Sekolah Menengah Atas (SMA) berjumlah 511, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berjumlah 263, Madrasah Aliyah (MA) berjumlah 172, Pondok Pesantren berjumlah 67, Akademi berjumlah 55, Politeknik berjumlah 4, Sekolah Tinggi berjumlah 70, Universitas berjumlah 36 (Profil Muhammadiyah tahun 2005).
Bagi Muhammadiyah, pendidikan adalah sebuah investasi yang sebagian besar orang percaya akan hasilnya di masa depan. Muhammadiyah yang didirikan oleh Ahmad Dahlan adalah sebuah lembaga sosial-keagamaan yang concern dalam bidang pendidikan dan usaha sosial lainnya. Karena Ahmad Dahlan percaya bahwa pendidikan adalah salah satu cara strategis untuk memajukan kehidupan umat Islam. Pilihan itu tentu tidak lahir dari pikiran spontanitas, akan tetapi lewat proses berpikir yang panjang dan matang. 
Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah lebih awal mengumandangkan pendidikan baru dan modern dimana perpaduan pendidikan barat dan Islam bercampur menjadi satu dengan perpaduan yang amat bagus dalam rangka membangun pendidikan yang efektif. Dari awal, konsep pendidikan Muhammadiyah adalah pendidikan yang membebaskan yaitu membebaskan dari kejumudan berfikir orang-orang yang menolak pendidikan ala barat yang sebenarnya tidak merugikan bahkan justru membantu efektifitas dan efisiensi pemberian pendidikan.
Disamping membebaskan, pendidikan Muhammadiyah juga menghidupkan dimana menghidupkan semua sisi pendidikan karena tuntutan perubahan zaman yang ada dan tidak menentang aturan agama atau secara syar'i.
Hingga kini, Muhammadiyah tetap membangun komunikasi yang baik dengan para pengusaha untuk membangun sekolah-sekolah dari taman kanak-kanak hingga kampus perkuliahan untuk para orang miskin yang membutuhkan dan susah untuk mengenyam pendidikan. Semoga di umur 100 tahun ini, Muhammadiyah tetap konsisten mensyiarkan pendidikan keberpihakan.

Muhammad Fitrah Yunus
Sekretaris DPD IMM Sul-Sel
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More