Shalat Tarwih Berjamaah Adalah Bid'ah?

Tanggapan terhadap pendapat kaum syiah bahwa shalat tarwih berjamaah adalah bid’ah.

Salah satu amalan yang mungkin terasa khas bagi kaum muslimin Indonesia, pada bulan ramadhan ialah shalat tarwih (taraweh) secara berjamaah di berbagai masjid. amalan ini, tampak menjadi syiar malam bulan suci ramadhan. yang seyogyanya diisi dengan puasa pada siang harinya dan dilengkapi dengan qiyam al lail pada malam harinya (tarwih, tahajud, witir dsb). Selain ibadah-ibadah lainnya seperti men-tadabburi al quran (menyimak dan meresapi isi kandungan al quran yang kemudian berusaha untuk diaplikasikan), menghafalkannya, mengajarkannya atau mendengarkan penjelasan-penjelasan terkait dengannya melalui ceramah dan khutbah diberbagai tempat dan media. Seolah bulan inilah tempat mendidik (mentarbiyah) diri kita untuk lebih dekat kepadaNya. 
Tulisan blog seorang syiah yang cukup sensasional berjudul: Shalat tarwih berjamaah adalah bidah (http://ahmadrettaa.blogspot.com/p/blog-page_5.html), tampak menjadi syubhat rutin  di bulan ramadhan. Bagi masyarakat muslim, hal ini tentu menimbulkan kontroversi. Bahkan lebih tegas lagi, penulis artikel ini menulis pada awal artikelnya, sebagai berikut:

Jadi jelas sekali dan tidak dipungkiri oleh siapapun bahwa; shalat tarawih secara berjamaah adalah ‘ibadah’ yang tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh baginda Rasulullah sehingga hal itu tergolong bid’ah yang harus dijauhi oleh setiap pribadi muslim yang mengaku cinta dan taat kepada pribadi mulia Rasulullah. Dan berdasarkan hadis terkenal Rasul; “Setiap bid’ah adalah sesat” (kullu bid’ah dhalalah) maka tidak ada lagi celah untuk membagi bid’ah menjadi baik dan buruk/sesat”

“Semua pemeluk agama Islam pengikut Muhammad Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM pasti meyakini bahwa bid’ah adalah perbuatan yang harus dijauhi. Hal itu karena terlampau banyak hadis Rasul –baik dalam kitab standart Ahlusunnah maupun Syiah- yang melarang dengan keras dan tegas kepada segenap umatnya dalam pelaksanaan bid’ah.

 “Pelaku bid’ah dapat divonis sebagai penentang dalam masalah tauhid penentuan hukum yang menjadi hak preogatif Tuhan belaka. Hanya Dia yang memiliki otoritas mutlak untuk itu.”

Selanjutnya artikel ini mulai memuat beberapa dalil untuk menguatkan judul artikelnya, yang menganggap shalat tarwih berjamaah adalah bid’ah. Diantaranya ialah:

Rasul dalam hadisnya pernah bersabda: “Setiap Bid’ah adalah sesat” (kullu bid’atin dhalalah) dimana ungkapan ini meniscayakan bahwa tidak ada lagi pembagian bid’ah menjadi ‘baik’ (hasanah) dan ‘buruk/sesat’ (dhalalah)?

Kita akan mulai dengan apa yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya yang dinukil dari Abdurrahman bin Abdul Qori yang menjelaskan: “Pada salah satu malam di bulan Ramadhan, aku berjalan bersama Umar (bin Khattab). Kami melihat orang-orang nampak sendiri-sendiri dan berpencar-pencar. Mereka melakukan shalat ada yang sendiri-sendiri ataupun dengan kelompoknya masing-masing. Lantas Umar berkata: “Menurutku alangkah baiknya jika mereka mengikuti satu imam (untuk berjamaah)”. Lantas ia memerintahkan agar orang-orang itu melakukan shalat dibelakang Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, kami kembali datang ke masjid. Kami melihat orang-orang melakukan shalat sunnah malam Ramadhan (tarawih) dengan berjamaah. Melihat hal itu lantas Umar mengatakan: “Inilah sebaik-baik bid’ah!”” (Shahih Bukhari jilid 2 halaman 252, yang juga terdapat dalam kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik halaman 73).

Dari riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa; Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada. Ketiga: Atas dasar itulah maka Umar sendiri mengakui bahwa ini adalah ‘hasil pendapat pribadinya’ sehingga ia mengatakan “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi). Sekarang yang menjadi pertanyaan; Bolehkan seorang manusia biasa mengada-ngada dengan dasar ‘pendapat pribadinya’ untuk membikin hukum peribadatan dalam Islam? Apa hukum mengada-ngada tersebut? Bagaimana memvonis pengada-ngada dan pelaksana hukum bikinan (baca: bid’ah) tersebut? 

Tanggapan

Jika kita ingin menelaah hadis ataupun perkataan sahabat dengan hati yang jernih dan pemahaman yang baik maka tentu kita akan memperoleh kesimpulan lebih tepat. Penulis artikel diatas, atau orang yang berpemahaman syiah (mereka menyebut diri penganut mazhab jakfari, syiah imamiah, mazhab ahlul bait, diperhalus dengan sebutan mazhab akhlak dan cinta, atau golongan yang semisal/ sepemahaman dengan mereka). Biasanya mereka menjadikan ketidak senangan kepada para sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam, sebagai motor penggerak dalam berpendapat ataupun beribadah. Lihatlah acara tahunan mereka yang selalu melaknat sahabat-sahabat besar nabi shallallahu alaihi wa sallam, semisal abu bakar, umar dan utsman.

Jika landasan ketidak-senangan terhadapa sahabat menjadi dasar maka, hampir bisa dipastikan kesimpulan yang diperoleh akan mendiskreditkan sahabat nabi shallallahu alaihi wa sallam. Alur pemikiran yang pada awalnya cenderung menyudutkan para sahabat nabi tersebut, tentu akan berakhir dengan kesimpulan yang serupa. Mengapa? Untuk menyesuaikan dengan keinginan mereka. Disinilah, pentingnya kejujuran.  Dalam mengemukakan dalil sebagai argument masing-masing, kedua pihak yang berbeda pendapat/ penafsiran selayaknya dibekali keberanian untuk mengakui kekeliruannya ketika alasan (dalil) yang digunakan lemah, sebaliknya mereka yang memiliki argument kuat, tidak malah menyalahkan atau bahkan menghinakan orang yang memiliki pendapat lemah. Sayangnya kami tidak menemukan hal tersebut dalam pemahaman dan perangai orang syiah (atau yang semisalnya). Inilah mungkin sebabnya mengapa, sampai saat ini, kata sepakat dan ukhuwah cukup sulit kita temui dikalangan ahlus sunnah dan syiah.

Mengenai pembahasan, shalat tarwih secara berjamaah misalnya. Kita dapat melihat serangan dan dan ucapan tajam orang syiah terhadap kaum muslimin yang mengadakan shalat tarwih secara berjamaah. Tidak main-main, mereka menyebut orang yang melakukan shalat tarwih berjamaah dengan sebutan ”Penentang dalam masalah tauhid”. Hal ini,dikarenakan dasar pemahaman yang tercemari oleh prasangka yang kurang baik (terhadap sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam) sehingga menghasilkan kesimpulan yang cenderung menyimpang dari kebenaran.

Jika kita memulai dengan pandangan yang jernih serta pemikiran yang baik, kemudian dilakukan telaah terhadap berbagai dalil dan riwayat (tidak hanya riwayat yang mendukung pendapat kita) kemudian kita bandingkan maka akan kita temui kesimpulan yang lebih komprehensif dan berimbang.

Shalat tarwih berjamaah di zaman Rasulullah

Kesimpulan yang menyatakan: 

Pertama: Shalat terawih berjamaah tidak pernah dilakukan sebelum adanya perintah dari Umar. 

Kedua: Pertama kali shalat tarawih berjamaah diadakan pada zaman Umar sebagai khalifah. Sedang pada masa Rasul maupun khalifah pertama (Abu Bakar) tidak pernah ada.

Kesimpulan ini keliru, karena tidak memperhatikan riwayat atau hadis lain yang menyatakan bahwa rasulullah pernah melaksanakan shalat malam pada bulan ramadhan secara berjamaah. bahkan salah satu penyebab mengapa kemudian nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk berjamaah lagi di masjid, justru karena peserta shalat tarawih di masa nabi membeludak. ketidak-berjamaahan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa lalu ada sebabnya, yaitu karena takut akan diwajibkan oleh Allah SWT. Seadainya ketakutan itu sudah tdk ada lagi, maka tentu shalat tarawih berjamaah dapat berlangsung kembali. 

Dalilnya ialah: 
Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ. وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau n, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi shallallahu alaihi wasallam), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan." (Muttafaqun ‘alaih)

Maka kesimpulan yg pertama, bahwa shalat tarawih di masa nabi pernah dilakukan dgn berjamaah. Umumnya para fuqaha fiqhi berbeda pendapat manakah yang lebih afdhol dikerjakan sendiri atau secara berjamaah. 
Mengenai shalat tarwih yang kembali dihidupkan (secara berjamaah) oleh Umar radhiyallahu anhu sewaktu menjabat sebagai khalifah, dan tidak pada masa Abu Bakar radhiyallahu anhu. Analisanya ialah bahwa masa khilafah Abu Bakar tdk berlangsung lama. Praktis hanya 2 tahun saja beliau memerintah. Sementara kaum muslimin saat itu sedang mengalami berbagai fitnah & cobaan. Misalnya kasus murtadnya berbagai suku-suku arab. Sementara itu kaum muslimin saat itu sedang menghadapi peperangan besar melawan Romawi. Tentu mereka sibuk mempersiapkan peperangan besar.

Namun bukan berarti tidak ada pembenahan internal di masa itu. Paling tidak, sejarah mencatat bahwa di masa khilafah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mushaf Al Quran berhasil dijilid jadi satu. Setelah selama ini berserakan di berbagai media, meski masih dihafal oleh ribuan shahabat.

Dua tahun berselang, tibalah masa
Umar bin al Khattab radhiyallahu ‘anhu memerintah. Masa beliau memerintah cukup panjang, ada banyak waktu untuk menaklukkan para pembangkang, bahkan 3 imperium besar berhasil ditaklukkan (termasuk didalamnya imperium Persia-negara Iran saat ini- daerah asal pemahaman Syiah Imamiah). Maka ada banyak kesempatan bagi khalifah untuk melakukan beberapa pembenahan. Termasuk menghidupkan kembali sunnah nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melakukan shalat tarawih dengan berjamaah, setelah beberapa tahun sempat tidak berjalan karena berbagai alasan.

Kesimpulannya: di masa nabi, tidak berlangsungnya shalat tarawih berjmaaah karena alasan takut diwajibkan. Di masa Abu Bakar, alasannya karena ada banyak permasalahan  mendesak & itupun hanya 2 tahun saja(masa kekhalifaan beliau). Maka kesempatan yg agak luas baru didapat di masa khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Di masa itulah khalifah menghidupkan kembali sunnah Rasulullah SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM, yaitu shalat tarawih berjamaah di masjid dgn satu orang imam. Ubay bin Ka’ab ditunjuk oleh khalifah karena bacaan beliau sangat baik.

Apa yg dilakukan oleh khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu disetujui oleh semua shahabat (termasuk Ali radhiyallahu ‘anhu - imam syiah yang pertama). Tidak ada riwayat yg menyebutkan bahwa ada satu shahabat yg menentang diserukannya kembali shalat tarawih berjamaah sebagaimana dahulu pernah dilakukan oleh nabi shallallahu alaihi wasallam. Maka boleh dibilang bahwa shalat tarawih dgn berjamaah merupakan ijma’ para shahabat. Dan ijma’ merupakan salah satu sumber syariah yg disepakati.

Tidak berlangsungnya shalat tarawih berjamaah karena ada alasan yg bersifat temporal. Begitu alasannya sudah tidak ada lagi, maka sunnahnya dikembalikan lagi sebagaimana aslinya. Tidak ada kaitannya tentang berapa lama jamaah tarawih tdk berlangsung.

Dalam hal ini, tdk berjamaahnya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat tarawih bukan bersifat menasakh (menghapus) hukum kesunnahan tarawih berjamaah. Tetapi memberi dasar hukum kebolehan shalat tarawih dilakukan tdk berjamaah karena adanya alasan tertentu. Ketika alasan (udzur) itu sudah tdk ada lagi, maka kesunnahannya dikembalikan kpd asalnya.


Demikian kira-kira argumentasi jumhur ulama & fuqaha di bidang ilmu fiqih. Wallahu a’lam bishshawab .( lihat: 
http://www.rahasiasunnah.com/50/dalil-shalat-tarawih-berjamaah.htm)

Mengenai perkataan Umar radhiyallahu anhu “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi).  Berdasarkan perkataan umar ini mereka kemudian menyimpulkan bahwa inilah salah satu contoh bid’ah sahabat yang telah mencemari ajaran rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, bahkan umar radhiyallahu anhu dituduh telah membuat hukum baru dalam ibadah kepada Allah. 

Dari pemamaparan sebelumnya, telah terjawab bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri telah melaksanakan shalat tarwih secara berjamaah, namun karena kekhawatiran beliau akan turun perintah diwajibkan shalat berjamaah ini, maka beliau tidak berjamaah. Dan sekali lagi tdk berjamaahnya nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat tarawih bukan bersifat menasakh (menghapus) hukum kesunnahan tarawih berjamaah. Tetapi memberi dasar hukum kebolehan shalat tarawih dilakukan tdk berjamaah karena adanya alasan tertentu. Ketika alasan (udzur) itu sudah tdk ada lagi, maka kesunnahannya dikembalikan kpd asalnya.

Demikian kira-kita argumentasi jumhur ulama & para fuqaha di bidang ilmu fiqih. (silahkan lihat ulang pembahasan lengkap mengenai hal ini di sub judul Shalat tarwih berjamaah di zaman Rasulullah)

Dari pemahaman diatas kita memaknai perkataan umar, “Ini adalah sebaik-baik bid’ah” (nimatul bid’ah hadzihi), TIDAK dengan menuduh Umar membuat hukum baru, Umar menghianati rasulullah dengan membuat kesesatan dalam beribadah, sebagai pelopor para penentang terhadap masalah tauhid, atau kesimpulan  negative lainnya (yang didasarkan ketidak-senangan terhadap sahabat Nabi).
Jika kita ingin, berpikir jernih dan menelaah dengan baik maka kita akan sampai pada kesimpulan sebagaimana yang diungkapkan para ulama bahwa, perkataan tersebut tidak berimplikasi syariat, tetapi hanya sebatas perkataan lughawy (bahasa atau etimologi). Karena memang telah ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 
Perkataan ‘Umar  “ ini adalah sebaik-baik bid;ah”  disikapi oleh Ibnu Rajab dengan pernyataan berikut,

“Adapun perkataan ulama salaf yang menganggap adanya bid’ah yang baik, maka yang dimaksudkan adalah bid’ah lughowi (bid’ah secara bahasa atau etimologi) dan bukan menurut istilah syar’i. Contoh perkataan yang dimaksud adalah perkataan ‘Umar bin Khottob ketika beliau mengumpulkan orang-orang untuk melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) bersama dengan satu imam di masjid…” (lihat di artikel muslim. or. id  “umar dan imam syafi’I berbicara tentang bid’ah hasanah”)

Bahkan tidak ada pengingkaran Nabi shallallahu alaihi wasallam terhadap para shahabat yang shalat bersamanya (secara berjamaah) pada beberapa malam bulan Ramadhan. (Al-Fath, 4/297 dan Al-Iqtidha’, 1/592)

Hal ini serupa dengan  kata “kafir” , dimana secara etimologi berarti “menutup”   tetapi secara syariat berarti “orang diluar Islam/ Musyrik”. Para petani misalnya dapat dikatakan kafir (secara bahasa/ etimologi) karena pekerjaan mereka yang menggali tanah, memasukkan bibit dan  kemudian “menutup” lubang tanahnya. Para petani muslim tentu tidak dapat dikatakan kafir secara syariat. (Lihat pengertian kafir-arab- di http://id.wikipedia.org/wiki/Kafir)

Misalkan maksud “bid’ah” dalam perkataan umar diatas ialah bid’ah syariat, maka perkataan siapapun akan tertolak dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: 
وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

(setiap bid’ah -sesuatu yang diada-adakan dalam syariat, yang tidak memiliki contoh dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam- adalah sesat). Maka sudah seharusnya, sebagai muslim yang baik kita akan mengikuti perkataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan menjauhi setiap bid’ah (dalam syariat) siapapun yang menyerukannya.

Dari penjelasan ini, berimbanglah pemahaman kita tentang hukum shalat tarwih berjamaah, sehingga kita tidak dengan serampangan menuduh bid’ah, penentang tauhid dan kesimpulan yang didasarkan oleh prasangka negatif terhadap murid langsung, dan sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Sebagai tambahan kami juga menemukan beberapa dalil yang dimanipulasi dalam tulisan “shalat tarwih berjamaah adalah bid’ah” karya seorang penganut syiah (http://ahmadrettaa.blogspot.com/p/blog-page_5.html). Diantaranya ialah, yang kami kutip:
Ada dua hadis yang sering dijadikan argumen sebagai landasan hukum legalitas shalat tarawih berjamaah di bulan Ramadhan;
1- Ummul Mukmin Aisyah berkata: “Pada satu pertengahan malam, Rasulullah keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat di masjid. Beberapa orang mengikuti shalat beliau (sebagai makmum. red). Masyarakatpun mulai berdatangan karena kabar yang tersebar. Hal itu berjalan hingga malam ketiga. Masjidpun menjadi penuh. Pada malam keempat, setelah melaksanakan shalat Subuh Rasul berkhutbah di depan masyarakat dengan sabdanya: “…Aku khawatir perbuatan ini akan menjadi (dianggap) kewajiban sedang kalian tidak dapat melaksanakannya”. Sewaktu Rasulullah meninggal, suasana menjadi sedia kala” (Shahih Bukhari jilid 1 halaman 343)
Menjadikan hadis di atas sebagai dalil akan legalitas shalat tarawih berjamaah sangatlah lemah dan tidak sempurna. Karena di dalam teks hadis tersebut jelas sekali bahwa, tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan Ramadhan sehingga itu menunjukkan shalat tarawih. Selain karena hadis itu secara sanadnya terdapat pribadi yang bernama Yahya bin Bakir yang dihukumi lemah (dhaif) dalam meriwayatkan hadis. Hal itu bisa dilihat dalam kitab “Tahdzibul Kamal” jilid 20 halaman 40 dan atau Siar A’lam an-Nubala’ jilid 10 halaman 612. apalagi jika kita kaitkan dengan pengakuan sahabat Umar sendiri yang mengaakan bahwa tarawih adalah; “Sebaik-baik bid’ah”, sebagaimana yang telah kita singung di atas”
Pertama mereka mengutip hadis (yang hanya diterjemahkan saja -tanpa teks asli) kemudian menambahkan keterangan” dalam teks hadis tidak ada penjelasan bahwa itu terjadi pada bulan ramadhan”
Mereka melemahkan hadis muttafaqun alaih, dengan berkata terdapat rawi yang lemah dalam hadis shahih bukhari dan muslim. Dibawah ini kami kutipkan hadis yang mereka maksud dalam teks asli, dan terjemahannya, bandingkan dan perhatikah huruf tebalnya.
Hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha beliau berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِِ أَوِ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ.
وَذَلِكَ فِيْ رَمَضَانَ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau n, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’
dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan." (Muttafaqun ‘alaih)

Kita berlindung kepada Allah dari sifat tidak jujur dan prasangka yang kurang baik terhadap orang-orang shaleh. Akhirnya, mari kita menyambut bulan suci ramadhan ini dengan penuh kegembiraan serta semangat yang memuncak untuk meraih segala keutamaannya. Wallahu a’lam

5 komentar:

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para shahabat mengikuti shalat beliau..."

pertanyaan saya mana kalimat n kata yang menyatakan rosul dan sahabat sholat berjamaah...?

Kepada Xarel X: bahasa arabnya berbunyi "أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلاَتِهِ نَاسٌ،" artinya, "manusia mengikuti shalat Rasulullah", kalau ada yang diikuti dan ada yang mengikuti berarti itu namanya berJAMAAH.

Dalam hadis Aisyah di atas, pada malam ketiga para sahabat menanti keluarnya Rasulullah, namun Rasulullah tidak keluar, akhirnya mereka tidak shalat, karena Imam mereka tidak ada di masjid, dan jika ada Imam berarti mereka berJAMAAH.

Dalam riwayat Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Ash-haabus Sunan dikatakan "falam yaqum bina" (beliau tidak shalat malam bersama kami)kemudian dilanjutkan pada teks berikutnya "faqaama bina" artinya Rasulullah menegakkan shalat bersama kami (mengimami kami), kemudian di akhir hadis sahabat bertanya, "Ya Rasulallah lau naffaltana baqiyyata lailatina hadzihi" (Ya Rasulullah alangkah senangnya kami bila pada malam-malam Ramadhan yang masih tersisa engkau sudi mengerjakan shalat kembali bersama kami)dan itu semua artinya mereka berJAMAAH.

jam berapa shalat berjamaahnya?, setelah isya atau tengah malam?

Apa pd masa kalifah abu bakar ada shalat tarawih berjamaah di bln Ramadan ??

shalat tarwih di zaman Abu Bakar radhiyallahu anhu ada, dilaksanakan sendiri2.

dan Rasulullah shallallahu alaihi wa aalihi wasallam pernah melaksanakannya secara berjamaah, namun hanya tiga malam di bulan Ramadhan karena khawatir shalat tarwih dianggap wajib.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More