Israel Bikin Ulah Lagi!

Seorang teman bergurau pada saya, “sebenarnya kita patut bangga pada Hittler yang membunuh banyak orang Yahudi, tapi sayang tidak dibunuh semua”.
Hampir sepekan serangan Israel ke jalur Gaza membuat guncang dunia internasional. Sudah lebih dari 90 warga tak berdosa tewas akibat serangan itu. fasilitas-fasilitas sepreti rumah sakit, sekolah-sekolah, universitas, masjid dan kaum kristen ortodoks juga tak terelakkan dari gempuran pasukan Israel.
Hamas (palestina) dan Israel sejak dulu tak pernah akur, walau ada resolusi konflik tapi tetap mengalami kebuntuan diplomasi. Perpanjangan gencatan senjata tak dapat lagi disetujui, saling tuding-menuding siapa yang salah terjadi di kedua belah pihak tanpa mempertimbangkan berapa banyak warga sipil yang tewas akibat ulah Israel.
Seluruh dunia mengecam konflik khususnya serangan-serangan yang dilancarkan Israel. Aktivis-aktivis NGO, mahasiswa, parpol turun ke jalan memprotes tindakan tersebut. Tapi watak Israel yang keras kepala tak kunjung menghentikan kebrutalannya.
Israel harus tetap didesak agar menarik diri dan menghentikan serangan. Bagaimanapun tuding-menuding yang terjadi, tetap dunia harus mengecam tindakan Israel. Pengalaman masa lalu meyakinkan masyarakat dunia bahwa serangan demi serangan hanya sebuah motif ingin menghancurkan dan menduduki bumi Palestina.
Alasan-alasan yang disampaikan Israel jangan sampai membuat kontras permasalahan yang akan mengakibatkan saling tuding antar negara yang mendukung Israel versus negara pendukung Hamas dan Palestina. Jelas, permasalahan akan semakin runyam. “Ingin membela diri“ hanya satu kalimat kaum konservatif Israel yang akan membunuh dan menambah jumlah korban tak berdosa.
Peran PBB
Patut kita tanyakan bagaimana peran PBB menyelesaikan konflik Israel-Palestina? Hingga saat ini PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) juga seakan tak dapat berbuat apa-apa. Hukum internasional tak bertaring, Israel kebal hukum. PBB hanya mencoba melakukan intervensi tapi hanya pada bagian pinggiran konflik saja, PBB tak dapat meyakinkan Israel agar segera menghentikan pertempuran yang memakan banyak korban ini. Sama halnya dengan konflik-konflik antar bangsa sebelumnya, seperti konflik Amerika dan Afghanistan yang juga melibatkan Israel saat itu, dimana PBB tak dapat melakukan intervensi memberlakukan hukum terhadap Amerika dan Israel.
Hal ini menggambarkan bahwa kekuatan diplomasi tak lagi menjadi solusi bagi terciptanya perdamaian. Seperti pemahaman kaum realis bahwa “perang” sebagai satu-satunya jalan mewujudkan perdamaian. Akhirnya nilai-nilai kemanusiaan pun dikorbankan. Padahal, memahami sebuah resolusi dibutuhkan nilai-nilai humanis.
Dalam menyikapi hal ini maka harus ada sebuah resolusi konflik yang baru dari PBB, membuat dan memberlakukan hukum baru agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan. PBB secepatnya menjadi mediator negosiasi politik antara Israel dan Hamas. Pemberlakuan hukum efektif dan tegas akan mendorong ke arah pembentukan perdamaian di kedua belah pihak.
PBB tidak akan dapat berhasil melakukan negosiasi politik apabila masih menunggu hingga korban yang berjatuhan tak terhitung jumlahnya. Semakin lama mengambil keputusan maka semakin hitam sejarah perjalanan PBB di mata masyarakat dunia. Sebelum lebih banyak jatuh korban maka secepatnya PBB melakukan offensive diplomacy, sebuah dialog harus terbangun di kedua belah pihak.
Di tengah banyaknya rakyat sipil tewas, dalam menyikapinya, maka negara-negara di dunia harus mengambil langkah intensif turun langsung ke jantung konflik dengan memberikan bantuan kapital insani dengan melakukan intervensi kemanusiaan, bantuan medis dan mengamankan warga sipil dari area konflik.
Penyelesaian masalah yang diambil PBB juga harus menjadi penyelesaian akhir konflik yang mengikat kedua belah pihak. Jangan sampai yang terjadi justru konflik tarik-ulur yang tak pernah selesai. Disamping negara dan masyarakat dunia semakin prihatin, Palestina akan terus menjadi obyek sasaran dan serangan yang mempertontonkan kekuatan besar melawan kekuatan kecil. Semoga tercipta kebebasan bagi rakyat Palestina. Freedom for Palestine!

Muhammad Fitrah Yunus
Mahasiswa Program Pascasarjana Unhas
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More