Meneladani Kepemimpinan Nabi Ibrahim

 
Salah satu nabi sekaligus rasul yang mendapat porsi cerita dari kitab-kitab samawi –kitab yang ajarannya bersumber dari langit- adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam (AS).
Dalam Kitab Kejadian, Ibrahim diceritakan mengalami kegalauan karena saat berumur hampir seratus tahun, belum juga punya pengikut dari ajaran monoteis yang ia dakwahkan. Kaumnnya tetap saja menyembah tuhan yang bervariasi (politeis), mulai dari patung, dewa matahari, bulan, bintang dan sejenisnya.
Galau yang amat sangat itu kian bertambah bahkan menghampiri frustasi dikala usia makin senja dan belum jua ada tanda-tanda jika generasi penerus akan lahir dari rahim sang istri tercinta. Siti Sarah.
Pada saat itulah, Allah memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim, “Lihatlah ke langit dan hitunglah bintang-bintang, sebanyak itulah keturunanmu kelak.” Demikian firman Allah dalam Kitab Kejadian.
Demi mendapatkan keturunan, Sarah mengizinkan suaminya menikah dengan budak wanitanya yang berasal dari Mesir namun jelita, Siti  Hajar, darinya Ibrahim memperoleh seorang anak bernama Ismail. Tak lama kemudian, Sarah juga melahirkan seorang bayi lelaki bernama Ishaq.
Kedua anak Ibrahim di atas masing-masing lahir di Kota Babilonia atau Palestina dan Israil saat ini. Namun karena permintaan Sarah serta dorongan wahyu dari Allah sehingga Ibrahim membawa pergi Hajar dan anaknya ke arah selatan mengikuti kafilah 40 hari perjalanan dengan tujuan ke sebuah lembah yang tandus (ghari zizar’in) bernama Bakkah (Makkah).
Di tempat inilah Hajar dan anaknya ditinggal oleh sang ayah, dan dari sini pulalah keturunan Ibrahim dari anaknya Ismail tumbuh dan berkembang pesat. Ada pun Ishaq juga demikian, hidup dan berkembang di Babilonia. Dari Ismail dan Ishaq yang juga diangkat oleh Allah menjadi nabi dan rasul, terlahir dua bangsa besar. Arab dan Yahudi, yang menjadi musuh abadi, kini kakak-adik itu terus berusaha saling menghabisi satu sama lain, ironis memang.
Pemimpin
Ibrahim juga dikisahkan dalam Kitab Suci Alquran sebagai pemimpin bagi segenap manusia, “Inni ja’iluka linnasi imaman, [Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh umat manusia].” Lalu Ibrahim meminta pula supaya kelak keturunannya juga bisa diangkat menjadi pemimpin, namun Allah memberi syarat bahwa yang berhak menjadi pemimpin dari umat dan keturunanmu kelak hanyalah mereka yang tidak zalim ‘La yanalu ‘ahdi az Zhalimin’. (QS. [2]: 124).
Alquran membahasakan pemimpin sebagai ‘imam’ yang berasal dari kata ‘amam’ atau di depan. Begitu pentingnya ‘imamah’ alias ‘kepemimpinan’ sehingga Rasulullah SAW mewajibkan mengangkat pemimpin kapan dan dimana pun berada. Kata ‘khalifah’ juga kerap digunakan dalam Alquran sebagai pemimpin, sebagaimana Allah menjadikan Nabi Adan sebagai khalifah fil ardhi, pemimpin di muka bumi.
Begitu pentingnya sebuah kepemimpinan sehingga setiap kita adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi akan dimintai tanggungjawab mengenai umatnya, presiden akan disoal tentang segala tetek-bengek rakyatnya, menteri, gubernur, bupati, camat, hingga kepala rumah tangga akan dimintai pertanggung-jawaban kelak.
Kendati demikian, teori kepemimpinan dalam Islam yang diistilahkan dengan ‘imamah’ dan ‘khilafah’ di atas telah disepakati oleh para mujtahid dari seluruh aliran dalam Islam –kecuali Syiah- bahwa untuk mengangkat seorang pemimpin haruslah melalui musyawarah, mufakat, dan pemilihan yang demokratis.
Aliran Syiah yang menyimpang dari ajaran Rasulullah, dan telah difatwakan oleh MUI Jawa Timur sebagai aliran yang sesat dan menyesatkan ‘dhal wa adhallu’ memasukkan ‘Imamah” sebagai salah satu pilar rukun Islam mereka. Lebih dari itu, mereka mengangkat pemimpin berdasarkan wasiat dan menjadikan pemimpin mereka sebagai manusia yang terbebas dari segala bentuk dosa (ma’shum), sebuah kekonyolan dalam perspektif Ahlusunnah.
Allah menegaskan dalam Alquran (2:124) bahwa Ibrahim AS dijadikan pemimpin yang ideal karena telah melewati beberapa rangkaian fit and proper test, dalam bahasa Alquran, “Wa izbtala Ibrahima rabbuhu bikalimaatin fa atammahu, [dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna].”
Ibnu Katsir rahimahullah, dalam “Tafsir al-Qur’anil ‘Adzhim” berpendapat sebagaimana Ibnu Abbas ra bahwa ujian yang ditimpakan kepada Ibrahim sebelum diangkat menjadi pemimpin seluruh umat manusia adalah Allah mengujinya dengan ‘taharah’ atau bersuci, lima di kepala dan lima di badan. Di kepala: mencukur kumis, berkumur-kumur, menghirup air ke hidung, menggosok gigi, dan bersisir rambut. Di badan. Memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, khitan, mencabut bulu ketiak, dan mencuci bekas buang air (istinja), inilah salah satu ujian bagi Nabi Ibrahim. Berangkat dari sini, kita bisa belajar bahwa seorang pemimpin haruslah manusia yang bersih secara lahiriah, karena merupakan penilaian pertama bagi orang lain.
Selain taharah, ada lagi beberapa ujian yang telah dialami oleh Ibrahim AS, dan sukses menjalaninya, sebagaimana yang tertera dalam Alquran, bahwa Allah telah menguji nabi yang bergelar khalilullah (kekasih Allah) ini dengan ujian sebagai berikut: pertama, berkorban dengan dirinya sendiri ketika harus berhadapan dengan ayah dan kaumnya yang musyrik bahkan harus diusir dari ayahnya dan dibakar hidup-hidup dalam sebuah api unggun di tengah tanah lapang oleh Raja Namruz dan pengikutnya. (QS. [21]: 51-56). Kedua, berkorban dengan keluarga ketika harus meninggalkan anak dan istrinya (Ismail dan Siti Hajar) di Bakkah yang tidak memiliki apa-apa kecuali lembah yang tandus. (QS. [4]: 37). Ketiga, berkorban dengan anaknya ketika harus menyembelih Ismail –yang padanya ibadah kurban berasal. (QS. [37]: 102-107), dan keempat, berkorban dengan harta dan tenaga ketika Ibrahim dan anaknya Ismail bahu-membahu untuk membangun kakbah, tempat beribadah dan kiblat umat Islam sedunia saat ini. (QS. [2]: 125-127). (Nashruddin Syarif, “Kepemimpinan Ideal Ibrahim”, Jurnal Islamia Republika, hal. 23. Kamis, 18/10/2012).
Kita semua mengakui bahwa salah satu keterpurukan yang melanda umat Islam di seluruh penjuru dunia saat ini adalah tidak adanya kepemimpinan yang ideal sebagaimana Nabi Ibrahim AS. Pemimpin tidak lahir dari proses instan, harus melalui tahap demi tahap sehingga dapat menumbuhkan karakter yang kuat pada diri sang pemimpin. Begitulah yang terjadi kepada para nabi. Dari Adam As hingga Muhammad SAW.
Di bulan Zulhijjah ini, dimana di dalamnya terdapat dua syariat agung yang bersumber dari Nabi Ibrahim AS. Ibadah Haji dan kurban, ada baiknya kita semua bersama-sama menelaah kembali makna kepemimpanan ‘imamah’ yang telah diemban oleh Nabi Ibrahim.
Di antara prasyarat menjadi pemimpin pada umat dan keturunan Ibrahim AS adalah  berlaku adil dan tidak zalim, demokratis, selalu mengedepankan musyawarah dan mufakat dalam mengeluarkan kebijakan, dan harus menjadi contoh dalam ketaatan menjalankan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Inilah pemimpin dambaan umat. Selamat Menyambut Hari Raya Idul Adha 1433 H!
Tulisan ini dimuat juga di Harian Tribun Timur Makassar, 26 Oktober 2012 bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1433 H.
Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur   

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More