Walisongo, Cerita Mistis, Syiah dan Perusak Islam


ZEN AL HADY salah satu narasumber utama Radio Silaturahim (Rasil AM720) yang juga menjadi pengasong paham sesat syi’ah laknatullah, dalam salah satu dakwahnya di Rasil pernah mengecam pihak-pihak yang dianggapnya kurang menghargai peranan Walisongo di dalam menyebarkan ajaran Islam.
Sementara itu Husein bin Hamid Al Attas, rekan sejawat Zen Al Hady yang juga pengasong syi’ah dan salah satu narasumber utama Rasil AM720 cenderung meremehkan sahabat, seperti Muawiyah ra yang dikatakannya boleh dihujat karena ia hanyalah sahabat secara lughowy bukan secara syar’i. Begitu juga dengan kebolehan menghujat Abu Hurarah ra sejauh itu masih berada dalam domain keilmuan.
Kalau sikap keberagamaan kedua pengasong Syi’ah laknatullah ini digabungkan, terlihat adanya kecenderungan menempatkan para Walisongo lebih ‘mulia’ dibandingkan para sahabat. Para pengasong syi’ah di Indonesia ini terkesan lebih menghargai para Walisongo ketimbang sahabat nabi Muhammad SAW. Mengapa demikian?
Untuk mendapatkan jawabannya, cobalah baca informasi tentang riwayat para Walisongo. Pada umumnya, para Walisongo itu diakui sebagai keturunan nabi Muhammad SAW dari jalur Husein bin Ali. Sedangkan Husein bin Ali adalah anak dari pasangan Fathimah ra (puteri Rasulullah SAW) yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra. Artinya, mereka punya garis keturunan yang sama dengan para habib yang mengaku-aku keturunan Nabi Muhammad dari jalur Fathimah-Ali. Sebuah rangkaian nasab yang khas syi’ah (?).
Berlandaskan sangka baik (khusnudzon), kita percaya bahwa Walisongo merupakan sekelompok orang yang berjasa menyebarkan Islam di (sebagian) wilayah nusantara ini, dan menganggap mereka bukan penyebar paham syi’ah. Namun, bila gambaran nasab para Walisongo yang selama ini dikait-kaitkan dengan rangkaian nasab dalam mengukuhkan keturunan nabi (ahlul bait) versi syi’ah, setidaknya bolehlah kita beranggapan bahwa keberadaan para Walisongo ini sudah ‘ditunggangi’ oleh para pengasong sy’iah sejak lama.
Setidaknya, para pengasong syi’ah itu ingin menjadikan keberadaan Walisongo yang digambarkan bernasab seperti itu, sebagai bukti bahwa ajaran syi’ah (laknatullah) sudah diterima masyarakat Indonesia sejak awal, bahkan telah lebih dulu mampu menggusur dominasi Hindu yang sebelumnya dianut masyarakat nusantara cikal bakal NKRI ini. Begitulah barangkali kesan yang ingin dibentuk para pengasong syi’ah.
Dalam pandangan sebaliknya, jika benar para Walisongo itu merupakan penyebar ajaran syi’ah, yang disisipkan ke dalam ajaran Islam yang hanif dan murni, maka masyarakat nusantara nampaknya telah berhasil memilih dan memilah Islam dari kontaminasi ajaran syi’ah yang (katakanlah) diramu para Walisongo tersebut.
Dalam kaitannya dengan syi’ah ini, kita beranggapan bahwa Walisongo memang penyebar Islam, namun keberadaannya ditarik-tarik oleh para pengasong syi’ah untuk kepentingan mereka. Selain ditarik-tarik oleh para pengasong syi’ah, nampaknya keberadaan Walisongo ini juga dimanfaatkan dan ditarik-tarik oleh para praktisi bid’ah, khurafat, dan tahyul (TBC) bahkan kejawen, sehingga dalam membaca riwayat Walisongo selalu terselip kisah-kisah bernuansa TBC yang tidak sejalan dengan akidah Islam.
Sunan Gresik
Personil Walisongo yang dianggap paling senior adalah Sunan Gresik alias Maulana Malik Ibrahim yang diperkirakan wafat pada tahun 1419 M (atau 882 H), dan disebut-sebut sebagai keturunan ke-22 nabi Muhammad saw.
Makam Sunan Gresik terletak di desa Gapurosukolilo, kota Gresik, Jawa Timur. Konon, setiap malam Jumat Legi, masyarakat setempat ramai berkunjung untuk berziarah ke makam tersebut. Sedangkan setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sesuai tanggal wafat pada prasasti makam, masyarakat sekitar mengadakan ritual ziarah tahunan alias haul.
Salah satu cerita mistis yang dikait-kaitkan dengan Sunan Gresik ini adalah tentang salah satu muridnya yang kikir, padahal ia kaya raya. Sunan Gresik pada suatu hari bersama salah satu muridnya yang lain bermaksud mendakwahi sekaligus menasehati sang murid yang kikir tadi.
Maka ia pun berkunjung ke rumah si kikir yang kaya raya itu. Kedatangan Sunan Gresik disambut ramah dan disuguhi jamuan makanan dan minuman yang baik-baik. Ketika mereka sedang berbincang, datanglah seorang perempuan tua yang meminta sedekah sedikit beras untuk dimasak dan dimakannya.
Tapi si kaya yang kikir ini mengabaikannya, bahkan mengusir perempuan tua yang datang tadi, padahal di halaman rumahnya tertumpuk berkarung beras. Ia tidak hanya berbohong tteapi juga sudah berbuat dzalim, dengan mengatakan bahwa bertumpuk-tumpuk karung  di halaman rumahnya bukan berisi beras tetapi pasir. Akhirnya si perempuan tua tadi pergi dengan tangan hampa dan langkah kecewa.
Sunan Gresik yang menyaksikan kebohongan dan kedzaliman muridnya yang kaya tapi kikir ini, kemudian memanjatkan do’a. Tak berapa lama, salah seorang pembantu si kaya yang kikir ini datang. Sambil berteriak ia mengabarkan kepada majikannya bahwa karung-karung yang semula berisi beras, kini telah berubah menjadi pasir semua.
Si kaya yang kikir pun terkejut. Ketika dihampirinya tumpukan karung yang semula berisi beras dan benar terbukti telah menjadi pasir, sekujur tubuhnya pun lemas. Ia menangis. Sunan Gresik pun menghampiri si kaya yang kikir ini seraya bertanya mengapa menangis, bukankah ia sendiri yang mengatakan karung-karung itu berisi pasir bukan beras?
Singkat kata, si kaya yang kikir ini akhirnya menyadari kekeliruanya. Ia berjanji membuang jauh-jauh kekikirannya dan mengganti dengan kedermawanan, seraya memohon kepada Sunan Gresik agar berasnya bisa kembali lagi seperti semula. Maka, Sunan Gresik pun memanjatkan do’a, kemudian beras yang telah berubah menjadi pasir itu kembali menjadi beras.
Inilah salah satu cerita mistis dan irasional bernuansa pembodohan yang mengiringi riwayat Sunan Gresik, yang dengan kekuatan do’anya bisa merubah beras menjadi pasir, dan mengembalikannya lagi menjadi beras.
Sunan Ampel
Sebagaimana Sunan Gresik, personil Walisongo kedua ini juga disebut-sebut merupakan keturunan ke-22 nabi Muhammad saw. Ia adalah Sunan Ampel alias Raden Rahmat. Ayah Sunan Ampel bernama Asmarakandi yang menikah dengan putri Raja Champa bernama Dewi Candrawulan.
Konon, setelah Sunan Gresik wafat, para wali berfikir untuk mencari penggantinya. Maka, atas usulan Syeh Maulana Ishak didatangkanlah Raden Rahmat alias Sunan Ampel dari Champa ke Pulau Jawa.
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1478, dan dimakamkan di sisi barat Masjid Sunan Ampel, yang terletak di kelurahan Ampel, kecamatan Semampir, kota Surabaya, Jawa Timur Hampir setiap hari makam Sunan Ampel diziarahi banyak orang, bahkan hingga larut malam, terutama pada malam Jum’at Legi.
Salah satu cerita mistis dikait-kaitkan dengan Sunan Ampel adalah tentang air sumur yang rasanya segar, padahal air sumur di kawasan sekitar biasanya asin dan anyir. Selain segar, air dari sumur yang berada di areal masjid Sunan Ampel ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit bila diminum.
Cerita mistis lain yang berkaitan dengan Sunan Ampel adalah ucapannya yang bisa menghadirkan orang yang sudah mati. Alkisah, ada seorang murid Sunan Ampel yang biasa disapa dengan panggilan Mbah Soleh. Sang murid ini sehari-hari bertugas menyapu lantai masjid Sunan Ampel. Tingkat kebersihan hasil sapuan si mbah Soleh ini tidak tertandingi.
Suatu ketika mbah Soleh meninggal dunia. Namun santri pengganti yang bertugas menyapu lantai masjid Sunna Ampel tidak mampu menyamai tingkat kebersihan hasil sapuan mbah Soleh, sehingga masjid terkesan masih kotor. Keadaan itu membuat Sunan Ampel berucap: “…kalau mbah soleh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih lagi…”
Ternyata, ucapan itu bisa menghadirkan mbah Soleh yang konon sudah meninggal dan dikubur di areal sekitar masjid Sunan Ampel. Maka, mesjid pun kembali bersih karena disapu oleh mbah Soleh. Pada kurun waktu tertentu, mbah Soleh kembali meninggal dan dikubur di sebelah kuburan sebelumnya. Kemudian, terucap kembali kata-kata seperti di atas: “…kalau mbah soleh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih lagi…”
Hal itu berulang hingga sembilan kali. Oleh karena itu di areal Masjid Sunan Ampel antara lain bisa ditemui sembilan kuburan yang berisi jasad satu orang yaitu mbah Soleh, murid Sunan Ampel.
Selain ada makam mbah soleh yang berjumlah sembilan, di areal Masjid Sunan Ampel ini juga bisa ditemukan makam mbah Bolong, salah satu murid Sunan Ampel yang bernama asli Sonhaji.
Sonhaji diyakini punya karomah luar biasa. Konon, pada waktu pembangunan masjid agung Sunan  Ampel, Sonhaji ditugasi mengatur lay out sehingga masjid tidak melenceng dari arah kiblat.
Namun setelah masjid rampung dibangun, banyak orang yang meragukan, “…apa betul masjid ini menghadap kiblat?” Ketika itu Sonhaji tidak menjawab, ia justru melubangi dinding mihrab lalu berkata: “…lihatlah ke dalam lubang ini…”
Ketika orang-orang yang meragukan arah mesjid tadi melihat ke arah lobang yang dibuat Sonhaji, ternyata melalui lubang itu mereka dapat melihat bangunan Ka’bah yang berada di Mekkah.
Begitulah kisah mistis yang dikait-kaitkan dengan Sunan Ampel. Mungkin si pembuat cerita bermaksud, kalau muridnya saja sehebat itu, apalagi gurunya?
Sunan Bonang
Personil ketiga dari walisongo adalah Sunan Bonang alias Raden Maulana Makdum Ibrahim yang disebut-sebut merupakan keturunan ke-23 dari nabi Muhammad saw, dan merupakan putra Sunan Ampel dari hasil pernikahannya dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban.
Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 M, dan dimakamkan di Desa Bonang, kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Namun ada sebuah makam di Tuban, Jawa Timur yang juga dipercaya merupakan makam Sunan Bonang. Keduanya banyak diziarahi orang.
Dalam dunia kesenian, Sunan Bonang disebut-sebut sebagai pencipta tembang Tombo Ati yang pada masa kini pernah dipopulerkan antara lain oleh Opick. Dalam bidang lain, sebuah komunitas di bawah nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia mengaku sebagai penerus ajaran Sunan Bonang yang pernah mengembangkan ilmu dzikir yang konon diakuinya berasal dari Rasululah saw. Bentuknya, gerakan fisik yang membentuk huruf hijaiyyah.
Dalam sebuah cerita, dikesankan bahwa ucapan Sunan Bonang yang diliputi rasa marah, bisa terwujud menjadi semacam kutukan yang berlangsung turun temurun. Sebagimana konon pernah terjadi pada warga Desa Patuk, Gedhak, sebelah utara Kediri, Jawa Timur.
Pada suatu ketika, dalam rangkaian perjalannya dari Kediri, Sunan Bonang dan sahabat-sahabatnya tiba di tepi Sungai Brantas. Siang hari yang terik itu, Sunan dan rombongan bermaksud menunaikan shalat. Namun permukaan air sungai saat itu sedang tinggi (banjir) dan keruh.
Kepada salah seorang sahabatnya, Sunan Boang memberi tugas pergi ke pemukiman untuk mendapatkan air bersih. Tiba di pemukiman, sahabat Sunan Bonang mendapati seorang gadis yang sedang menenun. Kepada sang gadis, sahabat Sunan Bonang menyampaikan maksudnya mendapatkan air yang bersih.
Namun sang gadis salah duga. Dikiranya sahabat Sunan Bonang tadi hendak menggodanya. Apalagi, ia merasa heran bukankah laki-laki tadi baru aja dari arah sungai (yang banyak airnya) namun kok minta air kepadanya.
Karena salah duga, sang gadis merespon dengan jawaban tak patut: “Kamu baru saja lewat sungai. Mengapa minta air simpanan. Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya.”
Akhirnya sahabat Sunan Bonang ini langsung pergi tampa pamit. Kembali menemui Sunan Bonang dan menceritakan pengalamannya. Maka, Sunan Bonang pun naik pitam, sehingga keluarlah kata-kata keras (sumpah serapah?): Tempat ini akan kesulitan air. Para gadis dan jejakanya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua.
Ucapan dalam nada marah itu, kontan terbukti. Desa setempat dibanjiri air sungai, merusak sawah dan kebun, kemudian kering seketika. Hingga kini konon daerah Gedhang sulit air. Begitu juga dengan gadis dan jejakanya baru mendapat jodoh saat usia tua.
Cerita rekaan di atas mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan betapa hebatnya seorang Sunan Bonang. Tapi di balik itu, timbul kesan betapa jahatnya Sunan Bonang, gara-gara gadis kencur yang salah sangka, ia menghancurkan desa, sawah dan kebun dengan ‘kesaktiannya’ sebagai wali.
Sunan Drajat
Personil keempat dari Walisongo adalah Sunan Drajat yang merupakan adik kandung Sunan Bonang. Sunan Drajat diperkirakan lahir tahun 1470 (wafat 1522), sedangkan Sunan Bonang diperkirakan lahir tahun 1465. Ayahnya tentu saja Sunan Ampel, dan ibunya Nyai Ageng Manila. Sunan Drajat juga disebut-sebut merupakan keturunan ke-23 dari nabi Muhammad saw. Sunan Drajat dimakamkan di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Saat Sunan Drajat beranjak dewasa, ia ditugaskan ayahnya (Sunan Ampel) berdakwah ke pesisir barat Gresik. Maka, berlayarlah Sunan Drajat dari Surabaya menuju Gresik. Saat berlayar, perahu Sunan Drajat diserang badai hingga pecah dihantam ombak, di sekitar Lamongan. Untuk menyelamatkan diri, Sunan Drajat berpegangan pada dayung perahu. Tak lama datang ikan cucut dan ikan cakalang menolongnya, membawa Sunan Drajat mendarat di kampung Jelak, Banjarwati.
Di kampung, Jelak Sunan Drajat ditolong oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Akhirnya Sunan Drajat menikah dengan Kemuning, putri Mbah Mayang Madu. Di tempat ini ia mendirikan surau yang kelak menjadi pesantren.
Tiga tahun kemudian, Sunan Drajat membuka lahan baru untuk pusat dakwah di sekitar Lamongan. Lahan berupa hutan belantara yang saat itu dikenal sebagai daerah angker, berhasil ditaklukkan Sunan Drajat berkat kesaktiannya. Para penghuni hutan angker itu marah ketika Sunan Drajat membuka hutan untuk dijadikan pusat dakwah. Para setan itu konon meneror penduduk dan menyebarkan penyakit. Namun Sunan Drajat berhasil mengalahkan para setan itu.
Kesaktian Sunan Drajat lainnya adalah ‘menciptakan’ sumur. Pada suatu ketika, saat Sunan Drajat melakukan perjalanan bersama sahabat-sahabatnya, ia kelelahan dan kehausan. Kemudian Sunan Drajat meminta sahabatnya mencabut wilus, sejenis umbi hutan. Kemudian ia berdo’a. Tak berapa lama, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar air bening, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lengsanga (lubang sembilan) yang terletak di kawasan Sumenggah.
Sunan Kudus
Personil kelima Walisongo adalah Sunan Kudus alias Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan, yang diperkirakan wafat pada tahun 1550 M, dan disebut-sebut merupakan keturunan ke-24 dari nabi Muhammad saw.
Dari jalur bapak dan dari jalur ibu, Sunan Kudus mewarisi nasab keturunan nabi versi syi’ah ini. Sunan Kudus dilahirkan dari pasangan Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji yang menikah dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel.
Pada suatu hari di tahun 1479, ketika Masjid Demak baru beberapa pekan berdiri dan beberapa kali digunakan shalat Jum’at, Sunan Kudus duduk khusyuk bertafakur di bawah beduk, bersama para wali lainnnya yang juga sedang berzikir bersama di masjid itu. Tiba-tiba, ada bungkusan jatuh dari atas beduk kulit kambing. Setelah dibuka oleh Sunan Kudus, ternyata isinya sajadah dan selendang Kanjeng Rasul (mungkin maksudnya nabi Muhammad saw).
Pada tahun 1549, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kota Kudus, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus. Pada tahun 1550 M Sunan Kudus meninggal dunia saat menjadi Imam sholat Subuh di Masjid Kudus, dalam posisi sujud. Kemudian dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.
Salah satu cerita mistis yang dikait-kaitkan dengan Sunna Kudus adalah tentang tasbihnya yang bisa memporak-porandakan lawan yang ingin mencelakakannya. Hanya dengan memutar-mutar untaian tasbih miliknya, maka timbul badai di sekitarnya.
Bagi yang percaya, tasbih peninggalan Sunan Kudus dianggap istimewa, selain karena ukirannya yang berbeda dengan tasbih umumnya, juga karena bahan bakunya dari jenis kayu langka. Biji tasbihnya sebesar duku dan berjumlah seratus butir. Lebih mirip ‘tasbih’ yang biasa digunakan rohaniwan Budha.
Sunan Kudus juga disebut-sebut bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan do’a. Hal tersebut konon pernah terjadi ketika Sunan Kudus sedang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Saat itu wabah penyakit yang sulit diatasi melanda negeri tersebut. Pneguasa setempat pun mengadakan sayembara. Namun tak ada yang berhasil. Kemudian Sunan Kudus menawarkan diri untuk mengatasinya, dengan do’a. Semula tawaran itu ditertawakan. Namun setelah diberi kesempatan, konon dikabarkan terbukti berhasil.
Sunan Giri
Personil keenam Walisongo adalah Sunan Giri alias Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra. Diperkirakan Sunan Giri lahir di Blambangan pada tahun 1442 atau 1365 tahun Saka, dan wafat pada 1428 tahun Saka (atau 1506 M). Dimakamkan di desa Giri, Kebomas, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Giri juga disebut-sebut sebagai keturunan nabi Muhammad saw, entah yang keberapa. Yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad an-Naqib, Isa ar-Rumi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal (Jalaluddin Khan), Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar), Maulana Ishaq, dan ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).
Sunan Giri dilahirkan dari rahim seorang putri penguasa Blambangan bernama Dewi Sekardadu yang dinikahi seorang ulama Asia Tengah bernama Maulana Ishaq. Pernikahan tersebut tidak disetujui Prabu Menak Sembuyu ayahanda Dewi Sekardadu. Bahkan kelahiran Sunan Giri dianggap telah membawa kutukan berupa menyebarnya wabah penyakit di wilayah tersebut. Akibatnya, Prabu Menak Sembuyu memaksa sang putri membuang anak yang baru dilahirkannya itu. Maka, Dewi Sekardadu pun  dengan rela melarung Sunan Giri ke selat bali.
Tak berapa lama, Sunan Giri kecil yang hanyut di dalam peti ditemukan oleh sekelompok pelaut yang membawanya ke Gresik. Di Gresik, Sunan Giri dipelihara oleh Nyai Gede Pinatih, saudagar perempuan pemilik kapal. Karena ditemukan di laut, ketika itu Sunan Giri kecil diberi nama Joko Samudra.
Ketika Sunan Giri beranjak dewasa, ia dikirim Nyai Gede Pinatih Ampeldenta (Surabaya) untuk belajar agama kepada Sunan Ampel. Sunan Giri sempat menjadi murid kesayangan Sunan Ampel. Lambat laun Sunan Ampel mengetahui jatidiri Sunan Giri. Kemudian Sunan Ampel mengirim Sunan Giri (bersama Sunan Bonang) mendalami ajaran Islam di Pasai. Narasumber yang mereka temui adalah Maulana Ishaq yang tak lain adalah ayah Sunan Giri sendiri. Melalui pertemuan itulah akhirnya Sunan Giri yang saat itu masih bernama Joko Samudra mengetahui asal-muasal dan alasan mengapa dia dulu dibuang ke laut.
Selang tiga tahun kemudian, Sunan Giri kembali ke Jawa dan mendirikan sebuah Pesantren Giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti.
Sampai kini, makam Sunan Giri yang terletak di Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur ini menjadi salah satu tujuan wisata atau ziarah di kawasan Jawa Timur. Bahkan menurut pemberitaan Metrotvnews.com edisi 14 Agustus 2012, pada hari Senin tanggal 13 Agsutus 2012, ribuan umat Islam memadati makam Sunan Giri, untuk melaksanakan tradisi malam selawe (hari ke-25 Ramadhan).
Tradisi malam selawe ini sudah berlangsung sejak lama. Pengunjungnya tidak hanya berasal dari Gresik, tetapi juga berasal dari berbagai kota di Indonesia. Tujuannya, untuk i’tikaf atau melakukan amal kebaikan agar mendapatkan Lailatul Qodar.
Sunan Giri juga disebut-sebut memiliki kesaktian yang beragam jenis. Hal ini membuat Begawan Mintasemeru dari Lereng Lawu tertarik untuk menantangnya. Maka, Begawan Mintasemeru mengubur hidup-hidup sepasang angsa jantan di atas gunung Patukangan. Sesudah itu dia menemui Sunan Giri, dan mneyodorkan pertanyaan, benda apakah yang baru saja ditanamnya di puncak gunung Patukangan?
Saat itu Sunan Giri menjawab, bahwa yang ditanam barusan adalah sepasang naga jantan dan betina. Jawaban itu membuat Begawan Mintasemeru tertawa terbahak-bahak karena mengira jawaban itu mewakili kebodohan Sunan Giri.
Ketika itu Sunan Giri menganjurkan agar Begawan Mintasemeru kembali ke puncak gunung Patukangan, untuk melihat apa yang sudah tertanam di sana. Anjuran itu dituruti. Ketika kuburan sepasang angsa ciptaannya dibongkar kembali, ternyata sudah lenyap dan berganti menjadi sepasang naga yang meliuk-liuk hendak menerkamnya.
Cerita mistis bernuansa pembodohan ini ternyata diabadikan dalam bentuk ukiran batu sepasang naga namun mirip angsa yang terletak di tangga selatan menuju makam Sunan Giri.
Sunan Kalijaga
Personil ketujuh Walisongo adalah Sunan Kalijaga alias Raden Joko Said alias Lokajaya alias Syekh Malaya alias Pangeran Tuban alias Raden Abdurrahman. Diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Menurut sejarawan Belanda Van Den Berg, Sunan Kalijaga adalah keturunan Arab yang silsilahnya sampai kepada nabi Muhammad saw. Namun ada juga yang mengatakan Sunan Kalijaga orang Jawa asli.
Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak, dan mempunyai tiga orang anak, yaitu R. Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.
Orangtua Sunan Kalijaga bernama Arya Wilatikta, pernah menjabat sebagai Adipati Tuban. Meski Arya Wilatika sudah memeluk Islam sejak sebelum Sunan Kalijaga lahir, namun ia sangat patuh kepada pemerintahan pusat Majapahit yang menganut agama Hindu. Arya Wilatika terkenal kejam dan menetapkan pajak tinggi kepada rakyatnya.
Sunan Kalijaga yang saat itu masih bernama Raden Joko Said, sangat tidak setuju dengan kebijakan ayahnya yang menumpuk makanan di dalam lumbung sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Maka, Sunan Kalijaga merampok lumbung padi kadipaten. Kemudian, dibagi-bagikan kepada rakyat Tuban yang saat itu menderita kelaparan akibat kemarau panjang.
Akibat dari perbuatannya itu, Adipati Arya Wilatika mengusir Sunan Kalijaga keluar dari istana kadipaten. Setelah diusir, Sunan Kalijaga berubah menjadi seorang perampok budiman. Sebagai perampok budiman (lokajaya) yang terkenal dan ditakuti di kawasan Jawa Timur, Sunan Kalijaga tidak sembarangan memilih korbannya. Maksudnya, ia hanya merampok orang kaya yang tak mau mengeluarkan zakat dan sedekah. Sebagian besar hasil rampokannya itu dibagi-bagikan kepada orang miskin.
Perjalanan hidup sebagai perampok budiman berakhir ketika ia bertemu Sunan Bonang yang menyadarkan Sunan Kalijaga bahwa perbuatan baik tak dapat dicampuradukkan dengan perbuatan buruk. Sunan Kalijaga kemudian bertobat dan berguru kepada Sunan Bonang.
Cerita ‘aneh’ yang dikait-kaitkan dengan asal-muasal nama Kalijaga adalah sebagai berikut: Sunan Bonang pernah menyuruh Raden Said (nama asli Sunan Kalijaga) untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai, dan tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Didorong semangat ingin berguru kepada Sunan Bonang, maka Raden Said mematuhi perintah tersebut, hingga akhirnya ia tertidur dalam waktu lama. Beberapa tahun kemudian (ada yang mengatakan tiga tahun ada pula 10 tahun), Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said, yang tetap setia menjaga tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan ke sungai. Maka sejak itu Raden Said diganti namanya menjadi Sunan Kalijaga, diberi pelajaran agama, kemudian bertugas melanjutkan dakwah Sunan Bonang.
Ketika wafat, beliau dimakamkan di Desa Kadilangu, kabupaten Demak, kurang lebih 2 km dari Masjid Agung Demak. Makam ini hingga sekarang masih ramai diziarahi orang. Pada hari Ahad, Kamis dan Jum’at makam Sunan Kalijaga banyak dikunjungi peziarah, apalagi pada hari kamis malam jum’at kliwon. Peziarah tua maupun muda terlihat ada yang membaca surat yaa-siin, ada yang membaca Tahlil dan ada yang terus melakukan riyadhah beberapa hari di makam tersebut. (It siapa yang menyuruh? Islam tidak menyuruh seperti itu).
Selain malam Jum’at kliwon, saat-saat ramai adalah pada tanggal 10 Dzul-hijjah. Pada saat itu digelar upacara penjamasan benda-benda pusaka, seperti Kelambi Kyai Gondil, dan Kelambi Onto Kusumo. (Ini ya siapa yang menyuruh? Islam sama sekali tidak menyuruh untuk begitu).
Hal mistis lain yang dikait-kaitkan dengan Sunan Kalijaga adalah keberadaan dua buah Gentong tempat menampung air, yang dipercaya sering digunakan untuk wudhu. Air pada gentong tadi berasal dari sungai kadilangu. Sampai saat ini peziarah yang datang ke makam Sunan Kalijaga selain untuk meminta berkah, (minta berkah ke kuburan itu sudah menyangkut hal ghaib. Sedang hal ghaib tidak boleh diyakini kecuali ada dililnya)    juga membawa air pada gentong tersebut untuk diminum juga berwudhu. Mereka percaya bila melakukan hal itu dapat membuat seseorang jadi pintar dan selalu sehat. (Ini keyakinan yang tidak berdasarkan dalil yang shahih, jadi wajib dijauhi).
Sunan Muria
Personil kedelapan Walisongo adalah Sunan Muria alias Raden Umar Said alias Raden Said alias Raden Prawoto, yang merupakan putra Sunan Kalijaga dari hasil pernikahannya dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak. Sebagai putra Sunan Kalijaga yang silsilahnya sampai kepada nabi Muhammad saw, demikian juga halnya Sunan Muria. (Padahal Sunan Kalijaga saja anak Adipati di Jawa yang tunduk kepada kerajaan Hindu Majapahit, lagi kejam dan tega mentala kepada rakyatnya yang miskin-miskin dengan menarik pajak sangat tinggi –seperti ketegaan orang-orang yang berkuasa zaman sekarang antek penjajah kafir yang mengingkit-ingkit kepada orang Islam– , tapi tahu-tahu silisilah Sunan Kalijaga dinisbahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Terus masih dipakai mengangkat silisilah orang lainnya lagi yakni anaknya. kok ya tega-tegannya ya. Bumi ini ternyata sangat banyak orang yang menipu dan tidak tanggung-tanggung, itupun demi merusak Islam).
Kesaktian Sunan Muria yang paling mashur adalah ketika ia beradu kesaktian dengan Pethak Warak yang menculik Dewi Roroyono putri Ki Ageng Ngerang. Dewi Roroyono akhirnya berhasil direbut kembali dari tangan Pethak Warak yang sakti, antara lain berkat bantuan Genthiri dan Kopo, juga Wiku Lodhang Datuk.
Setelah dipastikan Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang, esok harinya Sunan Muria yang saat itu berada di Padepokan Gunung Muria berangkat menuju ke Ngerang. Namun di tengah jalan Sunan Muria bertemu dengan Adipati Pathak Warak yang sedang menuju Ngerang untuk merebut kembali Dewi Roroyono yang telah dibebaskan Genthiri dan Kopo.
Sunan Muria tidak tinggal diam, dan berusaha menghalangi rencana Adipati Pathak Warak ke Ngerang merebut kembali Dewi Roroyono. Terjadilah adu kesaktian: “…  Pathak Warak melompat dari punggung kuda, menyerang Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi Sunan Muria bukan tandingannya karena memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak berdebam ke tanah, seluruh kesaktiannya lenyap, bahkan ia lumpuh, tak mampu bangkit, berdiri apalagi berjalan.
Tidak ada data yang bisa dikutip untuk mengetahui tahun kematian Sunan Muria ini. Yang jelas, Sunan Muria dimakamkan di Desa Colo pada ketinggian 600 meter dari permukaan laut, dan terjal, karena letaknya di lereng gunung. Bahkan untuk mencapai komplek makam Sunna Muria ini harus ditempuh dengan berjalan kaki melewati sekitar 700 undakan. Namun tetap banyak diziarahi orang, terutama pada hari libur dan berlangsungnya upacara Buka Luwur yang diselenggarakan setiap tanggal 6 Muharam.
Sunan Gunung Jati
Personil kesembilan Walisongo adalah Sunan Gunung Jati alias Syarif Hidayatullah, yang diperkirakan lahir pada tahun 1450 M. Ayahnya bernama Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar yang silsilahnya sampai kepada nabi Muhammad saw Rasulullah melalui jalur Husain bin Ali. Sedangkan ibunya bernama Nyai Rara Santang alias Syarifah Muda’im yang merupakan putri dari Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. (Lha jelas keturunan raja Hindhu begitu kok ya disebut silsilahnya sampai kepada Nabi Muhammad Rasulullah lewat jalur Husain bin Ali. Ini urutan-urutannya ya bagaimana sejatinya?).
Ketika dewasa Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyai Kawunganten yang merupakan adik kandung Bupati Banten kala itu. Dari pernikahan ini, lahir seorang putri bernama Ratu Wulung Ayu dan seorang putra bernama Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
Salah satu cerita mistis yang dikait-kaitkan dengan Sunan Gunung Jati adalah kemampuannya memindahkan Istana Pakuan ke alam ghaib. Pemindahan itu terjadi sehubungan dengan kerasnya penolakan Para Pendeta Sunda Wiwitan terhadap Islam sebagaimana ditawarkan oleh Sunan Gunung Jati.
Cerita lainnya adalah tentang keberadaan Sunan Gunung Jati di negeri Cina yang terjadi tanpa disnegaja. Alkisah, pada suatu malam Sunan Gunung Jati hendak melaksanakan sholat tahajjud di rumahnya. Namun tidak bisa khusyu’. Begitu juga ketika beliau pindah ke Masjid, shalat tahajjudnya dirasakan kurnag khusyu’. Akhirnya Sunan Gunung Jati melaksanakan shalat Tahajjud di atas perahu. Ternyata shalatnya bisa khusyu’. Bahkan setelah berdo’a Sunan Gunung Jati bisqa tertidur denhan nyenyak.
Ketika terbangun, Sunan Gunung Jati menjadi kaget, karena daratan pulau jawa tidak nampak lagi. Rupanya saat tertidur nyenyak itu Sunan Gunung Jati dihanyutkan ombak hingga sampai ke negeri Cina.
Kehebatan lainnya adalah ketika masih berada di negeri Cina, Sunan Gunung Jati dipanggil ke Istana, karena Kaisar hendak menguji kehebatan Sunan Gunung Jati. Kaisar ingin tahu apakah Sunan Gunung Jati dapat menebak dengan tepat siapa yang sedang dalam keadaan hamil dari dua orang puteri Kaisar.
Salah seorang puteri kaisar sudah bersuami dan sedang hamil muda, sedangkan seorang lainnya masih perawan. Namun kepada yang masih perawan ini disisipkan bantak sehingga terkesan sednag hamil. Sedangkan yang memang sedang hamil namun karena usia kehamilannya masih muda, tidak terlihat seperti orang hamil.
Sebelum menjawab tebakan Kaisar, Sunan Gunung Jati berdoa, kemudian menunjuk puteri Ong Tien Nio, yang masih perawan. Jawaban itu membuat seisi istana tertawa terbahak-bahak, karena mereka yakin jawaban Sunan Gunung Jati keliru.
Namun tiba-tiba puteri Ong Tien Nio menjerit keras sembari memegangi perutya, dan berujar bahwa dirinya kini benar-benar hamil. Ternyata bantal di perut puteri Ong Tien Nio telah lenyap, sementara itu perut sang puteri benar-benar membesar sebagaimana layaknya orang hamil.
Keadaan itu membuat Kaisar menjadi murka, dan mengusir Sunan Gunung dari daratan Cina. Hari itu ia meninggalkan dartaan Cina menuju Pulau Jawa. Namun puteri Ong Tien Nio yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada Sunan Gunung Jati, maka dia minta kepada ayahnya agar diperbolehkan menyusul Sunan Gunung Jati ke pulau Jawa.
Singkat cerita, setelah bertemu mereka menikah pada tahun 1481. Namun pada tahun 1485 puteri Ong Tien Nio meninggal dunia. Makam Ong Tien Nio dan Sunan Gunung Jati berada di kompleks Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di Desa Astana, Kec. Gunung Jati, Kab. Cirebon, hanya sekitar kurang lebih tiga km sebelah utara Kota Cirebon.
Makam Gunung Jati banyak dikunjungi peziarah, terutama malam Jum’at Kliwon. Setiap bulan Maulid, diperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw berupa upacara tiga hari tiga malam pada tanggal 10, 11 dan 12 bulan Rabiul Awal. Antara lain diisi dengan prosesi “Panjang Jimat” yaitu mengarak benda-benda pusaka sambil diiringi salawat nabi lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. (ini semua mencampur aduk antara barang benar dan barang batil. Tapi malah dipelihara oleh para penggede sesat yang menyesatkan orang banyak. Tidak takut dosa, kelihatannya. Malahan kalau ada yang mengritik begini ini biasanya mereka berani mencak-mencak, terus dai-dai pengusung bid’ah sama antri membela penggede yang tersengat itu tadi. entah apa yang sama dicari, tidak jauh dari makanan secokotan, kira-kira).
Setiap bulan Ramadan ada upacara pencucian benda-benda pusaka seperti gamelan dan seperangkat alat pande besi (pembuatan pedang, golok, pisau, dan sejenisnya) yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati. Hal ini dilakukan pada hari ke-20 bulan Ramadan, setelah Shalat Subuh. Prosesi pencucian benda-benda pusaka  juga dimaksudkan untuk menyambut malam Nuzulul Qur’an. (Waduh, ini jelas tidak ada contohnya dari Islam).
Pada hari ketujuh bulan Syawal, ada ritual Grebek Syawal, berupa kunjungan Sultan Cirebon (Sultan Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) beserta keluarganya ke Makam Sunan Gunung Jati. Saat ini puluhan ribu warga tumpah ruah memadati kompleks makam untuk Ngalap Berkah atau berebut makanan yang disediakan para Sultan Cirebon dan keluarganya. (ini apa lagi, ngalap berkah kok ke makam. Dalilnya mana? Barang tidak ada tuntunannya dan malah menyalahi hadits Nabi yang tidak membolehkan makamnya dijadikan ‘ied (upacara berulang di hari yang sama dengan upacara yang sama diulangi per saatnya). Jelas menyalahi Hadits tapi kalau diingatkan ya mungkin malah mbencereng).
Di bulan Dzulhijjah, ada Grebek Rayagung, yang dilaksanakan usai shalat Idul Adha. Ritual ini hanya diikuti oleh warga sekitar makam.
***
Begitulah cerita-cerita mistis bernuansa pembodohan dan TBC (tahayul, bid’ah, khurafat) yang mengiringi kisah keberadaan Walisongo. Insya Allah para Walisongo memang benar-benar sekumpulan orang saleh yang menyebarkan Islam di kawasan nuantara ini, terutama di tanah Jawa dan sekitarnya.
Namun, keberadaannya ditunggangi oleh kepentingan politik ideologis seperti syi’ah laknatullah dengan menyodorkan ‘fakta’ bahwa para Walisongo adalah keturunan kesekian  nabi Muhammad saw dari jalur Husein as, yang mana jalur nasab seperti ini sangat digemari para pengikut syi’ah yang memang punya kecenderungan membangga-bangakan keturunan, seperti iblis dan Yahudi.
Meskipun para Walisongo itu benar terbukti orang saleh yang menyebarkan agama Islam, meski begitu kedudukannya tidak dapat lebih mulia dari para sahabat, dengan segala kekurangan yang ada pada mereka.
Sikap yang keliru adalah bila para Walisongo diposisikan lebih mulia dari sahabat. Bahkan,  Walisongo dianggap ‘maksum’ bahkan sakti mandra guna, sehingga lebih ‘layak’ dihormati ketimbang para sahabat. Itulah sikap yang ditunjukkan para penjaja kesesatan, pengasong syi’ah laknatullah, praktisi bid’ah (TBC), penganut kejawen, dan penganut tarekat sesat. Mereka memang cenderung ghuluw, berlebih-lebihan, alias lebay kata sebagain manusia sekarang. Oleh karena itu waspadalah.
Mereka memang cenderung ghuluw, sangat terlalu, alias lebay kata sebagian manusia sekarang. oleh karena itu waspadalah. karena memang Indonesia ini Islam itu dirusak oleh para penipu. Entah itu memakai jubah tapi isinya majusi, yahudi, dan kekafiran lainnya, dan entah itu memang antek Yahudi dari dahulu.
Jika tidak begitu, tidak akan ada yang berani menipu dengan cerita-cerita seperti ini, atau cerita buatan sehari sesudah proklamasi kemerdekaan yang dipakai alasan untuk menghapus 7 kata Piagam Jakarta, Ketuhanan dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Lha Piagam Jakarta itu jadi kesepakatan kok cukup dihapus dengan cerita rekaan tanpa bukti nyata. Entah itu yang bodoh siapa. Tapi sampai sekarang tetap dipegangi. Itu kalau tidak hanya akan membondo  (mengikat tangan) Islam agar tidak mampu gerak kan ya tidak ada. Jadi mudah-mudahan saja penipu-penipu yang merusak Islam itu segera menikmati siksanya. Yang sama kejet-kejet ya beritanya ada, yang sakaratul mautnya mengalami kejet-kejet bertahun-tahun ya ada. Tapi anehnya, siksa berat sebelum mati itupun tidak jadi pelajaran dan pengingat bagi para perusak Islam yang masih hidup atau kadang malah diteruskan tipuannya dengan dimodifikasi dan bahkan mendudukkan atau mengangkat orang yang lebih berani lagi dalam caranya merusak Islam. Contohnya, orang yang berani menghujat Hadits Shahih Bukhari (padahal itu kitab paling shahih sesudah Al-Qur’an) malah dijadikan rektor di IAIN Semarang, malah ditugasi khutbah Idul Fithri di masjid nasional. Itu kalau tidak karena suasana ini memang digunakan untuk merusak Islam pasti tidak akan dibuat sedemikian itu. (Jadi suasana ini tidak hanya unggul bab kejahatan korupsinya, tapi ya nomor satu dalam hal caranya merusak Islam). Masih asa contoh lagi, yaitu orang yang menikahkan perempuan muslimah dengan lelaki kafir malah dijadikan dekan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Itu kalau tidak untuk meningkatkan dalam hal caranya merusak Islam, pasti tidak ada.
setelah tahu kondisinya seperti itu, maka kesimpulannya menyangkut ujian bagi kita semua. Yaitu, siapa saja yang mendukung program merusak Islam ini tadi, entah itu menghidup-hidupkan kemusyrikan lewat makam dan cerita-cerita seperti ini tadi, dan mendukung atau rela saja terhadap program-program memberi jabatan kepada orang-orang yang merusak Islam agar memegang jabatan yang penting –dan lain-lainnya sangat banyak–; itu semua termasuk membela perusakan Islam alias musuh Islam. Walaupun diri kita kadang berupa tokoh yang namanya pemimpin ormas Islam, lembaga Islam, tokoh Islam, malah kyai haji, ajengan, ustadz dan sebagainya. Tetapi kalau mendukung itu semua, ataupun rela, maka sejatinya adalah musuh Islam. Berhati-hatilah dalam menyikapi bab ini, jangan karena merasa dakwah kita yang paling benar dewe, lalu ketika ada yang mengritik seperti ini lalu malah membela kepada yang merusak Islam hanya karena mereka yang disemprot ini dianggap tingkah pemimpin. Awas, ingat-ingatlah, kelak akan dihadapkan kepada ayat:
وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)
dan kamu jangan jadi penentang (orang yang tidak salah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS An-Nisaa’’: 105).
Sudah waktunya sekarang untuk memberantas pengkhianatan-pengkhianatan, apa lagi yang pancen merusak Islam tur diniaatake pancen duntuk membunuh Islam. kapan lagi, ini waktunya cancut tali wanda memmbela kebenaran. Bukan membela ajaran syetan dan para pengkhianat yang sudah cetha wela-wela perbuatannya ya hanya menipu masyarakat dan merusak Islam dengan memelihara aliran-aliran yang sudah difatwakan sesat misalnya Ahmadiyah, Syiah, LDII, Inkar Sunnah, NII KW IX, Isa Bugis dan lain-lainnya. Sehingga, kemusyrikan dan crito-crito yang merusak iman malah dipelihara bersama dengan aliran-aliran dan faham sesat.
Untuk apa?
Ya tanyalah sendiri ke orang-orang yang kira-kira seperti begitu itu, kalau kamu minta dikamplengi. Itu tadi menurut  seorang da’I di Bandung ketikamengomentari bab ontran-ontran bentrok  antara aliran sesat syi’ah melawan warga Islam Sunni di Sampang Madura  Ahad 26 Agustus 2012. Katanya aliran sesat itu malah dipelihara. Karena sudah jelas menodai Islam kok ya tetap dibiarkan saja.
Sekarang dibiarkan, nanti diangkat ke atas seperti yang sudah menghujat hadits Bukhari malah terus diangkat jadi rector IAIN Semarang itu tadi?
Hus! jangan seru-seru. Ayatnya kan ya sudah jelas:
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (٦٧)
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ (٦٨)
67. orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya [berlaku kikir]. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela’nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (QS At-Taubah: 67-68).
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (٦١)
61. Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS An-Nisaa’: 61).
Lha terus bagaimana caranya menghadapi orang-orang seperti begitu itu?
Di dalam ayat sudah ditegaskan:
هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (٤)
Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun: 4).

(haji/tede/nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More