Solusi Menghadapi Gerakan Syiah


Ket: Dua gambar buletian di atas ini sengaja kami sediakan untuk anda yang ingin mencetaknya sendiri dan menyebarkannya di daerah anda, untuk zoom gambar yang lebih besar silakan klik kanan pada gambar dan open in new tab, syukran atas partisipasi dakwahnya

Pengenalan
Masyarakat Islam di Indonesia akhir-akhir ini menyaksikan upaya-upaya penyebaran ajaran Syiah ke tengah-tengah masyarakat yang begitu gencar. Ajaran-ajaran tersebut telah dibahas dan diselidiki oleh para ulama termasuk MUI, sehingga terbitlah fatwa tentang kesesatan ajaran Syiah ini, sehingga perlu diwaspadai (sesuai rekomendasi MUI 1984), agar tidak merusak akidah masyarakat yang akan berakibat fatal di dunia apalagi di akhirat. 

Juga Musyawarah Forum Ulama Umat Indonesia di Bandung tgl. 22 April 2012, di antara rekomendasinya menyebutkan: Membuat Gerakan Aksi Damai “Indonesia Tanpa Syiah”. Oleh LPPI Makassar, kedua rekomendasi ini digabungkan menjadi “Gerakan Aksi Damai: Indonesia Mewaspadai Syiah, Menuju Indonesia Tanpa Pengaruh Syiah” dengan menyebut alasan-alasan pentingnya menghadapi gerakan Syiah dan program-program pokok yang harus dilaksanakan sebagai solusinya.

Yang sangat disyukuri karena Anre Gurutta H.M. Sanusi Baco sebagai Ketua MUI Sulsel serta Bapak H.M. Amin Syam, mantan Gubernur Sulsel, selaku Ketua Dewan Masjid Sulsel telah menandatangani rumusan ini sebagai dukungan dan persetujuan, sehingga seluruh komponen masyarakat Islam di Sulsel tidak perlu ragu untuk ikut pro aktif dalam gerakan ini dengan cara: turut mensosialisasikannya dan membantu dengan tenaga, dana, dan fikiran demi suksesnya program tersebut.

Semoga Allah merahmati, memberkati, serta meridhai usaha kita bersama, sesuai janji-Nya, “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7).

Langkah-langkah Menghadapi Gerakan Syiah

1.      Pentingnya segera menghadapi gerakan Syiah, karena:
a.    Di antara ajaran-ajaran Syiah (Imamiah) adalah: a) Menganggap Abu Bakar dan Umar telah merampas jabatan Khalifah dari pemiliknya yang sah yaitu Ali bin Abi Thalib ra. Oleh karena itu mereka memaki dan melaknat kedua beliau tersebut. b) Mereka memberikan kedudukan kepada Ali ra sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan. c) Bahkan ada yang berpendapat bahwa Ali ra dan imam-imam yang lain memiliki sifat-sifat ketuhanan. d) Mereka percaya bahwa imam itu ma’shum alias terjaga dari segala kesalahan besar atau kecil. e) Mereka tidak mengakui adanya ijma’ kecuali apabila ijma’ itu direstui oleh imam. f) Mereka menghalalkan nikah mut’ah yaitu nikah yang sementara waktu, misalnya satu hari, satu minggu, atau satu bulan. g) Mereka berkeyakinan bahwa imam-imam yang sudah meninggal akan kembali ke dunia pada akhir zaman untuk memberantas segala perbuatan kejahatan dan menghukum lawan-lawan golongan Syiah. Semua itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. (Edaran Depag No: D/BA.01/4865/1983).
b.    Rekomendasi MUI: Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlussunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang ‘Imamah’ (pemerintahan), Majelis Ulama Indonesia menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syiah. (Kumpulan Fatwa MUI, Jakarta 7 Maret 1984, hal.48-49).
c.       Mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlussunnah wal Jamaah) yang tidak mengakui dan menolak paham syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus. (Fatwa MUI, Nikah Mut’ah, Jakarta 25 Oktober 1997, hal. 350-355).
d.      Ajaran Syiah (khususnya Imamiah Itsna Asyariah atau yang menggunakan nama samaran Madzahab Ahlul Bait) dan semisalnya, adalah sesat dan menyesatkan. (Fatwa MUI Jatim, no: Kep-01/Skf-MUI/JTM/2012, hal. 15).
e.       Aliran Syiah Imamiyah, Ja’fariyah, Itsna Asyariyah, mazhab Ahlul Bait telah melanggar dan mengamalkan sepuluh kriteria aliran sesat yang ditetapkan MUI. (Musyawarah Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura di Gedung Islamic Centre Pamekasan, selasa 3 Januari 2012).
f.       Setelah peristiwa Sampang akhir tahun 2011,  PP Muhammadiyah, lewat sidang plenonya menyatakan sikap terhadap kelompok Syiah, yaitu: a) Muhammadiyah meyakini hanya Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian imam-imam (‘Ismatul aimmah) dalam ajaran Syiah; b) Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi wasallam tidak menunjuk siapapun pengganti beliau sebagai khalifah. Jadi  kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radiallhu ‘anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep rafidah-nya Syiah; c) Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya; d)  Syiah hanya menerima hadits dari jalur ahlul bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun riwayat Bukhari dan Muslim- ditolak oleh Syiah. Dengan demikian banyak sekali perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah, baik masalah akidah, ibadah, munakahat, dan lain nya.
Oleh karena itu umat Islam pada umumnya dan warga Muhammadiyah pada khususnya agar mewaspadai ajaran Syiah tersebut.
Di samping itu realitas, fakta, dan kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa di mana suatu negara yang ada (dimasuki, pen.) kelompok Syiah, hampir dapat dipastikan akan terjadi konflik horizontalHal tersebut harus menjadi perhatian kita semua jika kita ingin NKRI tetap utuh dan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga. (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, ketua PP Muhammadiyah, Majelis Tarjih MTDK, Majalah Tablig hal. 5 Edisi No. 7/IX/Jumadal Akhir 1433 H).

g.      Keputusan Muktamar Doha tentang dialog antara mazhab-mazhab Islam pada tgl. 20-22 Januari 2007 antara lain (butir ketujuh): “Mengajak para pemimpin dan tokoh rujukan agama dari kalangan Sunnah dan Syiah agar tidak mengizinkan adanya penyebaran tasyayyu’ (paham-paham syiah) di negeri-negeri (penganut aliran) Sunnah, tidak juga penyebaran tasannun (paham-paham khas Sunnah) di negeri-negeri (penganut aliran) Syiah, demi menghindari kekacauan dan perpecahan antara putra-putri umat yang satu (umat Islam).(M.Quraish Shihab,“Sunni-Syiah Bergandengan Tangan  Mungkinkah?”2007. Jakarta, Lentera hati, hal. 268).

h.      Rekomendasi Komisi Taktis Musyawarah Forum Ulama Umat Islam: Point 2.c. Membuat Gerakan Aksi Damai. “Indonesia Tanpa Syiah”. (Kesimpulan Musyawarah FUUI ke-2 di Bandung, 22 April 2012).

i.        KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan keterangan bahwa:
“Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan Shahabat-shahabat dicaci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat, dan semua orang.” (Muqaddimah Asasi Nahdathul Ulama hal. 26); Maka barangsiapa yang mencela Shahabat maka atasnyalah laknat Allah, Malaikat, dan seluruh manusia, (bahkan) Allah tidak menerima ibadah mereka baik wajib maupun sunnah. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11); Akan datang di akhir zaman orang yang mencela-cela Shahabat Nabi Sallallahu’Alaihi wa sallam, maka janganlah mensalatkan atau mendoakan mereka, jangan sholat bersama mereka, jangan kawin mawin dengan mereka, jangan duduk dengan mereka, dan jangan menjenguk mereka jika sakit. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11); Barangsiapa yang mencela-cela Shahabat Nabi Sallallahu’Alaihi wa sallam, maka pukullah dia. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11).

j.        Muh. Natsir berkata:
Kalau perkembangan sudah demikian (pengaruh ajaran sesat dari Syi’ah, pen), apakah para alim ulama kita di Indonesia bisa mendiamkan saja? Tidak bisa dan tidak boleh! Mereka, alim ulama adalah sebagaimana yang dilukiskan dalam Al Quran, yakni satu golongan yang fungsinya memperdalami ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaum mereka bila mereka kembali, agar mereka ini senantiasa waspada. Ini tugas alim ulama.

2.      Mensosialisasikan Gerakan Aksi Damai: “Indonesia Mewaspadai Syiah Menuju Indonesia Tanpa Pengaruh Syiah”.

3.                  Program Utama:
                                           
a.    Menyebarluaskan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah dengan pengertian yang luas dan mendorong umat untuk lebih mencintai Ahlul Bait dan Sahabat Radiallahu ‘Anhum, serta meneladani mereka dalam pemahaman dan pengamalan Islam yang sebenarnya.
b.    Mengantisipasi penyebaran ajaran Syiah dengan memberi pencerahan kepada masyarakat tentang kesesatan ajaran tersebut.
c.    Menyadarkan orang-orang yang sudah terpengaruh oleh ajaran sesat ini agar kembali kepada jalan yang benar (yaitu Islam dengan pemahaman Ahlussunnnah wal Jama’ah).
d.   Membina hubungan ukhuwah dan komunikasi antar pecinta ahlul bait dan sahabat dalam rangka ta’awun ‘alal birri wat taqwa.
e.    Mengadakan sosialisai kepada tokoh masyarakat, pemerintah, dan swasta tentang fatwa ulama mengenai ajaran Syiah dan bahayanya.
f.     Memohon kepada pemerintah daerah dan DPR agar mengeluarkan Surat Edaran Resmi Pelarangan Ajaran Syiah, termasuk kegiatan dan penyebarannya di Indonesia.
g.    Membentuk Forum Bersama Ittiba’ Jalan Ahlul Bait dan Sahabat (Forbes Ijabisah).

 Makassar, 16 Sya’ban 1433 H/6 Juli 2012 M.

               Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Perwakilan Indonesia Timur

KOOR. PEMBINA                                   KETUA
TTD                                                 TTD/CAP

PROF. DR. H. AMIRUDDIN ALIAH   H. M. SAID ABD. SHAMAD Lc.                    

            MENYETUJUI

      KETUA MUI SULSEL                 KETUA DEWAN MASJID INDONESIA SULSEL
         TTD/CAP                                                                                  TTD/CAP

AGH. SANUSI BACO, Lc.                                                  H. MUH. AMIN SYAM

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More