Benarkah peristiwa Ghadir Khum sebagai pelantikan kekhalifahan Ali?


http://abna.ir/a/uploads//79/9/79988.jpg

Hadits Ghadir Khum merupakan hujjah pokok kaum syi'ah, yang diyakini sebagai pelantikan 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu sebagai pemimpin kaum muslimin selepas kepergian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan  Keyakinan tersebut adalah satu titik tolak perbedaan ahlussunnah dan golongan syi'ah, dimana perbedaan tersebut tidak mungkin dipertemukan. Karena kenyataan sejarah menunjukkan bahwa sepeninggal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kaum muslimin hidup dibawah kepemimpinan Abu Bakr al-Shiddiq, kemudian Umar bin al-Khaththab, kemudian berganti lagi Utsman bin Affan, baru setelah itu Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhum.
Sehingga keyakinan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah melantik Ali ra sebagai penggantinya, memiliki konsekuensi bahwa Abu Bakr, Umar, Utsman dan para sahabat yaitu generasi awal kaum muslimin yang membaiat mereka radhiallahu 'anhum, adalah para penjahat yang berkhianat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal al-Qur'an dan as-Sunnah adalah haq dan sampai kepada kita kaum muslimin melalui para sahabat, yaitu generasi awal kaum muslimin tersebut. Adakah kita sebagai kaum muslimin mau menerima apabila dikatakan bahwa agama kita adalah warisan dari para penjahat dan pengkhianat ? Sekali-kali kita tidak akan terima.
Hadits yang dimaksud adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam : "Man kuntu maulaahu fa 'Aliyyun maulaahu" (Barang siapa yang aku adalah maulanya, maka 'Ali adalah maulanya). Bagaimana sebetulnya memahami hadits ini ? Betulkah hadits itu adalah pelantikan Ali ra sebagai pemimpin yang menggantikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selepas kepergian beliau ? Membaca satu kalimat dengan menutup mata akan sebab akibat, latar belakang, atupun konteks dari kalimat tersebut tentu saja akan menghasilkan kesimpulan yang keliru, jauh dari kebenaran.
Oleh karena itu mari kita melihat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan hadits tersebut, yang diantaranya terkait langsung dengan peristiwa dimana hadits tersebut muncul, dan yang lain adalah berkaitan dengan peristiwa ketika 'Ali ra meminta kesaksian kepada orang-orang atas apa yang diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Ghadir Khum.
Pertama, Peristiwa Apakah Yang Melatarbelakangi Munculnya Hadits Tersebut ?
حدثنا الفضل بن دكين حدثنا ابن أبي غنية عن الحكم عن سعيد بن جبير عن ابن عباس عن بريدة قال غزوت مع علي اليمن فرأيت منه جفوة فلما قدمت على رسول الله صلى الله عليه وسلم ذكرت عليا فتنقصته فرأيت وجه رسول الله صلى الله عليه وسلم يتغير فقال يا بريدة ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم قلت بلى يا رسول الله قال من كنت مولاه فعلي مولاه

Dari Buraidah berkata: Aku perang bersama 'Ali di Yaman, aku melihat sikap dingin darinya, saat aku tiba dihadapan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, aku menyebut-nyebut Ali, aku mencelanya lalu aku melihat rona muka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berubah kemudian bersabda: Hai Buraidah! Bukankah aku lebih utama bagi orang-orang mu`min melebihi diri mereka. Aku menjawab: Benar wahai Rasulullah! Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Man kuntu maulaahu fa 'Aliyyun maulaahu."
 - Syaikh Syu'aib al-Arna'uth : Isnadnya shahih atas syarat syaikhain (Musnad imam Ahmad tahqiq Syaikh Syu'aib al-Arna'uth, Mu'assasah al-Risalah, hadits no.22945, Juz 38 hal. 32)
- Syaikh Hamzah Ahmad al-Zain : Isnadnya shahih (Musnad Ahmad Tahqiq Hamzah Zain, Darul Hadits - Kairo, hadits no. 22841,  Juz 16 hal. 475)
Perhatikanlah hadits diatas, sangat jelas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan "Man kuntu maulaahu fa 'Aliyyun maulaahu"  ada sebabnya, yaitu karena ada protes dari sahabat berkaitan dengan sikap 'Ali ra. Oleh karena itu hadits tersebut tidak lain bermakna sebagai pembelaan rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada 'Ali bin Abi Thalib, tidak lebih. Kalau hubungan sebab akibat sudah demikian jelasnya, apa ada jalan lain lagi untuk menakwilkan hadits diatas ? Yang namanya hubungan sebab akibat itu, tidak akan ada akibat kalau tidak ada sebabnya. Dan sebab munculnya hadits diatas itu adalah jelas, yaitu karena adanya protes, bukan karena adanya perintah dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk melantik 'Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin yang harus menggantikan secara langsung selepas kepergian rasulullah shallallahu 'alai wa sallam.
Kedua, Apa Sebab Ali ra Mengumpulkan Orang-orang Untuk Meminta Kesaksian Atas Apa Yang Disabdakan Oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Di Ghadir Khum ?
Riwayat hadits berikut sering juga disebut-sebut oleh kaum syi'ah untuk menunjukkan bahwa sebetulnya 'Ali ra sendiri memahami bahwa "Man kuntu maulaahu fa 'Aliyyun maulaahu"  adalah hujjah bagi kepemimpinannya, terbukti bahwa akhirnya 'Ali ra meminta kesaksian orang-orang atas apa yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di Ghadir Khum. 
حدثنا عبد الله حدثنا علي بن حكيم الأودي أنبأنا شريك عن أبي إسحاق عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد علي الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يوم غدير خم إلا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا أنهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه

Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di al-rahbah “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda “Allahumma Man kuntu maulaahu, fa 'Aliyyun maulaahu, Allahumma waali man waalahu, wa 'aadi man 'aadahu.
 - Syaikh Syu'aib al-Arna'uth : Shahih lighairihi (hadits no. 950, juz 2 hal. 262)
- Syaikh Ahmad Syakir : Isnadnya shahih (Musnad Ahmad Tahqiq Syaikh Ahmad Syakir, Darul Hadits - Kairo, hadits no. 950, Juz 2 hal. 18)
Riwayat diatas secara sepintas memang terlihat bahwa 'Ali ra sedang berhujjah akan kepemimpinannya menggunakan hadits Ghadir Khum. Tetapi apakah betul anggapan seperti itu ? Kenyataannya, riwayat diatas tidak menjelaskan apa sebab 'Ali ra mengumpulkan orang-orang untuk meminta kesaksian. Dimana peristiwa tersebut terjadi pada saat 'Ali ra sudah menjadi khalifah, dan setting lokasinya berada di ar-Rahbah, yaitu suatu tanah lapang yang berada di Kufah, pusat pemerintahan 'Ali ra saat itu.
Kalau memang 'Ali ra meminta kesaksian atas hadits Ghadir Khum sebagai hujjah atas kepemimpinannya, mengapa tidak dilakukan ketika berlangsungnya pembaiatan Abu Bakr, Umar, ataupun Utsman radhiallahu 'anhum ? Mengapa justru ketika beliau sudah menjadi pemimpin kaum muslimin baru menyinggung-nyinggung hadits Ghadir Khum tersebut ? Riwayat-riwayat shahih yang menunjukkan apa sebab 'Ali ra mengumpulkan orang-orang di ar-Rahbah dalam hal ini akan sangat penting untuk menjelaskan pertanyaan tersebut. Dan riwayat diatas tidak menjelaskannya.
Ada lagi riwayat dari Abi Thufail seperti berikut ini, dimana dijadikan oleh seorang syi'i sebagai hujjah untuk menunjukkan sebab 'Ali ra mengumpulkan orang-orang di ar-Rahbah untuk meminta kesaksian hadits Ghadir Khum.
حدثنا حسين بن محمد وأبو نعيم المعنى قالا ثنا فطر عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون أني أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له إني سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ذلك له
Dari Abi Thufail yang berkata “Ali mengumpulkan orang-orang di al-rahbah dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda “Man kuntu maulaahu fa hadza maulaahu Allahumma waali man waalahu, wa 'aadi man 'aadahu. Abu Thufail berkata “lalu aku keluar dan sepertinya dalam hatiku ada sesuatu maka aku menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.
- Syaikh Syu'aib al-Arna'uth :Isnadnya shahih (hadits no. 19302, juz 32 hal. 55 s/d 56) 
- Syaikh Hamzah Ahmad al-Zain : Isnadnya shahih (hadits no. 19198, juz 14 hal. 436 s/d 437)
Berdasarkan riwayat Abi Thufail  diatas, seorang syi'i di dalam blognya (secondprince) menulis :
Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata mawla dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan kepemimpinan tetapi menunjukkan persahabatan atau yang dicintai, takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan persahabatan atau yang dicintai maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas. Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.
Pandangan syi'i diatas itu sepintas terlihat logis, tetapi kalau dicermati, sikap Abu Thufail yang menyatakan ada sesuatu di pikirannya sehingga menemui Zaid bin Arqam tersebut belum menjawab apa sebab 'Ali ra mengumpulkan orang-orang di ar-Rahbah untuk meminta kesaksian hadits Ghadir Khum. Sebab sikap Abu Thufail tersebut berlangsung setelah 'Ali ra meminta kesaksian, bukan sebaliknya. Apalagi kemudian seorang syi'i tersebut mengatakan : "Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya". Darimanakah kesimpulan seperti itu, sedangkan Abu Thufail hanya berkata "dan sepertinya dalam diriku ada sesuatu." Darimana diketahui bahwa Abu Thufail menganggap bahwa hadits Ghadir Khum tersebut memberatkan ketiga khalifah sebelumnya ? Atau seorang syi'i itu memiliki ilmu terawangan yang mampu membaca isi hati seseorang yang hidup lebih dari seribu tahun yang lalu ?
Dan akan lebih menarik lagi jika kita mencari tahu sosok Abu Thufail ini. Padahal beliau ini adalah salah satu tokoh yang dibangga-banggakan syi'ah sebagi seorang yang berpaham syi'ah yang menghiasi riwayat yang ada dalam literatur ahlussunnah. Salah seorang ulama syi'ah Syarafuddin Abdul Husein al-Musawi, dalam bukunya yang sangat terkenal (terkenal dustanya) yaitu al-Muraja'at (Dialog Sunnah-Syi'ah), pada dialog ke-16 menyebutkan seratus nama dari kalangan syi'ah yang termasuk dalam rangkaian sanad-sanad ahlussunnah. Kemudian pada nama ke-45, disebutkan Amir bin Watsilah bin Abdullah al-Laitsi al-Makki (Abu Thufail). Pertanyaannya adalah, mana ada seorang syi'ah meragukan kepemimpinan 'Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu ?
Oleh karena itu, menjadikan sikap Abi Thufail diatas sebagai hujjah bahwa 'Ali ra mengumpulkan orang-orang untuk menjadikan hadits Ghadir Khum sebagai hujjah bagi kepemimpinannya,  sama sekali tidak berdasar dalil, kecuali dalil menebak-nebak isi hati seseorang. Juga karena terbalik-balik untuk menentukan mana sebab, mana akibat. 
Ketiga, Riwayat Shahih Yang Jelas Menunjukkan Bahwa 'Ali bin Abi Thalib Sendiri Tidak Pernah Memahami Bahwa Beliau Sudah Dilantik Di Ghadir Khum.
حدثنا يحيى بن آدم حدثنا حنش بن الحارث بن لقيط النخعي الأشجعي عن رياح بن الحارث قال جاء رهط إلى علي بالرحبة فقالوا السلام عليك يا مولانا قال كيف أكون مولاكم وأنتم قوم عرب قالوا سمعنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم غدير خم يقول من كنت مولاه فإن هذا مولاه قال رياح فلما مضوا تبعتهم فسألت من هؤلاء قالوا نفر من الأنصار فيهم أبو أيوب الأنصاري حدثنا أبو أحمد حدثنا حنش عن رياح بن الحارث قال رأيت قوما من الأنصار قدموا على علي في الرحبة فقال من القوم قالوا مواليك يا أمير المؤمنين فذكر معناه

Dari Riyah bin al-Harits berkata : Sekelompok orang datang kepada 'Ali di rahbah, kemudian berkata : "Assalamu 'alaika yaa maulanaa"
'Ali menjawab : "Bagaimana bisa aku menjadi maula kalian sedangkan kalian kaum arab ?"
Orang-orang tsb berkata : "Kami mendengar Rasulullah Saw pada hari ghadir khum bersabda :"man kuntu maulahu fainna hadza maulahu".  Berkata Riyah : Saat mereka pergi, aku mengikuti mereka lalu aku tanya siapa mereka, mereka menjawab : Mereka adalah sekelompok orang Anshar, diantara mereka ada Abu Ayyub Al Anshari.
 - Syaikh Syu'aib al-Arna'uth : Isnadnya shahih (hadits no. 23563, juz 38 hal. 541 s/d 542)
- Syaikh Hamzah Ahmad al-Zain : Isnadnya shahih (hadits no. 23453, juz 17  hal. 36)
Perhatikanlah hadits diatas. Ada sekelompok orang menyapa 'Ali ra dengan sebutan "Maulana", tetapi 'Ali ra sendiri justru heran, sehingga perlu untuk diingatkan bahwa di Ghadir Khum Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda kepada 'Ali ra, bahwa "Barangsiapa Aku adalah maulanya, maka ini 'Ali adalah maulanya". Itu adalah peristiwa yang sangat jelas sekali menunjukkan bahwa 'Ali ra tidak pernah merasa hadits tersebut sebagai pelantikan dirinya.
Kemudian dengan pertimbangan bahwa peristiwa tersebut terjadi dilokasi yang dinamakan ar-Rahbah, adalah lokasi yang sama dengan peristiwa yang disebutkan oleh riwayat yang dibahas pada bagian kedua diatas, juga pertimbangan bahwa kebiasaan para sahabat untuk meminta kesaksian orang lain ketika mendengar hadits, maka riwayat dari Riyah bin al-Harits ini secara alami dapat menjawab pertanyaan "Apa Sebab 'Ali ra mengumpulkan orang-orang di ar-Rahbah untuk meminta kesaksian atas hadits Ghadir Khum ?". (kecuali ada riwayat lain yang jelas menyebutkan latar belakang mengapa 'Ali ra mengumpulkan orang-orang di ar-Rahbah untuk meminta kesaksian tentang hadits Ghadir Khum).

http://abna.ir/a/uploads//79/9/79988.jpg
Terakhir, Apabila Syi'ah Tidak Mau Mempertimbangkan Berbagai Sebab Akibat, Latar Belakang, Konteks Atau Apapun Yang Berkaitan Dengan Munculnya Suatu Hadits
Kalau memang berbagai faktor yang berkaitan dengan suatu hadits harus diabaikan dan lebih memilih untuk bermain dengan kosa kata "maula" dan tidak mau bergeser seujung ramput pun dalam memaknai suatu hadits, perhatikanlah hadits shahih berikut ini yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam al-Jami' al-shahihnya. Dimana ketika itu ada perselisihan antara Ali, Zaid dan Ja'far tentang puteri dari Hamzah, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Zaid : Anta Akhuna wa Maulana. Apakah itu berarti bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sedang melantik Zaid menjadi pemimpin yang akan menggantikan Nabi sepeninggalnya ?

Oleh: Aditya Riko di facebook.com/notes/aditya-riko/

1 komentar:

Soalan sy mengapa ada perbezaan pndangan mengenai hadith tersebut dari tempat dan masanya...syiah menyatakn ketika di ghadir khum,,dan saudara menyatakn ketika buraidah menyatakn sikap Sayyidina Ali ketika perang..dan Sayyidina Ali mengumpulkn orang ramai di ar-rahbah,kufah..
Sy baru tau kisah ini..bagaimana sy boleh dapat bukti sahih mengapa ada perbezaan dan dimana nk dpt jawapan yg sebenar...trima kasih..

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More