Hijrah Sebagai Momentum Perubahan

 
Orang-orang kafir Quraisy tak henti-hentinya malancarkan serangan dan penyiksaan demi penyiksaan terhadap umat Islam, sasaran empuknya adalah para golongan lemah. Inilah yang menjadikan para pemeluk agama baru itu merasa jika Makkah baginya terasa kian sempit dan terjepit, mereka mulai berpikir untuk mencari tempat yang lapang bagi mereka, setidaknya memiliki kemerdekaan dalam beragama.
Tahun kelima pasca diutusnya Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (kenabian), sekelompok kaum muslim berangkat ke Habasyah (Etopia), terdiri dari dua belas laki-laki dan empat wanita yang dikepalai oleh Utsman bin Affan. Termasuk dalam kafilah tersebut adalah Ruqayyah, putri Rasulullah. Eksepedisi pertama berangkat pada tengah malam, dengan cara sembunyi-sembunyi, menuju pelabuhan Syaiban yang secara kebetulan terdapat dua kapal sedang berlabuh dan hendak menuju ke Habasyah, mereka pun menumpang dan sampai pada tujuan dengan selamat. Di sana, orang-orang muslim mendapat perlakuan dengan baik.
Mendengar berita itu, orang-orang Quraisy Makkah meradang. Tentu saja, kerena mereka tidak ingin pengikut Muhammad mendapatkan tempat perlindungan di bumi manapun, tak terkecuali Habasyah. Sepakatlah untuk mengirim dua orang yang cakap, cerdas, dan terpandang, Amru bin Ash dan Abdullah bin Rabi’ah –sebelum keduanya memeluk Islam. Misi utamanya adalah melobi pemimpin Habasyah, Raja Najasyi, untuk mengusir kembali kaum muslimin. Namun sebelum menemui sang raja, kedua diplomat itu bertemu dan melakukan lobi-lobi dengan para uskup, agar bersama-sama mempengaruhi Raja Najasyi. Dengan aneka ragam hadiah yang menggiurkan, para uskup pun bersedia membantu mereka bertemu dengan raja.
Setelah hadiah disuguhkan pada sang raja, mereka berdua menghadap. “Wahai Tuan Raja, sesungguhnya ada beberapa orang bodoh yang telah menyusup ke negeri Tuan. Mereka telah memecah belah agama kaumnya, juga tidak mau masuk agama Tuan. Mereka datang sambil membawa agama baru yang mereka ciptakan sendiri. Kami tidak mengetahuinya secara persis, begitu pula Tuan. Kami diutus para pembesar kaum mereka, dari bapak-bapak, paman, dan keluarga mereka untuk menemui Tuan, agar Tuan sudi mengembalikan orang-orang ini kepada mereka. sebab mereka itu lebih berhak terhadap orang-orang tersebut dan lebih tau apa yang mendorong orang-orang tersebut mencela dan mencaci mereka.”
“Benar apa yang dikatakan mereka berdua, wahai Baginda Raja. Maka serahkanlah mereka itu kepada mereka berdua, agar keduanya mengembalikan mereka kepada kaumnya,” tambah para Uskup.
Namun Raja Najasyi merasa perlu melakukan tabayyun dengan mengutus perwakilan untuk memanggil para imigran itu. Setelah mereka tiba, Najasyi bertanya. “Macam apakah agama kalian? Karena agama itu kalian memecah belah kaum kalian, dan tidak juga masuk agama kalian sendiri?”
Ja’far bin Abu Thalib, yang manjadi juru bicara dari orang-orang Islam imigran itu, menjawab. “Wahai Tuan Raja, dulu kami adalah pemeluk agama jahiliyah. Kami menyembah berhala-berhala, memakan bangkai, berbuat mesum, memutuskan tali persaudaraan, menyakiti tetangga dan yang kuat di antara kami memakan yang lemah. Begitulah gambaran kami dahulu hingga Allah mengutus seorang rasul dari kalangan kami sendiri, yang kami ketahui nasab, kejujuran, amanah, dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembah-Nya serta meninggalkan penyembahan kami dan bapak-bapak kami terhadap batu dan patung. Beliau juga memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan manah, dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk mengesakan dan menyembah-Nya serta meninggalkan penyembahan kami dan bapak-bapak kami terhadap batu dan patung. Beliau juga memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakam amanah, menjalin hubungan kekerabatan, berbuat baik kepada tetangga, menghormati hal-hal yang disucikan dan darah. Beliau melarang kami berbuat mesum, berkata palsu, mengambil harta anak yatim dan menuduh wanita-wanita suci. Beliau memerintahkan kami untuk menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, memerintahkan kami mengerjakan salat, mengeluarkan zakat dan berpuasa. Lalu kami membenarkan, beriman, dan mengikuti beliau atas apa pun dari agama Allah. Lalu kami membenarkan, beriman, dan mengikuti beliau atas apapun dari agama Allah. Lalu kami menyembah Allah semata, tidak menyekutukan sesuatu dari-Nya, kami mengharamkan apa pun yang diharamkan atas kami, menghalalkan apa pun yang dihalalkan bagi kami. Lalu kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami, dan menimbulkan cobaan terhadap agama kami, dengan tujuan mengembalikan kami kepada penyembahan terhadap patung, tanpa diperbolehkan menyembah Allah, agar kami menghalalkan berbagai macam keburukan seperti dahulu. Setelah mereka menekan, berbuat semena-mena, mempersempit gerak kami, dan menghalangi diri kami dari agama kami, maka kami pun pergi ke negeri Tuan dan memilih Tuan daripada orang lain. Kami gembira mendapat perlindungan Tuan dan kami tetap berharap agar kami tidak dizalimi di sisi Tuan, wahai Tuan Raja!”
“Apakah Engkau bisa membacakan sedikit ajaran dari Allah yang dibawa (Rasulullah)?” Tanya Najasyi. “Ya”, jawab Ja’far. “Kalau begitu, bacakanlah padaku!” Ja’far lalu membacakan dengan menghafal, dari Surat Maryam. “Kaaf, haa, yaa, ‘ain, shad…
Najasyi dan para uskup menangis mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran, hingga jenggut mereka basah dengan air mata. Lalu Najasyi berkata, “Sesungguhnya ini dan yang dibawa Isa benar-benar keluar dari satu misykat. Pergilah kalian berdua. Demia Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua, sama sekali tidak!”
“Kembalikan hadiah yang dibawa dua utusan itu. Aku tidak membutuhkannya…!” lanjut sang raja. Ummu Salmah yang meriwayatkan peristiwa ini, berkata, “Lalu keduanya beranjak dari hadapan Najasyi dengan muka masam karena apa yang dibawanya tertolak. Maka kami menetap di sana dalam suasana yang menyenangkan, berdampingan dengan tetangga yang juga menyenangakan.” Peristiwa ini dikenal dengan hijrah pertama. (lihat, Almubarakfury dalam Arrahiq al-Makhtum).
Duka Lara
Pada tahun sepuluh kenabian, sekitar 619 M, dan ima tahun pasca migrasinya sebagian kaum muslim ke Habasyah, Rasulullah mendapat cobaan yang tak terperikan. Sang paman, Abu Thalib meninggal dunia setelah mengalami sakit keras, duka itu kian mendalam karena sang pamam sampai akhir hayatnya tetap ogah mengucapkan dua kalimat syahadat. Bagai jatuh tertimpa tangga, tiga bulan kemudian istri tercintanya juga tutup usia, Sitti Hadijah, seorang wanita yang telah mendampingi Rasulullah selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau di saat-saat kritis, menolong menyebarkan risalah da’wah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, rela berkorban diri dan hartanya. Rasulullah pernah bersabda terkait istrinya itu, “Dia beriman kepadaku saat semua orang mengingkariku, membenarkan aku selagi semua orang mendustakan aku, menyerahkan hartanya padaku selagi semua orang tidak mau memberikannya, Allah menganugrahiku anak darinya, selagi wanita selainnya tidak memberikan kepadaku.”
Dua peristiwa itu datang dalam tempo yang singkat, sehingga menorehkan perasaan duka lara di hati Rasulullah, ditambah lagi penyiksaan yang dilancarkan kaum Quraisy padanya. Kematian keduanya menjadikan musuhnya semakin berani terbuka menyerang dan mengganggu nabi akhir zaman ini. Mendung semakin bertumpuk-tumpuk, dan hampir saja putuh asa, Makkah baginya sudah tidak bershabat lagi.
Sebagai pemimpin Bani Hasyim, Abu Thalib digantikan oleh Abu Lahab, namun perlindungan yang diberikan kepada ponakannya itu, hanya sekadar basa-basi, tetap diperlakukan buruk sebagaimana sebelumnya. Suatu ketika seorang masuk dalam gerbangnya lalau melempar kotoran dalam wadah masakannya, di lain hari, ketika Muhammad sedang salat, salah seorang datang melemparinya tulang domba, darah, serta kotorannya. Di kesempatan lain ketika Nabi kembali dari kakbah, seorang mengambil kotoran lalu melemparkannya ke wajah dan seluruh badannya. Ketika sampai di rumah, seorang putrinya membasuh lalu membersihkan ayahnya sambil menangis. “Jangan menangis putriku, Allah akan melindungi ayahmu!” sabda Nabi.
Ketika bumi terasa sempit, dan penghuninya sudah tidak bersahabat, maka mencari tempat lain dari bumi Allah adalah suatu keniscayaan. Inilah yang mendorong Nabi untuk mencoba berhijrah keluar Makkah, sekitar enam puluh mil jaraknya. Tempat itu bernama Tha’if, berangkat dengan hanya ditemani oleh budaknya, Zayid bin Haritsah.
Sesampainya di Tha’if, beliau langsung mengunjungi pemimpin daerah tersebut, yang dikuasai oleh tiga bersaudara. Ketika Nabi mengajak mereka masuk Islam dan meminta pertolongan serta perlindungan dari mereka bertiga, salah seorang berkata. “Jika Tuhan mengutusmu, aku akan runtuhkan kakbah!” yang lain mengejek, “Apakah Tuhan tidak mendapatkan orang selain darimu untuk menjadi Rasul-Nya?” Sementara yang ketiga menyahut, “Kami tidak ingin berbicara denganmu, seandainya kamu utusan Tuhan seperti yang engkau katakan, Engkau terlalu mulia bagiku, seandainya engkau berbohong, tidaklah aku pantas berbicara denganmu!”
Nabi lantas bangkit dan bermaksud mencari tempat lain di Tha’if, namun budak-budak mereka dikerahkan untuk mengejek dan menyoraki Nabi. Hingga segorombolan orang menyerangnya, melempar dengan batu, menghina, dan memukul mata kakinya sehingga darah segar pun mengucur memenuhi sepatunya. Zayd yang berusaha melindungi majikannya juga terkena lemparan dan pukulan di kepalanya, peristiwa ini terus terjadi di sepanjang jalan hingga lima kilometer, sebelum tiba di sebuah pinggiran kebun anggur milik dua orang Makkah, Utbah dan Syaibah, di bawah pohon itulah dia berteduh setelah lolos dari penyiksaan orang-orang Tha’if.
Saat berteduh dari teriknya matahari, dan perihnya penyiksaan itulah, Nabi berdo’a, “Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan ketidak-berdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang Mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku...”
Kala itu, dua bersaudara pemilik kebun menyaksikan Muhammad sedang berteduh dengan berlumuran darah, kali terakhir mereka melihatnya ketika Abu Thalib meninggal, dan kini dia hidup sebatang-kara, tanpa pelindung dan juga tiada tempat berbagi karena istrinya juga telah tiada. Inilah yang menggugah hati sang pemilik kebun, sehingga memerintahkan Budaknya yang masih muda itu, “Addas! Ambillah setangkai anggur ini, letakkan di piring dan berikanlah kepada lelaki itu. Persilahkan ia memakannya!” Addas melakukan sebagaimana titah tuannya. Di saat nabi menyentuh anggur itu beliau mengucapkan, “Bismillah!” Addas menatap wajahnya dengan saksama, lalu berkata, “Kata-kata itu tidak boleh diucapkan oleh penduduk negeri ini.” “Dari mana engkau berasal dan apa agamamu?” Tanya Nabi. “Agamaku Kristen. Berasal dari Ninawi” Jawab Addas. “Kota tempat asal seorang hamba yang saleh, Yunus bin Matta,” kata Nabi. “Dari mana engkau mengenal Yunus bin Matta?” Tanya Addas penasaran. “Dia adalah saudaraku; dia seorang nabi, dan aku pun seorang nabi,” Jawab Rasulullah. Kemudian Addas memeluk Nabi, mencium kepala, tangan, dan kakinya. Addas pun memeluk Islam. Ekspektasi Nabi untuk mengislamkan penduduk Tha’if hanya terbayarkan dengan seorang budak asing. Itulah dakwah, bukan melulu berpatokan pada kuantitas. (Marting Lings, Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources).
Ketika beranjak kembali ke Kota Makkah dengan perasaan miris dan sedih yang tak terhingga, sebelum sampai kerumahnya, Allah mengutus Malaikat Jibril yang didampingi Malaikat penjaga gunung. Jibril mengabarkan bahwa doa Nabi telah didengarr oleh Allah, untuk itulah Malaikat penjaga gunung bersamanya, dan siap menjalankan perintah Nabi. Sang penjaga gunung meminta instruksi dari Nabi untuk meratakan dua gunung yang mengapit Makkah dan Tha’if. Itu artinya dua kota beserta penduduknya akan terkubur seluruhnya dalam tempo sekejap. Tapi tawaran menggiurkan itu ditolak oleh Nabi, dengan Sabdanya, “Bal arju an yukhrijallahu ‘azza wa jalla min ashlabihim man ya’budullah ‘azza wajalla wahdahu, laa yusyrik bihi syai’an. [Aku berharap suatu saat Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka –keturunan- yang menyembah Allah seutuhnya dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Inilah salah satu kebesaran jiwa Rasulullah dalam menghadapi prilaku kaumnya terhadap dirinya, kendati diperlakukan dengan keji dan biadab, namun tetap mendoakan keselamatan mereka. Sebuah metode dakwah yang kini hanya tinggal dalam sejarah. Inilah hijrah yang terparah dalam sejarah perjalanan hidup dan dakwah Rasulullah. Peristiwa ini sering juga disebut hijrah kedua.
Titik Terang
Setahun lebih pasca kematian paman dan istrinya, dan berada dalam saat-saat yang sangat sulit. Saat itu pula tujuh pembesar suku Quraisy memutuskan untuk membunuh Muhammad di kala ia sedang terlelap, dengan demikian tamatlah riwayat sang pengacau, sebelum ia benar-benar merusak tatanan kehidupan Kota Makkah terutama perekonomian, Makkah adalah kota wisata agama yang selalu ramai, menjadi mesin uang karena banyak wisatawan religius datang silih berganti. Jika ide dan ajaran Muhammad tentang ‘hanya satu tuhan’ diterima dan menyebar, para pembesar Makkah itu takut karena penyembah dewa lain itu akan berhenti berdatangan –dan kini Makkah tetap menjadi kota wisata nomor satu di dunia. Mereka yang besekongkol itu adalah kerabat dari Nabi sendiri, termasuk pamannya.
Untungnya Nabi mendengar kabar itu, dengan bantuan Abu Bakar dan Ali, pembunuhan itu pun gagal. Pada saat bersamaan, Nabi juga menyusun siasat untuk meninggalkan Makkah dengan melakukan kontak kepada beberapa delegasi dari Yasrib. Sebuah kota dekat pantai Laut Merah, sekitar 250 KM sebelah utara Makkah. Kota pertanian yang sedang dicabik-cabik oleh konflik internal karena para penduduknya terdiri atas beberapa suku yang saling bertikai. Penduduk Yastrib mendambakan orang luar yang berpikiran adil, dan berintegritas untuk datang dan mengawasi negosiasi di antara suku yang saling bermusuhan itu. Mereka berharap jika menyerahkan wewenang paradilan dengan orang yang memiliki integritas akan mampu membawa perdamaian.
Nabi Muhammad memiliki reputasi itu, sebagai seorang yang berpikiran adil dan memiliki integritas serta penengah yang cakap, peran yang telah dimainkannya dalam beberapa perselisihan krusial, karena itu penduduk Yastrib berpikir  beliau sangat cocok untuk amanah itu. Bahkan beberapa penduduk telah bertemu Nabi dan menemukan kharismanya yang luar biasa. Banyak yang memeluk Islam dan mengundang Muhammad untuk pindah ke Yastrib sebagai penengah dan membantu mengakhiri semua pertengkaran; sang Nabi menerima.
Setelah lolos dari maut, Nabi dan Abu Bakar, akhirnya berhasil meninggalkan Makkah menuju Yatsrib. Selanjutnya, kaum muslimin pindah secara sembunyi-sembunyi demi menghindari kejaran Quraisy Makkah. Para imigran itu meninggalkan rumah dan seluruh harta bendanya, dan sebagian lain memutus hubungan keluarga di antara mereka. Hijrah hanya dengan bekal iman. Namun setidaknya mereka ke suatu tempat yang aman untuk beribadah, di samping pemimpin mereka juga menjadi otoritas tertinggi di Yastrib, menjadi penengah di antara suku yang saling bertikai.
Sesuai janjinya, Nabi duduk bersama dengan suku-suku yang bertikai untuk menuntaskan perjanjian yang kemudian disebut ‘Piagam Madinah’. Perjanjian ini menjadikan kota Yastrib sebuah konfederasi. Secara internal:  menjamin bagi masing-masing suku hak untuk menjalankan agama dan adat-istiadat. Menerapkan bagi seluruh warga negara peraturan yang dirancang untuk menjaga perdamaian secara utuh; menegakkan suatu proses hukum yang murni untuk menyelesaikan masalah internal suku mereka sendiri dan menyerahkan kepada Nabi kewenangan untuk menyelesaikan sengketa antarsuku, yang terpenting, semuanya bertanda-tanganan, muslim dan non muslim. Urusan eksternal: berjanji untuk bergabung dengan semua yang lain untuk membela Yastrib terhadap serangan dari luar. Meskipun dokumen ini disebut konstitusi tertulis pertama dalam sejarah manusia, sebenarnya merupakan sebuah perjanjian multipartai (koalisi).
Nabi juga menunjuk salah satu penduduk asli untuk menangani para imigran dari Makkah, agar mereka memulai hidup baru. Para tuan rumah yang menjadi penolong itu digelar “Anshar” dan para imigran yang butuh pertolongan disebut “Muhajirin”, tidak hanya itu, Nabi juga mengubah nama Yastrib menjadi ‘Madinah’ yang berarti ‘Kota Nabi’.
Peristiwa perpindahan (migrasi) kaum muslimin dari Makkah ke Madinah dikenal dengan ‘Hijrah’ –kadang pula dieja Hegira dalam bahasa Eropa. Dua belas tahun kemudian, di zaman Umar bin Khattab, ketika umat Islam menciptakan kalender sendiri, terhitung dari peristiwa hijrah di atas, karena hijrahnya kaum muslimin yang dipelopori Rasulullah dari Makkah ke Madinah menandai poros sebuah sejarah, momentum perubahan, titik balik nasib kaum muslimin, momen yang membagi waktu menjadi sebelum dan setelah hijrah. Dan yang tak terlupakan adalah, dari sinilah peradaban itu bermula dan terus berkembang hingga hari ini.
Amalan Tahun Baru
Dalam kalender Hijriah, bulan pertama adalah Muharram yang terkenal dalam istilah Jawa sebagai bulan syuro. Bulan ini termasuk salah satu bulan haram (suci, mulia). Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah membuka awal tahun dengan bulan haram, menutup dengan bulan haram pula. Tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Allah setelah Ramadhan dibandingkan dengan Muharram.” Salah satu keistimewaan bulan haram adalah di dalamnya tidak boleh ada perang. (Abu Ubaidillah Yusuf, Ensiklopedi Amalan Sunnah di Bulan Hijriyah).
Keagungan bulan awal tahun ini, juga dilukiskan oleh Rasulullah lewat sabdanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. “Puasa yang paling afdal setelah Ramadhan adalah puasa pada Syahrullah al-Muharram.” Ibnu Rajab, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Muslim mengatakan, “Nabi memberi nama Muharram dengan Syahrullah [bulan Allah]. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamannya. Karena Allah tidak menyandarkan sesuatu pada dirinya kecuali pada ciptaan-Nya yang special.”
Abu Utsman an-Nahdi menyebut dalam kitab “Lathai’iful Ma’arif” tetang amalan di bulan Muharram, “Adalah para salaf menggunakan tiga waktu dari sepuluh hari yang utama untuk memaksimalkan ibadah: sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijjah, dan Muharram.”
Di antara amalan yang sering dilakukan pada bulan Muharram adalah, berpuasa pada tanggal sembilan, sepuluh, dan sebelas, atau hanya pada tanggal sepuluh saja yang masyhur dikenal dengan ‘puasa Asyura’. Termasuk di antaranya adalah memperbanyak zikir, baca Alquran, dan ragam ibadah sunnah lainnya, termasuk menolong dan berbagai dengan sesama.
Namun perlu ditegaskan, bahwa dalam beribadah haruslah ada kejelasan dalil, melakukan ibadah pada malam dan hari-hari tertentu tanpa dalil merupakan perkara bid’ah. Syaikh Bakr bin ‘Abdillah berkata, “Tidak ada dalam syariat ini sedikitpun doa atau zikir khusus untuk awal tahun. Manusia zaman sekarang banyak membuat bid’ah berupa doa, zikir atau tukar-menukar ucapan selamat, demikian pula pada awal tahun baru, menghidupkan  malam pertama bulan Muharram dengan salat, zikir, atau doa-doa, puasa akhir tahun, dan sebagainya yang semua itu tidak ada dalilnya sama sekali.”
Dan yang tidak kalah pentingnya dalam beribadah adalah jangan berlebih-lebihan ‘ghuluw’ sebagaimana para penganut Rafidhah (Syiah) dalam memperingati sepuluh Muharram setiap tahunnya, dengan upacara kesedihan dan ratapan atas meninggalnya Husain di Karbala pada 10 Muharram 61 H. Mereka berdemonstrasi ke jalan-jalan dan lapangan, memakai pakaian serba hitam untuk mengenang gugurnya Husein ra, sembari memukuli pipi mereka sendiri, dada, punggung dan kepala dengan cemeti, pedang, dan benda-benda tajam lainnya, hingga sekujur tubuh mereka berlumuran darah. Sambil menangis dan histeris menyebut, “Ya, Husain… Ya, Husain… Ya, Husain…!” Konyolnya, rangkaiaan ritual sesat di atas dianggapnya sebagai perbuatan mulia yang mendatangkan pahala besar.
Cukuplah ucapan Ibnu Rajab rahimahullah dalam “Latha’iful Ma’arif” menjadi peringatan bagi kita. “Ada pun menjadikan hari ‘Assyura sebagai hari kesedihan/ratapan sebagaimana dilakukan oleh kaum Rafidhah karena terbunuhnya Husain bin Ali, maka hal itu termasuk perbuatan orang sesat usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan dia mengira berbuat baik. Allah dan Rasul-Nya saja tidak pernah memerintahkan agar hari musibah dan kematian para nabi dijadikan ratapan, lantas bagaimana dengan orang selain mereka?”

Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar & Peneliti LPPI Indonesia Timur
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More