Misteri Malam Seribu Bulan


Umat Islam meyakini bahwa terdapat tempat, waktu, dan kondisi yang memiliki keistimewaan tersendiri. Tidak sebagaimana mestinya. Terkait tempat misalnya, umat Islam hanya diperbolehkan melakukan ziarah khusus jika ingin mengunjungi tiga tempat sucinya, Majid al-Aqsha, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi. Ketiga tempat ibadah itu juga memiliki keistimewaan dengan tempat-tempat ibadah lainnya. Salat sekali di Masjidil Haram serupa dengan salat 100.000 kali di Masjid lain , Salat sekali di Masjid Nabawi setara dengan salat 1000 kali di Masjid lain dan Salat sekali di Masjidl Aqsa samadengan salat 500 kali di masjid yang lain.

Dalam beberapa kondisi juga demikian, bahkan Rasulullah sangat mewanti-wanti agar jangan sampai seorang yang terzalimi keluar doa dari mulutnya, karena doa orang yang demikian tidak akan ditolak, “Takutlah kalian akan doa orang-orang yang dizalimi [ittaqu da’watal madzlum],” begitu pesan Nabi.

Dalam durasi waktu 24 jam, terdapat waktu yang paling mulia, yaitu pada akhir-akhir malam (sepertiga malam) dan lebih khusus menjelang salat Subuh. Dalam sebuah hadis dikatakan, “Salat dua rakaat sunnat menjelang [salat] fardu Subuh lebih baik dari dunia dan isinya”. Ada pun dalam hitungan minggu, maka hari Jumat adalah hari yang paling mulia, karena hari itu diciptakan dan diwafatkannya Nabi Adam, hari ditiupnya sangkakala tanda kedatangan kiamat, dan hari kiamat tak akan datang melainkan pada hari Jumat. Pada hari itu pula terdapat saat-saat doa tak akan ditolak, yaitu antara Asar dan Magrib. Dalam hitungan bulan biasanya terdapat tiga hari yang berbeda dengan hari-hari biasanya, yaitu pada tanggal 13,14, dan 15 menurut hitungan kalender Islam. Ada pun dalam hitungan tahun, maka Ramadhan adalah bulan yang amat mulia. Namun dalam hitungan umur manusia terdapat satu malam yang nilainya sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun lebih, malam itu disebut dalam Alquran sebagai lailatul qadar.

Setiap umat Nabi Muhammad pasti mendambakan ‘lailatul qadar’ alias ‘malam seribu bulan’ karena pada malam itu terdapat banyak keistimewaan. Salah satu keistimewaannya adalah, siapa pun yang dalam keadaan beribadah pada malam turunnya lailatul qadar, maka nilai umurnya akan bertambah seribu bulan di sisi Allah swt. Perlu dicatat bahwa salah satu faktor yang menjadikan umur umat Nabi Muhammad jauh lebih pendek dari para nabi dan rasul sebelumnya adalah adanya lalilatul qadar yang dapat menjadikan kualitas umur umat Rasulullah lebih panjang dari umat-umat lain. Jika seseorang saja dalam hidupnya mendapat lalailatul qadar sebanyak empat kali, maka nilai umurnya sama dengan empat ribu bulan atau sekitar 332 tahun.
Untuk itulah Rasulullah menganjurkan umatnya agar memburu lailatul qadar yang terdapat pada malam-malam di bulan Ramadan. Rasulullah pernah berdiri berpidato menyampaikan kepada para sahabat ketika sedang beriktikaf di masjid, isi pidatonya adalah penegasan bahwa dirinya kerap mendapatkan lailatul qadar, namun sayang beliau tidak mengingat pasti kapan datangnya malam seribu bulan itu. Namun pada penghujung petuahnya itu, beliau meminta segenap umat Islam agar mencari dan memburu malam misteri itu pada sepuluh hari terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29). Sebuah hadis bersumber dari 'Aisyah ra yang terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari no.1878, berbunyi. “Rasulullah saw menyuruh menanti lailatul qadar, pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadan.”
Para ulama juga berbeda pendapat, kapan turunnya malam mulia tersebut, opsi terkait malam penuh berkah itu mencapai 60 pendapat. Menurut Al-Qurthubi, perbedaan ini muncul karena dilatar-belakangi oleh penyikapan dan pemahaman hadis seputar lailatul qadar. Bahkan sejumlah sahabat Nabi seperti Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Ikrimah, hingga ulama sekaliber Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa tidak ada batasan kapan turunnya lailatul qadar, artinya bisa saja ia turun pada malam-malam di luar bulan suci.
Pendapat kedua yang dipegang oleh Abu Hurairah, Abu Dzar al-Gifari, Hasan al-Basri, dan sebagian ulama dari mazhab syafi’i berpendapat bahwa lailatul qadar pasti turun pada bulan Ramadhan, namun tidak ada ketetapan kapan ia datang, bisa saja pada awal, pertengahan, atau akhir bulan.

Dan pendapat ketiga sebagaimana Bilal, Aiyah, Ubai bin Ka’ab, Anas bin Malik, Imam Syafi’i dan mayoritas pengikutnya berpandangan bahwa lailatul qadar akan datang pada malam-malam ganjil di sepertiga malam terakhir. Dan pendapat inilah yang paling mendekati kebenaran dan bisa diterima, karena sesuai petuah dari Rasulullah saw.

Kendati mereka berbeda pendapat dalam menentukan waktu turunnya malam senilai seribu bulan itu, namun mereka sepakat dalam menentukan ciri-ciri laillatul qadar. Di antara tanda-tanda yang dapat disaksikan dengan kasat mata terkait kehadiran pada malam harinya adalah: matahari terbit pada pagi harinya dengan memalas, berwarna putih serta tidak terlalu bercahaya, salah satu penyebabnya karena malaikat yang turun kebumi begitu banyaknya sehingga menghalangi matahari bersinar dengan terang; suhu udara pada malam harinya sangat kondusif, tidak dingin dan tidak pula panas, serta lebih hening dari malam-malam biasanya.

Kesalehan Sosial
Islam adalah agama yang menekankan keberhasilan bersama (jama’i). Untuk itulah amalan-amalam yang dilakukan secara bersama-sama memiliki keistimewaan dibanding amalam yang dilakukan secara individual. Salat misalnya, jika dilakukan secara berjamaah memiliki nilai yang setara dengan 27 kali dalam keadaan solo. Rasulullah juga sering menyebut-nyebut umatnya secara keseluruhan (ummati, ummati!) tanpa membeda-bedakan satu dengan lainnya.

Dalam konteks lailatul qadar juga demikian, banyak amalan yang dapat menjadikan pelakunya meraih malam kemuliaan, terutama yang berkaitan dengan amalan mulia secara berjamaah. Seperti salat malam berjamaah, memberi hidangan makan sahur kepada orang yang kurang bahkan tidak mampu, selalu besedakah, menghidangkan buka puasa untuk orang lain, dan banyak lagi.

Dalam amalan individu ditekankan agar selalu merasa bersalah di hadapan Allah, lalu bertobat, dan berjanji tak akan mengulangi perbuatan yang mendatangkan dosa bagi dirinya sendiri mau pun orang lain. Tobat diiringi dengan amal saleh yang dapat mereduksi dosa-dosa. “Wa atbi’issayyeatal hasanah, tamhuha wa khaliqin nas bikhuluqin hasanah [ikutilah perbuatan yang jelek itu dengan amalan baik yang dapat menghapus dosa-dosa]” begitu pesan Rasulullah.

Selain itu, disarankan bagi pemburu malam seribu bulan agar terbebas dari tanggungan manusiawi. Seperti membayar hutang, atau mengembalikan hak institusi maupun perorangan yang diambil tanpa kebenaran. Seperti korupsi dan sejenisnya, lalu berjanji di hadapan Allah untuk tidak mengulanginya kembali. Tindakan semacam ini akan menambah daftar kesalehan yang ada pada dirinya, sehingga jiwanya akan suci dan berhak meraih lailatul qadar. Malam kemuliaan itu hanya hinggap pada jiwa-jiwa yang telah melalui proses penyucian yang panjang, mulai dari pembakaran ego syahwat dengan puasa, menghidupkan naluri kesalehan sosial dengan zakat dan sedekah, serta merenungi segala kemaksiatan dengan memperbanyak zikir.

Tak kalah pentingnya adalah selalu menyambung tali persaudaraan, terutama kepada tetangga, keluarga terdekat seperti kedua orang tua, saudara kandung, dan segenap kerabat lainnya. Silaturrahmi antarsesama dipastikan dapat menjadi salah satu syarat berkualitasnya nilai ibadah seseorang sehingga lailatul qadar dapat lebih mudah mampir  pada pelakunya. Jadi, pelaksanaan ibadah tak terbatas pada ritual-ritual individual semata seperti zikir, salat, puasa, haji, dan baca Alquran. Banyak amalan untuk meraih malam misteri yang nilainya sama dengan seribu bulan, khaerun min alfi syahrin.  Wallahua’lam!   

Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur.

(lppimakassar.com) 



0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More