(Mis)Interpretasi “Ayat Pluralisme” (Bagian 1)



Dewasa ini telah muncul sekelompok orang yang giat menyebarkan doktrin pluralisme agama dengan merujuk ayat 62 surah al-Baqarah dan ayat 69 surah al-Maidah sebagai dalihnya. Mereka mengklaim bahwa “pada mulanya Rasulullah saw. sendiri beranggapan bahwa orang-orang non-Muslim tidak akan masuk surga.” Tapi setelah turun “ayat pluralism” tersebut, maka semakin jelas tentang kekuasaan dan kehendak Akkah terhadap orang-orang non-Muslim. Perbedaan agama tidak menghalangi Allah untuk memberikan pahala.” Dengan kata lain, dimana letak keadilan dan kasih sayang Allah jika orang-orang non-Muslim yang saleh dan banyak berbuat baik semasa hidupnya kelak dijebloskan ke neraka?
Memang benar, soal masuk surga dan neraka adalah hak prerogatif Allah. Hanya Allah yang berhak menghakimi dan memutuskan siapa bakal masuk kemana kelak. Namun, disamping memberikan semacam ‘tips’ untuk bisa sampai kesana, Allah juga mengumumkan ciri-ciri kandidat ahli surga maupun ahli neraka.
Untuk memperoleh pemahaman yang jujur dan jernih perihal ‘ayat pluralisme’ itu semestinya kita tidak mengabaikan konteks siyaq, sibaq, serta lihaq  dari ayat tersebut diatas. Pertama, mari kita perhatikan ayat-ayat yang mendahuluinya, setidaknya mulai ayat 41 hingga 68. Secara eksplisit Allah mengecam sikap dan perilaku Ahlul Kitab yang ingkar dan ‘lain di mulut lain dihati’, gemar memelintir kebenaran, menuruti hawa nafsu, mempermainkan agama, dan menimbulkan permusuhan. Selanjutnya mari kita lihat ayat-ayat yang mengikutinya, terutama ayat 78 hingga 86 surah al Ma’idah yang menjadi konteks lihaq dari ‘ayat pluralisme’ tersebut.
Dinyatakan disana bahwa mereka yang kufur dari kalangan Bani Israil telah dikutuk karena selalu durhaka dan melampaui batas, membiarkan kemungkaran terjadi, menjadikan orang tak beriman sebagai pelindung mereka. sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya mereka tidak meminta perlindungan kepada orang-orang tersebut itu, namun mayoritas mereka memang fasik.
“Akan kamu dapati orang yang paling memusuhi kaum beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. sedang yang paling dekat dan bersahabat ialah orang-orang Nasrani karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) ada  pendeta-pendeta dan rahib-rahib, juga karena mereka tidak angkuh. bila mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah (Muhammad), mata mereka berkaca-kaca terharu oleh kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui, seraya berkata: "Ya Allah, Kami telah beriman, Maka masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). bagaimana Kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal kami ini ingin agar Allah memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?". Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, yaitu surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, kekal abadi di sana. Demikianlah Balasan bagi orang baik. adapun mereka yang kufurdan  mendustakan ayat-ayat Kami, jelas bakal menjadi penghuni neraka.” (al Ma’idah: 82-86)
Dari sini jelas sekali bahwa umat yahudi dan Nasrani disanjung apabila mereka mau beriman kepada Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya, tetapi dikecam jika tidak beriman, durhaka, dan bertindak melampaui batas. Ahlul kitab yang beriman masuk Islam dijanjikan pahala dua kali lipat (yu’tawna ajrahum marratayni), ujar Rasulullah dalam sebuah hadits sahih. Sebaliknya, Ahlul Kitab yang kepadanya telah sampai panggilan untuk beriman dan memeluk Islam tetapi enggan menyambutnya maka sulit baginya untuk terhindar dari api neraka (HR Muslim no. 153). Sekarang marilah kita gunakan pendekatan sola sciptura (tafsir tanpa merujuk hadits) untuk menjawab sejumlah persoalan terkait.
Tafsir Al Qur’an bil Quran
Pertanyaan pertama yang mengemuka terkait ‘ayat pluralisme’ itu ialah apa maksud ungkapan “ siapa yang beriman di antara mereka (man aamana minhum)”? Jawaban dan perincian rukun iman beserta indikatornya kita temukan dalam surah al-Baqarah 285, Ali ‘Imran 171-3, an Nisa’ 162, al A’raf 157, al Anfal 2-4 dan 74, at Taubah 13, al Mu’minun 2-9, an Nur 62, al Hujurat 15 dan al Hadid 19.
Kedua, apakah Ahlul Kitab Yahudi maupun Nasrani juga beriman? Menurut Al Qur’an mayoritas mereka tidak beriman. Ini karena mereka mendustakan Nabi Muhammad dan wahyu yang diturunkan kepadanya, menolak syariatnya, enggan masuk Islam. Itulah sebabnya mengapa Allah menegur dan mengecam mereka, lihat al-baqarah 89-93 dan an Nisa’ 47 (Yahudi Ahlul Kitab disuruh beriman) serta an Nisa’ 171 (Nasrani Ahlul Kitab disuruh menolak trinitas). Namun tidak semua Ahlul Kitab itu kafir. Ada sebagian kecil dari emreka yang beriman kepada Rasulullah saw. dan memeluk Islam (Ali ‘Imran: 110-115 dan 199, juga al-‘Ankabut: 47).
Selanjutnya, meski telah menyatakan diri beriman dan masuk Islam, mereka tentu akan diuji Allah (al-‘Ankabut: 1-2). Dalam hal ini posisi mereka sama dengan orang Muslim lainnya yang juga mengaku beriman dan perlu ujian. Mengapa demikian? Karena banyak orang yang mengaku beriman di mulut saja sehingga menipu diri sendiri (al Baqarah: 8-9 dan Al Munafiqun: 1). Ada juga yang telah menyatakan diri berislam dan beriman, tapi baru sampai tahap minimal, di mulut dan di hati, tapi dalam praktiknya belum (al Hujurat: 14) bahkan perbuatan maksiatnya jalan terus, sehingga disebut fasiq (al maidah: 49). Itulah sebabnya kenapa Allah menyuruh orang-orang beriman untuk beriman lagi (an Nisa’: 136). Lalu ada pula orang yang bukan sekedar mengaku, percaya penuh, tetapi juga bersungguh sungguh membuktikan keislaman dan keimanannya dengan tindakan nyata, patuh dan tulus melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya (al Anfal: 1). Kelompok terakhir ini-lah yang dikontraskan dengan orang-orang kafir (at taghabun: 2, al Baqarah: 257), diperbandingkan dengan kelompok munafiq (al Ankabut: 11, at Taubah: 67-72), dan dibedakan dengan orang fasiq (Ali ‘Imran: 110, as Sajdah: 18, al Hadid: 16 dan 27, dan al Jatsiyah: 21)
Ketiga, apa yang dimaksud amal shaleh dalang ungkapan “siapa yang berbuat baik (man ‘amila shalihan)?” Dijelaskan antara lain bahwa amal shaleh adalah hidup berpadukan ajaran kitab suci dan mendirikan shalat (al A’raf: 168). Amal baik disini berkaitan dengan dan berlandaskan ajaran dan perintah agama, yakni pengamalan rukun-rukun Islam serta penghayatan dan perwujudan rukun-rukun iman.

Terakhir, bagaimana memahami ungkapan “mereka tidak perlu takut dan tidak perlu cemas (laa khaufun ‘alayhim walaa hum yahzanuun)?” Dalam Al Quran, ungkapan seperti ini terdapat lebih dari sekali, dengan berbagai konteks (qarinah). Yaitu mereka apabila datang petunjuk Allah mengikutinya (al baqarah: 38), mereka yang berislam dan berihsan (al Baqarah: 112), mereka yang mati syahid (Ali Imran: 170), mereka yang beriman dan berishlah (al A‘raf: 35), para kekasih Allah yang beriman lagi bertaqwa (yunus 62-63). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa untuk bisa memperoleh jaminan keselamatan di dunia dan di akhirat seseorang harus berislam, beriman, beramal shaleh atau berishlah, berihsan, bertaqwa, dan beristiqamah. 

(ditulis ulang dari buku “Orientalis & Diabolisme Pemikiran” karya Dr. Syamsuddin Arif, Penerbit: Gema Insani, Jakarta. 2008) 

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More