(Mis)Interpretasi “Ayat Pluralisme” (Bagian 2 – Selesai)


 
Penjelasan Para Ahli Tafsir
Sekarang marilah kita teliti penjelasan para ulama ahli tafsir (mufassirun) tentang ayat 62 surah al Baqarah sebagai berikut:
1.      Tafsir al Imam at-Tabari (w. 310H/ 923M)
Dalam kitab tafsirnya yang terkenal. Jami’ al Bayan ‘an Ta’wil Ay al Quran,[1] Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir at-Tabari menjelaskan sebagai berikut. Diriwayatkan dari Abdullah bin abbas (w. 68H) saudara sepupu, murid, dan sahabat Rasulullah saw., bahwa yang dimaksud “orang-orang beriman (al ladzina amanu)” dalam ayat tersebut adalah “orang-orang yang sepenuhnya mempercayai [yakni tidak mendustakan] Rasulullah saw. serta apa yang disampaikannya dari Allah swt (al mushaddiqun Rasulallah shalla Allahu ‘alayhi wa sallama fima atahum min ‘indi l-Lah)”. Ataupun menunjuk kepada “orang-orang terdahulu yang beriman kepada Nabi Musa a.s. dan Isa a.s. sehingga datangnya Nabi Muhammad saw. lalu beriman kepada beliau (al ladzina amanu min ahli l-kitab bima ja’a bihi Musa wa Isa ‘alayhima s salam hatta adraku Muhammadan shalla Allahu ‘alayhi wa sallama fa amana bihi wa shaddaqahu)”.
Namun apa maksud ungkapan “siapa yang beriman” dan seterusnya itu pada penggalan selanjutnya dalam ayat tersebut? Menurut Imam at-Tabari, jika kaum beriman yang dimaksud adalah umat Muhammad saw. maka arti beriman di situ ialah keteguhan imannya dan aqidahnya yang tidak berubah (tsabatuhu ‘ala imanihi wa tarkuhu tabdilahu). Adapun jika yang dimaksud adalah orang Yahudi, Nasrani dan Shabi’in, maka maksudnya ialah siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad saw. beserta apa yang dibawanya, mengimani adanya hari kemudian, beramal saleh, terus begitu tidak berubah hingga wafatnya (fa man yu’min minhum bi Muhammad shalla Allahu ‘alayhi wa sallama wa bima ja’a bihi wa l yaumil akhir ya’mal shalihan fa lam yubaddil wa lam yughayyir hatta tuwuffiya).
Imam at Tabari juga menerangkan konteks sejarah turunnya (asbab an nuzul) ayat ini. Adalah Salman al Farisi r.a. (w. 36H) yang diriwayatkan suatu hari bercerita tentang para sahabatnya yang beragama Kristen (Nasrani); seraya bertanya kepada Rasulullah  saw. tentang status dan nasib mereka. ‘ mereka tidak mati dalam Islam (lam yamutu ‘alal Islam); mereka masuk neraka (hum fin nar), “jawab Nabi saw., Maka mendengar itu Salman r.a. terkejut dan sedih, seraya berkata, “Kalau mereka sempat bertemu dengan engkau [wahai Rasulullah], niscaya mereka beriman dan mengikuti engkau (law adrakuka la shaddaquka wa ittaba’uka).” Tidak lama kemudian turunlah ayat tersebut. Rasulullah saw. memanggil Salman r.a. lalu berkata kepadanya, “Ayat ini turun berkenaan dengan sahabat-sahabatmu. Mereka yang mati dalam agama Isa sebelum mendengar seruanku, maka baiklah keadaannya. Adapun mereka yang telah mendengar seruanku akan tetapi tidak beriman, maka binasalah dia (man mata ‘ala dini ‘Isa qabla an yasma’a bi fahuwa ‘alal khayr, wa man sami’a bi wa lam yu’min faqad halaka).” Demikian diriwayatkan oleh Imam at-Tabari dari Mujahid ibn Jabr (w. 104 H) dan dari Musa ibn Harun dari Amr dari Asbat ibn Nadr dari Ismail ibn Abdirrahman as Suddi. Keterangan serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal (dalam al Musnad, 5:441-4), Imam al Hakim (dalam al Mustadrak, 3: 599-604), abu Nu’aym (dalam Hilyat al Awaliya’, 1:190-5), ibn sa’d (dalam Thabaqat, 4:53-7) dan Ibn Hajar al ‘Asqalani (dalam al Ishabah,3:113).
Selanjutnya Imam at-Tabari menyebutkan bahwa terdapat sebuah riwayat dari al Mutsanna, dari Abi Shalih, dari Mu’awiyah ibn Shalih, dari Ali ibn Abi Thalhah, dari Abdullah ibn Abbas, yang menyatakan bahwa ayat 62 surah al baqarah ini telah dibatalkan (mansukh) dan diganti oleh ayat 85 surah Ali Imran yang berbunyi, “ Siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” Demikian uraian Imam at-Tabari dalam kitabnya.

2.      Tafsir Imam al-Mawardi (w. 450 H/ 1058 M)
Orang-orang yang beriman yang dimaksud dalam ayat tersebut diatas adalah mereka yang membenarkan (shaddaqu) Nabi Muhammad saw., yakni tidak mendustakan beliau. Demikian jelas Imam Abu l Hasan Ali ibn Muhammad ibn Habib al Mawardi dalam kitab tafsirnya yang berjudul: an Nukat wal ‘Uyun. Terdapat dua pendapat mengenai ayat ini jelas beliau. Pertama, ayat tersebut turun menjawab pertanyaan Salman al Farisi r.a. berkenaan nasib mendiang mantan sahabatnya yang masih beragama Nasrani. Ini menurut riwayat as Su’di. Kedua, ayat tersebut telah di ‘mansukh’ dengan ayat lain (Qs. Ali Imran : 85), sebagaimana diriwayatkan dari ibn Abbas r.a[2]   
3.    Tafsir al-Imam az-Zamakhsyari (w. 538 H/ 1144 M)
Menurut al Imam Mahmud ibn Umar az-Zamakhsyari, ungkapan “al aladzina amanu” dalam ayat tersebut ditujukan kepada orang-orang munafik yang mengaku beriman di lidah saja tanpa disertai oleh hati mereka. orang-orang seperti ini, seperti juga orang Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in, jika mereka tulus imannya dan masuk Islam dalam arti kata yang sebenarnya (man amana minhum imanan khalishan wa dakhala fil Islam dukhulan ashilan), maka mereka tidak akan dikecewakan oleh Allah SWT di Akhirat kelak.[3]

4.      Tafsir al-Imam ar-Razi (w. 606 H/ 1209 M)
Terdapat tiga pendapat ahli tafsir mengenai ayat 62 surah Al Baqarah itu, kata Imam Muhammad ibn Umar ibn al Hasan fFkhr ad-Din ar-Razi dalam tafsirnya, maftuh al ghayb. Pertama, menurut ibn Abbas ra., frasa “al ladzina amanu” dalam ayat menunjuk orang-orang beriman kepada Nabi Isa a.s., yakni sebelum kedatangan Nabi muhammasd saw., namun ini tidak berarti mengakui atau membenarkan kebatilan-kebatilan kaum Yahudi dan Nasrani [yang banyak menyimpang] – ma’a l-bara’ah ‘an abathil al-yahud wan nashara, tegas Imam ar-Razi. Contoh yang disebutkan antara lain Quss ibn Sa’idah al Iyadi, Bahirah sang Rahib, Habib an Najjar. Zayd ibn ‘Amr ibn Nufayl, Waraqah ibn Nawfal, dan Salman al-Farisi. Artinya, orang-orang yang selama itu berpegang teguh pada ajaran Nabi, lalu setelah muncul Nabi Muhammad saw. mau beriman dan mengikuti syariat beliau, maka bagi mereka pahala dan jaminan keselamatan di akhirat kelak. Pendapat, kedua dari Sufyan ats Tsawri (w. 161H), bahwa ayat tersebut mengimbau orang-orang yang imannya baru di mulut saja, yakni mereka yang munafik dari kalangan Yahudi, Nasrani, maupun Sabi’iun, agar meningkatkan keimanan mereka. Ketiga, ialah pendapat ahli teologi (mutakallimun), bahwa frasa “al-ladzina amanu” itu ditunjukkan untuk umum, siapapun yang beriman kepada ajaran Nabi Muhammad saw. pada zaman dahulu, sekarang maupun yang akan datang. Ayat tersebut mengimbau mereka untuk bertobat dari kebatilan dan kemunafikan agar usaha mereka mendapat imbalan yang baik di akhirat.[4]   

5.      Tafsir al-Imam al-Qurtubi (w.671H/ 1272M)
Yang dimaksud dalam ungkapan “innal ladzina amanu” dalam ayat tersebut ialah “mereka yang mengimani kenabian Rasulullah Muhammad saw. (ay shaddaqu Muhammadan),” jelas Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, al Jami’ li Ahkam Al Quran. Beliau juga mengutip keterangan Sufyan ats-Tsawri (w.161H), bahwa yang ditunjuk ialah orang-orang munafik yagn sekilas tampak beriman (al ladzina amanu fi zhahiri amrihim), namun sejatinya belum. Sambil mengurai etimologi kata-kata “hadu”, “yahu”, dan “nashara”, Imam al Qurthubi menyebutkan hadis Rasulullah saw. riwayat Imam Muslim no. 153 (kitab al-iman) yang berbunyi, “tak seorangpun dari masyarakat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang telah mendengar seruan(dakwah)ku namun tetap tidak beriman kecuali ia bakal menjadi penghuni neraka”[5]

6.      Tafsir al-Imam an-Nasafi (w. 701 H/ 1301M)

Menurut Imam Abul Barakat Abdullah ibn Ahmad ibn Ahmad ibn Mahmud an Nasafi dalam kitab tafsir, Madarikat Tanzil Haqa’iq at Ta’wil, yang dimaksud dengan ungkapan “orang-orang beriman” dalam ayat tersebut adalah mereka yang mengaku beriman di mulut saja sementara hatinya menduatakan, yakni orang munafik (aamanuu bi alsinatihim min ghayri muwaatha’at al quluub, wa hum al munaafiquun). Nah, orang-orang seperti ini, apabila beriman dengan tulus (iimanan Khaalisan) dan beramal shalih, kelak mereka akan mendapat pahala dari Allah SWT dan tidak perlu cemas tidak perlu bersedih.[6]

7.      Tafsir al Imam al Baydhawi (w. 716 H/ 1316M)

Menurut Imam al Qadhi Abu sa’id Abdullah ibn Umar al Baydhawi dalam kitab tafsirnya, Anwar at Tanzil wa Asrar at Ta’wil, ungkapan “inna l ladzina amanu” ayat itu ditujukan pada dua kelompok, yaitu umat Muhammad saw. yang beriman dengan tulus dan mereka yang munafik.[7]

8.      Tafsir Ibnu Taymiyyah (w. 728 H/ 1327M)

Penjelasan Syaykh al Islam Ahmad Ibn ‘Abd Al Halim ibn ‘Abd as Salam ibn Taymiyyah dapat disimpulkan sebagai berikut, “Hadits-hadit Rasulullah saw. dan kesepakatan para ulama telah memutuskan bahwa siapa saja yang telah sampai kepadanya dakwah Nabi saw. tetapi tetap tidak beriman maka orang tersebut adalah kafir; tidak diterima alasannya untuk berijtihad [mencari kebenaran dan petunjuk] sendiri, karena bukti-bukti kerasulan dan tanda-tanda kenabian [beliau] maupun teks [yang diwahyukan kepada beliau]” (Wa s sunnah wa l ijma’ mun’aqid ‘ala anna man balaghathu da’watu n Nabiyy Shalla Allahu ‘alayhi wa sallama falam yu’min fa huwa kafir la yuqbalu minhu l I’tidzar bi l ijtihad li zhuhuri adillati r Risalah wa a’lamu n Nubuwwah wa n nushush.[8]

9.      Tafsir Abu Hayyan al Andalusi (w. 745H/ 1344M)

Imam Abu Hayyan Muhammad ibn Yusuf ibn Ali ibn Yusuf ibn Hayyan al Andalusi memulai uraiannya seputar ayat 62 surah al Baqarah tersebut diatas dengan menukil riwayat Muhammad ibn Ishaq, Imam at Thabari, Imam al Bayhaqi dan al Wahidi mengenai asbabu n nuzul-nya, bahwa ayat ini turun menjawab pertanyaan Salman al Farisi r.a. kepada Nabi saw. mengenai para sahabatnya yang beragama Nasrani. Diriwayatkan juga keterangan dari ibn Abbas r.a. bahwa ayat tersebut telah digugurkan hukumnya dengan turunya ayat 85 surah Ali ‘Imran, sehingga semua syariat agama-agama sebelumnya telah dibatalkan oleh dan telah tercakup dalam syariat sang Nabi terakhir (wa ruddat asy syara’I kulluha ila syari’ati Muhammad saw.). pendapat lain mengatakan ayat tersebut tidak dibatalkan, sebab ayat tersebut ditujukan kepada mereka yang teguh beriman kepada Nabi saw.
Terdapat delapan pendapat tentang arti frasa “alladzina aamanuu”, kata Imam Abu Hayyan: (1) mereka yang pura-pura beriman laias munafik; (2) mereka yang teguh beriman kepada Rasulullah saw; (3) golongan hanif yang percaya kepada Allah dan Akhirat, tidak musyrik, namun tak sempat bertemu Nabi Muhammad saw; (4) sahabat-sahabat Salman al Farisi; (5) para pengikut Nabi Isa a.s. sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw.;(6) para pengikut syariat Nabi Musa a.s. sebelum kelahiran Nabi Isa a.s.; (7) seluruh orang beriman dari umat-umat terdahulu; dan (8) semua yang beriman kepada Allah, MalaikatNya, Kitab-kitabNya, dan para rasulNya dari segala bangsa dan masa.[9]

10.  Tafsir Ibnu Katsir (w. 774 H/ 1374 M)

Al Hafizh Abu l Fida’ Ismail ibn Katsir al Qurasyi dalam kitab tafsir al Quran al Azhim, menegaskan bahwa setiap orang yang mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad saw. maka baginya kebahagiaan abadi (kullu man ittiba’a r rasul an nabiyy al ummiyy fa lahu s sa’adah al abadiyyah) dan ia tidak perlu takut atau merana kelak. Ibn Katsir kemudian mengutip dua ayat disurah lain demi menjelaskan ciri-ciri mereka yang tidak perlu takut dan tak akan berduka di akhirat nanti: yakni mereka yang beriman dan bertaqwa (yunus: 62-63) dan mereka yang menuhankan Allah dan konsisten (Fushshilat: 30). Beliau juga menyebutkan  kisah Salman al Farisi berkenaan sahabat-sahabat Nasraninya yang belum sempat masuk Islam (riwayat Ibn Abi Hatim dari Mujahid dan Sa’id ibn Jubayr, dan riwayat as Suddi)
Menurut Ibn Katsir, riwayat mengenai Salman al Farisi tidak bercanggah dengan pernyataan Ibn Abbas bahwa ayat 62 surah al Baqarah itu turun lebih dahulu, sedangkan ayat 85 surah Ali Imran turun kemudian. Sebab riwayat, Ibn Abbbas ini menyatakan bahwa Allah tidak akan menerima semua ibadah dan perbuatan baik yang tidak sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad saw. sesudah beliau diutus. Adapun sebelum kedatangannya, maka semua yang mengimani dan mengamalkan ajaran para rasul di zaman masing-masing, maka iman dan mala shalehnya insya Allah diterima dan mendapatkan pahala.[10]

11.  Tafsir al Firuzabadi (w. 817H/ 1414 M)

Dalam kitabnya yang berjudul Basha’ir Dzawi at Tamyiz fi Latha’ al Kitab al ‘Aziz, majduddin Muhammad ibn Ya’kub al Firuzabadi menyatakan bahwa ayat tersebut telah dibatalkan (mansukh) dengan ayat 85 surah Ali ‘Imran.[11]

12.  Tafsir al Imam as Suyuthi (w. 911 H/ 1505 M)

Imam Jalaluddin Abdurrahman ibn Kamaliddin Abi Bakr ibn Muhammad ibn Sabiqiddin as Suyuthi menyatakan ayat tersebut turun sebagai jawaban atas pertanyaan Salman al Farisi perihal nasib sahabat-sahabatnya (Nasrani) yang belum sempat masuk Islam. Beliau mendasarkan pendapatnya ini pada: (1) hadits riwayat ibn Abi Amr al ‘Adni dan ibnu Abi Hatim ar-Razi (sebagai latar belakang turunnya ayat itu); (2) hadits riwayat al Wahidi (w. 468 H) dari Mujahid (bahwa ayat ini mengoreksi pandangan sebelumnya yang mengatakan mereka bakal masuk neraka, sehingga Salman pun lega); (3) hadits riwayat Imam ath Thabari dan Ibnu Abi Hatim dari as Suddi (bahwa Salman yakin andaikata sahabat-sahabatnya itu sempat mendengar dakwah Nabi Muhammad saw. Niscaya mereka akan beriman; (4) hadits riwayat Imam at Thabari dari Mujahid (bahwa kaum Nasrani yang mati sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. Insya Allah selamat (‘ala Khayr), sedangkan mereka yang sempat mendengar seruan beliau tetapi tidak beriman maka celakalah (fa qad halaka); dan (5) hadits riwayat Imam abu Dawud (tentang nasakh-mansukh), at Thabari dan ibn Abi Hatim dari ibn ‘Abbas r.a. (bahwa ayat 62 surah al Baqarah itu dibatalkan hukumnya oleh ayat 85 surah Ali ‘Imran).[12]

13.  Tafsir Abi s Su’ud (w. 982 H/ 1574 M)

Al ‘Allamah Abu Su’ud Muhammad Ibn Muhammad ibn Musthafa al Imadi menjelaskan dalam kitab tafsirnya, Irsyad al ‘Aql as Salim ila  l Kitab al Karim, bahwa ungkapan "orang-orang beriman” dalam ayat tersebut secara implisit ditujukan kepada orang munafik yang mengaku beriman di lidah saja. Ini berdasarkan kata-kata yang mengikkutinya (qarinah), dimana ungkapan tersebut merupakan satu dari rangkaian orang-orang kafir, yakni “orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Sabi’in. ayat ini juga mengisyaratkan bahwa orang-orang seperti itu tidak akan selamat, meskipun “kelihatannya” beriman. Hanya mereka yang “benar-benar” beriman dan beramal saleh akan selamat di akhirat kelak.[13]

14.  Tafsir al Alusi (w. 1270 H/ 1853 M)

Al Imam Mahmud ibn Abdillah al Husayni al Alusi al Baghdadi dalam kitab tafsirnya, Ruh al Ma’ani menyatakan bahwa ayat ini mengimbangi ayat-ayat sebelumnya yang  berisi kecaman dan ancaman kepada kaum Yahudi dan Nasrani, sebagaimana lazimnya targhib wa tarhib. Setelah mengulas pendapat Sufyan ats Tsawri, as Suddi, dan riwayat ibn Abbas, beliau mengatakan bahwa akar perdebatan (sabab al Ikhtilaf) terletak pada frase “man amana”, yang artinya “siapa yang beriman”. Menurut al Alusi, maksudnya ialah siapapun  dari semua golongan tersebut yang beriman kepada Allah, beriman kepada wahyu yang dibawa para Nabi, dan memercayai hari kemudian serta rajin berbuat kebaikan, maka selamatlah ia di akhirat kelak.[14]

15.  Tafsir Syaikh al Maraghi (w. 1364 H/ 1945 M)

Dalam tafsirnya, Syaikh Ahmad Mushthafa al Maraghi mengaitkan ayat QS. 2: 62 tersebut dengan ayat-ayat sebelumnya, dimana kaum Yahudi dikecam dan dikutuk dengan kehinaan dan kemiskinan (adz dzul wa l maskanah), ditambah dengan murka Allah akibat kekufuran dan perbuatan dosa mereka seperti membunuh para Nabi, melanggar aturan agama, melampaui batas, dan sebagainya. Maka ayat ini, menurut al Maraghi, mengisyaratkan adanya pengecualian bagi mereka yang teguh beriman dan taat beragama (al mutamassikin bi habli d din al matin). Singkatnya, kata beliau, orang beriman yang beriman kepada ajaran Nabi Muhammad saw. Dari kalangan Yahudi, Nasrani, atau Sabi’in, apabila kuat dan sungguh-sungguh serta beramal saleh, maka dijamin keselamatannya di akhirat kelak.
al Maraghi memaparkan pendapat Imam al Ghazali, bahwa setelah kedatangan Nabi Muhammad saw., manusia terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, mereka yang tidak mengetahui sama sekali. Mereka ini selamat dan terlepas. Kedua, mereka yang sempat mengetahui dan mendengar dakwah beliau, tetapi bersikap masa bodoh dan menolak, entah karena keras kepala ataupun karena angkuh. Mereka ini diancam siksa api neraka. Ketiga, mereka yang sempat mendengar seruan kepada Islam, namun tidak dapat mengenal atau bertemu langsung dengan Nabi Muhammad saw., sehingga tidak dapat memeriksa kebenaran berita seputar pribadi maupun risalah beliau. Menurut Imam al Ghazali, mereka ini juga msuk kategori mereka yang selamat (karena belum atau tidak tahu).[15]

16.  Tafsir al ‘Allamah at Thabathaba’I (w. 1401 H/ 1981)

Menurut tokoh Syiah kontemporer ini, yang dimaksud dengan “alladzina aamnuu” dalam ayat itu ialah mereka yang beriman zhahir sifatnya dan namanya saja. Dengan kata lain, mengaku atau menyebut diri ‘mukmin’ saja tidak cukup menjamin keselamatan seseorang dari siksa neraka di akhirat, kecuali jika yang bersangkutan membuktikan kesungguhan imannya (wa innama malaku l amri wa sabab al karamah wa s sa’adah haqiqat al iman).[16]

Kesimpulan
Dari uraian diatas jelaslah bahwa para ulama ahli tafsir dari kalangan salaf maupun khalaf sepakat bahwa: (1) ayat 62 surah al Baqarah tersebut turun berkenaan dengan para sahabat Salman al Farisi yang belum sempat masuk Islam (2) orang-orang yang munafik dari kalangan muslim, Yahudi maupun Nasrani adalah kuffar tak beriman; (3) keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan akhirat hanya dapat diraih melalui iman sejati dan amal shaleh sesuai dengan petunjuk Rasulullah Muhammad saw.,




[1] Abu ja’far Muhammad ibn jarir at Tabari, jami’ al bayan ‘an ta’wil ay al quran, ed. Mahmud Muhammad Syakir dan Ahmad Muhammad Syakir (Kairo: Dar al Ma’arif, 1374 H, Jilid II: hlm. 143-155)
[2] Al Imam abu l ahsan ali ibn Muhammad ibn habib al mawardi, an nukat wal ‘uyun, ed. 6 jilid (RiyadhJ, Jilid I, hlm. 133.
[3] Lihat al kasysyaf’an haqa’iq ghawamidh at tanzil wa uyun al aqawil li wujuh at ta’wil, 2 jilid (kairo, 1952), jilid I, hlm. 285.
[4] Lihat mafatih al Ghayb al musytahir bit tafsir al kabir lil Imam ar Razi (kairo, t.t.), Jilid 1, hlm. 393.
[5] Lihat al jami lil ahkam al Quran (Kairo, Dar al hadits, 1423/2002), jilid I, hlm. 391-2.
[6] Lihat Madarik at Tanzil wa Haqa’iq at Ta’wil, 3 Jilid (kairo: al mathba’ah al amiriyyah bulaq, 1936, Jilid I hlm. 57.
[7] Lihat Anwar at Tanzil wa Asrar at Ta’wil (kairo, t.t.), hlm. 13.
[8] Lihat Majmu’atu r Rasa’il wa l masa’il, ed. As Sayyid Muhammad Rasyid Ridha (Kairo: Mathba’ah al Manar, 1341 H), hlm. 15.
[9] Lihat tafsir al bahr al muhith, ed. As syaykh adil ahmad abd al mawjud dan as syaykh ali Muhammad mu’awwadh, 8 Jilid (Beirut: dar al kutub al ‘ilmiyyah, 1993) Jilid I, hlm. 403-404.
[10] Lihat tafsir al quran al azhim, ed. As syaykh Khalid Muhammad muharram (Beirut: al maktabah al ‘ashriyyah, 1416/ 1995), Jilid 1, hlm. 89-90.
[11] basha’ir dzawi at tamyiz fi latha’ al kitab al ‘aziz, 6 Jilid, ed. Muhammad ‘Ali an Najjar (Kairo: Lajnah Ihya’ at Turats al ‘arabi, 1388 H/ 1917 M), Jilid I, hlm. 135-6.
[12] Lihat al durr al mantsur fi tafsir bil ma’tsur (Kairo: Bulaq, t.t.) Jilid I, hlm. 73-4.
[13] Lihat tafsirnya, Irsyad al ‘Aql as Salim ila  l kitab al karim, 2 Jilid (Kairo: 1275 H) Jilid. I, hlm. 75.
[14] Lihat ruh al ma’ani fi tafsir al qur’an al azhim wa sab’I l matsani (Beirut: Dar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1994), Jilid 1, hlm. 278-282.
[15] Lihat tafsir al maraghi (Kairo: Mushtafa al Bab al halabi, t.t.), Jilid I, hlm. 133-135.
[16] Lihat al mizan fi tafsir al quran (Teheran: mathba’ah al haydari, 1963), Jilid I, hlm 194.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More