Fatwa Terbaru Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi tentang Syiah (2)

 http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/syekh-yusuf-al-qardhawi-_120428222907-646.jpg
"Memang benar, tidak mungkin kita akan bersatu. Ketika saya mengatakan, ”Abu Bakar semoga Allah SWT meridhainya. Umar semoga Allah SWT meridhainya.” Sedangkan engkau (Syi’ah) berkata, ”Abu Bakar semoga Allah SWT melaknatnya. Umar semoga Allah SWT melaknatnya.” Ingat, alangkah besarnya jurang perbedaan antara kalimat ‘semoga Allah SWT meridhainya’ dengan kalimat ‘semoga Allah SWT melaknatnya’."
(Syekh Yusuf Qaradhawi)

SIKAP SAYA YANG SEBENARNYA
DI DALAM MUKTAMAR PENDEKATAN ANTAR MADZHAB DI DOHA QATAR
(1-3 Muharram 1428 H/20-22 Januari 2007 M)

Pertanyaan :
Yang terhormat Prof. Dr. Yusuf Al-Qardhawi.

Assalamu ’Alaikum Wr. Wb.
Kami orang-orang Syi’ah di Iran telah menganggap Anda sebagai seorang da’i yang pertama kali mendengungkan ajakan kepada persatuan umat dan pendekatan antara madzhab-madzhab dan golongan-golongan yang ada. Anda juga dianggap sebagai salah seorang da’i yang melawan para penyebar fitnah, para penyeru kepada perpecahan madzhab, golongan, ras dan lain-lainnya.
Saya merasa yakin jika Anda telah merasakan penghormatan yang agung dari para pemimpin di Republik Islam Iran. Dimulai dari Presiden Republik Islam Iran, Sayyid Muhammad Khatami yang telah menyambut Anda di kantornya. Seluruh media cetak, radio dan televisi telah menyiarkan kunjungan Anda dengan luar biasa. Semuanya menyiarkan tentang pentingnya kunjungan Anda ini.
Demikian juga Ayatulloh telah menyambut Anda di Teheran, di Qum, di Masyhad, di Asfahan dan di seluruh kota yang Anda kunjungi di Teheran.
Akan tetapi kami dikagetkan dengan fatwa Anda yang baru, yang berbeda dengan fatwa Anda sebelumnya (yang terdahulu). Di dalam fatwa terbaru Anda itu berisi tuduhan miring terhadap Syi’ah, terhadap ide pendekatan madzhab dan tuduhan terhadap muk-tamar pendekatan madzhab dan juga meragukan keputusan muktamar tersebut. Fatwa ini ditanggapi oleh orang-orang Iran secara khusus dan penganut Syi’ah secara umum. Fatwa Anda ini adalah kebalikan dari fatwa Anda sebelumnya, juga atas ide-ide Anda tentang persatuan dan pendekatan yang terdahulu yang telah diketahui oleh masyarakat luas.
Hal inilah yang menjadikan segelintir orang-orang Syi’ah di sini (Iran) dan di berbagai negara, akhirnya menghujat dan mengkritik Anda secara berlebihan, yang jauh dari sopan santun.
Surat saya ini ditujukan kepada Anda Syaikh Yusuf Al-Qardhawi sebagai tokoh persatuan Islam dan ulama besar umat Islam bagi seluruh golongan dan madzhab. Bukan sebagai figur yang dimiliki oleh sekelompok orang atau aliran tertentu saja. Saya berharap Anda bisa menjelaskan kepada kami dan seluruh orang yang mengajukan pertanyaan: Bagaimana sikap Anda yang sebenarnya di Muktamar Doha? Apakah sikap Anda ini telah berubah hanya untuk satu poin saja atau apa? Kami masih berbaik sangka kepada Anda.

Hormat saya,

Muhammad Ali
(Penanya dari Iran)

Jawaban:
Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, kepada keluarga beliau dan para sahabat juga orang-orang yang setia kepada beliau. Amma ba’du :
               Di sini saya ingin menjelaskan beberapa masalah yang menjelaskan sikap saya yang sebenarnya terhadap masalah pendekatan antar madzhab dan golongan di dalam Islam sebagai berikut :
  1. Sesungguhnya saya sangat mengharapkan persatuan ahlul qiblat yaitu seluruh kaum muslimin yang menjadi umat Islam. Sedangkan adanya (persatuan) umat Islam menurut saya ini adalah benar-benar nyata, bukan angan-angan kosong.[6] Sesungguhnya perpecahan umat menjadi banyak golongan dan madzhab yang bermacam-macam masih bisa disebut sebagai satu umat. Karena di antara mereka itu masih banyak persamaannya daripada perbedaannya. Rabbnya sama, nabinya sama, kitab sucinya sama, akidah Islamnya sama, masa depannya sama, musuhnya sama dan kepentingannya juga sama.
  2. Sesungguhnya saya melawan para penganjur perpecahan di antara umat Islam. Baik itu perpecahan golongan, madzhab, suku (ras) dan yang lainnya. Saya melihat bahwa orang-orang yang mengendalikan isu perpecahan adalah musuh-musuh Islam yang mempunyai semboyan ”Pecah belah dan taklukkan!” (divide et impera).
  3. Sesungguhnya sejak saya ikut serta di dalam Muktamar Pendekatan Madzhab, saya telah menemukan beberapa poin penting yang membuat pendekatan ini tidak akan terjadi jika poin-poin ini diabaikan atau tidak diberikan hak-haknya. Semua ini telah saya jelaskan dengan sejelas-jelasnya pada saat kunjungan saya ke Iran 10 tahun yang silam. Di sini saya hanya mengacu kepada 3 perkara:
    1. Kesepakatan untuk tidak mencaci para sahabat. Karena kita tidak bisa dipertemukan atau didekatkan jika masih seperti itu. Karena saya mengatakan: Semoga Allah meridhai mereka (para sahabat), sedangkan engkau (Syi’ah) berkata: Semoga Allah melaknat mereka. Sedangkan antara kata ridha dan laknat memiliki perbedaan yang sangat besar.
    2. Dilarang menyebarkan sebuah madzhab di sebuah daerah yang dikuasi oleh madzhab tertentu. Atau seperti yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dengan istilah pengsyi’ahan (ekspor madzhab Syi’ah ke negara lain). 
    3. Memperhatikan hak-hak minoritas, terutama jika monoritas tersebut adalah madzhab yang sah.

Saya telah menyampaikan sebuah makalah di Muktamar Pendekatan Madzhab di Kerajaan Bahrain yang saya terbitkan setelah itu berjudul, Mabaadi’ fi At-Taqriib bayna Al-Madzaahib Al-Islaamiyyah, ”Prinsip-prinsip di Dalam Dialog dan Pendekatan Antara Aliran dan Madzhab di Dalam Islam” yang berisi macam-macam teori saya agar usaha pendekatan ini berjalan di atas dasar yang kokoh dan tiang yang kuat.
Inilah sikap saya. Saya tidak akan menjadi penyeru kepada ‘peleburan prinsip’ atau menjadi orang-orang yang berhamburan kepada usaha pendekatan (pendekatan Sunni – Syi’ah) tanpa syarat dan ketentuan. Karena saya melihat bahwa muktamar ini hanya seremonial saja. Akan tetapi tidak memecahkan akar permasalahannya dan tidak ada ujung pangkalnya. Muktamar tersebut hanya sebatas basa basi dan tidak menghasilkan apa-apa setelahnya. Saya putuskan bahwa saya harus menjelaskan sesuatu yang ada di dalam diri saya kepada seluruh kaum muslimin. Saya tidak akan menyembunyikan sesuatu yang dianggap penting di dalam (menjaga) muamalah. Hal ini lah yang dituntut oleh sifat amanah dan tanggung jawab dan perjanjian yang telah diambil oleh Allah terhadap para ulama, ”Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” (QS Ali Imran [03]: 187).
Saya pun telah menjelaskan masalah ini dengan panjang lebar di depan para wartawan di Kairo sebagai bentuk jawaban atas pertanyaan yang kemudian saya jelaskan kembali di Muktamar Doha, Qatar.
Sebenarnya saya takut jika seluruh ucapan yang telah saya sampaikan di dalam Muktamar Doha, Qatar itu akan dirubah atau ditafsirkan tidak sesuai dengan yang saya maksud, walaupun ceramah saya itu direkam. Oleh karena itu, saya bermaksud mencatatnya tertulis dengan pena saya sendiri dan saya sendiri yang akan mendistribusikannya. Inilah penjelasan saya kepada umat, demi membela kebenaran dan untuk menghancurkan kebatilan.
Oleh karena itu, tidak pantas saudara-saudara saya dari kalangan para ulama Syi’ah dan seluruh murid-muridnya mengutuk saya atas penjelasan saya ini. Walaupun ada sebagian dari mereka yang menyebut saya dengan sebutan “Syaikh Tho’ifiy”, Syaikh Sektarian! Pada saat ini dan selamanya insya Allah, saya tidak akan menjadi ulama sekte tertentu! Yang saya inginkan adalah menjadi ulama milik umat seluruhnya dan khususnya bagi Islam. Saya melihat bahwa sikap fanatik yang dibenci adalah seseorang lebih mengedepankan (kepentingan) golongan di atas umat, atau mendahulukan kepentingan madzhab di atas Islam atau mengedepankan kitab-kitab madzhab di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Mereka sepertinya telah melupakan seluruh sikap saya yang selayaknya jangan dilupakan. Misalnya bantahan saya terhadap fatwa Syaikh Jibrin yang merupakan anggota dari Lembaga Ulama Senior di Kerajaan Saudi Arabia yang memfatwakan tidak boleh mendukung Hizbullah pada perang melawan Israel dan jangan bersikap pro kepadanya walaupun hanya dalam bentuk doa!
Pada saat itu, saya sedang berlibur di Kairo. Secara tiba-tiba, saya ingin membantah perkataan Syaikh Jibrin melalui siaran Al-Jazeera. Saya pun membantah seluruh perkataan Syaikh Jibrin dengan dalil-dalil syar’i dan dalil-dalil ilmiyah. Saya pun tergerak untuk menuliskannya menjadi sebuah buku dan kemudian mendistribusikannya. Seluruh tulisan saya ini dilampiri dengan seluruh fatwa-fatwa saya.
***
Di bawah ini, ringkasan dari seluruh kata sambutan saya dan kata penutupan saya di Muktamar Pendekatan antar Madzhab di Doha, Qatar. Ini dilakukan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata dan agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata.[7]:
Sebenarnya Ahlu Sunnah lah yaitu mayoritas kaum muslimin yang telah mengajukan ide pendekatan madzhab dan mereka telah menerimanya dengan lapang dada. Uniknya, bahwa hal ini diawali dari Kairo dan yang menjadi pelopornya adalah para sesepuh Al-Azhar, seperti Syaikh Abdul Majid Salim, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Muhammad Al-Madani, Syaikh Abdul Aziz Isa dan lain-lain. Pendapat mereka ini didukung oleh Imam Hasan Al-Bana.
Di kota Kairo, kota tempat Universitas Al-Azhar berdiri yang menjadi kiblat ilmu pengetahuan Islam, ternyata di sana telah didirikan sebuah Lembaga Pendekatan Madzhab. Lembaga atau Yayasan ini dipimpin oleh seorang ulama Ja’fari yang masyhur yaitu Syaikh Taqiyuddin Al-Qummi yang berafiliasi kepada Lembaga Ilmiyah di Qum. Lembaga ini menerbitkan majalah Ar-Risalah sebagai sarana bagi para ulama senior Ahlu Sunnah untuk menuangkan tulisannya. Di dalam majalah tersebut, Syaikh Syaltut telah menulis makalahnya di dalam masalah tafsir yang telah dikumpulkan sehingga menjadi 10 jilid pertama.
Kantor Pusat Ikhwan Al-Muslimin di Kairo pada zaman Hasan Al-Bana pernah menyambut kedatangan Syaikh Al-Qummi.
Demikian juga Kantor Pusat Ikhwan Al-Muslimin pada zaman Ustadz Hasan Al-Hudhaibi –pemimpin kedua- setelah beberapa tahun kemudian pernah juga menyambut kedatangan seorang ulama Syi’ah yang sudah dikenal luas. Akan tetapi dia bukan dari Lembaga Ilmiyah di Qum. Justru dia adalah dari kalangan para pejuang Syi’ah yaitu: Nuwab Shafawi (pemimpin Jemaat Fidayin Islam) yang menjadi oposisi kekuasaan Syah Iran dan Syah pun benci kepadanya.
Pada tahun 60-an yang lampau, Syaikh Mahmud Syaltut sebagai Grand Syaikh Al-Azhar telah mengeluarkan sebuah fatwa yang membolehkan beribadah dengan memakai madzhab Ja’fari. Dengan alasan di dalam pembahasan fikihnya lebih mendekati kepada Madzhab Ahlu Sunnah, kecuali ada perbedaan sedikit saja yang tidak menjadi alasan untuk melarang beribadah dengan memakai madzhab Ja’fari secara keseluruhan, seperti dalam hal shalat, puasa, zakat, haji dan muamalah. Akan tetapi fatwa ini tidak dibukukan dalam Himpunan Fatwa Syaltut.
Fatwa Syaikh Syaltut ini sebagaimana yang disebutkan tidak merambah ke permasalahan akidah dan ushuluddin (pokok-pokok agama Islam) yang di dalamnya mengandung perbedaan yang sangat jelas antara Ahlu Sunnah dengan Syi’ah. Contohnya dalam hal imamah, 12 imam Syi’ah, kemaksuman mereka, pengetahuan mereka terhadap hal gaib dan kedudukan mereka yang tidak ada yang bisa mencapainya walaupun oleh malaikat yang sangat dekat (dengan Allah SWT) dan tidak juga oleh nabi yang diutus. Mereka beranggapan bahwa masalah ini adalah masalah penting yang termasuk masalah ushuluddin. Tidak sah iman dan Islam seseorang kecuali dengan mengimani masalah ini. Orang yang menolaknya dianggap kafir, akan kekal di neraka. Juga contoh lainnya yaitu akidah orang-orang Syi’ah terhadap para sahabat dan hal-hal lainnya yang mereka anggap sebagai pokok-pokok agama mereka.
Di samping itu, kami belum pernah menemukan ada orang Syi’ah yang membalas kebaikan dengan kebaikan atau ada yang menjawab salam dengan jawaban yang lebih baik atau dengan salam serupa. Sebaliknya, tidak ada dari para ulama senior Syi’ah yang selevel dengan Syaikh Syaltut di kalangan Ahlu Sunnah, baik yang berada di Qum maupun di Najaf yang mengeluarkan fatwa bagi para pengikutnya bahwa boleh beribadah dengan menggunakan madzhab Ahlu Sunnah, meskipun mereka itu (Ahlus Sunnah) tidak perlu hal ini. Justru kami melihat sebaliknya.

Antara Mayoritas dan Minoritas      
               Sepanjang sejarah mereka, Syi’ah itu hanya sebagai minoritas yang hidup di tengah-tengah mayoritas Ahlu Sunnah. Mereka hidup dengan aman, damai, bisa merekrut anggota, mencetak buku-buku, berdakwah membela madzhab mereka dan menyebarkannya di tengah-tengah mayoritas Ahlu Sunnah. Tidak ada seorang pun yang menyakiti mereka atau ingin melenyapkan etnis mereka, walaupun di dalam buku-buku mereka tercantum ajaran jahat mereka yang menyakitkan Ahlu Sunnah sampai mereka mengkafirkan Ahlu Sunnah dan menganggap Ahlu Sunnah telah murtad dari Islam, sampai imam-imam Ahlu Sunnah yang empat pun tidak luput dari cercaan mereka!
               Seperti itu lah kondisi mereka hidup di zaman Daulah Abbasiyah, pada era pertama dan era keduanya. Juga seperti itu pula mereka hidup di zaman Utsmaniyah, hanya saja di antara mereka dengan Bani Shafawiyyin terdapat perseteruan. 
Bahkan seperti itu pula mereka hidup pada zaman kita sekarang ini di bawah bendera Wahabiyah yang sudah jelas sikapnya terhadap Syi’ah. Demikian pula orang-orang Syi’ah di wilayah timur Kerajaan Saudi Arabia, mereka bisa melaksanakan ritual keagamaan dan dakwah mereka. Tidak ada terbersit sedikit pun negara Wahabi ini untuk memusnahkan mereka atau memotong kuku mereka!
               Seperti itu pula mereka hidup di Teluk Arab secara umum, walaupun seluruh penguasa di Teluk adalah Ahlu Sunnah. Akan tetapi mereka bisa mengumpulkan kekayaan, mendapatkan tempat di masyarakat, dan bisa ikut berpartisipasi di bidang politik. Di antara mereka ada yang menjadi anggota dewan, menteri, duta besar, direktur perusahaan, rektor di universitas, dekan fakultas dan menjadi tokoh masyarakat.
               Dari dahulu kala, Ahlu Sunnah, walaupun mereka merupakan mayoritas umat Islam, mereka tidak pernah mencoba untuk menumpas Syi’ah atau mempersempit ruang gerak mereka, baik di dalam syiar keagamaan maupun literatur/buku-buku mereka. Walaupun syiar-syiar agama mereka bertabrakan dengan syiar Ahlu Sunnah. Misalnya ucapan mereka di dalam adzan mereka: ”Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah!” Sedangkan Ahlu Sunnah tidak mengenal syahadat kecuali syahadatain.[8]
               Apabila seperti ini sikap mayoritas Ahlu Sunnah, baik dahulu maupun sekarang, mengapa kita melihat ada minoritas Syi’ah yang mengancam keselamatan Sunni, melecehkan dan memprovokasi secara terang-terangan dan dengan cara yang bisa membuat marah orang yang lembut dan bijak sekalipun? Andai saja seluruh cita-cita mereka tercapai dan bisa meluapkan amarah mereka dan melakukan revolusi, tentu akan menjadi sebuah petaka yang sangat besar dan keburukan yang akan terus menerus berlangsung.

Apakah Ada Perbedaan Prinsip Sehingga Kita Perlu Pendekatan Madzhab?

Makna taqrib (pendekatan) adalah jika di sana ada sebuah perbedaan di antara kedua belah pihak dan kita ingin mendekatkan salah satu dari keduanya atau masing-masing pihak mendekatkan diri kepada temannya.
Apakah di antara golongan atau sekte yang bermacam-macam ini ada perbedaan mendasar sehingga kita harus mengadakan dakwah untuk mendekatkan di antara mereka? Khususnya di antara dua kelompok besar yaitu Sunni dan Syi’ah?
Yang benar bahwa perbedaan itu memang ada, baik dalam tataran pemikiran, praktik, maupun perpolitikan.
Contoh perbedaan di dalam masalah akidah, yaitu khususnya di dalam masalah imamah. Karena mereka (orang-orang Syi’ah) berkeyakinan bahwa imamah adalah pokok akidah mereka dan termasuk ke dalam rukun akidah mereka. Sedangkan kita (Ahlu Sunnah) menganggapnya hanya sebagai furu’ (cabang) saja dan bukan ushul; atau termasuk amaliyah dan bukan sebagai akidah. Akan tetapi imamah di dalam ajaran Syi’ah merupakan pokok ajaran mereka. Karena pokok ajaran mereka bersandar kepada: Al-Washiyah (wasiat politik kepada Ali), Al-Imamah (kepemimpinan Ali dan keturunannya), Al-Ghaibah (masa menghilangnya imam ke-12) dan Ar-Roj’ah (kembalinya Al-Mahdi ke dunia sebelum kiamat untuk menumpas musuh-musuh imam Ahlul Bait).
Ajaran Syi’ah menyebutkan masalah imamah dengan sangat tegas. Mereka mengatakan barangsiapa yang tidak beriman kepada imamah ini, maka tidak dianggap sebagai orang yang beriman. Mereka juga mengatakan bahwa imamah ini berasal dari Rasulullah SAW, yang dimulai dari Ali RA kemudian dikuti oleh sebelas imam setelah Ali RA.

Dalil Imamah Syi’ah
               Di dalam kitab Ushul Al-Kafi dari Abi Ja’far (Al-Baqir) bahwasanya dia telah berkata, “Islam itu dibangun di atas 5 dasar: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (kekuasaan). Tidak ada rukun yang lebih ditekankan kecuali rukun al-wilayah ini. Akan tetapi manusia hanya mengambil empat perkara dan mereka meninggalkan rukun ini, yaitu al-wilayah.” (Ushul Al-Kafi jilid 2 hal. 18).
Dari Zurarah dari Abu Ja’far dia berkata, ”Islam itu dibangun di atas lima perkara: Shalat, zakat, haji, puasa dan al-wilayah.” Zurarah berkata: Aku bertanya kepadanya: ”Manakah di antara semua itu yang paling utama?” Abu Ja’far menjawab, ”Al-wilayah lebih utama, karena al-wilayah adalah kunci dari semua rukun itu.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 18).
Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Ash-Shadiq (AS) bahwasanya beliau bersabda, ”Dasar Islam itu ada tiga: Shalat, zakat dan al-wilayah. Tidak sah salah satu dari ketiga rukun ini kecuali dengan menyertakan dua rukun lainnya.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 18).
Di dalam masalah al-wilayah tidak ada rukhshah (keringanan). Dari Abu Abdullah dia berkata, ”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan lima perkara kepada umat Nabi Muhammad SAW: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (pemerintahan) kami. Allah telah memberikan keringanan di dalam rukun yang empat. Akan tetapi Allah tidak memberikan keringanan kepada seorang muslim pun di dalam hal meninggalkan wilayah (pemerintahan) kami. Tidak, demi Allah. Sesungguhnya tidak ada keringanan di dalam masalah al-wilayah.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, ”Islam dibangun atas: Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan ramadhan, melaksanakan ibadah haji ke baitullah dan wilayah (pemerintahan) Ali bin Abi Thalib.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 21).
Bahkan pada kenyataannya mereka (orang-orang Syi’ah) tidak hanya berpegang kepada masalah al-wilayah (pemerintahan Ali) saja. Justru mereka melampauinya sampai ke taraf uluhiyah (ketuhanan). Akhirnya mereka menganggap Ahlu Sunnah bukanlah orang-orang yang beriman kepada Tuhan yang diimani oleh Syi’ah. Inilah salah satu titik perbedaan yang paling mendasar. Perbedaan lainnya, karena sudah diketahui bahwa Syi’ah itu mengadopsi madzhab Mu’tazilah di dalam masalah ilahiyyat (teologi). Orang-orang Mu’tazilah adalah kelompok yang telah menghilangkan sifat-sifat yang wajib disematkan kepada Allah, seperti sifat: ilmu (mengetahui), iradah (berkehendak), qudrah (berkuasa) dan sifat-sifat yang lainnya. Orang-orang Mu’tazilah berkata, ”Allah itu Dzat-Nya adalah Maha Tahu, akan tetapi Allah SWT tidak mempunyai sifat yang namanya ilmu. Allah SWT itu Dzat-Nya adalah Maha Kuasa, akan tetapi Dia tidak mempunyai sifat yang namanya qudrah (berkuasa), dan lain-lainnya.
Telah terjadi pertentangan yang sengit di antara Mu’tazilah dengan Ahlu Sunnah di dalam permasalahan ini. Ahlu Sunnah menamai Mu’tazilah dengan sebutan Al-Mu’aththilah, yaitu orang-orang yang telah menafikan sifat-sifat Allah SWT. Sedangkan Mu’tazilah telah menuduh Ahlu Sunnah yang berwujud dalam madzhab Asya’irah dan Maturidiyyah di zaman mereka bahwa mereka (Ahlu Sunnah) itu adalah orang-orang yang telah menetapkan adanya berbagai hal yang qadim bersama Dzat Allah SWT!  
Semua Ahlu Sunnah telah menganggap Mu’tazilah sebagai kelompok yang telah mengada-ada di dalam agama Islam (bid’ah) di dalam masalah akidah. Sedangkan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan adalah di neraka. Di antara sesuatu yang telah disepakati adalah: Bid’ah ucapan lebih berat (dosanya) daripada bid’ah perbuatan. Bid’ah akidah lebih berat daripada bid’ah perbuatan. Sedangkan pelaku bid’ah dianggap sebagai orang fasiq. Fasiqnya hanya sebatas fasiq takwil, bukan dianggap sebagai fasiq tingkah laku dan perbuatan.
Hal ini bermakna bahwa Syi’ah di dalam pandangan Ahlu Sunnah adalah sebagai para pelaku bid’ah di dalam masalah akidah. Akan tetapi pandangan umum Ahlu Sunnah adalah bahwa Ahlu Sunnah tidak mengafirkan para pelaku bid’ah di dalam masalah akidah. Ahlu Sunnah tidak mengafirkan Mu’tazilah, Murji`ah dan tidak juga Jabariyah. Bahkan Ahlu Sunnah tidak mengafirkan Khawarij. Padahal ada sebuah hadits yang shahih bahwasanya Khawarij adalah orang-orang yang keluar dari agama Islam seperti anak panah yang lepas (melesat) dari busurnya. Akan tetapi Ahlu Sunnah tetap menganggap mereka masih berada di dalam Islam selama mereka masih mengatakan tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah dan mereka masih melaksanakan shalat ke arah kiblat.
Akan tetapi ada di antara para ulama Ahlu Sunnah yang memaafkan para mujtahid jika mereka salah. Baik salah dalam masalah ushuluddin maupun di dalam masalah furu (cabang), di dalam masalah akidah  maupun di dalam masalah perbuatan selama mereka masih layak berijtihad dan selama ia masih mengerahkan seluruh kemampuannya di dalam mencari kebenaran, namun dia belum mendapatkan bimbingan ke arah itu. Inilah kemampuannya dan Allah SWT tidak pernah membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Justru menurut pandangan Ahlu Sunnah bahwa seorang mujtahid akan mendapatkan satu pahala atas usahanya. Sedangkan Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan pahala bagi siapa saja yang telah beramal saleh. Inilah pendapat Ibnu Taimiyyah dan para ulama yang sepakat dengan beliau.
Akan tetapi Syi’ah -terutama dari kalangan ekstrimnya-  mereka itu tidak saja membid’ahkan Ahlu Sunnah atau menganggap fasik Ahlu Sunnah, akan tetapi mereka jelas-jelas mengkafirkan Ahlu Sunnah dan menganggap Ahlu Sunnah telah murtad dari Islam!
Ni’matullah Al-Jazairi (wafat 1212 H) di dalam kitab Al-Anwar An-Nu’maniyyah menulis tentang Ahlu Sunnah wal Jama’ah, ”Sesungguhnya kami tidak bisa bertemu dengan mereka (Ahlu Sunnah) di dalam satu tuhan dan tidak dalam satu nabi dan satu imam. Hal ini dikarenakan mereka (Ahlu Sunnah) berkata, ”Sesungguhnya Rabb mereka adalah yang Muhammad sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya. Akan tetapi kami tidak mengatakan dengan tuhan ini dan tidak juga dengan nabi itu. Akan tetapi kami mengatakan, ”Sesungguhnya tuhan yang khalifahnya (yang benar: Khalifah nabinya) adalah Abu Bakar adalah bukan tuhan kami dan nabi itu juga bukan nabi kami.” (Al-Anwar An-Nu’maniyah jilid 2 hal. 279, cetakan Yayasan Al-A’lami Beirut Libanon).
Apabila mayoritas Ahlu Sunnah di dalam akidah memakai mazhab Asya’irah sebagaimana maklum, dengan mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari (w. 324 H) yang sangat terkenal, maka sesungguhnya madzhab Asya’irah di dalam pandangan orang-orang Syi’ah sebagaimana yang digambarkan oleh Syaikh Al-Jazairi bahwa Asy’ari tidak mengenal tuhan secara benar. Karena dia dan para pengikutnya mengenal tuhan dengan cara yang salah. Oleh karena itu, tidak ada perbedaannya antara pemahaman mereka (Asy’ariyyah) dengan pemahaman orang-orang kafir.  Karena Asy’ari dan para pengikutnya figur paling buruk dalam masalah mengenal Sang Pencipta, dibandingkan dengan orang-orang musyrik dan nashara. Kami (orang-orang Syi’ah) telah benar-benar jauh dan berpisah dari mereka (pengikut Asy’ari) di dalam masalah rububiyyah. Karena tuhan kami (Syi’ah) adalah Dzat yang mempunyai sifat azali sedangkan rabb mereka (Ahlu Sunnah) adalah rabb yang sifat azali-Nya ada delapan buah!
Yang dimaksud oleh orang-orang Syi’ah dengan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Asya’irah dan Maturidiyyah adalah sebagai berikut : al-ilmu, al-iradah, al-qudrah, al-hayat, as-sam’u, al-bashar, al-kalam. Kemudian ditambah oleh Al-Maturidiyah satu sifat yaitu sifat at-takwin (membentuk dan mencipta).
Adapun bantahan Al-Jazairi di sini adalah sebagaimana yang telah dijawab oleh Mu’tazilah dahulu. Orang-orang Mu’tazilah mengatakan: Sesungguhnya orang-orang Nashara telah kafir karena mereka telah menetapkan tiga keazalian. Bagaimana halnya dengan orang yang telah menetapkan ada delapan keazalian? Akan tetapi pemaparan dan bantahan atas perkataan ini tidak bisa dijelaskan di sini karena masuk ke dalam pembahasan ilmu kalam.

Pendekatan Antar Madzhab atau Antar Golongan?
Di antara siapa kah pendekatan yang diharapkan itu akan terjadi?
Seluruh peserta muktamar taqrib madzhab dan putusannya mengatakan bahwa pendekatan itu (terjadi) antar madzhab di dalam Islam.
Menurut saya bahwa maksud dari ungkapan ini tidak pas. Karena kalimat madzhab telah menjadi istilah yang mapan bagi madzhab fikih Sunni yang empat yang sudah dikenal, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. Kemudian ditambah dengan madzhab Zhahiriyah juga Zaidiyyah, Ja’fariyyah dan Ibadhiyyah.
               Adapun perbedaan di antara madzhab-madzhab ini hanya berkisar di dalam masalah furu’ dan amaliah yang tidak sampai menyentuh permasalahan akidah, pokok-pokok keimanan dan ushuluddin (pokok-pokok agama).
               Tidak ada seorang pun dari ulama umat ini yang membuat keributan hanya gara-gara perbedaan fikih furu’. Karena para sahabat saja di antara mereka pernah terjadi perbedaan, demikian juga di kalangan para tabiin. Demikian juga para imam yang menjadi rujukan pun berbeda pendapat di antara mereka. Akan tetapi setiap dari mereka tidak menyalahkan yang lainnya. Yang berbeda itu hanya pendapat mereka saja, akan tetapi hati mereka menyatu. Para imam (imam madzhab) saling bertukaran mengimami shalat. Sehingga di antara mereka itu ada yang berkata, ”Pendapat saya ini benar, tapi bisa saja salah dan pendapat yang lain salah, tapi bisa saja benar.” Bahkan ada kelompok ulama yang membenarkan pendapat seluruh para mujtahid di dalam masalah furu’. Mereka berpendapat bahwa bisa saja pendapat yang benar itu ada beberapa macam. Mereka ini yang di dalam ilmu ushul fikih disebut dengan kelompok ”Al-Mushowwibah”.
               Saya sendiri pernah shalat dan di belakang saya shalat beberapa orang ulama Syi’ah. Hal ini terjadi pada saat saya berkunjung ke Iran pada tahun 1998. Demikian juga saya  pernah shalat di belakang mereka (orang-orang Syi’ah) di masjid mereka di Madrasah Imam Khumaini di Qum pada saat shalat berjamaah.
               Maka perbedaan dalam masalah furu, fikih atau ibadah adalah bukan faktor yang berpengaruh di dalam hubungan antara Sunni dan Syi’ah. Sangat penting digarisbawahi bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah adalah perbedaan di dalam masalah akidah seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya di dalam masalah pendekatan madzhab. Perbedaan dalam akidah  inilah yang telah menjadi penyebab tumbuhnya berbagai macam golongan, seperti Mu’tazilah, Jabariyyah, Murji`ah, Syi’ah, Khawarij, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Salafiyyah dan lain-lainnya.
               Oleh karena itu, jika memungkinkan, aktifitas itu lebih tepat disebut sebagai pendekatan antar golongan/firqah (akidah) dan bukan pendekatan antar madzhab (fikih). Karena fikih tidak memerlukan pendekatan. Pun jika kita permudah istilah dengan menyatakan madzhab-madzhab, maka yang kita maksudkan disini adalah madzhab-madzhab akidah dan bukan mazhab-mazhab fikih.
               Apabila dasar penamaan firqah/golongan adalah berdasarkan hadits masyhur yang menyatakan tentang perpecahan umat Islam menjadi tujuh puluh tiga golongan yang kesemuanya masuk neraka kecuali hanya satu golongan saja, maka menurut saya hadits tersebut tidak kuat, baik dalam sanad (rangkaian periwayat hadits) maupun matannya (isi hadits). Saya telah menjelaskan hal ini di dalam buku saya yang berjudul, ”Kebangkitan Islam di Antara Perbedaan yang Dibolehkan dan Perpecahan yang Terlarang.” Saya telah menjelaskan seluruh pendapat para ulama terhadap para perawi hadits tersebut. Sebagian ulama tidak menerima hadits tersebut. Di antara mereka itu ada Ibnu Hazm, Ibnu Az-Zubair, Ibnu Al-Wazir, Asy-Syaukani dan ulama-ulama lainnya.
               Imam Ibnu Hazm telah berkata, ”Sesungguhnya kata-kata tambahan ’semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan’ adalah palsu.” Imam Ibnu Al-Wazir berkata, ”Hati-hati dengan kata-kata tambahan ’semuanya di neraka kecuali hanya satu golongan’ karena kata-kata tersebut disusupkan oleh orang-orang mulhid.” [9]
               Akan tetapi hadits tersebut sudah menyebar dan dijadikan sebagai dasar di dalam buku-buku firqah dan kitab “Al-Farqu bayna Al-Firaq” (Perbedaan di antara Firqah-firqah). Di antara mata pelajaran yang pernah kami pelajari di fakultas Ushuluddin adalah buku yang berjudul, ”Sejarah Sekte-sekte dalam Islam”. Ada banyak orang yang ingin mencoba menghitung golongan yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan ini sampai bersusah payah.
               Yang penting dicatat, bahwa hadits tersebut secara jelas menyandarkan seluruh golongan itu –sampai yang menyimpang sekalipun- kepada umat Islam ini, dengan sabda nabi ”umatku ini akan terpecah...” Oleh karena itu, tidak diperbolehkan untuk mencap kafir golongan-golongan yang ada ini, kecuali dengan dalil-dalil syar’i yang qath’i.
               Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa konsentrasi (seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang aktif dalam pendekatan itu) untuk mengajarkan fikih perbandingan di beberapa universitas Islam bukankah sebuah cara untuk menyelesaikan problem perpecahan atau perbedaan sekte, dan bukan pula mata kuliah tersebut yang bisa mendorong kepada pendekatan yang hakiki baik dalam bentuk dekoratif atau hanya sebatas ucapan saja. Justru hal ini sangat jauh dari yang diharapkan sebagaimana yang akan kita lihat nanti.

Makna Pendekatan yang Kami Inginkan         
Apa yang dimaksud dengan kalimat ’pendekatan’ ketika kita mengucapkannya?
Apakah yang dimaksud dengan kalimat tersebut yaitu setiap jemaah wajib menanggalkan seluruh keyakinannya yang paling pokok dan bersikap mengalah untuk mendapatkan simpati dari golongan yang berbeda dengannya?
               Atau dengan ungkapan lainnya yaitu orang Syi’ah bersikap mengalah dari ajaran, dan akidah Syi’ahnya demi menjaga perasaan Ahlu Sunnah?! Atau seorang Sunni bersikap mengalah dari keyakinannya, pemikiran dan pokok-pokok akidahnya agar orang-orang Syi’ah mau mendekatinya dan mau duduk di sampingnya?!
               Saya yakin bahwa hal ini belum pernah terbetik di dalam pikiran salah seorang dari dua golongan tersebut, baik Sunni maupun Syi’ah. Karena masing-masing dari keduanya (Sunni dan Syi’ah) tidak akan bersikap mengalah dari akidah mereka demi tujuan apa pun. Karena yang namanya akidah sebuah agama bisa membuat seseorang rela berkorban di jalannya, baik dengan jiwanya, hartanya, keluarganya, negaranya dan apa saja yang dia sayangi.
               Pendekatan yang diharapkan adalah pendekatan di antara para penganut keya-kinan, madzhab atau golongan antara satu dengan yang lainnya dengan menanamkan sikap toleransi di antara mereka dan memperbanyak titik persamaan di antara mereka jika memungkinkan. Di dalam buku Kebangkitan Islam di Antara Perbedaan yang Dibolehkan dan Perpecahan yang Terlarang, saya telah menyusun beberapa kaidah-kaidah pendekatan di antara orang-orang yang berbeda faham. Sama dengan yang telah saya susun di dalam buku yang lain berjudul,  Prinsip-prinsip di Dalam Dialog dan Pendekatan Antara Aliran dan Madzhab di Dalam Islam, ada sepuluh prinsip atau kaidah yang bisa jadi acuan untuk mendekatkan dan mendamaikan di antara golongan.
               Di antara yang telah saya katakan di pembukaan buku ini bahwa yang dimaksud dengan pendekatan itu bukan sikap mengalah seorang Sunni dari faham Sunninya yang kemudian dia masuk ke dalam madzhab Syi’ah dan bukan pula seorang penganut Syi’ah bersikap mengalah dari faham Syi’ahnya dan kemudian dia masuk ke dalam faham Sunni. Karena bukan hal yang mudah bagi seorang penganut madzhab untuk melepaskan madzhabnya hanya karena makalah yang dia baca, khutbah yang didengarnya, hasil penelitian atau seminar yang dia hadiri. Hal ini dikarenakan madzhab telah ada sejak dahulu kala, seorang anak mewarisinya dari orang tua mereka, cucu mewarisinya dari kakeknya, generasi sekarang mewarisinya dari generasi sebelumnya, anak kecil tumbuh dewasa dengan madzhab tersebut dan orang dewasa memegang madzhab tersebut sampai dia tua. 
               Sesungguhnya yang diharapkan dari adanya dialog dan pendekatan di sini adalah membersihkan udara dari hal-hal yang mengotorinya yang bisa menyebabkan perpecahan, buruk sangka dan hilangnya kepercayaan di antara kedua golongan yang bisa menimbulkan kehancuran umat -jika terus-menerus terjadi- sebagaimana yang tercantum di dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Kehancuran zatul bain itu adalah alat cukur. Bukan untuk mencukur rambut, akan tetapi untuk mencukur agama.” (HR Ahmad di dalam Al-Musnad, hadits no. 1412).
               Saya sendiri tidak bisa menilai, baik Sunni maupun Syi’ah ada yang suka mencukur agamanya sebagaimana pisau cukur mencukur rambut. Justru masing-masing dari kedunya itu ingin agar agamanya tetap terjaga.[10]

Pendekatan yang Diharapkan: Bukan yang Berdasar kepada Ajaran Taqiyyah
               Sesungguhnya pendekatan yang diharapkan adalah bukan yang berdiri di atas dasar Taqiyyah seperti yang ditetapkan oleh saudara-saudara kita dari kalangan Syi’ah. Karena jika dasar Taqiyyah ini dijadikan sebagai dasar di dalam bermuamalah di antara para dai (muballigh dll), tidak akan menciptakan kepercayaan dan ketenangan di antara sesama mereka. Terutama untuk Ahlu Sunnah. Karena sangat mungkin apa yang kebetulan saya alami adalah karena Taqiyyah! Sebab Taqiyyah –dalam pandangan Syi’ah- membolehkan seseorang untuk menampakkan sesuatu yang berbeda dari yang disembunyikannya, atau engkau menampakkan sesuatu tetapi engkau tidak beriman sama sekali terhadap hal yang engkau tampakkan tersebut.
               Dasar adanya taqiyyah adalah diambil dari Al-Qur`an Al-Karim dari firman Allah SWT, ”Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali,” (QS Ali Imran [03]: 28). Akan tetapi, Al-Qur`an menyebutkan Taqiyyah dalam konteks menghadapi orang-orang kafir dan bukan terhadap sesama kaum muslimin! (kecuali jika benar Syi’ah telah menganggap Ahlu Sunnah sebagai bukan muslim, alias kafir)
               Allah SWT telah menjadikan Taqiyyah ini sebagai keringanan dengan alasan darurat, “kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka.” Sesuatu yang dibolehkan karena faktor darurat dan atas dasar pengecualian, maka hukumnya tidak boleh dijadikan sebagai dasar atau kaidah yang baku dan tetap untuk sebuah hukum syara’, pendidikan atau tingkah laku. Sebagaimana yang tercantum di dalam firman Allah SWT, “kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa),” (QS An-Nahl [16]: 106). 

Pendekatan yang Diharapkan: Pendekatan yang Menjauhi Klaim Takfir
Oleh karena itu, kita tidak boleh menyeru kepada pendekatan atau penggabungan -apalagi persatuan- sementara sebagian kita masih ada yang mengkafirkan golongan lain dan kitab-kitabnya mencantumkan hal itu dengan sangat jelas. Bagaimana mungkin saya akan meletakkan tangan saya di atas tanganmu dan saya menganggap kamu sebagai saudara saya dan engkau pun menganggap saya sebagai saudaramu, padahal di dalam keyakinan hatimu engkau yakin bahwa antara saya dengan kamu itu tidak ada hubungan apa-apa dan faktor yang menyatukan kita pun hanya khayalan. Adapun faktor yang berbeda di antara kita sangatlah banyak dan besar sekali. Sesungguhnya orang musyrik, Yahudi dan Nashrani lebih dekat hubungan mereka denganmu daripada dengan saya?!
Sesungguhnya faham mengkafirkan orang lain adalah faham yang sangat berbahaya dan jauh panggang dari pendekatan. Sesungguhnya orang yang mengkafirkan seseorang itu menjadikan dirinya keluar dari Islam dan tercabut dari umat. Bagaimana mungkin dia (orang yang dikafirkan) akan mendekatinya?
Faham mengafirkan orang lain sudah ada di kedua belah pihak (Sunni dan Syi’ah) dan bukan hanya ada di Ahlu Sunnah saja sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang Syi’ah. Justru orang-orang Syi’ah sangat keterlaluan dalam hal mengafirkan golongan lain melebihi Ahlu Sunnah. Kami telah menyebutkan contohnya sebelum ini. Ada juga contoh-contoh yang lebih buruk lagi, terutama yang berkaitan dengan penolakan imamah dan kemaksuman imam.
Sungguh menarik, orang yang tidak pernah sama sekali mengkafirkan golongan lain adalah Ali bin Abi Thalib RA. Beliau tidak pernah mengkafirkan orang-orang yang ikut peristiwa Jamal (Perang Unta), dan juga beliau tidak mengkafirkan orang-orang yang ikut perang Shiffin yang mana mereka itu memerangi Ali dan membencinya. Bahkan beliau juga tidak mengkafirkan Khawarij yang telah mengkafirkan dirinya dan oleh sebab itu mereka membunuh Ali sebagai syahid. Ali pernah ditanya tentang Khawarij, “Apakah mereka itu orang-orang kafir?” Ali menjawab, “Mereka lari dari kekufuran”. Beliau ditanya lagi, “Apakah mereka masuk ke dalam orang-orang munafiq?” Ali menjawab, “Orang-orang munafiq itu tidak pernah mengingat Allah SWT kecuali hanya sedikit”. Ali ditanya, “Lantas siapakah mereka itu?” Ali menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kita kemarin yang telah berbuat berlebihan hari ini terhadap kami”. Ali tidak lebih hanya mengatakan bahwa para penentangnya melakukan bughat. Alangkah jelas, jujur dan adilnya Ali bin Abi Thalib. Harus seperti ini lah sikap seorang mukmin apabila dia marah, yaitu kemarahannya tidak membuat dirinya keluar dari kebenaran dan apabila rela, kerelaannya tidak memasukkan dirinya ke dalam kebatilan!

Pendekatan yang Diharapkan: Pendekatan yang Mengacu kepada Faham Moderat
               Semestinya kita mengambil slogan para pengusung faham moderat dari kedua belah pihak. Seperti faham yang dicetuskan ulama rujukan Syi’ah yang masyhur yaitu Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah di kitab tafsirnya dan di beberapa bukunya yang lain dimana beliau membantah riwayat-riwayat dusta tentang para sahabat, juga di dalam tafsir Al-Qur`an, yang ia bantah dengan ilmu manthiq ilmiyah dan tegas yang bersumber kepada sumber yang benar dan akal yang jelas.
               Kami sangat prihatin ketika kami menemukan ada sebagian orang-orang Syi’ah yang secara khusus membantahnya dan menjelekkan pendapat-pendapatnya dan mereka menuduhnya dengan tuduhan yang tidak pantas, sampai ada sebuah situs di internet  yaitu www.dholal.net memberikan komentar atas makalah-makalahnya juga pendapat-pendapat Syaikh Fadhlullah penuh dengan penistaan, bantahan dan penolakan.
               Contoh riwayat dusta yang dibantah oleh Syaikh Fadhlullah adalah bahwa Fathimah Az-Zahra RA meninggal dunia sebagai syahid karena dibunuh. Adapun yang membunuhnya adalah Umar bin Khaththab. Umar telah menyeretnya ke pintu rumah (pintu rumah Fathimah) sehingga punggung Fathimah tertusuk paku. Maka Umar lah yang menjadi penyebab kematian Fathimah. Pintu yang manakah yang terdapat pakunya? Apakah pintu di zaman mereka (Umar dan para sahabat yang lainnya) seperti ini (dipaku)? Yang benar bahwa pintu zaman para sahabat adalah hanya sebatas pembatas kain yang dijulurkan. Lantas, bagaimana mungkin suaminya Fathimah yaitu Ali hanya diam saja atas targedi pembunuhan ini? Padahal beliau adalah sosok penunggang kuda yang pemberani dan pedang Islam yang sangat tajam. Bahkan, bagaimana mungkin setelah itu Umar menjadi menantu Ali? Karena Ali menikahkan putrinya yang bernama Ummu Kultsum kepada Umar yang dia (Ummu Kultsum) itu adalah putri Fathimah juga!
               Saya sangat gembira pada saat ini, sebab saya bisa menuliskan kata-kata mutiara yang telah diucapkan oleh tokoh Syi’ah yaitu Ustadz Kamil Muruwwah, pendiri surat kabar Al-Hayat di Libanon. Beliau pernah berkunjung ke tempat kami di Qatar di awal-awal tahun tujuh puluhan yang lalu. Beliau bertemu dengan saya dan beberapa ulama dan da’i di Qatar. Kami membicarakan masalah perbedaan di antara Sunni dan Syi’ah dan kemungkinan adanya pendekatan di antara dua golongan: Apakah pendekatan ini bisa terjadi ataukah sesuatu yang mustahil terjadi? Juga tentang pengalamannya di bidang jurnalistik, politik, dan berbaurnya kedua golongan ini?
               Ternyata jawaban orang Syi’ah ini penuh dengan kata-kata bijak. Dia berkata, Kita adalah umat yang bersatu pada zaman Rasulullah SAW. Tidak ada Sunni dan tidak ada juga Syi’ah atau yang lainnya sampai Allah SWT menurunkan firman-Nya, ”Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu,” (QS Al-Maidah [05]: 3). Kemudian terjadilah perbedaan pendapat setelah turun ayat ini. Maksudnya setelah agama ini sempurna, dan nikmat Allah SWT telah sempurna diberikan kepada umat Islam, barulah terjadi perbedaan pendapat.”
               Kami berbeda pendapat setelah itu. Yaitu kami berbeda pendapat di dalam masalah sejarah; siapa yang lebih berhak dari siapa? (siapa yang lebih berhak atas kekhalifahan, Ali atau Abu Bakar, pent), dan lain-lainnya. Semua ini adalah masalah sejarah masa lalu yang kemudian membuat kita berbeda pendapat dan membuat kita bercerai-berai. Hanya Al-Qur`an dan ajaran Islam yang agung lah yang menyatukan kita yang kita yakini bahwa Allah SWT telah menyempurnakannya untuk kita. Allah SWT menyempurnakan nikmat-Nya dan meridhai Islam sebagai agama untuk kita.”
               Inilah ucapan ulama Syi’ah tersebut. Ucapannya sungguh benar! Karena seluruh perbedaan pendapat di antara kita terjadi setelah agama Islam ini sempurna dan Al-Qur`an tidak turun lagi. Perbedaan ini hanya berkisar di dalam masalah sejarah yang kita sendiri tidak menyaksikannya dan tidak ikut serta di dalamnya. Cukup lah bagi kami firman Allah SWT, ”Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan,” (QS Al-Baqarah [02]: 134).

Agar Usaha Pendekatan Ini Berbuah Manis
               Di sini saya ingin menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwa taqrib (usaha pendekatan) ini -agar membuahkan hasil- yaitu harus dilakukan dengan keterusterangan dan terbuka, huruf-hurufnya diberi harakat, tangan diletakkan (diusapkan) ke atas luka yang masih berdarah, membuka kebenaran yang ditutup-tutupi yang bisa merapuhkan pondasi pendekatan ini dan juga membuang seluruh hambatan di antara kedua kelompok yang sulit diatasi.
               Saya sendiri telah membahas masalah ini di dalam buku saya yang berjudul, Prinsip-prinsip di Dalam Dialog dan Pendekatan Antara Aliran dan Madzhab di Dalam Islam yang membuat saya harus membahas kembali poin-poin yang berkaitan dengan masalah ini. Walaupun saya sendiri sebenarnya tidak suka dengan pengulangan. Akan tetapi, metode pengulangan bisa menguatkan pemikiran (jadi hafal), oleh karena itu tidak apa-apa.

Di antara prinsip yang saya tekankan itu adalah:

1. Masing-masing kita (Sunni dan Syi’ah) tidak saling mengkafirkan. Karena mengkafirkan seorang muslim adalah dosa besar.
Tidak boleh seorang muslim bersikap berlebihan di dalam masalah ini, kecuali jika sudah jelas kekufurannya dan ada bukti-buktinya (dalil-dalil pendukungnya) dari Allah SWT. Hukum asalnya bahwa siapa saja yang telah mengucapkan tidak ada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad itu adalah utusan-Nya, maka dia itu adalah muslim. Kalimat ini telah melindungi darah dan hartanya dan Allah SWT yang akan menghisabnya kelak, sebagaimana telah tercantum di dalam sebuah hadits.[11] Barangsiapa yang telah masuk Islam dengan yakin, maka dia tidak akan murtad kecuali dengan yakin pula. Sedangkan keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh karaguan. Bagaimana mungkin seorang muslim mengafirkan sesama muslim? Padahal dia terlihat shalat, berpuasa, mengeluarkan zakat, menunaikan haji, membaca Al-Qur`an dan berzikir kepada Allah SWT. Bukankah semua ini menjadi tanda atas keislamannya?
Sesuatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa ada orang-orang Ahlu Sunnah yang suka mengkafirkan orang lain. Mereka mengafirkan orang-orang Syi’ah dan mencap mereka murtad karena alasan-alasan yang mereka miliki. Akan tetapi mereka (Ahlu Sunnah yang suka mengkafirkan) itu tidak hanya mengafirkan orang-orang Syi’ah saja. Mereka juga mengkafirkan orang-orang Ahlu Sunnah yang berseberangan faham dengan mereka, termasuk mengkafirkan para ulamanya. Bisa saja jilatan api takfir mereka ini mengena kepada diri saya atau mengena kepada saudara-saudara saya. Akan tetapi, ada juga orang-orang yang dikenal suka mengkafirkan orang lain dari kalangan Syi’ah. Mereka mengkafirkan orang lain dengan mengacu kepada kitab-kitab rujukan mereka. Sebagian besar dari mereka itu mengkafirkan Ahlu Sunnah, baik secara umum maupun secara rinci. Sebagian dari mereka ada yang mengganggap najis Ahlu Sunnah dan menganggap lebih kufur daripada orang-orang musyrik, orang-orang Yahudi dan Nashrani. Oleh karena itu, kepada orang-orang Syi’ah yang menginginkan pendekatan ini harus menolak faham saling mengkafirkan ini dan ulama Syi’ah yang suka mengafirkan ini jangan dijadikan sebagai rujukan.

2. Harus membuang jauh-jauh faham Taqiyyah yang merupakan faham utama orang-orang Syi’ah di dalam ajaran mereka.
Karena masuknya faham Taqiyyah di dalam perjanjian yang besar ini bisa merontokkan kepercayaan atas semua yang disampaikan dan disepakati. Karena bisa saja semua ini (dilakukan) dalam rangka bertaqiyyah!

3. Di antara keterus terangan yang diharapkan adalah kita mengakui fakta yang ada di muka bumi, seperti yang sedang terjadi di Irak yaitu adanya gengster yang bernama “Para Pencabut Nyawa”.
Dengan entengnya mereka membantai manusia. Mereka membantai setiap orang yang bernama Umar atau Utsman! Mereka menyembelih orang-orang di dalam rumah mereka sendiri. Mereka juga menculik orang-orang dari keluarganya. Setelah itu, orang-orang melihat kepala orang-orang yang diculik tersebut sudah tergeletak di jalan. Dan yang paling sadis yaitu bekas-bekas penyiksaan masih terlihat jelas di tubuh korban yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Islam telah melarang kaum muslimin melakukan mutilasi terhadap mayat orang-orang musyrik pada saat peperangan. Nah, bagaimana mungkin kita membolehkan untuk memutilasi tubuh kaum muslimin yang masih hidup bukan pada waktu perang?

4. Melarang orang-orang Syi’ah yang berusaha untuk menerobos masyarakat Sunni dengan cara menyebarkan faham Syi’ah ke tengah-tengah mereka.
Padahal aktifitas ini tidak dianjurkan oleh para ulama dari kedua belah pihak. Misalnya Imam Muhammad Mahdi Syamsuddin, Ketua Dewan Tertinggi Syi’ah di Libanon yang telah melemahkan faham ini dan menolaknya dengan keras. Beliau juga telah menjelaskan sikapnya dengan sangat jelas.

5. Menghentikan sikap media massa yang menyerang Ahlu Sunnah dan mendakwahkan ajaran Syi’ah secara terang-terangan lewat saluran-saluran udara yang sangat banyak dan didanai oleh Syi’ah.
Tidak ada keraguan lagi bahwa saluran-saluran udara ini bertujuan untuk menjelekkan citra Islam Sunni yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di dunia. Saluran ini sangat dikenal bagi orang-orang yang suka menontonnya.

Pihak yang Menolak Pendekatan Madzhab
Di sini saya ingin menjelaskan sebuah fakta kepada semuanya yang tidak boleh disembunyikan. Yaitu bahwa pada saat ini, ide pendekatan madzhab ini banyak ditolak orang. Jadi ide ini sedang diuji.
Sesungguhnya ide pendekatan madzhab, para penganjur, kelompok-kelompok dan yayasan yang mengusung ide ini sedang menghadapi ujian yang sangat berat pada saat ini, yang mungkin saja faham ini akan hancur jika orang-orang yang beriman, baik pribadi maupun yayasan-yasannya tidak menyadari hal ini.
Ide pendekatan madzhab ini sedang ditolak masyarakat. Mungkin saja keberadaan ide ini akan diakui di alam nyata. Bisa menunaikan tugasnya sesuai tugasnya. Bisa mengalahkan para pengusung perpecahan sekte dan fanatisme jahiliyah yang bisa menyulut huru-hara dan menyebabkan kebakaran (kekacauan). Atau bisa saja melemah, apinya padam, jemaahnya bercerai berai sehingga hanya tinggal kenangan atau hanya menjadi buah bibir saja.
Seluruh kaum muslimin mengharapkan realisasi beberapa poin dari para pengusung ide pendekatan madzhab ini, di antaranya:

1. Berusaha untuk memadamkan huru-hara di Irak yang memicu perang antar sekte yang tidak ada ujung pangkalnya. Huru-hara ini susah dipadamkan ketika sudah berkobar.
Apinya membesar sehingga menyebar ke mana-mana. Dalam perang ini tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Justru semua pihak menjadi pihak yang kalah, walaupun mereka menyangka bahwa mereka lah pihak yang menang. Justru pemenangnya adalah Zionis (Israel), beserta Amerika dan sekutunya yang memusuhi Islam, kaum muslimin dan peradabannya. Padahal dahulunya bangsa Irak adalah bangsa yang bersatu di dalam negara yang satu, di bawah pemerintahan yang sama sejak beberapa abad lamanya. Satu klan dan satu keluarga bahkan terdiri dari 2 golongan Sunni-Syi’ah, sehingga terjadi hubungan perkawinan satu sama lain. Itu semua berjalan secara alamiah. 
Apa yang terjadi pada hari ini? Apakah zaman pemerintahan sekuler sebelum ini lebih toleran dan tidak bersikap keras dari pada partai-partai yang kini berafiliasi kepada agama? Contohnya Dewan Tertinggi Revolusi, atau Kelompok Ash-Shadra (pimpinan Muqtadha Ash-Shadr), Partai Dakwah dan perkumpulan-perkumpulan Syi’ah yang lainnya yang dituduh oleh banyak orang bahwa mereka memiliki pasukan yang dipersenjatai yang dengan mudahnya membantai semua orang yang bernama Abu Bakar, Umar, Utsman atau Aisyah. Setiap orang yang bernama seperti ini, maka mereka akan langsung dibunuh. Sebagian besar korbannya disiksa dengan beragam siksaan terlebih dahulu sebelum mereka dibunuh. Padahal, dahulu para sahabat saja belum pernah merasakan siksaan seperti ini dari orang-orang musyrik dan orang-orang kafir.
Sesungguhnya geng “Para Pencabut Nyawa” membantai Ahlu Sunnah di dalam rumah mereka, di atas tempat tidur mereka atau menculiknya dan kemudian kepala si korban dibuang di jalan-jalan atau di rumah-rumah kosong. Mereka membantai Ahlu Sunnah setiap harinya mencapai puluhan bahkan ratusan korban. Kepada siapakah mereka (para pelaku kejahatan ini) dinisbahkan? Mereka itu memakai seragam polisi lengkap beserta senjata kepolisian (pistol). Mereka juga memakai lencana kepolisian. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang menjegal upaya mereka ini. Sebagian besar para korban yang ditawan oleh mereka dimasukkan ke dalam penjara milik pemerintah!

2. Menghentikan program penyebaran madzhab di sebuah negara yang dihuni oleh madzhab tertentu.
Inilah yang saya jelaskan di depan saudara-saudara saya di Iran pada saat kunjungan saya ke sana tahun 1998. Hal ini juga senada dengan yang diserukan oleh para ulama Syi’ah yang terhormat, seperti Muhammad Mahdi Syamsuddin, Ketua Dewan Tertinggi Syi’ah di Libanon dan Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, ulama senior rujukan Syi’ah.
Saya juga telah menyampaikan kepada ulama rujukan Syi’ah di Iran ketika saya berkunjung ke sana bahwasanya usaha pendekatan ini tidak akan terjadi di antara kita (Sunni dan Syi’ah), jika orang-orang Syi’ah berusaha untuk menyimpangkan akidah para pengikut kami (Ahlu Sunnah). Atau kami (Ahlu Sunnah) berupaya untuk menyimpangkan akidah para pengikut Syi’ah. Usaha ini bisa merusak hubungan baik di antara kita dan menimbulkan ketakutan serta hilangnya kepercayaan di antara kita.
Kemudian, apa yang mendorong orang-orang Syi’ah memaksakan diri ingin masuk ke dalam sebuah negara yang dihuni mayoritas Sunni yang penduduknya bermadzhab Syafi’iyyah, Malikiyyah atau madzhab yang lainnya sehingga secara perlahan-lahan sebagian penduduknya -dengan cara-cara Syi’ah- masuk ke dalam ajaran Syi’ah? Saya bertanya kepada kalian, “Berapa banyak yang kalian targetkan? Sepuluh atau dua puluh orang? Seratus atau dua ratus orang atau bahkan seribu atau dua ribu orang?” Hal ini mungkin saja terjadi dengan cara-cara yang sangat halus, sebagaimana yang dilakukan oleh Misionaris Kristen ke negara-negara berpenduduk muslim.
Akan tetapi pada saat masyarakat Sunni mengetahui hal ini, maka mereka akan membenci dan memusuhi kalian dan mereka akan menumpahkan amarahnya kepada kalian. Mereka juga akan melaknat kalian dan akan melontarkan tuduhan-tuduhan, baik yang benar maupun yang tidak benar. Akhirnya, suasana di masyarakat penuh dengan kebencian dan pergolakan.
Pada saat itu, sahabat kami Ayatullah At-Taskhiri juga hadir dan beliau menguatkan pendapat saya ini. Beliau berkata, ”Engkau benar!” Kemudian beliau menceritakan kisah yang terjadi pada saat Revolusi “Inqadz” di Sudan yang menandakan sangat berbahaya jika faham Syi’ah disebarkan ke tengah-tengah mayoritas Ahlu Sunnah.
Demikian juga sebaliknya, yaitu sangat berbahaya jika faham Ahlu Sunnah disebarluaskan di negara-negara yang dihuni mayoritas Syi’ah. Masih ada yang melakukan hal ini secara perorangan. Akan tetapi jumlah mereka amat terbatas. Akan tetapi, ajaran Syi’ah ini disebarluaskan terprogram dengan memakai strategi. Ada tim suksesnya, misionarisnya, didukung dana, dilengkapi berbagai macam kegiatan, ada target dan fasilitas lain yang mendukungnya. Hal ini sudah menjadi rahasia umum bagi setiap orang yang terkait peristiwa Revolusi Iran yang mana efeknya terasa sampai ke luar Iran. 

3. Ajaran yang berkaitan dengan mencerca para sahabat. Saya telah sampaikan dan akan terus saya sampaikan bahwa kita tidak mungkin akan saling mendekat dengan semboyan persatuan umat, selama itu diamalkan.
Sebab ada jurang menganga di antara kita mengenai penilaian terhadap para sahabat. Terutama terhadap para sahabat yang masuk ke dalam kategori orang-orang Muhajirin dan Anshar generasi pertama yang telah Allah SWT ridhai dan mereka pun ridha terhadap Allah SWT, yang mana Allah SWT telah menyiapkan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Hal ini telah dijelaskan di dalam Al-Qur`an, ”Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung,” (QS At-Taubah [09]: 100). Sampai saat ini, ayat ini masih terus memuji para sahabat. Bahkan ayat ini diikuti oleh ayat lain, ”Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” Tidak diragukan lagi bahwa di antara orang-orang yang disebut sebagai ”orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin,” yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Thalhah dan Zubair.
Tentang mereka ini lah Allah SWT menurunkan firman-Nya, ”Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik. Sungguh, Dia (Allah) pasti akan memasukkan mereka ke tempat masuk (surga) yang mereka sukai. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun,” (QS Al-Hajj [22]: 58-59). Juga firman-Nya, ”(Harta rampasan itu juga) untuk orang-orang fakir yang berhijrah yang terusir dari kampung halamannya dan meninggalkan harta bendanya demi mencari karunia dari Allah dan keridaan(-Nya) dan (demi) menolong (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar,” (QS Al-Hasyr [59]: 8). Mereka itulah yang dicap sebagai orang-orang yang benar menurut nash Al-Qur`an. Di dalam Al-Qur`an, Allah SWT telah memerintahkan kepada kita agar kita selalu bersama orang-orang yang benar, ”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar,” (QS At-Taubah [09]: 119).
Mereka itu adalah orang-orang yang berbaiat kepada Nabi Muhammad SAW di bawah pohon untuk rela mati di jalan Allah SWT. Maka turunlah firman Allah SWT, ”Sungguh, Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat,” (QS Al-Fath [48]: 18). Mereka juga adalah orang-orang yang ikut berjihad di perang Badar, Uhud, Tabuk dan perang-perang yang lainnya. Mereka juga adalah orang-orang yang mendapat persaksian dari Al-Qur`an, ”Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang Muhajirin), mereka itulah orang yang benar-benar beriman,” (QS Al-Anfal [08]: 74). Mereka juga adalah orang-orang dimaksudkan oleh firman Allah SWT, ”Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS Al-A’raf [07]: 157). Mereka jugalah yang dimaksud oleh Al-Qur`an, ”Dan jika mereka hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin, dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana,” (Al-Anfal [08]: 62-63).
Mereka itu para sahabat yang Allah SWT dengan perantaraan mereka telah menolong Rasulullah SAW dan Allah SWT memuliakan Islam melalui usaha mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang Al-Qur`an bersaksi kepada mereka semua bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan di sisi Allah SWT, walaupun bagi orang-orang yang terdahulu ada karunia yang mereka peroleh lebih dahulu. Hal ini seperti yang difirmankan oleh Allah SWT, ”Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik,”  (QS Al-Hadid [57]: 10).
Sampai-sampai para sahabat yang bersikap keliru di dalam peperangan, seperti sebagian sahabat yang melarikan diri dari perang Uhud setelah mendengar berita bahwa Rasulullah SAW telah wafat, namun Allah SWT telah memaafkan mereka. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu ketika terjadi pertemuan  (pertempuran) antara dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat (pada masa lampau), tetapi Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun,” (QS Ali Imran [03]: 155). Mereka juga, orang-orang yang diberi kesaksian oleh ayat terakhir dari surah Al-Fath [48] yang berbunyi, ”Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang  sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya,” (QS Al-Fath [48]: 29).
Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kesaksian dari Al-Qur`an dan hadits-hadits Rasulullah SAW, juga mendapat kesaksian dari sejarah yang belum pernah dicapai oleh orang lain sebelum mereka.
Kita juga menyaksikan bahwa mereka lah yang telah menghafalkan untuk kita kitab suci Al-Qur`an dan kemudian mereka nukil untuk kita dalam keadaan utuh tanpa perubahan sedikitpun.
Mereka juga adalah orang-orang yang telah meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah SAW untuk kita, juga sunnahnya, baik ucapan, perbuatan maupun keputusan Rasulullah SAW. Mereka juga telah menukilkan untuk kita semua sejarah Rasulullah SAW secara terperinci yang belum pernah dilakukan bagi seorang nabi sebelum beliau atau bagi seorang yang mulia sebelum beliau.
Mereka juga adalah orang-orang yang berjasa menyampaikan agama Islam ke seluruh penjuru dunia dan melakukan serangkaian futuh (penaklukan secara damai) dan mereka berjuang dengan pedang mereka melawan orang-orang yang menjajah manusia. Sehingga Allah SWT pun memberikan kemenangan untuk mereka ketika melawan Kisra (Raja Persia) dan Kaisar (Raja Romawi) demi tersebarnya keadilan Allah SWT di muka bumi.
Mereka itu adalah orang-orang yang paling dekat dengan cahaya kenabian dan mereka pun belajar dari cahaya kenabian ini (cahaya kenabian = Rasulullah SAW). Mereka mencontohnya di dalam seluruh sunnahnya dan petunjuk-petunjuknya. Karena di dalam diri Rasulullah SAW bagi mereka benar-benar ada suri tauladan yang baik. Mereka itu adalah sebaik-baik murid bagi sebaik-baik guru. Oleh karena itu mereka disebut dengan Para Sahabat Rasulullah SAW.
Mereka itu, menurut Al-Qur`an, As-Sunnah, sejarah dan ilmu manthiq merupakan generasi yang paling baik yang pernah dicatat oleh sejarah. Tidak diragukan lagi! Karena mereka adalah murid-murid penghulu umat manusia, para sahabat adalah buah dari pendidikan beliau, dan generasi yang beliau bina dengan tangannya sendiri. Barangsiapa yang mencela mereka, maka seolah-olah telah mencela guru mereka, yaitu Rasulullah SAW. Terlebih lagi mencela para sahabat yang sangat dekat dengan beliau. Imam Malik telah berkata terhadap orang-orang yang mencela para sahabat, ”Mereka itu sebenarnya ingin mencela Rasulullah SAW, tapi mereka tidak bisa melakukannya. Akhirnya, mereka mencela para sahabat Rasulullah SAW. Mereka mengatakan, ’Dia itu orang jahat!’ karena jika orang shalih, maka teman-temannya pun akan orang shalih pula!”[12]
Oleh karena itu, tidak mungkin bisa dilakukan pendekatan antara Sunni dan Syi’ah. Sebab ajaran kebencian ini masih menjadi sikap mereka terhadap para sahabat Rasulullah SAW.
Memang benar, tidak mungkin kita akan bersatu. Ketika saya mengatakan, ”Abu Bakar semoga Allah SWT meridhainya. Umar semoga Allah SWT meridhainya.” Sedangkan engkau (Syi’ah) berkata, ”Abu Bakar semoga Allah SWT melaknatnya. Umar semoga Allah SWT melaknatnya.” Ingat, alangkah besarnya jurang perbedaan antara kalimat ‘semoga Allah SWT meridhainya’ dengan kalimat ‘semoga Allah SWT melaknatnya’.
Tulisan ini saya akhiri dengan doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang  yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang,” (QS Al-Hasyr [59]: 10).  
Sumber: Buku berbahasa Arab, karya Syaikh Yusuf Al-Qardhawi dengan judul Fataawaa Mu’aasharah, (Fatwa-fatwa Kontemporer), juz ke-4, penerbit Darul Qalam Kuwait, hal. 275-298.
Penerjemah: Dudung Ramdani, Lc -Staf LPPI Jakarta-


[6] Di dalam sebuah kitab yang berjudul, Umat Islam; Adalah Nyata dan Bukan Angan-angan. Didistribusikan oleh Pustaka Wahbah di Mesir dan Yayasan Ar-Risalah di Libanon.
[7] Lihat buku kami yang berjudul, Penjelasan tentang Pendekatan antar Madzhab dan Golongan di Dalam Islam, hal. 8-39, penerbit Pustaka Wahbah Kairo cetakan pertama tahun 2008.
[8] Para ulama Syi’ah telah menyatakan bahwa syahadat ini tidak dikenal oleh mereka. Akan tetapi mereka membiarkan hal ini terjadi, dengan alasan takut orang-orang awam bergolak (terguncang).
[9] Lihat buku, Kebangkitan Islam di Antara Perbedaan yang Dibolehkan dan Perpecahan yang Terlarang, hal. 34-39 cetakan Dar Asy-Syuruq tahun 2001.
[10] Lihat buku, Prinsip-prinsip di Dalam Dialog dan Pendekatan Antara Aliran dan Madzhab di Dalam Islam, hal. 12 cetakan Pustaka Wahbah, Kairo.
[11] Hadits ini diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih: Al-Bukhari di dalam Bab Zakat, hadits no. 1400, Muslim di dalam Kitab Iman, hadits no. 21. Imam Ahmad di dalam Al-Musnad, hadits no. 8544, Abu dawud di dalam Bab Zakat, hadits no. 1556, At-Tirmidzi di dalam Kitab Iman, hadits no. 2607, An-Nasai di dalam Bab Zakat, hadits no. 2443 dan Ibnu Hibban di Kitab Fitnah, hadits no. 3927 dari Abu Hurairah RA.
[12] Silahkan merujuk ke kitab yang berjudul, As-Shaarim Al-Masluul, karya Ibnu Taimiyyah, juz 1 hal. 581.

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More