Perbandingan Cepat Antara Shahih Bukhari Dengan Al-Kafi

http://4.bp.blogspot.com/-d_K6BQODFyE/T59XVE8-XSI/AAAAAAAAEWM/mQOvRX0b9u0/s1600/Shahih%2BBukhari%2B-%2Bhadits%2Bterjemah%2Bdan%2Bpenjelasan.jpg
Artikel ini sengaja kami angkat karena melihat semakin banyak orang-orang Syiah yang memfitnah Imam Bukhari rahimahullah, kami mengajak mereka berfikir dan ngaca kepada kitab tershahih mereka dalam sekte Syiah, yaitu Kitab Ushul dan Furu' Al-Kafi karangan Muhammad bin Ya'qub Al-Kulaini.
Berikut ini perbandingannya:
Shahih al-Bukhari
Penyusun mengawali bukunya dengan ucapannya, “Kitab Bad’i al-Wahyi, Bab kaifa kana Bad’i al-Wahyi ila Rasulillah saw. wa Qaulullah jalla dzikruhu, Inna Auhayna Ilaika Kama Auhayna ila Nuhin wa Nabiyyina min Ba’dihi” (Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya) (An-Nisa’: 163).
Kemudian dia mengetengahkan sebuah hadits dengan sanadnya, “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan apa yang diniatkannya; siapa yang hijrahnya kepada dunia yang dicarinya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang dihijrahkannya.
Hadits ini merupakan pembukaan bagi bukunya, kemudian dia mengetengahkan hadits lainnya dengan sanad pula, di dalamnya dinyatakan, “Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah saw., ‘bagaimana wahyu datang kepadamu?’ lalu Nabi saw. memberitahukan hal tersebut kepadanya.”
Demikianlah beliau terus menyinggung turunnya wahyu kepada Rasulullah saw., kemudian dia berkata, Kitab al-Iman di mana dia mengetengahkan di dalamnya ayat-ayat dan atsar-atsar, kemudian memulai hadits-hadits dengan mengetengahkan sebuah hadits dengan sanadnya, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada tuhan –yang berhak disembah- selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan.
Lihatlah bagaimana munculnya cahaya-cahaya kenabian dalam buku yang agung ini. Kemudian bandingkan dengan:
Al-Kafi
Dia mengawali bukunya dengan ucapan, “Kitab Akal dan Kebodohan.” Kemudian mengetengahkan atsar dari Abu Ja’far yang berkata, “Tatkala Allah menciptakan akal, Dia berbicara kepadanya, kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Majulah.’ Lalu majulah ia, kemudian Dia berfirman kepadanya lagi, ‘mundurlah,’ lalu ia mundur. Kemudian Dia berfirman, ‘Demi Izzah dan keagunganKu, Aku tidak menciptakan suatu makhluk pun yang yang lebih Aku cintai daripadamu, dan tidaklah Aku menyempurnakanmu kecuali pada orang yang Aku cintai. Sungguh, Aku hanya memerintah dan melarangmu, menyiksa, dan memberimu pahala’.”
Lalu setelahnya, ia mengetengahkan atsar lainnya dari Ali RA., ia berkata, “Jibril turun kepada Adam seraya berkata, ‘Wahai Adam! Aku diperintahkan untuk memberikan satu di antara tiga pilihan kepadamu, pilihlah dan biarkan dua yang lainnya.’ Maka Adam berkata, ‘Wahai Jibril! Apa ketiga pilihan itu?’ Ia berkata, ‘Akal, malu, dan agama.’ Adam berkata, ‘Sesungguhnya aku memilih akal.’ Jibril berkata kepada malu dan agama, ‘pergilah dan biarkan ia!’ maka keduanya berkata, ‘Sesungguhnya kami diperintahkan agar selalu bersama akal di mana pun ia berada.’ Ia (Jibril) berkata, ‘itu terserah kalian berdua!’ lalu ia naik (ke langit). Demikianlah ia terus menyebutkan riwayat-riwayat tentang akal, kemudian memuat setelahnya keutamaan ilmu. Semuanya atau sebagian besarnya bukan berasal dari Nabi saw. ia tidak membuka dengan al-Quran ataupun dengan sabda Rasulullah saw. menurut dugaan saya, para imam itu telah menghapus kenabian”
Perbedaan antara kedua pembukaan
Al-Bukhari memulai dengan menyebutkan permulaan Islam dengan berdalilkan Kalamullah dengan sabda Rasulullah saw.
Al-Kulaini memulai dengan menyebutkan atsar dari selain Nabi saw. seharusnya ia memulai dengan Kalamullah atau sabda Rasul-Nya.
Kemudian Al-Kafi menyebutkan bahwa Adam diajak bicara dan diberi pilihan antara akal, malu dan agama.
Saya berkata, ketika Adam diajak bicara, apakah dia mempunyai akal atau tidak? Jika dia mempunyai akal, bagaimana mungkin ia diberi pilihan antara sesuatu yang dipunyai dengan padanannya? Jika dia tidak mempunyai akal, bagaimana orang yang tidak mempunyai akal diajak bicara? Kemudian bagaimana Allah SWT memberikan pilihan kepada Adam, antara hal-hal yang semuanya merupakan kebutuhan dasarnya? Apakah malu tidak diperlukan manusia? Dan apakah agama juga tidak diperlukan manusia? Apakah Allah SWT tidak ingin manusia menggabungkan antara akal, malu dan agama? Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar!!
Kemudian siapa yang menyebarkan hal tersebut kepada Abu Ja’far? Wahyu datang kepadanya secara ghaib atau bagaimana caranya ia mengetahui hal itu? Sedangkan kami meyakini bahwa Abu Ja’far lebih bertakwa kepada Allah untuk sekedar mengatakan atas nama Allah apa yang tidak diketahuinya.
Al-Bukhari mengetengahkan hampir dua ribu hadits secara terpisah, mencapa tujuh ribu hadits –termasuk yang diulang-, semuanya shahih kecuali hadits-hadits yang dikritik oleh ulama, yang hampir tidak melebihi jumlah jari tangan.
Al-Kulaini memuat lebih dari enam belas ribu hadits, dua pertiganya didhaifkan oleh ulama Syiah. Yakni hampir Sembilan ribu hadits. Andaikata kaidah yang dibuat para ulama Ahlu Sunnah dalam perkara riwayat diterapkan, barangkali kitab ini tidak akan tersisa atau hanya sedikit sekali yang tersaring. Bagaimana pendapat anda dengan kedua kitab tersebut setelah itu?
Perbandingan bab-bab pada kedua kitab:
Al Bukhari
Bab Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.
Bab Cinta kepada Rasulullah saw. merupakan bagian dari iman
Bab Agama itu mudah
Bab Jihad merupakan bagian dari iman
Bab Keutamaan Ilmu
Bab Firman Allah (عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا) “(Dia adlah Rabb) Yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu.” (Al-Jin: 26).

Al-Kafi
Bab para Imam mengetahui semua ilmu yang keluar kepada para Malaikat, nabi dan Rasul.
Bab jika para imam ingin mengetahui, maka mereka akan mengetahui.
Bab para imam mengetahui kapan mereka mati dan mereka tidak mati melainkan atas pilihan mereka
Bab para imam mengetahui ilmu yang telah lalu dan yang sedang terjadi. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari mereka.
Saya katakan, Allah memerintahkan Nabi-Nya saw. agar mengatakan (ولو كنت أعلم الغيب لاستكثرت من الخير) “Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya.” (Al-A’raf: 188).
Allah SWT berfirman, “Wahai Muhammad, sampaikan kepada manusia bahwa engkau tidak mengetahui hal yang ghaib.
Allah SWT juga berfirman, “Sesungguhnya Dia Maha mengetahui hal yang ghaib, tidak memberikan sebagian darinya, kecuali kepada siapa yang diridhai dari para Rasul.” Dia SWT tidak menyebutkan para Imam. Sementara Al-Kafi mengatakan hal yang bertentangan dengan itu. Jadi, siapa yang benar? Saya memohon ampun kepada Allah.
Menurut anda, mana di antara kedua kitab itu yang lebih baik? Kitab yang materinya wahyu ilahi (al-Quran dan as-Sunnah) yang berbicara tentang masalah-masalah iman, islam, jihad, dan sebagainya, ataukah kitab yang materinya berasal dari orang-orang yang diangkat sebagai imam dan diberi sifat-sifat tuhan sehingga hampir tidak anda temukan selain masalah-masalah Far’iyyah kecuali hadits tentang imamah dan para imam? Allahul Musta’an

Oleh: Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al Ghamidi Siapa bilang Sunni-Syiah tidak bisa bersatu, terjemahan dari kitab beliau yang berjudul Hiwar Hadi’, Jakarta: Darul Haq, 2009 M, hal. 58-dengan sedikit perubahan.
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More