Film Innocence Of Muslim yang Nonsens

Negara-negara perpenduduk mayoritas muslim, terutama Timur Tengah kembali bergejolak. Namun gejolak yang timbul kali ini bukan lagi seputar suksesi kepemimpinan sebagaimana yang telah terjadi beberapa bulan lalu, namun lebih berbau SARA, yaitu munculnya sebuah film yang merendah dan melecehkan Nabi akhir zaman yang pengikutnya saat ini mencapai dua miliar orang.
film yang dimaksud adalah Innocence of Muslim yang disutradarai oleh Nakoula Basseley. Film yang trailernya berdurasi selama 13 menit ini diunggah di You Tube dan beredar luas di Internet. Alur utama certainya adalah mengolok-olok Nabi Muhammad, film itu telah menimbulkan unjuk rasa secara besar-besaran yang pecah di berbagai negara. Beberapa di antaranya dibarengi aksi kekerasan. Konsulat AS di Benghazi, Libya, pada 11 September 2012 lalu dirusak dan dibakar massa. Duta besar AS, Christopher Stevens dan tiga pejabatnya meragang nyawa karena diserang demonstran secara sporadis dan diperkirakan terorganisir dengan matang dan rapi. 
Dari Libya, unjuk rasa menyebar ke negara-negara lain di Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya, seperti Afganistan, Pakistan, Malaysia hingga Indonesia. Para demonstran juga merusak kedutaan besar Amerika Serikat dan menyerukan slogan-slogan anti AS. Kabar terakhir menyebutkan, korban tewas telah mencapai 17 orang. Ratusan lainnya luka-luka. (Vivanews.com. 17/9/2012).
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menegaskan pemerintah AS tidak ada hubungannya dengan film konyol itu. Meski dibuat oleh warga negara AS, istri mantan Presiden Bill Clinton itu  menyatakan jika dia termasuk orang yang menentangnya. "Kami benar-benar menolak isi dan pesannya," dia menegaskan. "Bagi kami, dan bagi saya pribadi, video itu sangat menjijikkan dan tercela. Tampak jelas sekali itu memiliki tujuan yang sangat sinis, yakni merendahkan agama dan memancing kemarahan." (Republika. Online. 17/9/2012).
Film “Innocence of Muslim” juga menyeret nama sutradaranya, Nakoula Basseley.  Nakoula adalah warga Amerika Serikat berdarah Mesir. Pria yang lahir 55 tahun lalu itu tinggal di kota Cerritos, di negara bagian California, AS. Patut dicatat, meski beragama Kristen Koptik, dia bukanlah seorang umat Kristen yang saleh bahkan dia sejatinya  adalah seorang kriminal.

Nakoula pernah beberapa kali tersandung masalah hukum. Pada tahun 1997, dia pernah ditahan kantor Sherif Los Angeles. Pada 27 Maret 1997, dan didakwa karena memproduksi metamfetamin. Mengaku bersalah, Nakoula dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan tiga tahun masa percobaan pada 3 November 1997. Kantor Kejaksaan mengatakan dia melanggar masa hukuman percobaannya pada 8 April 2002 dan kembali dijebloskan ke bui selama satu tahun.

Pada 2010, dia terlibat penipuan bank--yang kini dijadikan alasan aparat AS untuk menahan dan memeriksanya. Sejak film amatirnya itu menuai protes keras dari banyak umat Islam, Nakoula bersembunyi. Dia menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya. Berbagai pihak mencoba menelusuri identitas dan keberadaan produser yang semula disebut-sebut bernama Sam Bacile, seorang Yahudi anti-Islam.
Wall Street Journal (WSJ) dalam sebuah artikelnya mencoba menelusuri produser film yang ketika itu asal-usulnya masih misterius. Selasa pekan lalu lalu, WSJ berhasil menghubungi Sam Bacile melalui telepon. Kepada WSJ dia mengaku berumur 52 tahun dan warga negara Amerika keturunan Israel. Dia juga terang-terangan mengaku anti Islam, bahkan menyebut agama ini sebagai "kanker peradaban".
Dalam catatan pemerintah Amerika dan Israel, tidak ada warga mereka bernama Sam Bacile. Media di AS yang menelusuri riwayat Bacile, belakangan mengungkapkan bahwa dia juga ternyata bukan seorang Yahudi, melainkan seorang keturunan Arab. WSJ melacak nomor telepon Bacile, dan ternyata dia beralamat di Cerritos, California. Di alamat itu, tertera nama penghuninya bukan Bacile, melainkan Nakoula Basseley Nakoula, seorang produser film. Kepada salah satu awak media, Nakoula pernah membantah bahwa dia adalah Bacile.
Kini, setelah identitasnya diketahui, Nakoula menyerahkan diri ke aparat dan membuat pengakuan mengejutkan: dialah sang pembuat film "Innocence of Muslims" yang telah membuat marah umat Islam itu. Pria yang mengaku sebagai pembuat film Innocence of Muslims, menyerahkan diri. Sabtu malam waktu setempat, 15 September 2012, dari kediamannya di kota Cerritos, negara bagian California, AS, dia dijemput sherif setempat.
Film berdurasi dua jam itu dia buat tahun lalu di California selama tiga bulan. Dalam menggarap film ini, Nakoula mengaku bekerja sama dengan 60 aktor dan 45 kru. Untuk mendanainya, dia mengaku mendapat donasi sekitar US$5 juta dari 100 orang Yahudi. Namun, saat ditanya siapa, dia menolak mengidentifikasinya. Belakangan, kru dan para aktor film Innocence of Muslim mengaku diperdaya Nakoula. Mereka merasa telah dibohongi sang produser yang tiba-tiba mengubah judul dan naskah di tengah-tengah proses syuting, tanpa sepengetahuan mereka.
Lagu Lama
Penghinaan disertai pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW adalah ibarat lagu lama yang terus dirilis, yang berbeda hanya para pelaku dan metodenya saja. Pesan intinya tetap sama, pelecehan terhadap pribadi dan ajarannya. Dengan melecehkan nabi dan rasul terakhir itu, maka secara otomatis ajarannya juga akan dianggap cacat.
Pada umumnya para orientalis, Yahudi dan beberapa penganut Kristen yang tidak taat menyerang  Nabi dari dua sisi. Pribadi dan ajarannya. Bacile misalnya, beliau mencoba menyerang Muhammad SAW dengan menggunakan metode berbeda, yaitu media film, berbeda dengan para pendahulunya yang kerap menyerang pribadi Nabi melalui tulsan-tulisan.
Sebut saja, Robert Morey penulis buku “The Islamic Invasion, Confronting the World’s Fastest Growing Relegion,” dalam buku tersebut beliau terang-terang menyerang pribadi Rasulullah dengan menyimpulkan bahwa: Nabi adalah manusia pemarah, tidak suka ditanya, gemar membunuh, selalu memohon ampun karena ia adalah seorang pendosa, dan seorang yang haus akan seks sehingga selain memiliki istri sah dengan jumlah banyak, juga memiliki sex patner.
Selain pribadi, ajaran Nabi Muhammad, khususnya hadis yang bersumber dari ucapan, dan segala bentuk gerak-gerik Nabi (termasuk diamnya) juga menjadi sasaran. Serangan orientalis terhadap hadis dilancarkan secara bertahap, terencana dan bersama-sama. Ada yang menyerang matan (isi)-nya  seperti Sprenger, Muir dan Goldziher. Menyerang isnad (riwayat)-nya seperti Horovitz, Schacht dan Juynboll.
Serangan mereka diarahkan ke semua kategori, sebagian menyerang hadis sejarah yang berhubungan dengan sirah (perjalanan hidup Nabi dan Islam). Misalnya Kister, Scholler, Motzki. Sebagian yang lain menggugat hadist hukum atau fikih seperti Shacht, Powers dan Gilliot.
Tapi serangan yang bertubi-tubi dan sistematis yang menelam banyak duit itu, hanya nonsen belaka, tidak sepadam dengan hasil yang digapai karena hingga saat ini umat Islam tetap teguh menghormati dan memuliakan Rasulullah, menganggap bahwa beliau adalah manusia paling mulia, mengamalkan ajarannya, dan tetap menjadi manusia beriman. Salah satu ciri orang beriman adalah mencintai Allah dan rasul-Nya lebih dari siapa pun, dan rela berkoraban demi membela keduanya. Wallahu A’lam!

ILHAM KADIR, MAHASISWA PASCASARJANA UMI MAKASSAR, PENELITI LPPI INDONESIA TIMUR.
Artikel ini dimuat juga di Harian FAJAR Makassar hari ini, 18-09-2012

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More