Musibah di Serambi Madinah, Iranian Corner akan dibuka di UMI

Kunjungan Silaturrahmi seorang konsul Iran, Dr. M. Ali Rabbani ke Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar (Selasa, 18 September 2012) akan mendatangkan musibah besar bagi warga masyarakat Sulsel, terutama para mahasiswa yang belajar di UMI. Pasalnya kedatangan Kepala Divisi Kebudayaan Kedutaan Besar Iran yang diterima oleh Ibu Rektor UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah beserta Ketua Yayasan Wakaf UMI, H. Mokhtar Noer Jaya tersebut menghasilkan beberapa kesepakatan yang membuat hati umat Islam di Sulawesi Selatan menangis dan merintih.
Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan tersebut di antaranya, dalam waktu dekat ini akan digelar seminar internasional dialog antarmazhab pada bulan oktober, pertukaran mahasiswa, pengutusan dosen-dosen dari Iran untuk mengajar di UMI, pengiriman seniman-seniman kaligrafi dari Iran, pengiriman dosen-dosen UMI ke Iran (Fajar, 22 September 2012) dan pembukaan pusat kajian Iranian Corner (Tribun Timur, 22 September 2012).
Berita ini seakan-akan petir di siang bolong, karena pihak Iran melalui Dubes dan staf konsulatnya adalah tokoh penggerak penyebaran ajaran Syiah di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.
Padahal menurut bacaan kami, para pendiri UMI adalah tokoh Ahlussunnah wal Jama’ah, KH.M. Ramli, H. Sewang Dg Muntu, La Ode Manoarfa, Nazaruddin Rahmat, KH.M. Akib, dll. Yang pasti di kuburan, mereka sedih jika di UMI Syiah tersebar.
Sejak dulu, sudah ada pergerakan Syiah di kalangan mahasiswa secara diam-diam, apalagi jika ada kerjasama dengan pihak Iran. Yakinlah, demi Allah, penyebaran Syiah di UMI dan Sulsel akan semarak.
Di Unhas, Syiah semakin kuat setelah ada Iranian Corner sebagaimana di UIN Alauddin Makassar, dan salah satu tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat tokoh utama Syiah dipertahankan untuk dapat gelar doktor agama karena kerja sama dengan Iran.
Mari kita simak tulisan KH.M. Hasyim Asy’ari tentang Syiah yang ciri khasnya mencela dan melaknat, bahkan mengkafirkan para Sahabat Nabi saw.
“Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan Shahabat-shahabat dicaci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat, dan semua orang.”; Maka barangsiapa yang mencela Shahabat maka atasnyalah laknat Allah, Malaikat, dan seluruh manusia, (bahkan) Allah tidak menerima ibadah mereka baik wajib maupun sunnah; Akan datang di akhir zaman orang yang mencela-cela Shahabat Nabi Sallallahu’Alaihi wa sallam, maka janganlah mensalatkan atau mendoakan mereka, jangan sholat bersama mereka, jangan kawin mawin dengan mereka, jangan duduk dengan mereka, dan jangan menjenguk mereka jika sakit; Barangsiapa yang mencela-cela Shahabat Nabi Sallallahu’Alaihi wa sallam, maka pukullah dia!”  (KH. Hasyim Asy’ari, “Risalah Ahlussunnah wal Jamaah” hal. 11).

Kami mengharapkan kepada seluruh kaum Muslimin yang memiliki akses ke Universitas Muslim Indonesia agar memberikan masukan serta saran kepada UMI tentang bahaya-bahaya Syiah dan dampak buruk yang akan terjadi di Makassar dan sekitarnya jika ini dibiarkan, seperti konflik horizontal dan nikah mut'ah yang semakin merajalela di serambi madinah ini.
Tanggungjawab di akhirat lebih berat dari tanggungjawab dunia apalagi berkaitan dengan penyimpangan akidah. Berkata Umar bin Khattab, “Jika keledai tergelincir di Bagdad, saya khawatir jika Allah bertanya kepada saya, kenapa jalanan di Bagdad tidak diperbaiki, agar keledai tidak tergelincir?” Syiah akan menggelincirkan manusia (khususnya mahasiswa) yang diamanahkan kepada UMI, jatuh ke jurang neraka, lalu kita beri peluang?  

(Ust. Said/Muis/lppimakassar.com)

1 komentar:

Gara2 iming2 sumbangan fulus aqidah bisa tergelincir bahkan bisa tergadai

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More