Mewaspadai Pemahaman yang Keliru Seperti Ahlul Kitab Dalam Al-Qur'an

 
                                        SEPUTAR AL QURAN               

1. Ramadhan bulan al quran
a. QS. Al Qadr
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (Lalaitul Qadr) 2. dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

b. QS. Al Baqarah: 185
bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

2. Hikmah Turunnya Al Quran
a. Bukti Janji Allah
-   QS. Al Baqarah: 38-39
38.Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".
39. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.


-   QS. Thaha:123-124
123. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.
124. dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta".

b. Sebagai petunjuk hidup
-   QS. Al Baqarah: 185
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

c.  Petunjuk menuju ke surga
-   QS. Al An’am: 153
153. dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.

-   QS. An Nisa: 69
69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.



3. Mewaspadai pemahaman yang keliru (seperti perilaku Ahli kitab)
QS. Ali Imran: 78
78. Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, Padahal ia bukan dari Al kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah", Padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata Dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.

4. Patokan pemahaman dan pengamalan yang benar terhadap al quran (ahlus Sunnah wal jamaah)
a. QS. At Taubah: 100
100. orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
b. QS. An Nisa’: 115
115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

5.  Beberapa aliran yang menyimpang sesuai Fatwa MUI
a. Ahmadiyah
“ Menegaskan Kembali fatwa MUI dalam Munas II tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)” (kutipan putusan Fatwa MUI tentang Aliran Ahmadiyah tahun 1426H/2005M). Dikutip dari “Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975” kerjasama Sekretariat MUI dan Penerbit Erlangga 2011, hal 99.
b. Pluralisme, Liberalisme, Sekularisme agama
1) Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralism juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
2) Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
3) Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Al-Qur’an & Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.
4) Sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesame manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Ketentuan Hukum
1. Pluralisme, sekularisme, dan liberalism agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
2. Umat Islam haram mengikuti paham pluralism, sekularisme, dan liberalism agama.
3. Dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap ekslusif, dalam arti haram mencampuradukkan akidah dan ibadah umat Islam dengan akidah dan Ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah social yang tidak berkaitan dengan akidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan social dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak saling merugikan.

(kutipan putusan fatwa MUI  tentang Pluralisme, Liberalisme, Sekularisme agama, tahun 1426H/2005M). dikutip dari Dikutip dari “Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975” kerjasama Sekretariat MUI dan Penerbit Erlangga 2011, hal. 91-92.


c.  Faham Syiah
“Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlu Sunnah wal Jamaah seperti tersebut diatas, terutama menganai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan)”; Majelis Ulama Indonesia Mnehimbau kepada umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah” (kutipan putusan fatwa MUI  tentang Paham Syiah, tahun 1426H/2005M). Dikutip dari “Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975” kerjasama Sekretariat MUI dan Penerbit Erlangga 2011, hal. 47.
                                                       

Oleh: H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc., Ketua LPPI Indonesia Timur 
(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More