Keutamaan Muharram Dan Keagungan Asyura


Tanggapan terhadap tulisan Ismail Amin “Revolusi al Husain, Inspirasi yang Tak Pernah Habis” Tribun Timur, Jumat 23/11/2012
Umat Islam percaya jika ada waktu-waktu tertentu (special moment), baik dalam hitungan jam, hari, bulan, maupun tahun yang berbeda dengan waktu-waktu lainnya. Begitu pula, ada beberapa tempat yang juga memiliki keunggulan dibandingkan dengan tempat-tampat lain di muka bumi ini.
Terkait waktu misalnya, jika seorang muslim melakukan salat sunnat dua rakaat yang mengiringi salat wajib (rawatib) sebelum Subuh, maka nilainya lebih utama dari dunia dan segala isinya, dalam hitungan minggu kita mengenal kemuliaan hari Jumat, juga keagungan Bulan Ramadan sekali dalam setahun. Ada pun tempat-tempat yang memiliki keutamaaan, juga kita kenal melalui Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bersumber dari Abu Hurairah dengan sanad yang shahih, “Salat di masjidku ini [Masjid Nabawi] lebih utama dengan salat di tempat yang lain kecuali Masjidil Haram yang lebih utama seratus ribu kali dari tempat yang lain”. Jelas sudah Karbala tidak termasuk tempat yang dimuliakan, apalagi jika tidak mengannggap sah salat seseorang jika tak sujud di atas atau bersujud tanpa berlapis tanah Karabala.
Kecuali itu, ada beberapa waktu selain tersebut di atas yang mendapat perhatian khusus dari Nabi untuk melakukan ragam ritual, termasuk pada bulan dan hari ini dan lebih utama lagi jika menggenjot ibadah pada sepuluh hari pertama dan hari ke-10 di Bulan Muharram.
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah yang terkenal dalam istilah Jawa sebagai Bulan Syuro. Bulan ini termasuk salah satu bulan haram (suci –mulia ). Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram, menutup dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan dengan Muharram.” Salah satu keistimewaan bulan haram adalah di dalamnya tidak boleh ada perang. (Abu Ubaidillah Yusuf, ‘Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah’, hal. 7).
Keagungan bulan awal tahun ini, juga dilukiskan oleh Rasulullah lewat sabdanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Puasa yang paling afdal setelah Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah al-Muharram.” Ibnu Rajab, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim mengatakan, “Nabi memberi nama Muharram dengan Syahrullah [bulan Allah]. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamannya. Karena Allah tidak menyandarkan sesuatu pada dirinya kecuali pada ciptaan-Nya yang special.”
Abu Utsman an-Nahdi menyebut dalam kitab “Lathai’iful Ma’arif” tetang amalan di bulan Muharram, “Adalah para salaf menggunakan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama untuk memaksimalkan ibadah: sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah, dan Muharram.”
Asyura
Secara bahasa ‘Asyura dapat diartikan sebagai ‘hari kesepuluh’ pada bulan Muharram, termasuk hari yang mulia dan meyimpan banyak sejarah yang tak dapat dilupakan. Ibnu Abbas pernah berkata, “Nabi tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa Asyura. Nabi bertanya, “Puasa apa ini?” mereka meenjawab, “Hari ini adalah hari baik, hari dimana Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran musuhnya, maka Musa as berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah. Dan kami pun ikut berpuasa,” Nabi berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Akhirnya Nabi berpuasa dan memerintahkan manusia untuk berpuasa. (Sahih Bukhari: 2004, Muslim: 1130).
Namun pada dasarnya Rasulullah telah berpuasa sebelum hijrah ke Madinah, sebagaimana yang dituturkan Aisyah, “Dahulu orang Quraisy berpuasa Asyura pada zaman jahiliah. Tatkala beliau hijrah ke Madinah, beliau tetap puasa Asyura dan memerintahkan manusia juga berpuasa. Ketika puasa Ramadan telah diwajibkan, beliau bersabda, ‘Bagi yang hendak puasa silahkan, bagi yang tidak berpuasa juga tidak mengapa.” (Sahih Bukhari: 2002, Muslim: 1125).  
Amalan puasa Asyura  pada bulan Muharram yang disyariatkan Nabi adalah berpuasa pada tanggal sembilan, sepuluh, dan sebelas, atau di hari kesembilan dan sepuluh atau hanya pada hari kesepuluh saja. Termasuk di antaranya adalah memperbanyak zikir, baca Alquran, dan ragam ibadah sunnah lainnya, seperti menolong dan berbagi dengan sesama.
Tentang pahala puasa, Rasulullah bersabda, “Puasa Asyura, aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (Shahih Muslim: 1162). Imam Nawawi mengomentari hadis ini, katanya, “Keutamaanya menghapus semua dosa-dosa kecil. Atau boleh dikatakan menghapus seluruh dosa kecuali dosa besar”. (Imam Nawawi, Majmu’ Syarhul Muadzab, VI/279). 
Perlu ditegaskan, bahwa dalam beribadah haruslah ada kejelasan dalil, melakukan ibadah pada malam dan hari-hari tertentu tanpa dalil merupakan perkara bid’ah. Syaikh Bakr bin ‘Abdillah berkata, “Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau zikir khusus untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa doa, zikir atau tukar-menukar ucapan selamat, demikian pula pada awal tahun baru, menghidupkan  malam pertama bulan Muharram dengan salat, zikir, atau doa-doa, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua itu tidak ada dalilnya sama sekali.”
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam beribadah adalah jangan berlebih-lebihan ‘ghuluw’ sebagaimana para penganut Rafidhah (Syiah) dalam memperingati sepuluh Muharram setiap tahunnya, dengan upacara kesedihan dan ratapan atas meninggalnya Husain di Karbala pada 10 Muharram 61 H. Mereka berdemonstrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husain ra, sembari memukuli pipi mereka sendiri, dada, punggung dan kepala dengan cemeti, pedang, dan benda-benda tajam lainnya, hingga sekujur tubuh mereka berlumuran darah. Sambil menangis dan histeris menyebut, “Ya, Husain… Ya, Husain… Ya, Husain…!” Konyolnya, rangkaiaan ritual sesat di atas dianggapnya sebagai perbuatan mulia yang mendatangkan pahala besar.
Cukuplah ucapan Ibnu Rajab rahimahullah dalam “Latha’iful Ma’arif” menjadi peringatan bagi kita. “Ada pun menjadikan hari ‘Assyura sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rafidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang sesat usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan dia mengira berbuat baik. Allah dan Rasul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang selain mereka?”
Adalah hal yang berlebihan dan sebuah kemungkaran yang nyata jika kita membuat ritual baru (bid’ah) yang tidak pernah disyariatkan oleh Rasulullah, sebagaimana mereka yang memuliakan tanah Karbala secara berlebihan dan menjadikan ratapan kematian Husain sebagai ritual mulia dan inspirasi yang tak pernah habis. Jadi ungakapn saudara Ismail Amin (Mahasiswa Mostafa International University Islamic Republic of Iran) bahwa, ‘Kullu yaumin As-Syura, Kullu ardin Karbala’ (semua hari adalah Asyura, semua tempat adalah Karbala) merupakan sebuah ungkapan yang tak berdasar dan mengada-ada. Wallahu a’lam!

Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More