Bedakan sikap pribadi tokoh dengan sikap resmi organisasinya



Ada tiga tokoh ulama pemimpin organisasi besar di Indonesia yang membuat bingung umat Islam Indonesia, terutama mengenai sikap mereka terhadap Syiah.

Syiah memanfaatkan kondisi yang menguntungkan mereka untuk menggeneralisasi sikap pribadi tokoh-tokoh tersebut sebagai sikap resmi sebuah lembaga organisasi besar di Indonesia.

Tiga tokoh yang kami maksud adalah Prof. Dr. H. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat), Prof. Dr. H. Said Agil Siradj (Ketua Umum Nahdlatul Ulama), dan Prof. Dr. H. Din Syamsuddin (Ketua Umum PP. Muhammadiyah)

Sikap Umar Shihab

- Sunni dan Syiah itu bersaudara, sama-sama umat Islam
- "Karena itu, selama di Iran belajarlah dengan sungguh-sungguh. Sekembali ke tanah air, sampaikanlah argumen-argumen yang benar mengenai Islam. Mau pegang mazhab Syiah atau Sunni, silahkan."
- "Apakah belum tiba saatnya bagi kaum Muslimin untuk menyadari pentingnya menghilangkan pertentangan antara Syiah dan Ahlus Sunnah?"

Sumber: Harian Fajar Makassar, 1 Mei 2011

 
Sikap Din Syamsuddin
 
Berikut beberapa sikapnya yang dimuat harian Republika, 5 Mei 2008, 

- Din yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam lainnya menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada pada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu'iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah).

- Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib. Oleh karena itu, kata dia, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandai tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.


Sikap Said Agil Siradj

- "Di Universitas Islam mana pun tidak ada yang menganggap Syiah sesat"


- Ajaran Syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya Sunni


(Sumber: Tempo.co)
 

Sebagaimana permintaan orang-orang Syiah untuk tidak memakai sikap oknum dalam satu mazhab tertentu untuk menilai mazhab tersebut, karena itu hendaknya sikap yang sama harus diterapkan pada kasus ini.

Din Syamsuddin, Umar Shihab, dan Siad Agilo Siradj hanyalah person dan bagian dalam organisasi mereka masing-masing, pendapat mereka secara pribadi tidak dapat mewakili MUI, Muhammadiyah dan NU secara resmi dan lembaga.

Sikap masing-masing organisasi tersebut secara resmi,

Sikap MUI Pusat

MUI Pusat dalam rapat Dewan Pimpinan MUI Pusat hari Selasa, 9 shafar 1433 H/ 3 jan 2012 mengadakan rapat rutin. Agendanya membahas masalah syiah. Hasilnya antara lain sbb :
  1. Rapat memutuskan Umar Shihab (salah satu ketua MUI, bukan ketua umum!) bersalah karena menyatakan Syiah tidak sesat dengan mengatasnamakan institusi MUI. Yang berhak memberi statement adalah K.H. Ma’ruf Amin (selaku koordinator Ketua II MUI) atau yg ditunjuk oleh Rapim DP MUI.
  2. MUI tetap konsisten dengan Keputusan Rakernas MUI tgl 7 Maret 1984 tentang faham Syiah (yang berbeda dengan ahlussunnah dan wajib diwaspadai).
Sumber: MUI Pusat.
Perbedaan yang berada diluar Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sebuah penyimpangan, sesuai dengan fatwa MUI, Ijtima Ulama Se-Indonesia ke II di Gontor, 2006, 
Fatwa MUI tentang Nikah Mut'ah, pada poin pertimbangan nomor tiga disebutkan, "Bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus.
Fatwa MUI mewaspadai Syiah menyebutkan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah adalah perbedaan pokok,



Fatwa MUI Jatim yang menyatakan Syiah Sesat dan Menyesatkan adalah sederajat dengan Fatwa MUI Pusat, sehingga MUI Daerah hanya berhak melaksanakannya. “Fatwa MUI Pusat maupun MUI Daerah yang berdasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan dalam surat keputusan ini mempunyai kedudukan sederajat dan tidak saling membatalkan”.

Kita bisa memahami secara gamblang dan jelas, bahwa sikap Umar Shihab sangat bertentangan dengan sikap MUI Pusat, bahkan dalam rapat resmi, MUI Pusat menegur keras Umar Shihab yang selalu memanfaatkan jabatannya di MUI Pusat untuk mengatakan Syiah tidak sesat.

Sikap Muhammadiyah





Adapun sikap Muhammadiyah secara resmi kami kutipkan berikut ini hasil sidang pleno pimpinan pusat Muhammadiyah. Kutipan ini pun kami ambil dari Majalah resmi Muhammadiyah, Majalah Tabligh, Majalah resmi Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 

Pertama: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam (Ishmatul Aimmah) dalam ajaran Syiah.
Kedua: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep Rafidhahnya Syiah.

Ketiga: Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Keempat: Syiah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim- ditolak oleh Syiah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya. 
Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian kita bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syiah yang memang sangat berbeda dengan faham Ahlussunnah yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia.
Di samping itu, realitas, fakta dan kenyataan menunjukkan pada kita bahwa di mana suatu negara ada Syi’ah hampir dapat dipastikan terjadi konflik horizontal. Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian kita semua jika ingin negara kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga.

Sumber: Majalah Tabligh No. 7/IX/ Jumadal Awal-Jumadil Akhir 1433 H, hal 5.
Demikianlah sikap resmi Muhammadiyah yang berbeda dengan sikap dan pendapat pribadi Din Syamsuddin. 


Sikap Nahdlatul Ulama

Adapun sikap Nahdlatul Ulama kami kutipkan dari dua sumber, pertama, KH. Hasyim Asy'ari, pemdiri Nahdlatul Ulama, yang memiliki pandangan yang murni tentang tujuan didirikannya NU, kedua, pernyataan resmi surat yang merupakan kata sambutan dalam acara seminar sehari tentang Syiah di Masjid Istiqlal tahun 1997.







Inilah beberapa yang dapat kami himpun, agar kita semua tidak tersesat oleh pendapat-pendapat pribadi tokoh tersebut, padahal organisasi masing-masing yang mereka pimpin sangat berbeda jauh sikapnya.

(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More