Beberapa Renungan Tentang Fase Terbentuknya Generasi Sahabat


 

Di sini, kami memiliki beberapa renungan:

1.    Islam datang untuk menghapus keyakinan-keyakinan kaum Musyrikin, menilai bodoh akal mereka dan merubah cara hidup mereka. Tidak dapat diragukan lagi, bahwa ini merupakan sikap yang paling sukar dan paling sulit bagi jiwa. Seseorang tidak mau menerima akidahnya dirubah dan mengakui kesalahan kecuali bila telah jelas baginya bahwa akidah yang baru adalah benar.

2.   Sesungguhnya orang-orang yang meninggalkan agama mereka dan menganut Islam adalah orang-orang yang agung pada diri mereka, berakal dalam keputusan mereka untuk masuk Islam, sekalipun dengan itu dia harus memikul beban yang berat, pengorbanan dan permusuhan. Andaikata penggantinya bukan sesuatu yang agung dalam pandangan mereka, pasti mereka tidak mau melakukan itu.

3.        Akibat mereka memeluk Islam, mereka harus menghadapi pemutusan hubungan dari kaum mereka, bahkan gangguan yang sangat keras, baik dengan lisan meupun dengan tangan, bahkan terkadang dengan pembunuhan.

4.        Kebanyakan orang yang masuk Islam, meninggalkan negerinya dan keluar menuju negeri Habasyah, sebuah negeri yang amat berbeda dengan negeri mereka, baik dari sisi akidah, bahasa maupun tradisi. Semua itu demi menjaga agama baru mereka.

5.        Al-Quran senantiasa turun kepada Rasulullah saw. menjaga perjalanan iman, menanamkan akidah tauhid dan Hari Akhir dengan memaparkan contoh-contoh kejadian hari akhir dan gambaran-gambaran kondisi orang-orang yang disiksa di neraka, serta gambaran-gambaran kenikmatan surga. Hal ini tentu memperdalam keimanan dan memantapkannya di dalam hati.

6.        Demikian pula pada periode Madinah, al-Quran terus turun kepada Rasulullah saw., ia member arahjan kepada individu dan masyarakat, menjaga sanubari, ucapan dan perbuatan mereka. Sehingga hampir tidak ada satu ayat pun yang turun melainkan ia terkait dengan suatu kejadian, mendukung, meluruskan atau mengingatkan. Para sahabat hidup dengan perasaan hati dan gerak-gerik yang terbuka, sementara Allah menjaga perasaan hati dan setiap gerak-gerik mereka.

7.        Rasulullah saw. sendiri yang menangani penggemblengan para sahabatnya, mengarahkan, menyucikan dan mengajarkan mereka al-Quran dan hadits. Beliau mengangkat sebagian mereka sebagai menteri dan amir, menikahkan mereka sekaligus menikah dari mereka, menyanjung dan memuji mereka serta memberikan kabar gembira kepada sebagian mereka dengan surga. Demikianlah kehidupan beliau bersama mereka hingga menghadap Allah SWT.

 http://www.thenationpress.net/nmedia1/image/19203.jpg

Tidak cukupkah hal-hal tersebut seluruhnya untuk melahirkan generasi rabbani yang tidak dapat ditandingi generasi lainnya, di mana keimanan, akhlak serta ilmu mereka tidak ada yang menyamainya?

Bila madrasah rabbani di bawah bimbingan Nabi Muhammad saw. ini tidak berhasil mendidik manusia, maka tidak ada kebaikan di bumi setelah dan sebelumnya.

Dan bila Islam pada permulaannya tidak berhasil sementara sebab-sebab pendukung dan situasinya sudah kondusif, maka tidak ada harapan untuk berhasil setelah itu.

Kami bersaksi bahwa madrasah rabbani di bawah bimbingan Nabi Muhammad saw. ini telah berhasil dalam mendidik para sahabat dan sejarah telah bersaksi.

Sesunggunya orang yang mengatakan bahwa mereka itu murtad atau berkhianat –sekalipun dengan sebab-sebab ini seluruhnya yang sudah barang tentu buahnya adalah sebaik-baik buah- orang yang mengklaim hal itu adalah pemilik hati yang sakit! Kita memohon kesembuhan kepada Allah baginya.

Oleh: Prof. Dr. Ahmad bin Sa’ad al Ghamidi, dalam buku: Siapa bilang Sunni-Syiah tidak bisa bersatu, terjemahan dari kitab beliau yang berjudul Hiwar Hadi’, Jakarta: Darul Haq, 2009 M, hal. 90-dengan sedikit perubahan

(lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More