UMI Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah



Dalam kesempatan ceramah subuh di Masjid Alauddin, komp. UMI, Senin, 24 September 2012, Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Nur Jaya membantah pemberitaan bahwa: Dosen Iran akan mengajar di UMI (Fajar, 22 september 2012) dan : Iran Bakal Buka Iranian corner di UMI (Tribun Timur, 22 september 2012). Beliau menegaskan bahwa UMI adalah benteng Ahlussunnah wal jamaah (sunni) dan Sunnah Syiah itu tidak akan bisa bersatu. Yang bisa memberi pengaruh kepada aqidah Sunni, kita tolak seperti pembukaan Iranian Corner, dosen Iran mengajar di UMI, dan pengiriman mahasiswa ke Iran. Tapi demi kemajuan IPTEK seperti pengiriman dosen UMI yang sudah mantap Aqidah Sunninya ke Iran untuk menimba ilmu dan pengalaman dalam upaya peningkatan produksi pertanian dapat dilakukan.
Jawaban beliau ini sangat melegakan bagi warga UMI khususnya dan kaum muslimin di Sulsel yang merasa khawatir terhadap berita di atas, karena kalau berita itu benar, maka dapat dibayangkan Syiah akan menyebar dengan pesat di UMI, baik di kalangan dosen apalagi di kalangan mahasiswa. Dan hal tersebut akan berdampak tersebarnya Syiah di Sulawesi Selatan.
Beberapa pernyataan yang membingungkan. Jika Bapak Ketua Yayasan waqaf UMI di atas tegas menolak ajaran Syiah, maka beberapa ulama dan cendikiawan muslim memberikan keterangan tentang Syiah yang agak membingungkan. Diantara pernyataan mereka ialah:
1.      Ya Akhi, kita semua Ahlussunnah wal Jamaah. Semua kita baik Muhammadiyah, NU, maupun Syiah. (Satu Islam Sebuah Dilema, hal.122)
2.      Karena itu, selama di Iran belajarlah dengan sungguh-sungguh. Sekembali kalian ke tanah air, sampaikanlah argumen-argumen yang benar mengenai Islam. Mau pegang mazhab Syiah atau Sunni, silahkan. (Fajar, Kamis 1 Mei 2011)
3.      Seingatnya MUI Pusat juga tidak pernah mengeluarkan fatwa sesat untuk Syiah. Bahkan secara internasional, Syiah merupakan salah satu mazhab Islam yang resmi dianut di Negara-negara berpenduduk muslim. Kalau sesat, kenapa saudara-saudara Syiah bisa menunaikan Ibadah Haji di Makkah? (Fajar, Kamis, 1 mei 2011)
4.      Masalah Imamah antara Sunni dan Syiah status quo, tidak ditentukan mana yang benar mana yang salah. Kembalikan saja kepada Allah, nanti di akhirat diketahui yang sebenarnya. Jadi menentukan mana yang benar, mana yang salah antara Sunni dan Syiah tidak mungkin. Kita umpamakan saja antara Sunni dan Syiah seperti makanan di atas meja prasmanan. Yang cocok dengan selera, silahkan dinikmati, yang tidak cocok dengan selera, tidak usah dicela dan dibuang. (Prasyarat Ukhuwah Sunni-Syiah FR dari ust. H. Ir. Qasim Saguni).
Secara sepintas lalu, pernyataan-pernyataan ini logis dan benar, apalagi oleh tokoh Islam pusat dan daerah. Namun jika diteliti secara mendalam, ternyata keliru dan bertentangan dengan Fatwa MUI Pusat dan Daerah.
Syi’ah menurut MUI
MUI telah menegaskan bahwa perbedaan pendapat dalam agama Islam yang dapat ditolerir ialah perbedaan pendapat yang berada dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah. Perbedaan pendapat yang berada diluar koridor Ahlussunnah wal Jamaah adalah penyimpangan seperti munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah jelas pasti (Himp. Fatwa MUI hal 841).
Syiah bukan Ahlussunnah wal Jamaah, maka pendapat-pendapatnya yang tidak meyakini kekhalifaan Abu Bakar, Umar, Utsman Radhiyallahu anhum, menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, memandang imam itu maksum, tidak mengakui Ijma tanpa imam, menegakkan pemerintahan (imamah) termasuk rukun agama.
Maka MUI merekomendasikan, mengingat perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlussunnah wal Jamaah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang Imamah/pemerintahan, MUI menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlussunnah wal jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah” (HF MUI 46-47 ) Dalam Rakernas MUI pada Selasa, 6 November 2007 di Sari Fan Pasifik, Jakarta dikemukakan 10 Kriteria Aliran Sesat, yaitu:
1.      Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
2.      Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Sunnah)
3.      Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an
4.      Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
5.      Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir
6.      Mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam
7.      Melecehkan / mendustakan Nabi dan Rasul
8.      Meningkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir
9.      Mengurangi / menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan syari’ah
10.  Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya
Menurut hasil musyawarah Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA) 3 Januari Tahun 2012 di Gedung Islamic Centre Pamekasan, kesepuluh poin ini telah dipraktekkan oleh orang Syiah. Keterangan ini menguatkan tentang kesesatan ajaran Syiah.
MUI Jatim, tanggal 21 januari 2011 telah menetapkan kesesatan syiah dengan fatwanya, “Ajaran syiah (khususnya imamiyah), Itsna Asyariah atau yang menggunakan nama samaran Mazhab Ahlul Bait dan semisalnya: serta ajaran-ajaran yang mempunyai kesamaan dengan faham Syiah Imamiyah, Itsna Asyariah adalah sesat dan menyesatkan.” Dalam HF MUI disebutkan, “Fatwa MUI maupun MUI daerah yang berdasarkan pada pedoman yang telah ditetapkan dalam surat keputusan ini mempunyai kedudukan yang sederajat dan tidak saling membatalkan.” (HF MUI hal. 8) Dengan demikian Fatwa MUI Jatim bahwa Syiah sesat dan menyesatkan hendaknya diperpegangi oleh MUI Daerah seperti MUI Sulsel, karena ia sederajat dan tidak saling membatalkan dengan Fatwa MUI Pusat.
Bahaya Membiarkan Aliran Sesat.
Membiarkan aliran-aliran yang menyimpang dan sesat dalam masyarakat bukanlah masalah sepele yang berakibat ringan, bahkan ia masalah besar yang berakibat fatal yaitu neraka. Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah membuat satu garis lurus di atas tanah dan membuat garis yang banyak, di kanan dan kiri garis lurus tersebut. Lalu beliau membaca firman Allah: Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah. Jangalah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya (QS.al-an’am 153). Berdasarkan dalil yang shahih, jalan lurus itulah jalan Ahlussunnah wal Jamaah, dan jalan yang lain ke kanan dan ke kiri adalah jalan setan, sedangkan setan itu mengajak manusia ke neraka Sa’iir (Al-Hajj: 4).
Kepada tokoh umat Islam, ulama dan zuama, pemerintah dan swasta, yang membiarkan ajaran Syiah ini berkembang di masyarakat dan dunia pendidikan, ingatlah tanggung jawab yang besar kelak di akhirat, kenapa membiarkan ajaran ini berkembang dan menyesatkan masyarakat. Umar bin Khaththab berkata, “Andaikata ada keledai tergelincir di Baghdad, saya khawatir Allah akan bertanya kepada saya, kenapa tidak menyuruh memperbaiki jalanan di Baghdad agar keledai tidak tergelincir.” Sekarang kita dengar, kita baca, kita saksikan nikah mut’ah dipraktekkan bahkan di kalangan mahasiswa dan mahasiswi, sahabat dicela-cela bahkan dilaknat, ibadah shalat dirubah, azan dirubah, shalat jumat ditiadakan, yang kesemuanya ini merupakan ajaran syiah, lalu kita diam saja?
Jabir bin Abdullah berkata, “Apabila umat yang akhir ini melaknat umat yang pertama, maka barangsiapa yang mempunyai ilmu ia harus menampakkannya. Sesungguhnya menyembunyikan ilmu pada hari itu sama dengan menyembunyikan Al-Qur’an. Semoga bermanfaat.

Oleh: H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc. Ketua LPPI Perwakilan Indonesia Timur
Tulisan ini dimuat juga di Harian Fajar Makassar hari ini

 (lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More