Menyoal Gelar Akademik Jalaluddin Rakhmat




Tidak bisa dipungkiri sosok Jalaluddin Rakhmat telah menjadi salah satu tokoh yang kontroversial di tengah masyarakat Islam Indonesia, terlebih setelah mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang menganut paham Syiah pada tahun 2009, di Hotel Horison Makassar, dengan membawakan makalah, Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlul Bait as.

Lebih heboh lagi ketika mendengar berita bahwa Jalaluddin Rakhmat mendaftar sebagai mahasiswa doktoral program by research Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Sampai salah satu koran lokal Makassar menempatkan pada headline berita terkait program doktoral tersebut. Sebagai ulasan singkat kami jelaskan bahwa Jalaluddin Rakhmat merupakan tokoh Syiah di Indonesia, beliau sekarang sebagai ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia. Mencela, melaknat bahkan mengkafirkan sahabat Nabi Muhammad saw adalah doktrin utama dalam Syiah. Dan kami sudah temukan data-data pelecehan, pencelaan, bahkan mengarah kepada pelaknatan dan pengkafiran sahabat dalam buku-buku Jalaluddin Rakhmat.

Kita tahu, sahabat adalah murid Nabi Muhammad saw, merekalah yang membawa agama Islam, Alqur’an dan Hadis, kepada generasi berikutnya. Menganggap mereka tidak kredibel apalagi menganggap kafir adalah meragukan apa yang mereka bawa berupa Alqur’an dan Hadis. Jika begitu adanya, kita kemudian bisa memvonis Nabi telah gagal menyiapkan generasi yang akan membawa risalah agama ini ke generasi berikutnya secara amanah. Akhirnya terputuslah mata rantai ajaran Islam yang kita anut sekarang ini. Olehnya Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya, Al-Fiqhul Islam Wa Adillatuhu, Juz 6, hal 567 mengatakan, “Dan tidak dapat diterima persaksian orang yang menampakkan celaannya terhadap salaf seperti sahabat dan tabi’in, karena telah nampak kefasikannya. Berbeda dengan orang yang menyembunyikannya (sikapnya mencela-cela salaf), karena itu orang fasiq yang tersembunyi.
 
Gelar Akademik
Banyak sumber yang bisa dijadikan refrensi bahwa Jalaluddin Rakhmat sudah bergelar akademik dari gelar master sampai ke tingkat guru besar, di antaranya dalam Harian Fajar Makassar, tanggal 25/1/2009, tertulis, Prof Dr Jalaluddin Rakhmat Msc, tanggal 28/4/2011, ditulis oleh Qasim Mathar sebagai Prof Dr Jalaluddin Rakhmat, beberapa waktu kemudian Ahmad Sewang mengatakan, Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat, 5/8/2011, Ahmad Sewang kembali mengatakan, Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat, jauh sebelum itu Supa Atha’an pada tanggal 28/2/2008 menulis Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat, selain itu Tribun Timur, 19/7/2011 memberitakan bahwa Jalaluddin Rakhmat sebagai Guru Besar Komunikasi di Universitas Padjadjaran.

Universitas Paramadina pada tanggal 25/11/ 2011 mengeluarkan biodata resmi Jalaluddin Rakhmat, disebutkan menempuh S1 di Unpad, jurusan Communication Science, S2 di IOWA State university USA, lulus tahun 1981, dan terakhir S3 di Australian Nasional University lulus pada tahun 1997.

Di dalam banyak acara ilmiah disebutkan nama Jalaluddin Rakhmat sebagai Prof Dr Jalaluddin Rakhmat dengan tambahan Msc atau Msi, dan terakhir dalam buku Menuju Persatuan Umat yang merupakan kumpulan artikel para tokoh kontroversial, termasuk Jalaluddin Rakhmat menulis dirinya dengan gelar masternya saja. Masih ada data-data lain yang bisa dijadikan pegangan bahwa tokoh kita satu ini sudah lengkap gelar akademiknya, meskipun secara pribadi dalam karya-karyanya jarang sekali beliau menuliskan gelarnya. Tapi sedikitpun tak pernah kami menemukan Jalaluddin Rakhmat mengonfirmasi jika ada yang keliru dalam penulisan gelarnya dalam berbagai kesempatan yang kami ikuti.

Pembuktian Gelar
Kami mencoba menulusuri gelar-gelar Jalaluddin Rakhmat, bermula dari gelar Guru Besar beliau dimana kami dapa info bahwa yang bersangkutan belum mendapat gelar guru besar Universitas tempatnya mengajar secara resmi, kami mencoba tabayyun ke Universitas Padjadjaran. Setelah menunggu sekitar dua bulan akhirnya surat kami dibalas secara resmi, dengan Nomor: 9586/UN6.RKT/KU/2012, perihal: Klarifikasi Mengenai Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, tertanggal 23 April 2012 berbunyi; (1) Bapak Jalaluddin Rakhmat, belum memiliki gelar Guru Besar di Universita Padjadjaran; (2) Untuk gelar Doktor (Dr), secara administratif kami belum menerima ijazahnya. (Silakan lihat artikel Bertaqiyah Dengan Gelar Professor)

Dengan surat ini, terungkaplah sedikit kecurigaan kami, ternyata benar beliau tidak bergelar Guru Besar. Polemik ini pernah dijawab oleh Ketua IJABI Sulsel di Fajar, 21/5/2012, bahwa bisa jadi gelar Guru Besar tersebut tidak diperoleh di Unpad namun di PT yang lain, naifnya nama PT-nya itu tidak disebut. 

Untuk memperkuat ini, selanjutnya kami tabyyun ke DIKTI pusat mengenai klarifikasi penyetaraan gelar akademik Jalaluddin Rakhmat yang diperoleh di luar negeri, Amerika dan Australia. Tak berselang begitu lama, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menjawab surat kemi secara resmi juga dengan nomor: 1061/E3.2/2012, perihal: Klarifikasi Penyetaraan Ijazah Luar Negeri, tertanggal 14 Juni 2012, berbunyi, “Sehubungan dengan surat saudara perihal permohonan klarifikasi Ijazah Sdr. H. Jalaluddin Rakhmat lulusan IOWA State University (Master) dan Australian National University (Doktor), bersama ini kami informasikan bahwa yang bersangkutan belum pernah melakukan pennyetaraan ijazah baik Master maupun Doktornya. Dengan demikian Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi tidak memiliki data tentang yang bersangkutan.”

Kiranya menurut kami cukuplah dua surat resmi ini sebagai salah satu bukti di antara sekian banyak kebohongannya. Pembohong adalah orang fasik, yang persaksiannya tidak memenuhi syarat untuk diterima (lihat QS. An-Nur: 4)

Hal ini membuktikan perkataan Imam Asy-Syafi’i yang mengatakan, “Saya belum pernah menemukan seorangpun para pengikut hawa nafsu yang lebih pendusta dalam pengakuan-pengakuannya dan lebih nyata dalam bersaksi dusta lebih dari Rafidhah (orang Syiah)” (lihat Al-Intishar Lil Shahbi wal Aal, Syekh Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, hal 130)

Ini semua kami lakukan agar umat terhindar dan tidak menerima ajarannya karena pembawa suatu ajaran yang benar itu harus mempunyai sifat Ahs-Shidq atau kejujuran.

Oleh: Muh Istiqamah/ Wakil Sekretaris LPPI Indonesia Timur


8 komentar:

bagus sekali komentarnya, saya setuju dengan penelitian mengenai asal usul tersebut, kalau urusan jalal saja saudara sebegitu telitinya, seharusnya mengenai aqidah kita juga harus seteliti mungkin. contoh jelas adalah masalah yang sering kita dengan bahwa hadis kitabulah wa sunnati itu tidak ada dalam 6 kitab hadist tapi kita tetap percaya. nah anehnya untuk hal remehseremeh gelas jalaludin rahmat kita teliti, tetapi masalah sejarah kekhalifahan kita telan mentah-mentah, termasuk kudeta muawiyah terhadap syaidina ali kita tidak mempercayainya, padahal hadis lengkap mengenai hal tersebut. tapi kita tidak pernah mempermasalhkanya, sungguh celaka..
Salafi Purdi

Kami meneliti gelar professor, doktor dan master Bapak Jalaluddin Rakhmat adalah untuk membuktikan bahwa ajaran yang beliau pakai -dalam hal ini Syiah- membenarkan berdusta, alhamdulillah itu terbukti.

Untuk masalah Akidah tentu kita harus lebih teliti, jangan sampai kita disesatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

hadis Kitabullah wa sunnati yang tidak berada dalam 6 kitab hadis tidaklah menunjukkan bahwa hadis itu dhaif. Hadis itu berada dalam Kitab Muwaththo' milik Imam Malik.

Jalaluddin Rakhmat sangat memuji Syeikh Al-Bani karena telah menshahihkan hadis Kitabullah wa itrati. Namun sayangnya, Bpk. Jalaluddin Rakhmat mengambil pendapat (takhrij hadis) Syeikh Al-Bani yang memihak kepada ajarannya dan meninggalkan takhrij hadis yang tidak mendukung ajarannya. Dalam takhrij Hadis Kitabullah wa Itrati, Syekh Al-Bani mengatakan bahwa Hadis tersebut memperkuat keshahihan hadis Kitabullah wa sunnati. Pada makalah yang disampaikan Bpk. Jalaluddin Rakhmat kita dapatkan beliau memotong perkataan Syekh Al-Bani. untuk singkatnya, silakan buka link berikut: http://www.lppimakassar.com/2012/11/jalaluddin-rakhmat-tertangkap-basah.html

Apakah masalah yang terjadi antara Imam Ali dengan Muawiyah adalah masalah Aqidah?

Jawabannya bukan.

Masalah yang terjadi antara Imam Ali dengan Muawiyah radhiyallahu anhuma adalah masalah ijtihad fiqhiyah tentang hukuman kepada pembunuh Utsman bin Affan. Imam Ali memandang bahwa kita selesaikan dulu masalah baiat khilafah baru kemudian kita urus pembunuh Utsman bin Affan. Muawiyah memandang bahwa urus dulu pembunuh Utsman bin Affan lalu kita selesaikan baiat.

Jadi masalah yang terjadi antara dua sahabat mulia tersebut adalah masalah perbedaan ijtihad fiqhiyah. bukan masalah.

Sebaliknya, kami nasehatkan kepada Anda agar teliti dalam mencari kebenaran.

Syukran. wa hadaakumullah

alhamduliLlah...yng nanya diatas nampaknya orang syiah tuh akhi...berusaha memojokkan ahlu sunnah , tetapi tentu saja mereka tidak berkutik manakal dalil disampaikan,,,,,

Udah ketangkep basah berdusta tapi masih di bela ma pengikutnya... Wah,wah..wah.. Kayaknya kalo jalaludin rahmat ngaku dirinya Tuhan juga kayaknya bakal di telan tuh ama pengikutnya..

Bukankah Hasan bin Ali bin Abithalib yg membaiat muawiyah ???

Bukankah putra Ali bin Abithalib ra yaitu Hasan bin Ali bin Abithalib rasendiri yg membaiat Muawiyah ???

Bukankah putra Ali bin Abithalib ra yaitu Hasan sendiri yg membaiat Muawiyah ra ?

Jawaban Jalaludin Rahmat Tentang Ijazah baca di: http://misykat.net/article/126847/jalaluddin-rakhmat-dari-masalah-syiah-sampai-ijazah.html

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More