Ulama Syiah tidak faham Bahasa Arab, bagaimana bisa jadi rujukan?

 
Seorang 'ulama' Syiah yang bernama Kazhim Al-Mur'isyi ternyata tidak faham menulis bahasa arab, tidak faham imla' dan kaedah nahwu, sebagaimana yang kita lihat dalam tulisan tangannya yang merupakan surat rekomendasi kepada Abdul Karim Al-Uqaili sebagai Mujtahid Mutlak. Dalam surat penting tersebut banyak kesalahan cara penulisan bahasa arab yang mestinya tidak dilakukan oleh seorang 'ulama besar'. Bahkan kesalahan-kesalahan itu terjadi dalam surat resminya kepada seorang ulama lain untuk diangkat menjadi Mujtahid Mutlak.

Apakah orang yang menulis seperti ini bisa dikatakan ulama? apalagi disebut mujtahid, bahkan dalam hal ini kedudukannya di mata Syiah lebih dari itu, karena dia-lah yang memberikan gelar mujtahid kepada ulama lain. 

Orang yang tidak faham bahasa arab, bahkan tidak tahu menulis bahasa arab dalam satu lembar kertas bagaimana bisa memahami Al-Qur'an, Tafsir dan Hadis? padahal mereka para 'ulama' Syiah itu diberi gelar 'Ayatullah' 'Ruhullah' 'Mujtahid Mutlak' dan lain sebagainya. Mereka yang memperoleh gelar-gelar itu bukanlah dari proses ilmiah, tapi karena kedekatannya dengan 'ulama' besar atau yang menikahkan anaknya dengan ayatullah tersebut atau karena sangat tunduk kepadanya dan lain sebagainya.

Inilah surat resmi pengangkatan seorang ulama Syiah menjadi Mujtahid Mutlak:


Saya akan tunjukkan kesalahan-kesalahannya dalam surat di atas, padahal saya hanyalah penuntut ilmu biasa, saya bukan seorang Ayatullah, Hujjatullah, dan tidak pakai 'imamah (sorban hitam);

1- حضرت .. << حضرة 
 
2-
جناب السماحة  <<  جناب سماحة

 
3-
من العلماء الذي صرف  << الذين صرفوا

 
4-
فى تحصيل <<   في تحصيل

 
5-
فاق على أقرانه  <<  فاق أقرانه

 
6-
حتى اناله الله  <<  أناله

 
7-
رتبة الأجتهاد  << الاجتهاد 

 
8-
فأن العلم نور  <<  فإن 

 
9-
فى قلب من يشاء  <<  في قلب

 
10-
دام بقائه  <<  دام بقاؤه 

 
11-
وصاحب التقوى  <<  وصاحب تقوى

 
12-
فى العلم والعمل  <<  في العلم ..


13-
وعليه اجره  <<  أجره

 
14-
واوصيه  <<  وأوصيه

 
15-
دام بقائه << بقاؤه

 
16-
بمراعات  <<  بمراعاة

 
17-
الأحتياط    <<الاحتياط

 
18-
فأنه طريق النجاة  <<  فإنه

 
19-
وارجوه  <<  وأرجوه

 
20-
ان لا ينسانى  <<  أن لا ينساني

 
21-
لا انساه  <<  لا أنساه

 
22-
انشاء الله  <<  إن شاء الله

 
23-
المشهد المقدسة  <<  مشهد المقدسة


Di atas kita bisa ketahui ulama Syiah ini tidak tahu kaidah-kaidah penulisan bahasa arab, tidak tahu dimana menaruh hamzah, bagaimana jika hurufnya terpustus atau menyambung dan lain sebagainya.

Kami ingin katakan: wahai Syiah, inilah ulama kalian, beginilah kualitasnya.


(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Sumber: http://fnoor.com/main/articles.aspx?article_no=3596#.USXoGFLjpcE

4 komentar:

Assalamu alaikum!

Jika berkenan, mohon penjelasannya sekaitan dengan poin 2,3,5,10,11,15,16, dan 23

wa'alaikumussalam, kami kira itu sudah jelas, silakan dibedakan antara kata sebelumnya dan kata setelahnya, bedanya hanya hal-hal sepele, misalkan, tidak dikasi "ال", "ء", "ون", dan yang kalimat jamak tidak ditulis jamak dan seterusnya....ulamanya saja kayak begitu, bagaimana bisa jadi rujukan, pantesan, ajarannya yang disampaikan keliru alias sesat!

Ada yg mengatakan kalo itu ditulis tidak dengan bhs arab secara keseluruhan, tapi campur dengan bhs persia. Jadi kesalahan tersebut memang salah kalo dilihat dlm bhs arab tapi tidak dalam bhs persia. Benarkah ?


Dari La Ode

surat di atas adalah full bahasa arab....tidak ada bahasa persia-nya....wallahu a'lam

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More