Kisah Pelecehan Nabi yang Dipalsukan Jalaluddin Rakhmat

 
Umat islam marah dan melawan ketika sang Nabi yang sangat dicintainya itu dilecehkan oleh orang kafir dengan membuat film Innocence Of Muslim yang dibuat oleh seorang yang berkebangsaan amerika, aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menggelora di seluruh penjuru dunia, sampai kaum Muslimin dapat menyandera seorang Duta Besar Amerika di Libya dan berbuntut dengan kematiannya. Ketika aksi pembelaan Nabi belum akhir, muncul lagi satu penghinaan terhadap Nabi kiat di Prancis dengan memuat kartun Nabbi bersama dengan gambar karikatur seorang rabbi Yahudi. Pelecehan-pelecehan ini membuat umat islam sedunia marah, marah karena keimanan mereka, sang utusan Allah yang membawa risalah langit dihinakan di permukaan bumi ini.
Sikap marah seperti ini sangat pantas, bahkan tercela jika ada seorang yang masih mengaku muslim tinggal diam dan tidak mengambil saham dalam pembelaan terhadap nabinya, Muhammaad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak membela Nabi ketika dicaci dan dihina adalah perbuatan yang menunjukkan keimanan seseorang terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang luntur dan mungkin bahkan habis. Sikap tercela seperti inilah dilakukan oleh seorang sahabat, Amr bin Ash –sesuai dengan hasil penelitian Jalaluddin Rakhmat- Tidak membela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ketika dihina dan dilecehkan.
Kisahnya berikut ini:
“Ketika menjadi Gubernur di Mesir Amar bin Ash melihat ada seorang Nasrani memaki-maki Nabi. Amar bin Ash membiarkannya. Ketika ia ditanya mengapa membiarkan orang Nasrani memaki-maki Nabi padahal dalam hukum Islam pemaki Rasulullah saw. itu harus dikenai hudud (dicambuk) Amar bin Ash menjawab, “Aku tidak rela orang Nasrani dipukul hanya karena memaki Nabi yang tidak dipercayainya.” (Al-Mushthafa, hal 15)
Jalaluddin Rakhmat mencoba menggiring pembaca untuk sengaja membenci sahabat Amr bin Ash di atas, dengan menunjukkan sikap Amr bin Ash yang dingin-dingin saja ketika ada seorang Nasrani memaki-maki Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Betulkah demikian kisahnya?, mari kita cek and ricek kepada kitab rujukan yang dipakai Jalaluddin Rakhmat.
Al-Isti’ab adalah karya Ibnu Abdil Barr, adalah kitab yang dipakai Jalaluddin Rakhmat megutip kisah ini, mari baca teks asli dalam kitab tersebut;
أن غرفة بن الحارث الكندي وكانت له صحبة من النبي صلى الله عليه وسلم سمع نصرانياً يشتم النبي صلى الله عليه وسلم فضربه ودق أنفه، فرفع إلى عمرو بن العاص، فقال له: إنا قد أعطيناهم العهد. فقال له غرفة: معاذ الله أن نعطيهم العهد على أن يظهروا شتم النبي صلى الله عليه وسلم إنما أعطيناهم العهد على أن نخلي بينهم وبين كنائسهم يقولون فيها ما بدا لهم، وألا نحملهم ما لا يطيقون، وإن أرادهم عدو قاتلنا دونهم، وعلى أن نخلي بينهم وبين أحكامهم إلا أن يأتونا راضين بأحكامنا، فنحكم فيهم بحكم الله عز وجل، وحكم رسول الله صلى الله عليه وسلم وإن اغتنوا عنا لم نعرض لهم. فقال عمرو: صدقت.
Gharfah bin Harits Al Kindi mendengar seorang Nasrani mencela Nabi Muhammad saw, maka Ibnul Harits menonjok hidung orang Nasrani tadi, maka perkaranya diangkat kepada Amr bin Ash, gubernur mesir saat itu, kemudian Amr bin Ash berkata kepadanya: “sesungguhnya kita telah mengikat janji dengan mereka”, Gharfah bin Harist al kindi berkata: “Ma’adzallah, mana mungkin kita berjanji dengan mereka kemudian dengan seenaknya mereka menampakkan celaan kepada Nabi saw, sesungguhnya janji kita terhadap mereka hanya agar kita menghindari gereja-gereja mereka dan berkata apa yang mereka inginkan, tidak memaksa mereka untuk sesuatu yang tidak mereka sanggupi, jika musuh (di luar Mesir) menginginkan mereka kita yang akan memerangi mereka, membiarkan mereka melaksanakan hukumnya sendiri, kecuali kalau mereka ridha dengan hukum kita, maka kita berhukum kepada mereka dengan hukum Allah azza walla dan hukum Rasulullah saw. dan jika mereka tidak mau kita tidak berhak memaksa mereka.” Kemudian Amr bin Ash menjawab: “Anda benar!” (Al Isti’ab, juz 1 hal 388 versi Maktabah Syamilah edisi ke 2)
Amr bin Ash dalam kisah di atas menyetujui tindakan yang diambil oleh seorang sahabat di atas, yaitu menimpuk hidung orang Nasrani dalam rangka membela Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicaci makinya.
Sekarang kita tahu kisah aslinya, ternyata tidak demikian seperti yang diutarakan oleh Jalaluddin Rakhmat, ini termasuk pengaburan sejarah, percoabaan mencela sahabat dan pemalsuan kisah pelecehan Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam.

 (lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More