Mengenang Prof. Achmad Ali, Sang Penjegal Liberalisme



 
Sistem hukum, Konstitusi, Undang-Undang, dan Peraturan-Peraturan turunan, hingga praktik hukum menjadi kajian yang serius di setiap artikel-artikel Prof. Dr. Ahmad Ali, S.H., M.H. (Harian Fajar, Rabu 20 Juni 2012). Masyarakat Indonesia, khususnya yang berkecimpung dalam dunia hukum tahu persis siapa sosok yang kita sedang bicarakan ini. Kendati Prof. Ahmad Ali rahimahullah banyak menghabiskan waktu dan tenaganya pada dunia akademis di Makassar, namun beliau  dapat pula dikategorikan sebagai tokoh nasional karena tidak jarang menjadi nara sumber di beberapa media nasional lantas menjadikan dirinya tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia secara umum dan para penggiat hukum secara khusus.

Kali ini, penulis mencoba mengungkap sisi lain dari Guru Besar yang telah menghembuskan nafas terkhirnya pada 17 Juni ini. Sisi yang tidak kalah pentingnya namun tidak banyak diketahui orang, yaitu berhubungan dengan ketegasan beliau dalam membela agama yang ia anut. Di saat para pemikir yang notabene-nya berasal dan menjadi guru besar dalam kampus berbasis dan atas nama Islam berusaha memasarkan ide-ide liberalismenya, di saat itulah Prof. Ali muncul menjegal pemikiran yang beliau anggap merusak dan sangat menyimpang dari koridor kebenaran al-haq.

Sebagai kolumnis, Prof. Dr. Ahmad Ali (1952-2012) bebas men-counter segala bentuk prilaku, pemahaman, dan pemikiran yang beliau anggap menyimpang terutama dari sudut pandang agama, ini bisa kita lacak dalam salah satu tulisannya padah akhir-akhir tahun 2010, beliau menulis dalam kolom “Hukum & 1001 Masalah Kemasyarakatan” dengan tema “Pencerahan atau Pelecehan Agama?” sebagai berikut, “Kalau mengatakan semua agama benar menurut penganutnya masing-masing, itu benar pencerahan! Tetapi kalau mengatakan semua agama benar (titik!), maka itu pelecehan terhadap agamanya masing-masing. Dan sangat tidak logis. Tidak mungkin sama antara ajaran Islam yang  wajib setiap Jumat ke masjid dengan umat Kristen yang beribadat setiap Minggu ke gereja. Demikian pula umat agama lainnya dengan rumah ibadatnya masing-masing. Tidak mungkin sama antara ajaran Islam yang mewajibkan puasa  di bulan Ramadan, zakat, naik haji, ke tanah suci bagi yang mampu sekali seumur hidup; di satu pihak dengan umat lain yang tidak mengenal kewajiban semacam itu,” tulis Guru Besar pemilik  16 ribu buku di rumahnya.
Cukuplah tulisan di atas menegaskan pada kita semua bahwa paham pluralisme dan liberalisme merupakan paham yang diserang oleh Prof. Ali, paham yang kini terus berkembang di kampus-kampus yang berbasis Islam. Sangat jelas dan haqqul yaqin kalau tulisan di atas ditujukan kepada para saudara-sadara kita yang menganut juga mengusung pemikiran liberal atau pluralisme, dimana salah satu pokok pemahamannya menyatakan bahwa semua agama pada dasarnya benar, atau agamaku memang benar tapi tidak menutupi kemungkinan agama lain juga benar, dan pada tahap tertentu paham ini mengarah kepada agama tanpa agama. Ibarat orang yang mengatakan semua pakaian bagus, lalu ‘telanjang’.

Guru  Besar Ilmu Hukum di Unhas ini memiliki pemahaman keagamaan yang mendalam terkait dengan sekularisme, pluraslime, dan liberalisme (sepilis) yang telah difatkawan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sejak tahun 2005 lantaran kegemarannya membaca buku-buku yang mencerahkan terutama karya-karya para cendekiawan muda yang menjadi counter attack kaum liberal. Sebagaimana beliau akui sendiri dalam tulisannya dengan tajuk “Muslimlah Daripada Liberal”  dengan terang, dan lugas ia katakan, “ ... saya juga penggemar buku-buku karya Dr. Adian Husaini, seorang intelektual muda muslim yang sangat produktif dan brillian, mantan wartawan, telah menulis banyak buku dan hampir semuanya saya miliki,” paparnya. Bahkan ia menegaskan kalau buku-buku karya Dr. Adian Husaini tersebut tidak saja dibeli untuk dirinya sendiri tapi juga disedekahkan kepada orang lain, “Saya beli 20 buku itu di Jakarta, dan saya bagikan gratis kepada sahabat dan keluarga saya agar mereka tidak sesat dan disesatkan oleh kelompok liberal yang mengatasnamakan ajaran mereka ajaran Islam.” (Harian Fajar, Rabu 10 Nopember 2010).

Adian Husaini adalah salah satu pendiri dan peneliti INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) sebuah lembaga yang menjadi counter attack atau penyeimbang atas kencangnya gempuran kaum liberal yang telah lebih dulu melembaga dengan nama JIL (Jaringan Islam Liberal) yang digagas oleh Ulil Absar Abdalla dan kawan-kawan.

Liberalisme dalam pandangan agama berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja, sesuai kecenderungan, kehendak dan selera masing-masing. Bahkan lebih jauh dari itu, liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat. Artinya, konsep amar ma’ruf maupun nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme. Asal tidak merugikan pihak lain, orang yang berzina tidak boleh dihukum, apalagi jika dilakukan atas dasar suka sama suka, menurut prinsip ini. Karena menggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi, maupun sosial, maka tidak salah jika liberalisme dipadankan dengan sekularisme.

Sejak seabad lebih lalu virus liberalisme telah berhasil menerobos ke kalangan cendekiawan yang konon dianggap sebagai “pembaru” (mujaddid). Mereka yang menjadi liberal antara lain: Rifa‘ah at-Tahtawi (1801-1873 M), Qasim Amin (1863-1908 M) dan Ali Abdur Raziq (1888-1966 M) dari Mesir, dan Sayyid Ahmad Khan (1817-1898 M) dari India. Di abad keduapuluh muncul pemikir-pemikir yang juga tidak kalah liberal seperti Fazlur Rahman, M. Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Mohammed Shahrour dan pengikut-pengikutnya di Indonesia.

Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberal itu sebenarnya kurang lebih sama saja. Ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, Alqur’an dan hadis mesti dikritisi dan ditafsirkan ulang menggunakan pendekatan historis, hermeneutis dan sebagainya, perlu dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara, tunduk pada aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia, pluralisme dan lain lain-lain.

Pada praktiknya paham liberalisme mencakup tiga hal. Pertama, kebebasan berpikir tanpa batas alias free thinking. Kedua, senantiasa meragukan dan menolak kebenaran alias sophisme. Dan ketiga, sikap longgar dan semenamena dalam beragama (no commitment and free exercise of religion). Yang pertama berarti kebebasan memikirkan apa saja dan siapa saja. “Berpikir kok dilarang,” ujar golongan ini. Yang kedua lebih dikenal dengan istilah ‘sufasta’iyyah’, yang terdiri dari skeptisisme, agnostisisme dan relativistisme. Sementara yang disebut terakhir tidak lain dan tidak bukan adalah manifestasi nifaq, dimana seseorang tidak mau dikatakan kafir walaupun dirinya sudah tidak peduli lagi kepada ajaran agama.

Bagi para penganut dan pengusung mazhab liberalisme ada baiknya jika kembali menyimak petuah dan nasihat sang Profesor yang tutup usia di umur 60 tahun ini, agar kembali ke jalan yang benar, “Bagi penganut liberal kalau masih mau tobat nasuha kembali menjadi muslim, terima dan yakini serta pahami Alquran secara kafah (utuh), jangan parsial (sepotong-sepotong), menggunakan ayat yang bisa dimanfaatkan meliberalkan dan mensekularkan orang, dan membutakan mata dari ayat-ayat lain yang sulit mereka putar-balikkan.” Wallahu A’lam!

(Ilham Kadir, BA., Mahasiswa PPS UMI Makassar & Peneliti LPPI Indonesia Timur)

Dimuat juga di Harian FAJAR Makassar, Jumat 29 Juni 2012
  
    
  

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More