Suasana Ramadan Di Mesir Pada Musim Panas

Dilaporkan oleh Irwan Said dari Mesir
 
Saya sendiri sudah lima kali merasakan puasa Ramadan di Mesir, sejak 2007 hingga 2012 ini. Saya tiba di Mesir bertepatan malam pertama Ramadan tahun 2007. Namun tahun inilah saya merasakan panasnya cuaca dibulan puasa plus durasi waktu puasa lebih lama dari biasanya. Dengan cuaca panas membara yang mencapai 42 derajad celcius di siang hari dengan imsak bermula  03:07  pagi dan baru berbuka pada pukul 06:55 sore menjadikan puasa tahun ini sangat terasa perjuangannya. Sangat berbeda dengan suasana di kampung halaman saya, Bulukumba.

Secara umum, orang Mesir jika bulan suci tiba, mereka sangat dermawan, terkhusus bagi orang asing dan lebih khusus lagi para mahasiswa, bahkan para mahasiswa akan mendapatkan sembako gratis dengan jumlah yang tidak sedikit.

Yang menarik di sini jika bulan Ramadan tiba,  dengan mudah dapat kita temukan di mana-mana maidaturrahman sejenis pelayanan khusus untuk buka puasa, biasanya didirikan tenda di pinggir-pinggir  jalan. Umumnya  para sopir dan pekerja yang belum sempat sampai di rumah berbuka akan makan di bawah tenda tersebut,  bahkan di jalan-jalan raya banyak yang berdiri menjajakan kurma atau mimuman khusus untuk para musafir atau  yang masih di jalan dan belum sempat berbuka saat buka puasa menjelang. Di masjid-masjid bukan hanya manyediakan makanan ringan, tetapi melayani aneka makanan yang lauknya mayoritas dari daging dengan gratis.

Jika malam tiba, masjid-masjid sangat ramai, bahkan para jamaah salat taraweh membeludak sampai di jalan raya. Salat Subuh juga demikian, dan bila masuk pada malam sepertiga terakhir atau 20 ke atas banyak masjid  yang mengadakan iktikaf bersama. Konsumsi  ditanggung pihak masjid, salat dimulai dari jam 12 malam sampai sahur dengan bacaan imam paling sedikit satu juz dalam satu malam  dan ini semarak dilakukan di beberapa tempat. Uniknya di masjid, ketika tiba waktu salat taraweh para anak-anak diajari melayani jamaah salat taraweh dengan keliling membawa air minum untuk para jamaah salat.

Khusus untuk Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), biasanya diadakan buka bersama melalui sponsor dari penasihat-penasihat yang bermukim di Mesir, bahkan sering juga buka puasa terlaksana dengan bantuan dari para dermawan orang Mesir. Ajang  ‘buber’ ini juga berfungsi untuk silaturahmi para mahasiswa asal Sulawesi yang jumlahnya sekitar 500.

Selain KKSS, ada juga persatuan yang terbentuk dari ikatan alumni sekolah tertentu. Seperti saya yang berasal dari alumni Pesantren Darul Huffadz Tuju-tuju Bone, membentuk ikatan yang kami sebut Ikatan Alumni Pondok Pesantren Darul Huffadz (IKDH) biasanya sebuah ikatan alumni terbentuk jika jumlah alumninya yang kuliah di sini mencapai jumlah tertentu. Saat ini IKDH memiliki anggota sekitar 30 mahasiswa, yang berasal dari alumni Pesantren Darul Huffadz Tuju-tuju dan Darul Abrar Palattae, dua pondok pesantren yang berasal dari keturunan Gurutta H. Lanre Said rahumahullah.  IKDH sendiri tiap tahunnya mengadakan buka bersama di kantor sekteriat dengan dana dari anggota IKDH sendiri atau dari para dermawan setempat. Ada pun bantuan dari pemprov Sulsel sampai saat ini belum pernah terlihat padahal itu sangat kami butuhkan.

Biasanya jika IKDH melakukan buka bersama pasti juga akan mengundang teman-teman yang juga berasal dari Indonesia khusunya yang bermukim dekat kantor pusat IKDH. Yang didominasi mahasiswa asal Sulsel.

Khusus pada bulan puasa ini,  saya pribadi berpuasa di sebuah perkampungan di luar kota Kairo. Tiap hari jumat saya mendapat undangan buka bersama dengan masyarakat setempat, undangan ini adalah bersifat pribadi. Dan momentum ini sekaligus saya pakai untuk perkanalkan Indonesia. Baik itu segi geografisnya, keadaan penduduknya, jumlah penganut agama islamnya, ekonomi-politiknya, dll.

Alhamdulillah, selama ini saya selalu dipercaya menjadi imam di masjid tempat saya salat.  Dengan alasan sebagai penghormatan alumni Al- Azhar yang hafal Alquran namun orang asing. Jika saya menjadi imam, biasanya respon jamaah beragam, karena ini adalah hal yang aneh bagi masyarakat kampung. Ternyata orang asing ada juga yang hafal Alquran dan bisa jadi imam. Begitu yang mereka sering ucapkan.

Sebenarnya yang membuat saya bisa jadi imam, selain memiliki hafalan, juga saya telah mendapatkan sanad bacaan Alquran dari seorang syekh yang bernama Syekh sy Syekh Sayyid Ibrahim Ba'bulah, beliau adalah pentashih mushaf al-Haramain Makkah al-Mukkarramah, juga pernah menjadi pemateri ilmu tajwid pada salahsatu televisi Mesir sebagai pakar al- waqfu wal-ibtida'.

Untuk sanad (mata rantai periwayatan)  Alquran, tentunya sangat penting karna Alquran di turunkan dari langit melaui perantaraan Malaikat  Jibril alaihissalam dengan oral langsung kepada Rasulullah saw sehingga bacaannya adalah asli termasuk  makhorijul-huruf  atau penyebutan huruf-hurufnya.

Begitu pula Baginda Rasulullah juga mengajarkan kepada para sahabatnya sebagaimana yang beliau dengar dari Malaikat Jibril secra langsung. Ketika ada perbedaan bacaan pada saat itu, tentunya sahabat langsung merujuk pada Rasulullah saw.

Begitu pula para sahabat, mereka mengajarkan ke  generasi berikutnya tabi'in dengan sanad dan tersambung hinggala sekarang.  Sanad berfungsi menjaga keontentikan dan kemurnian Alquran karena Alquran punya kaedah tersendiri dalam membacanya. Contohnya adalah membaca sesuai dengan kaidah tajwid, sebagian kalimat Alquran tidak bisa disebutkan oleh orang awam, atau mereka yang tidak pernah belajar Alquran dengan benar termasuk orang-orang Arab sekalipun.

Karena saya sudah dikenal memiliki ijazah sanad, maka tidak sedikit orang Mesir dari para orang tua yang datang belajar pada saya, di tempat saya menjadi imam pada salah satu kampung.

Selain itu jika bulan puasa tiba, teman-teman mahasiswa yang ingin menunaikan ibadah haji sudah harus mengurus berkas-berkas dari sekarang, karena terdapat seleksi yang sangat ketat dalam tiga tahun terakhir ini. Banyak di antara teman-teman yang selesai masa belajarnya namun belum juga dapat kesempatan menunaikan rukun Islam yang terakhir ini. Saya di antara mahasiswa yang bertuah karena mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji sekaligus menjadi pengurus jamaah haji di Mekkah pada dua tahun lalu. wassalam!

Sebagaimana yang dituturkan H. Irwan Said, Lc. Mahasiswa Pascasarjana Al-Azhar University, Kairo kepada Ilham Kadir.

(lppimakassar.com)


0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More