Fatwa Terbaru Syekh Yusuf Qaradhawi tentang Syiah (3-selesai)

 
MENCACI PARA SAHABAT
 Pertanyaan :
Yang terhormat, Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi, hafizhahullah.
 Assalaamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Kami mengenal Anda sebagai salah satu ulama yang menyerukankan pendekatan di antara golongan dan madzhab di dalam Islam. Terutama antara madzhab Sunni dengan Syi’ah Imamiyah Itsna ’Asyariyyah. Di sini kami ingin bertanya kepada Anda dengan sebuah pertanyaan yang sangat jelas, yang mana kami sangat mengharapkan jawaban dari Anda dengan jawaban yang jelas pula, tidak hanya berdiplomasi. Pertanyaannya yaitu: Apakah mungkin akan terjadi pendekatan antara kedua golongan (Sunni dan Syi’ah), yang mana Syi’ah sangat membenci para sahabat dan bahkan berani mencaci dan melaknat mereka, terutama terhadap sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah, Zubair dan Thalhah. Oleh karena itu, orang-orang Syi’ah tidak mau menamai anak mereka dengan nama-nama ini, kecuali dibolehkan bagi seorang perempuan yang tidak mempunyai anak dan yang lainnya.
Bagaimana hukum mencaci para sahabat yang telah dijadikan Allah SWT sebagai penolong rasul dan agama-Nya? Apakah masuk ke dalam kategori perbuatan kufur? Hal ini dikarenakan bertentangan dengan nash Al-Qur`an yang telah memuji para sahabat.
Pembahasan ini merupakan sebab terjadinya perpecahan di antara kami dengan mereka (orang-orang Syi’ah). Kami harapkan, Anda bisa menerangkan kebenaran hal ini. Karena Anda telah mendapatkan anugerah ilmu, kekuatan dan hujjah dari Allah SWT. Juga Anda menguasai sejarah dan perkembangan masa kini, juga mempunyai keberanian di dalam menyampaikan kebenaran.
Semoga Allah SWT senantiasa menambahkan taufik-Nya kepada Anda.
Wassalaamu ’Alaikum Wr. Wb.

Hasan Ali Abdullah
Dari Kuwait

Jawaban :
Segala puji bagi Allah SWT. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Rasulullah SAW, amma ba’du :
               Saya ucapkan terimakasih kepada Saudara penanya atas pertanyaannya yang sangat penting. Pertanyaan ini menyangkut masalah sensitif antara kami dengan Syi’ah. Karena inilah sikap mereka (orang-orang Syi’ah) terhadap para sahabat. Mereka sangat membenci para sahabat dan menuduh para sahabat dengan tuduhan keji. Topik ini merupakan topik yang selalu hangat dibicarakan dalam acara-acara pendekatan madzhab antara Sunni dengan Syi’ah. Topik ini merupakan salah satu dari 2 topik pembahasan yang membuat ketegangan antara kami dengan Syi’ah sejak bulan Ramadhan 1429 H/September 2008. Saya pernah membahas topik ini dengan para ulama mereka setiap kali kami bertemu dengan mereka. Semuanya ternyata setuju dengan pendapat yang saya ajukan, namun realitas menyatakan sebaliknya. Saya tidak ingin mengatakan jika mereka (para ulama Syi’ah) mengatakan hal ini adalah sebagai bentuk Taqiyyah.
Akan tetapi saya melihat jika ajaran Syi’ah yang dominan selalu melampaui seluruh ucapan ulama Syi’ah di berbagai forum. Ini imbas dari sejarah yang panjang. Inilah wujud realitas yang dipenuhi kebencian dan dendam kesumat.
               Saya hanya ingin mengatakan bahwa siapa saja orangnya yang sudah mengenal madzhab Syi’ah, maka dengan mudah dia akan memahami sikap Syi’ah terhadap para sahabat, terutama terhadap para sahabat senior.
               Karena ajaran pokok madzhab Syi’ah yang tidak bisa dipungkiri adalah bahwa Rasulullah SAW telah tegas menyatakan Ali sebagai penggantinya (menjadi Khalifah) setelah beliau wafat. Akan tetapi para sahabat telah bersekongkol untuk menyembunyikan kebenaran ini. Dengan sengaja, mereka telah durhaka terhadap Rasulullah SAW. Para sahabat –menurut Syi’ah- telah menyakiti Rasulullah SAW yang telah berwasiat untuk menjaga keluarganya dengan baik.
Sedangkan kita ketahui bahwa para sahabat senior adalah para sahabat yang paling dekat dengan beliau, paling dicintai, paling banyak berinfaq, paling dipuji, sebab terdapat banyak hadits yang menerangkan keutamaan mereka.
               Tidak diragukan lagi bahwa inilah buah dari pembinaan dan pendidikan Rasulullah SAW. Juga sebagai hasil dari perhatian serius beliau terhadap ucapan dan perbuatan para sahabatnya. Misalnya saja penjelasan wahyu yang terdapat di dalam Al-Qur`an yang memuji seluruh perbuatan baik para sahabat dan menegur seluruh perbuatan kurang baik dari mereka. Tujuannya agar para sahabat introspeksi dan bertaubat kepada Allah SWT dan memperbaiki perbuatan mereka. Sampai akhirnya mereka disebut, ”Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia,” (QS Ali Imran [03]: 110). Mereka akhirnya menjadi figur umat pertengahan yang Allah SWT jadikan sebagai saksi atas seluruh umat manusia.
               Mereka berhak mendapatkan gelar ini sampai Al-Qur`an dari langit ketujuh turun, berisi pujian atas mereka. Yaitu orang-orang yang ikut hijrah, mereka pergi meninggalkan rumah dan harta benda mereka karena mencari keridhaan Allah SWT. Mereka menolong agama Allah dan rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Juga orang-orang Anshar yang menjadi penolong Rasulullah SAW dan dakwahnya dengan jiwa dan harta mereka. Mereka lah yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, ”Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada  mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS Al-Hasyr [59]: 9).
               Inilah gambaran Ahlu Sunnah terhadap para sahabat. Gambaran ini bersandar kepada Al-Qur`an, As-Sunnah yang shahih, dan kenyataan sejarah yang sangat berbeda dengan gambaran yang diberikan oleh orang-orang Syi’ah terhadap para sahabat. Gambaran ini sangat bertolak belakang 100% dengan gambaran orang-orang Syi’ah. Karena gambaran mereka tidak mengacu kepada Al-Qur`an, As-Sunnah, sejarah dan fakta yang benar. Inilah gambaran yang telah dijelaskan oleh syaikh kami, Abul Hasan Ali An-Nadawi di dalam makalah pendeknya dengan judul, ”Dua Gambaran yang Bertolak Belakang.”
               Kesimpulan terhadap gambaran pertama dari orang-orang Syi’ah, “Sesungguhnya Rasulullah SAW tidak benar di dalam mendidik murud-muridnya. Beliau telah ditipu oleh mereka, dan murid-murid beliau telah mengkhianati gurunya dengan cara menyia-nyiakan wasiat kepemimpinan setelah beliau wafat. Mereka juga berkhianat kepada keluarga beliau, menzalimi Ahlul Bait di dalam masalah kepemimpinan dan membuat konspirasi terhadap Ahlul Bait”.
               Kesimpulan terhadap gambaran kedua dari Ahlu Sunnah, “Sesungguhnya  Rasulullah SAW adalah guru yang paling baik. Beliau memahami betul seluruh murid-muridnya. Beliau sangat dekat dengan mereka dan memberikan sinyal kepemimpinan setelah beliau wafat dengan cara penunjukan imam di dalam shalat dan lain-lainnya.”
               Masalah ini yang membuat kami Ahlu Sunnah sering berbenturan dengan orang-orang Syi’ah. Kami Ahlu Sunnah mengatakan: Abu Bakar dan Umar -semoga Allah SWT meridhai keduanya-, sedangkan orang-orang Syi’ah mengatakan: Abu Bakar dan Umar -semoga Allah SWT melaknat keduanya-. Kami Ahlu Sunnah mengatakan: Aisyah -semoga Allah SWT meridhainya-, sedangkan orang-orang Syi’ah mengatakan: Aisyah -semoga Allah SWT melaknatnya-. Padahal Aisyah ini telah Allah SWT sucikan di dalam firman-Nya di dalam surah An-Nur.
               Saya sangat sedih ketika terjadi peristiwa di Beirut pada tahun 2008, pada saat pasukan Hizbulloh memasuki rumah-rumah Ahlu Sunnah sambil berteriak, ”Semoga Allah SWT melaknat tiga orang!” Tiga orang yang mereka maksudkan adalah Abu Bakar, Umar bin Khaththab dan Utsman bin Affan. Cerita ini saya dengar dari orang-orang yang bisa dipercaya, karena mereka menyaksikannya sendiri.
               Saya telah menulis di dalam buku saya yang berjudul, ”Dasar-Dasar di Dalam Dialog dan Pendekatan di Antara Madzhab-madzhab dan Golongan di Dalam Islam.” Di dalam buku tersebut saya telah membuat sepuluh kaidah dan dasar-dasar di dalam dialog atau pendekatan antara dua madzhab. Di antaranya, menjauhi kata-kata provokasi. Yaitu, segala sesuatu yang bisa memprovokasi orang lain, membuat orang lain marah dan perbuatan yang menantang orang lain yang tidak bisa dibenarkan. Di antara bentuk-bentuk provokasi itu adalah mencerca para sahabat.
               Di sini saya ingin menukil sebagian yang saya tuliskan di sana, karena mengandung ibrah dan pelajaran, juga mengandung penjelasan yang kuat atas setiap para pembangkang dan orang-orang sombong.
               Di antara yang sudah saya katakan, masalah mencaci para sahabat oleh orang-orang Syi’ah tetap menjadi persoalan, terutama menghina para sahabat senior. Yaitu para sahabat yang ketika Rasulullah SAW wafat, beliau telah ridha terhadap mereka. Misalnya Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman RA dan sepuluh orang sahabat yang telah dijamin masuk surga, seperti Thalhah, Zubair, para sahabat yang ikut hijrah dan pertama-tama beriman kepada Rasulullah SAW, yang mana saat itu orang-orang Mekah mendustakan beliau. Justru para sahabat beriman di saat orang-orang menolak beliau. Oleh karena itu,  Allah SWT memuji mereka semuanya di dalam Al-Qur`an. Allah SWT ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap Allah SWT. Allah SWT berfirman, ”Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung,” (QS At-Taubah [09]: 100).
               Contoh lainnya, Aisyah binti Abu Bakar yang telah disucikan oleh Allah SWT dari tujuh lapis langit. Mengenai Aisyah ini telah turun sebuah ayat di dalam surat An-Nur [24] yang berbunyi, ”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu (juga). Janganlah kamu mengira berita itu buruk bagi kamu bahkan itu baik bagi kamu. Setiap orang dari mereka akan mendapat balasan dari dosa yang diperbuatnya. Dan barangsiapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar (dari dosa yang diperbuatnya), dia mendapat azab yang besar (pula),” (QS An-Nur [24]: 11).
               Demikian juga dengan para sahabat yang lainnya yang levelnya di bawah para sahabat senior. Akan tetapi mereka sangat gembira karena bisa menemani Rasulullah SAW. Mereka semua ini berada di dalam kebaikan, sebagaiman firman Allah SWT, ”Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan,” (QS Al-Hadid [57]: 10).
               Inilah poin yang sangat sensitif antara kami Ahlu Sunnah dengan Syi’ah. Karena tidak mungkin antara kita akan terjadi pendekatan. Karena saya berkata, ”Abu Bakar -semoga Allah SWT meridhainya-. Sedangkan engkau (Syi’ah) mengatakan, ”Abu Bakar -semoga Allah SWT melaknatnya.- Coba perhatikan, ada berapa perbedaan antara ucapan ridha terhadap seseorang dengan ucapan laknat?
               Saya pernah berdialog dengan beberapa orang para ulama Syi’ah yang saya tahu mereka itu adalah para ulama yang bijaksana. Saya katakan kepada mereka, ”Sesungguhnya masalah ini adalah batu sandungan utama di dalam proses pendekatan antara dua madzhab. Oleh karena itu, para cendekiawan Syi’ah harus menahannya atau paling kurang memperkecil efeknya. Karena jika hal ini dibiarkan sesuai dengan tabiat orang-orang awam yang dipenuhi dendam dan kebencian, maka akan memakan setiap rumput hijau dan yang kering, dan sangat wajar jika tidak ada kesempatan bagi para ulama di dalam menjelaskan prospek persatuan dan proses pendekatan madzhab.”
               Sebenarnya saya katakan bahwa para cendekiawan Syi’ah seperti Ayatullah Muhammad Ali At-Taskhiri dan Ayatullah Wa’izh Zadeh dan yang lainnya mereka sangat setuju dengan hal ini. Mereka meyakinkan kepada saya bahwa cara pandang seperti ini (tidak mencaci para sahabat, ed.) mulai menguat dan menyebar di kalangan Syi’ah sedikit demi sedikit. Sampai-sampai kurikulum pendidikan yang baru di Iran di beberapa bukunya menyebutkan tentang sejarah Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang dipenuhi dengan pujian dan kemuliaan.
               Saya katakan kepada mereka, ”Inilah yang harus dikembangkan di dalam yayasan/lembaga pendidikan milik pemerintah dan juga di dalam pendidikan keluarga secara khusus. Karena pengetahuan masyarakat Syi’ah banyak mengandung ilusi, hal-hal yang berlebihan dan takhayul. Semua ini tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Akan tetapi menurut orang-orang awam, hal ini merupakan kebenaran dan akidah mereka.”
               Sebenarnya, masalah yang sangat membahayakan ini perlu dihilangkan dan dijelaskan untuk membersihkan semua debu-debu kekisruhan. Atau paling tidak untuk membentuk sikap positif dan bijaksana terhadap permasalahan ini.

Awas, Jangan Mencela Para Sahabat!
               Saya ingin menjelaskan masalah ini di hadapan saudara-saudara saya dari madzhab Syi’ah. Saya sendiri tidak bermaksud lain dari ini semua kecuali hanya mengharap ridha Allah SWT, berkhidmat kepada Islam dan umat Islam.

Pertama, Sesungguhnya  semua kejadian yang dialami oleh para sahabat, seperti perbedaan pendapat sampai terjadinya huru-hara, semua ini sudah menjadi sejarah (masa lalu) dan telah digulungkan lembaran sejarahnya, baik yang manis maupun yang pahitnya.
Yang buruk dan yang baiknya, kelak, Allah SWT akan menanyai para sahabat dan Dia akan memberikan pahala atas seluruh perbuatan dan niat mereka. Yang layak bagi kita adalah menyerahkan semua ini kepada Allah SWT dan tidak perlu repot-repot kita menghitung-hitungnya. Sebab Allah SWT telah berfirman, ”Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS Al-Baqarah [02]: 134).
Karena alasan ini pula, Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika ditanya tentang masalah ini, beliau menjawab, ”Dengan darah mereka itulah Allah SWT membersihkan tangan-tangan kita. Oleh karena itu, janganlah kita mengotori lidah kita dengan masalah ini!”

Kedua, di antara kaidah toleransi di antara para pemeluk agama yang berbeda yaitu sesungguhnya  orang-orang yang sesat di antara kita akan dihisab atas kesesatannya dan orang-orang kkafir akan dihisab atas kekkafirannya adalah tugas Allah SWT dan bukan tugas kita. Dan hisab ini tempatnya yaitu di akhirat dan bukan di dunia ini. Allah SWT telah berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang sabiin, orang Nasrani, orang Majusi dan orang musyrik, Allah pasti memberi keputusan di antara mereka pada hari Kiamat. Sungguh, Allah menjadi saksi atas segala sesuatu,” (QS Al-Hajj [22]: 17). Allah SWT juga telah berfirman kepada Rasulullah SAW, ”Karena itu, serulah (mereka beriman) dan tetaplah (beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, “Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar  berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami perbuatan kami dan bagi kamu perbuatan kamu. Tidak (perlu) ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah  (kita) kembali,” (QS Asy-Syura [42]: 15). Apabila sikap seperti ini adalah sikap terhadap pemeluk agama yang berbeda-beda, lantas bagaimana halnya dengan orang-orang yang seagama dengan kita?

Ketiga, sesungguhnya yang layak bagi kita di sini adalah membiarkan orang-orang yang berselisih faham tersebut dan menyerahkannya kepada niat mereka masing-masing. Karena mereka telah sampai (merasakan) atas apa yang mereka persembahkan (lakukan di dunia).
Terhadap para sahabat tersebut, jika kita anggap mereka telah berbuat dosa, maka tentunya mereka akan tetap mendapatkan pahala karena telah menemani Rasulullah SAW, atau pahala jihad mereka bersama beliau yang mana beliau bisa memberikan syafaat kepada mereka. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Umar di dalam masalah Hathib bin Abi Balta’ah yang mana dia telah memata-matai kaum muslimin atas perintah orang-orang Quraisy sebelum Futuh Mekah. Berkatalah Umar kepada Rasulullah SAW, ”Biarkanlah saya memancung lehernya, karena dia adalah orang munafiq!” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Dia itu termasuk yang ikut dalam perang Badar. Apakah engkau tahu wahai Umar, barangkali saja Allah SWT memaafkan para pejuang perang Badar.” Beliau pun bersabda, ”Kerjakanlah apa yang ingin kalian kerjakan, sungguh aku telah memaafkan kalian.” 
Imam Al-Qurthubi telah berkata di dalam tafsirnya Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur`an,
“Tidak boleh menyandarkan sebuah kesalahan tertentu kepada salah seorang dari sahabat, karena mereka semua telah berijtihad atas apa yang mereka lakukan dan yang mereka inginkan hanya Allah SWT. Sedangkan mereka itu adalah imam kita dan kita akan dianggap beribadah (berpahala) jika tidak membicarakan perselisihan mereka. Kita semua hanya menceritakan kebaikan-kebaikan mereka saja, karena mereka telah menemani Rasulullah SAW dan juga karena ada larangan mencaci para sahabat ini dari Rasulullah SAW. Demikian juga karena Allah SWT telah memaafkan dan meridhai mereka.
Ada sebuah riwayat dengan banyak jalur dari Rasulullah SAW bahwasanya Thalhah adalah seorang syahid. Andai saja dia pergi ke medan perang itu karena faktor maksiat, tentu orang yang terbunuh pada peperangan tersebut tidak akan disebut mati syahid. Demikian pula seandainya dia pergi ke medan perang karena faktor salah persepsi. Karena yang disebut mati syahid itu tidak akan terjadi kecuali jika terbunuh di dalam ketaatan. Maka urusan mereka itu wajib disikapi seperti yang telah kami terangkan.
Di antara yang menjadi dalil hal ini, yaitu sebuah riwayat shahih dan sudah tersebar dari Ali bahwasanya pembunuh anaknya Shafiyyah[13] adalah di neraka. Karena Ali pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Berilah kabar gembira pembunuh putra Shafiyyah dengan api neraka!”[14]
Jika memang seperti ini, maka ada sebuah keterangan yang menerangkan bahwa Thalhah dan Zubair tidak bermaksiat atas perintah jihad. Karena jika seperti ini, mana mungkin Rasulullah SAW berkata kepada Thalhah sebagai syahid? Dan juga beliau tidak mengatakan bahwa pembunuh Zubair akan masuk neraka.
Demikian pula dengan orang yang tidak ikut perang tidak karena salah persepsi, dan justru karena kebenaran yang menuntut mereka agar berjihad. Apabila seperti ini, maka kita tidak boleh melaknat atau memfasiqkan mereka dan menghilangkan keutamaan dan jihad mereka.
Sebagian para ulama ditanya perihal darah yang telah ditumpahkan oleh para sahabat (peperangan di antara para sahabat). Maka dia menjawab, ”Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS Al-Baqarah [02]: 134).
Demikian pula ada sebagian para ulama yang ditanya tentang hal tersebut (peperangan di antara para sahabat). Maka dia menjawab, ”Itulah darah yang Allah SWT telah menyucikan tangan saya dari darah tersebut. Maka aku tidak mau mengotori lidahku dengan masalah ini.” Maksudnya berhati-hati agar tidak terperosok ke dalam kesalahan atau salah memberikan penilaian terhadap para sahabat.
Ibnu Furik berkata, ”Di antara para ulama ada yang berkata bahwa pertikaian yang terjadi di antara para sahabat adalah seperti pertikaian yang terjadi antara saudara-saudara Yusuf dengan Yusuf. Tetapi saudara-saudara Yusuf ini tidak membuat Yusuf tersingkir dari kepemimpinan dan kenabian (Nabi Yusuf tetap menjadi Nabi dan Raja Mesir). Demikian pula halnya dengan pertikaian yang terjadi di antara para sahabat.”
Al-Muhasibi berkata, ”Adapun dalam masalah darah (peperangan), kami kesulitan untuk menilai hal ini dikarenakan faktor perselisihan mereka (para sahabat)”. Al-Hasan Al-Bashri pernah ditanya tentang masalah peperangan di antara para sahabat. Beliau berkata, “Peperangan di antara para sahabat Rasulullah SAW itu kita tidak mengetahuinya. Mereka mengetahuinya dan kita tidak. Mereka berijma dan kita mengikutinya dan mereka berselisih faham, kita diam.” Al-Muhasibi berkata, “Kami pun berkata sama dengan perkataan Al-Hasan Al-Bashri. Kami tahu jika para sahabat lebih tahu daripada kami atas perkara yang mereka hadapi. Kami  hanya mengikuti apa yang menjadi kesepakatan mereka. Kami diam atas apa yang mereka perselisihkan. Kami tidak membuat-buat opini. Karena kami tahu jika mereka telah berijtihad dan menginginkan Allah SWT (lillahi ta’ala). Kalau begitu, mereka itu tidak dituduh macam-macam dalam Islam ini. Kami hanya memohon taufiq kepada-Nya.”[15] 

Keempat, Sesungguhnya kewajiban kita dari sisi yang lain adalah harus menghadapi masa saat ini, daripada kita sibuk memikirkan masa lalu kita. Karena zaman kita sekarang ini penuh dengan berbagai macam musibah dan malapetaka yang menghadang para penggiat kebaikan (para reformis). Musibah ini harus kita hadapi; kita kerahkan segenap pikiran, hati dan anggota tubuh kita. Terutama pada saat ini yang sedang mewabahnya Zionisme dan kesombongan Amerika. 
Saya pernah mendengar bantahan Syaikh Muhammad Al-Ghazali terhadap seseorang yang mendebatnya tentang masalah kejadian yang dialami para sahabat. Dia mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak berbobot, ”Siapakah yang lebih berhak menjadi khalifah, Abu Bakar atau Ali?”
Syaikh menjawab, ”Abu Bakar telah wafat, demikian pula Ali. Begitu pula kekhalifahan, kerajaan Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah telah runtuh. Sampai kekhalifahan benar-benar tercabut dari negara-negara Islam. Sehingga kita semua dipimpin oleh orang-orang asing. Bukan Abu Bakar dan bukan Ali. Sampai kapan kita memperdebatkan masalah ini?”

Kelima, Sesungguhnya persoalan mencaci  para sahabat pada dasarnya dari kacamata Islam sangatlah tidak terpuji. Karena seorang muslim itu bukan tipe pencela atau pelaknat. Al-Qur`an saja melarang kita mencaci  berhala, karena khawatir bisa memancing emosi orang-orang musyrik. Akhirnya mereka mencaci  Allah SWT, sebagai bentuk pembelaan atas tuhan-tuhan mereka. Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan, tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan,” (QS Al-An’am [06]: 108).
Siapa saja yang membaca Sunnah Rasulullah SAW, maka dia akan menemukan ada banyak hadits yang melarang perbuatan mencaci. Misalnya di dalam kitab Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir ada beberapa hadits yang semuanya melarang perbuatan mencaci. Dimulai dari hadits nomer 7309 sampai dengan hadits nomer 7322. Di antaranya:

لا تسبوا أصحابي فو الذي نفسي بيده لو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهبا، ما بلغ مد أحدهم و لا نصيفه.
”Janganlah kalian mencaci  para sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalau saja ada salah seorang dari kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala) infaqnya ini tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengah mud (infaq para sahabat).” (Muttafaq Alaih)

لا تسبوا الأموات، فإنهم أفضوا إلى ما قدموا.
”Janganlah kalian mencaci  orang-orang yang sudah meninggal dunia, sebab mereka telah sampai kepada apa yang mereka persembahkan.” (HR. Al-Bukhari)

لا تسبوا الدهر، فإن الله هو الدهر.
”Janganlah kalian mencaci  zaman, sebab Allah lah zaman.” (HR. Muslim)

لا تسبوا الديك فإنه يوقظ للصلاة.
”Janganlah kalian mencaci  ayam jago, sebab dia (suka) membangunkan manusia untuk shalat.” (HR Ahmad)

لا تسبوا الريح، فإنها من روح الله.
”Janganlah kalian mencaci  angin, sebab angin adalah karunia Allah.” (HR Ahmad)

لا تسبي الحمى، فإنها تذهب خطايا بني آدم.
”Janganlah kalian (para ibu) mencaci  demam, sebab demam bisa menghilangkan dosa-dosa anak Adam.” (HR Muslim)

Saya sangat takjub dengan hadits yang berbunyi,
لا تسبوا الشيطان، وتعوذوا بالله من شره.
”Janganlah kalian mencaci setan. (tapi) berlindunglah kalian kepada Allah dari keburukannya.” (HR Tamam Ar-Razi di dalam kitab Al-Fawaid dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah, no.2422).
               Sampai kepada setan pun, kita dilarang mencacinya. Tetapi kita diharuskan untuk berlindung kepada Allah SWT dari keburukannya. Sebab perbuatan mencaci itu adalah perbuatan negatif, sedangkan berlindung kepada Allah SWT dari keburukan setan adalah perbuatan positif.
               Orang-orang Barat mengatakan, ”Daripada mencaci  gelap, lebih baik nyalakan lilin.” Maksudnya bahwa mencaci gelap tidak akan merubah suasana. Yang terbaik adalah engkau menyalakan sesuatu yang bisa menerangi jalanmu di kegelapan, walaupun hanya dengan nyala lilin yang sangat kecil.
               Kemudian perbuatan cela mencaci itu tidak ada dasar tanggung jawabnya. Karena mencaci hal-hal buruk dan orang-orang kafir itu bukan sesuatu yang dianggap wajib di dalam Islam. Maksudnya jika hal ini tidak dikerjakan, maka akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT.
               Sebagian para imam (imam yang empat) berkata, ”Andai saja ada seseorang yang berumur panjang, kemudian dia tidak pernah mencaci  Fir’aun, Abu Jahal atau Iblis, maka orang ini tidak akan dihisab apa-apa di hari Kiamat atas sikapnya ini. Akan tetapi jika dia pernah melaknat seseorang yang tidak pantas dilaknat, walaupun hanya satu kali, tentu dia akan dihisab di hadapan Allah SWT di hari Kiamat: Mengapa engkau melaknatnya?”
               Oleh karena itu,  Imam Al-Ghazali berkata, ”Orang mukmin itu bukan pencela. Maka tidak diperbolehkan lisan ini mengeluarkan kata-kata laknat, kecuali kepada seseorang yang mati di dalam kekufuran, atau terhadap orang-orang dengan sifat-sifat tertentu tanpa merinci orang-orangnya (dengan jelas). Menyibukkan diri dengan berdzikir kepada Allah SWT adalah lebih baik. Kalau tidak bisa, maka diam akan lebih menyelamatkan.”
               Makki bin Ibrahim berkata, ”Kami pernah bersama Ibnu Aun. Maka mereka menceritakan kisah Bilal bin Abi Bardah. Maka mereka pun mulai melaknatnya, sedangkan Ibnu Aun hanya diam saja. Maka orang-orang berkata, ”Wahai Ibnu Aun, kami hanya membicarakan perbuatan yang dia lakukan padamu!” Ibnu Aun menjawab, ”Sesungguhnya ada dua kalimat yang akan keluar dari catatan amalku di hari Kiamat, yaitu tidak ada tuhan selain Allah, dan semoga Allah melaknat si fulan. Aku lebih suka kalimat tidak ada tuhan selain Allah yang keluar dari buku catatan amalku, daripada kalimat semoga Allah melaknat si fulan!”
               Ibnu Umar berkata, ”Manusia yang dibenci oleh Allah adalah orang yang suka mencaci dan mencaci.”[16]  
               Kemudian perbuatan mencaci  para sahabat sangat tidak pantas bagi seorang muslim. Karena para sahabat mempunyai hubungan dengan Rasulullah SAW. Karena para sahabat adalah teman-teman beliau dan mereka juga adalah lulusan dari madrasah beliau. Mereka langsung belajar dari Rasulullah SAW dan mereka juga menerima cahaya kenabian. Mereka juga menyaksikan turunnya Al-Qur`an dan menjadi pelaku sejarah. Merupakan hal yang wajar jika kemudian mereka menerima cahaya kenabian. Barangsiapa mencaci  murid-murid terdekat seorang guru, maka seolah-olah dia itu mencaci  guru mereka!
               Oleh karena itu, para tabiin adalah orang-orang yang dekat dengan para sahabat dari sisi keutamaan mereka. Karena para tabiin ini telah belajar langsung dari para sahabat. Adapun orang-orang yang jauh dari tabiin ini, maka mereka pun jauh dari cahaya kenabian. Setiap zaman semakin jauh dari zaman yang lainnya.
               Sebagaimana Rasulullah SAW telah memuji mereka para sahabat, baik secara umum maupun secara khusus di banyak hadits-haditsnya, sampai mencapai derajat mutawatir.
               Sejarah lah yang telah menjadi saksi yang jujur atas keutamaan mereka. Mereka lah yang telah menghafal Al-Qur`an dan menukilkannya kepada kita secara mutawatir. Dan mereka juga yang telah meriwayatkan sunah Rasulullah SAW, baik perkataan, perbuatan maupun kesepakatan-kesepakatan beliau.
               Mereka juga lah yang telah melakukan pembebasan negeri lain dengan damai dan menyebarkan agama Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Andai bukan karena mereka, tentu sekarang ini kita semua bukanlah kaum muslimin. Mereka lah yang telah mengajarkan Islam kepada umat lain setelah mereka belajar langsung dari Rasulullah SAW.
               Barangsiapa yang mau membaca sejarah mereka, maka dia akan menemukan sejarah para pemberani yang berakhlak yang tidak ada tandingannya di umat ini. Yang mana mereka dijadikan sebagai figur  di dalam membentuk sebuah generasi. Ini lah yang terangkum di dalam kitab Hayatu Shahabah yang terdiri dari beberapa jilid karya Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi.
               Buku ini sebagai tambahan atas kitab-kitab yang mengupas sejarah para sahabat, seperti Al-Isti’aab fii Ma’rifatil Ashaab, Asadul Ghaabah fii Ma’rifatish Shahaabah dan Al-Ishaabah fii Tamyiizish Shahaabah.
               Saya sarankan untuk membaca kitab Muhibuddin Al-Khathib yang berjudul, Ma’ar Ra’iil Al-Awwal dan penjelasan kitab Jiil Qur`ani Farid karya Sayyid Quthb di dalam kitabnya Ma’aalimu fith Thariiq. Dan kitab Abqariyyaat (orang-orang jenius) karya Abbas Al-‘Aqqad dari kalangan para sahabat dan kitab Akhbaar ’Umar karya Syaikh Ali Ath-Thanthawi.
               Adapun tuduhan mengkafirkan Syi’ah dengan dalih sikap mereka terhadap para sahabat, saya sendiri tidak berpendapat seperti itu. Karena mencap kkafir orang yang telah mengucapkan tidak ada tuhan selain Allah, adalah sebuah urusan yang tidak boleh dilakukan oleh seorang ulama. Karena ucapan tahlil ini melindungi seseorang dari kekafiran. Saya adalah termasuk dari kalangan yang melarang dengan keras mengkafirkan orang lain. Walaupun tuduhan Syi’ah terhadap para sahabat itu sangat keji, tetapi tuduhan mereka itu tidak secara qath’i menjadikan diri mereka sebagai orang-orang kafir. Semua keraguan di dalam masalah ini harus ditafsirkan demi kebaikan seorang muslim yang wajib membawa dirinya ke arah kebaikan.
               Kami hanya bisa mendoakan mereka, semoga Allah SWT memberikan mereka petunjuk-Nya kepada kebenaran dan Allah SWT mengampuni dosa-dosa mereka, karena Dia adalah Dzat yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. 

Sumber: Buku berbahasa Arab, karya Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dengan judul Fataawaa Mu’aasharah, (Fatwa-fatwa Kontemporer), juz ke-4, penerbit Darul Qalam Kuwait, hal. 275-298.
Penerjemah: Dudung Ramdani, Lc -Staf LPPI Jakarta-

[13] Yang dimaksud dengan putra Shafiyyah adalah Zubair bin Al-Awwam. Shafiyyah adalah bibi Rasulullah SAW.
[14] HR Ahmad di dalam Al-Musnad, hal. 618 dari Ali RA. Pentakhrij hadits ini berkata bahwa sanad hadits ini adalah hasan. HR Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak, kitab Ma’rifatush Shahaabah, juz 3/414. beliau berkata, “Hadits ini shahih dari Amirul Mu`minin Ali”. Walaupun Ahmad dan Al-Hakim tidak mengeluarkan hadits ini dengan sanad seperti ini. Adz-Dzahabi menyetujui pula hadits ini. HR Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Kabir, juz 1/123 dan di dalam Al-Ausath juz 7/130.
[15] Tafsir Ath-Thabari, juz 16 hal. 321-322, cetakan Darul Kutub Al-Mishriyyah, Mesir.
[16] Ihya Ulumuddin 3/125-126, cetakan Darul Ma’rifat Beirut.


0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More