Bermazhab Syiah Merupakan Tempat Berlindung Orang yang Ingin Menghancurkan Islam!

 
Ini adalah salah satu kutipan dialog nyata Sunni-Syiah antara Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad Al-Ghamidi dengan Prof. Dr. Muhammad al-Qazwini, dari buku “Siapa Bilang Sunni-Syiah Tidak Bisa Bersatu”
Ulama Syiah:  Diantara hal yang aneh, di dalam bukunya, Fajr Islam (hal.33) Ahmaad Amin al-Mishri menulis, bahwa tasyayyu’ adalah tempat berlindung setiap orang yang ingin menghancurkan Islam.”
Ulama Sunni: Kemudian Anda menyebutkan, bahwa setelah bukunya tersebut beredar luas, ia dikecam, lantas dia minta maaf dengan alasan kurangnya telaah karena kurangnya referensi.
Saya berkata, banyak sekali ulama dahulu dan sekarang yang mengamini ucapan Ahmad Amin tersebut. Hal ini karena manhaj interaksi Syi’ah terhadap Islam menyebabkan tehapusnya Islam. Hal ini terlihat jelas melalui penjelasan tentang sikap Syiah tehadap para perawi agama ini -yakni para sahabat-, al Quran dan Sunnah Nabawiyah. Berikut sejumlah isyarat kepada sikap mereka tersebut dan insya Allah akan dipaparkan nanti penjelasan tambahan,
A.                 Gugatan Syiah terhadap ‘adalah (keadilan) para sahabat, kecuali empat orang dan semisal mereka –sebagaimana nanti akan dipaparkan, insya Allah-. Gugatan ini meragukan amanah para sahabat. Oleh karena, setiap apa yang mereka riwayatkan tidak dapat dipercaya berdasarkan sikap itu.
B.                  Gugatan Syiah terhadap al-Qur’an. Hampir tiga puluh ulama Syiah Imamiyah menyatakan  bahwa telah tejadi tahrif (penyimpangan) dan pengurangan terhadap al Qur’an. Ini artinya, bahwa al Qur’an tidak dapat dipercaya lagi. Berikut nama-nama sebagian dari mereka:
1]. al-Fadhl bin Syadzan an-Naisaburi, wafat 260 H, di dalam kitabnya al-Idhah (hal . 112-114), dia mengatakan, Bab Dzikr Ma Dzahaba Min al-Kitab (Bab menyinggung apa yang hilang dari al-Qur’an).”
Ia memuat riwayat-riwayat dari beberapa kitab as-sunnah -namun disalah pahami olehnya-  dimana dengannya ia menetapkan terjadinya kekurangan pada al-Qur’an. An-Nuri ath-Thabarsi menegaskan, bahwa ia (alfadhl) mengatakan bahwa telah terjadi tahrif terhadap al-Qur’an.
2]. Furat bin Ibrahim al-Kufi, salah seorang ulama pada abad ketiga. Ia meriwayatkan dengan sanadnya di dalamnya tafsirnya, bahwa Abu Ja’far membaca ayat,
“Sesungguhnya Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Muhammad melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”
Ia memuat beberapa ayat seperti ini (1/78).
3]. Al-ayyasyi, salah seorang ulama abad ketiga dalam tafsirnya (1/12,13,47,48).
4]. Al-Qummi, Syaikh al-Kulaini dalam tafsirnya (1/5,9,10).
5]. Al-Kulaini dalam Ushul al-Kafi (1/413), terdapat riwayat yang banyak sekali (8,23,25,26,27).
6]. Abu al-Qasim, Ali bin Ahmad al-Kufi (wafat 352) menuduh Abu bakar (ash-shiddiq, pent.) tidak mengumpulkan semua al-Qur’an karena khawatir timbul hal yang dapat merusak urusan mereka. hal ini ia sebutkan dalam kitab al-Istighastash Min Bida’ ats-Tsalatsah (1/51-53).
7]. Muhammad bin Ibrahim an-Nu’mani pada abad kelima. Ia menyebutkan hal itu dalam buku al-Ghibah.
8]. Abu Abdillah, Muhammad bin Nu’man yang dijuluki al-mufid (wafat tahun 413 H). Ia berkata dalam bukunya Alwa’il almaqalat, “saya katakan, sesungguhnya berita itu telah banyak datang dari para imam dari keluarga besar Muhammad r perbedaan al Qur’an , pembuangan, dan pengurangan yang dilakukan oleh sebagian orang-orang yang zhalim.
9]. Abu Manshur Ahmad bin Ali bin Abi Thalib ath-Thubrusi, yang hidup pada abad keenam dalam bukunya al-Ihtijaj (1/240,245,249).
10]. Abu al-Hasan, Ali bin Isa al_irbili (wafat tahun 692 H) dalam bukunya Kasyf al_Ghummah Fi Ma’rifah al-A’immah (1/319).
11]. Al-faidh al-Kasyani (wafat tahun 1091) dalam tafsirnya ash-Shafi. Ia mengatakan di awal tafsirnya, “Adapun kemunculanmu mengingkari Firmannya,

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ
dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi (An-Nisa: 3)
Sedang menikahi wanita-wanita tidaklah mirip dengan berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka seperti apa yang telah aku sebutkan di muka, bahwa kaum munafik menggugurkan sebagian dari al-Qur’an mengenai anak-anak yatim dengan menikahi wanita-wanita, kaum munafik juga menggugurkan pembicaraan dan kisah-kisah lebih dari sepertiga al-Qur’an.” Ia terus berdusta atas nama Allah I di atas cara ini (lembaran 17-18).
12]. Muhammad bin al-Hasan al-Hur al-‘Amili (wafat tahun 1104 H) dalam bukunya Wasa’il asy-Syiah (18/145).
13]. Hasyim bin Sulaiman al-Bahrani (wafat tahun 1107 H) dalam tafsirnya al-Burhan, ia berkata “Adapun apa yang bertentangan dengan wahyu yang diturunkan Allah, maka ia adalah firman-Nya,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia. (Ali Imran :110)

Adapun yang telah ditahrif darinya firmanNya,
Walakinnallahu yasyhadu bima anzalallahu ilaika fi aliyyin
(Akan tetapi Allah bersaksi terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu tentang Ali)!!
14]. Muhammad Baqir al-Majlisi (wafat tahun 1111 H) mengisi bukunya Bihar al-Anwari dengan riwayat-riwayat yang menetapkan adanya kekurangan. Demikian pula di dalam kitabnya Mir’ah al-Uqul (12/525).
Dia menukil dari al-KAfi riwayat-riwayat yang menetapkan adanya Tahrif. Di antaranya dari Abu Ja’far, ia berkata, “Jibril turun dengan ayat ini kepada Muhammad r,

بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ أَنْ يَكْفُرُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ بَغْيًا.
Alangkah buruknya (hasil perbuatan) merka menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki (al-Baqarah:90), yaitu dengki terhadap Ali, (23/372-373).
15]. Ni’matullah al-Musawi al-Jaza’iri (wafat tahun 1112 H) dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniah (2/360-364).
Ini sebagian nama orang-orang yang mengatakan al-Qur’an telah dikurangi dan ditahrif. Ada puluhan orang lagi yang mengatakan demikian. An-Nuri ath-Thubrusi dalan mukaddinah buku Fashl al-Khitab mengetengahkan hampir empat puluh nama orang-orang yang mengatakan perkataan seperti ini dan tidak mengecualikan orang-orang terdahulu selain empat orang (hal.51).



Bukannya orientasi dalam mazhab Imamiyah ini menghancurkan Islam?
Ya, di sana ada aliran lain yang menentang aliran ini –yang mengatakan adanya tahrif terhadap al-qur’an- akan tetapi aliran ini kebanyakannya berasal dari kalangan Mutaakhirin (generasi terkhir). Ada yang mengatakan, ini adalah Taqiyah sebab Taqiyah merupakan aqidah Imamiyah, siapa yang tidak menggunakannya mka tidak ada agama baginya, sebagiamana yang dijelaskan oleh b uku-buku mereka. sekalipun kita tidak mengklaim hal itu bahkan bisa jadi menjadi kepuasan hati sebab klaim itu adalah kekufuran yang menentang al-Qur’an itu sendiri, di mana Allah berfirman tentangnya,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (al-Hijr:9)
Akan tetapi maksudnya adalah menjelaskan sebab kerasnya sikap para ulama terhadap mazhab Syiah.

C.             Adapun dalam as-Sunnah, maka bagi syiah, bila ada hadits yang bertentangan dengan Akidah mereka, pasti mereka menggugatnya, bahkan menggugat para Shahabat yang meriwayatkan as-Sunnah tersebut. Tidak tersisia seorang pun dari mereka pun tidak dikafirkan atau difasikkan keculai empat orang saja. Bukankah ini pintu berlindungnya setiap Zindiq yang memerangi Islam?

Apa itu Islam? Bukankah al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah (Hadits Nabi) dan perawi keduanya adalah para Shahabat? Bilamana para perawi digugat dan keimanan mereka direagukan, maka mungkinkah apa yang mereka riwayatkan itu dapat dipercaya? Kemudian, adakah yang mampu dilakukan orang-orang Zindiq lebih dari itu?

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More