Madzhab Syiah Merupakan Pintu Gerbang Penghancuran Agama Islam

 
Dialog No. 71
Syekh Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi mengatakan,
Anda menurunkan riwayat al-Khathib al-Baghdadi dari Abu Zur’ah, dia berkata, “Jika kamu melihat seorang laki-laki melecehkan seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa dia orang Zindiq. Hal itu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah benar dan al-Qur’an adalah benar, sementara yang menyampaikan al-Qur’an dan Sunnah adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka hanya ingin menjarh (mencela/ menilai buruk) saksi-saksi kami untuk membatalkan al-Kitab dan sunnah, mereka lebih berhak dijarh dan mereka adalah orang-orang zindiq.” (al-Kifayah, 67)
Jawabannya dari beberapa aspek:
Pertama, kenapa kaum Syiah menjarh (mencela) para sahabat dan menolak ke’adalahan mereka? Apa tujuan di balik itu? bukankah tujuannya hanyalah untuk menghilangkan kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka dan menimbulkan keraguan terhadap keimanan dan keihklasan mereka? Kami hanya memahami tujuan-tujuan ini dari sikap Syiah itu.
Kedua, apa implikasi menuduh sahabat dan meragukan ke’adalahan mereka?
Implikasinya adalah sebagai berikut:
1.  Bahwa para sahabat tidak amanah terhadap syariat, sebab mereka adalah para pembunuh, peminum khamr, pezina, pencuri dan pengkhianat terhaadap agama mereka –sebagaimana yang anda klaim dan orang yang anda riwayatkan perkataannya-.
Ini berakibat kepada pembatalan syariat. Andaikata para musuh syariat ingin membatalkan agama ini, pastilah mereka tidak menemukan cara yang lebih mulus selain cara Syiah ini!
2. Agama ini tidak benar, sebab Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam Tidak mampu mendidik genersai pertama dengan pendidikan keimanan yang lurus, di mana begitu Rasulullha wafat, maka mereka pun langsung menyerang agama mereka sendiri dan melakukan setiap tindakan yang diharamkan.
3. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mendidik generasi penjahat selama hampir 23 tahun di mana beliau tidak mengetahui bahwa mereka adalah para penjahat dan penipu. Mereka bersama beliau dalam keadaaan munafik dan menipu. Lantas tatkala beliau wafat, terbukalah niat-niat mereka dan terbongkarlah rahasia yang tertutup.
4. Bahwa Allah mengetahui hakikat generasi ini, mereka adalah generasi jahat namun tidak memberitahukan kepada RasulNya agar Dia dapat menggatikannya dengan umat lain. Ini adalah pengakuan terhadap kebatilan dan penipuan terhadap manusia, sebab orang-orang melihat mereka selalu mendampingi Rasulullah dan mengelilinginya. Sementara Rasulullah pun bergaul dengan mereka, meminta pendapat mereka, mengawinkan mereka dengan putri-putrinya dan menikahi putri-putri mereka, memuji mereka dan menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka. Ini adalah tuduhan terhadap Allah. Pertama, Allah tidak menyingkap hal itu kepada NabiNya, dan kedua, Allah tidak menyingkap hal itu kepada umat agar mereka tertipu dengan mereka.
5. Dalam dakwaan-dakwan yang dilontarkan Syi’ah Imamiyah mengandung petunjuk bahwa Allah tidak menjelaskan dengan penjelasan memadai untuk mengetahui mana orang-orang yang baik dan mana orang-orang jahat. Hal ini dapat menjadikan permasalahaan berbeda-beda. Bisa jadi, orang-orang jahat dijadikan bersih (suci) dan bisa jadi orang-orang baik dijadikan tertuduh, karena tidak ada kejelasan dan penjelasan.
Implikasi dari hal itu pula adalah hilangnya kepercayaan terhadap riwayat-riwayat mereka (para Shahabat) karena kita meragukan mereka dan kita khawatir mereka berdusta kepada kita.
Atau kita tidak mengetahui siapa mukmin sehingga riwayat-riwayatnya diterima dan siapa munafik sehingga riwayat-riwayatnya ditolak sebab masalahnya bercampur baur sedangkan al-Qur’an tidak menentukan dan as-Sunnah diriwayatkan oleh mereka.
Dengan demikian, kita akan kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah karena para perawinya diragukan.
Ketiga, andaikata kita ingin menetapkan keimanan para Shahabat menurut versi Syiah, pasti kita tidak akan mampu. Mana bukti keimanan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para Shahabat lainnya?
Adapun al-Qur’an: maka sesungguhnya ia memuat banyak sekali ayat-ayat yang bersifat umum dan bersifat umum dan Khusus, tetapi semua Dalalah ‘Ainiyah (petunjuk yang bersifat perorangan)nya telah dibatalkan Syiah kecuali apa yang apa yang mereka tafsirkan terhadap (Dalalah. penj) ‘Ali. Yakni mereka membatalkan bahwa ia menunjukkan si fulan dan si fulan. Mereka mengatakan, itu bersifat umum, tidak mungkin menafsirkannya pada individu-individu tertentu dari para Shahabat, sebab itu bisa bersifat umum dan bisa pula bersifat muqayyad (terikat). Kami tidak tahu, siapa kiranya yang dapat memenuhi criteria yang disyaratkan Syiah!!
Andaikata seseorang berkata, “Aku ragu terhadap keimanan keempat al-Khulafa’ ar-Rasyidun sebab ayat-ayat tentang kemunafikan berbicara tentang mereka, bukti atas hal itu, bahwa kaum Syiah sering mengatakan. Abu Bakar, Umar,dan Utsman telah merampas kekhalifahan sebab yang ditunjuk hanyalah Ali bin Abi Thalib. Ia ditunjuk secara langsung oleh Allah dan RasulNya. Mereka telah mengkhianati wasiat dan menolak untuk melaksanakannya. Dan Ali menyia-nyiakan wasiat demi untuk menjaga nyawanya, dan inilah bukti kemunafiakn mereka. oleh karena itu, aku meragukan keimanan mereka. Artinya, selama bersama Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam mereka telah menyembunyikan kemunafikan mereka dan sekarang barulah tampak kemunafikan itu. Bagaimana kamu menanggapinya?”
Kemudian ia melanjutkan, “Al-Qur’an menyebut orang yang bersamaa Nabi sebagai orang beriman dan dalam waktu yang sama menyebut mereka sebagai orang munafik, namun tidak memberitahukan kepada kita, siapa mukmin dan siapa munafik. Dan perbuatan-perbuatan ini menunjukkan kemunafikan!!”
a. Bila anda mengatakan kepada mereka, “Kami mengajakmu berhukum kepada As- Sunnah ”.
Maka ia akan mengatakan,”As-Sunnah itu diriwayatkan oleh orang-orang yang kami ragukan keimanan mereka. oleh karena itu, kami tidak akan menerimanya, sebab mereka beraksi untuk sebagian mereka. ini adalah persaksian yang tertolak.”
b. Kemudian ia mengatakan, “Berdasarkan hal ini maka kami tidak dapat mempercayai al-Qur’an ataupun as- Sunnah. Agama ini Batil.”
c. Saya katakan, semoga Allah merahmati Abu Zur’ah saat berkata, “Sesungguhnya mereka ingin menuduh para saksi kita untuk membatalkan Kitabullah dan As-Sunnah. Justru, menuduh merekalah (Syiah) yang lebih utama. Merka itu kaum Zindiq.”
Inilah sebab yang menegaskan kepada para ulama, bahwa Madzhab Syiah adalah pintu gerbang penghancurkan agama. Dan setiap orang yang ingin menghancurkan ini tinggalk merangkaikan diri dengan gerbong mereka.

Keempat, buku-buku versi Syiah. Hampir setiap buku-buku Atsar yang diriwayatkan berkenaan dengan akidah, tafsir atau para tokoh tidak luput dari penyesatan atau pengkafiran terhadap para Shahabat kecuali terhadap empat orang saja dari mereka.

Dikutip dari buku “Siapa Bilang Sunni-Syiah Tidak Bisa Bersatu; Dialog Nyata” Karya Prof. Dr. Ahmad Al-Ghamidi, terbitan Darul Haq, cet 1, 2009. hal 175-179
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More