Jalaluddin Rakhmat Diancam Bunuh di Makassar?

 Tokoh Syiah Indonesia, Jalaludin Rakhmat.

Minggu, 2 September 2012 viva.co.id menurunkan wawancara dengan Jalaluddin Rakhmat tentang tragedi sampang, salah satu petikannya berisi bahwa beliau diancam bunuh oleh beberapa ulama di Makassar jika tetap melanjutkan program doktoralnya di UIN Alauddin Makassar, berikut ini petikan wawancaranya, 

Apa Anda selama ini pernah mendapat ancaman teror sebagai tokoh intelektual Syiah?

Saya sekarang ini berambut gondrong bukan karena ingin tampak lebih muda, tapi karena saya sedang membuat disertasi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. UIN diprotes oleh serombongan orang karena saya orang Syiah. Mereka minta saya dipecat dari kandidat Doktor.

Mereka menuntut, kalau pihak UIN tidak mengharamkan Jalaludin Rakhmat sebagai kandidat Doktor, maka mereka akan menghalalkan darah saya. Saya diancam, kalau nanti saya ujian akhir Doktor, mereka akan menumpahkan darah saya. Tapi UIN mempertahankan saya karena mereka menentukan kandidat Doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan berdasarkan mazhab. UIN Makassar menyatakan tidak apa-apa jika nanti mereka dipanggil polisi.

Disertasi saya soal “Pergeseran dari Sunnah Nabi kepada Sunnah Sahabat Nabi.” Maksudnya, kita kan beragama Islam berdasarkan sunnah Nabi. Padahal sebetulnya menurut hipotesis saya, yang kita jalankan bukan Sunnah Nabi, tapi sunnah Sahabat. Sunnah Nabi malah ditinggalkan. Itulah yang menimbulkan kemarahan beberapa ulama di sana yang tergabung dalam kelompok Wahdah Islamiyah.

Oleh karena itu mereka menuntut saya untuk dihukum mati. Mereka juga pernah melaporkan saya ke polisi untuk ditangkap, tapi tidak digubris. Saya sebenarnya bisa menuntuk balik karena mereka mengancam nyawa saya. Saya pernah dianjurkan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM untuk berhubungan dengan Mabes Polri supaya saya dapat perlindungan keamanan, karena ancaman kepada saya sudah riil.

Kompas juga waktu itu pernah memberitakan, pernah datang rombongan teroris dari Mindanao ke sebuah pesantren di Flores. Dikatakan mereka akan menyerang santri-santri Syiah dan membunuh tokoh-tokoh Syiah di Indonesia. Menurut berita lain, disebutkan nama-nama tokoh itu, antara lain Jalaludin Rakhmat. (selesai, baca selengkapnya di viva.co.id)

Kami di LPPI Perw. Indonesia Timur sebagai lembaga yang tidak setuju dengan program doktoral Jalaluddin Rakhmat di UIN Alauddin dibatalkan tidak pernah mengeluarkan pernyataan secara resmi bahwa darah Jalaluddin Rakhmat sudah halal sehingga bisa ditumpahkan, begitu pula dengan organisasi Wahdah Islamiyah tidak pernah mengeluarkan pernyataan yang seperti itu. Ancaman semacam ini ia dapatkan dari mana?
Terkait ketidaksetujuan  kami terhadap program doktoral Jalaluddin Rakhmat di UIN Alauddin tentunya berlandaskan pada dalil-dalil agama, kaidah ushul fiqh serta pandangan para ulama, silakan baca artikel-artikel berikut ini:

Mengapa Kita Menolak Program Doktoral Jalaluddin Rakhmat, insya Allah akan terbit dalam bentuk buku dalam waktu dekat ini.
Beberapa Bukti Manipulasi dan Kecurangan Ilmiah Jalaluddin Rakhmat 

Adapun mengenai disertasi yang ditulisnya “Pergeseran dari Sunnah Nabi kepada Sunnah Sahabat Nabi.” salah satu yang dia maksudkan adalah shalat tarawih yang dilaksanakan oleh seluruh kaum Muslimin di bulan Ramadhan, ia menolak shalat tarwih karena ia menganggapnya bukan sunnah nabi tapi sunnahnya Umar bin Khaththab. Ia katakan, "Saya pernah berniat untuk mengumpulkan bahan-bahan seperti ini, sebagai bahan disertasi doktor saya dalam bidang agama. Perubahan-perubahan itu banyak saya temukan di kitab-kitab hadis. Banyak hal baru yang saya temukan yang diciptakan oleh para sahabat Nabi." (Sumber: Jalaluddin rakhmat, Bersama Al-Husain Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah, Buletin At-Tanwir hal 3 ), padahal dalam hadis Aisyah, 

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ


"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan." (Muttafaqun ‘alaih) 

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa shalat tarwih secara berjamaah di bulan Ramadhan adalah sunnah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, hanya saja pada waktu itu belum dinamakan "tarwih" dan belum dirutinkan tiap malam ramadhan karena khawatir diwajibkan. (Baca pembahasannya di sini)

Jika yang ditulisnya masalah ibadah yang telah jelas sunnahnya dari Nabi seperti shalat tarwih ini dan yang semisalnya kemudian dia tolak dan katakan bukan sunnah Nabi tentu bukan hanya kami yang menolaknya, ummat pun menolak gagasan seperti ini (Baca artikel ini Mengungkap Kedok Jalaluddin Rakhmat, Menjawab Buku Al-Mushthafa)

Melihat fakta bahwa kami serta para ulama di Sulsel tidak pernah mengancam Jalaluddin Rakhmat apalagi ingin membunuhnya semakin menambah ketidakjujurannya di hadapan publik, (baca artikel-artikel tentang kedustaan-kedustaan dan semua yang berkaitan dengan Jalaluddin Rakhmat disini) ia hanya ingin mengais simpati masyarakat dengan memberi bumbu penolakan kami terhadap program doktoralnya dengan ancaman bunuh.

Bahkan kami sebenarnya ingin bertanya, apakah perayaan asyura kaum Syiah itu sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam? Fa'tuu Burhanakum In Kuntum Shadiqin
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More