Menelisik Rezim NUSHAIRIYAH AL-ASAD


Oleh: Syekh Mamduh Farhan al-Buhairi

Dukungan penuh pemerintah Iran terhadap tindakan represif rezim Asad dalam konflik Suriah agaknya mengaburkan persepsi banyak kalangan terhadap fakta yang sebenarnya di balik revolusi yang dilancarkan oleh rakyat Suriah melawan pemerintahan yang tiran. Hal ini tidak lepas dari ‘keberhasilan’ Iran pada batas tertentu memanipulasi opini dunia melalui publikasi dunia yang menampilkan mereka sebagai ikon permasalahan Islam terhadap hegemoni barat.
Dukungan penuh Iran dan Hizbullah terhadap Suriah tidaklah asing mengingat kesatuan tumpuan ideologi mereka, Syiah Rafidhah, yang sebenarnya telah membelot dari Islam. Jika Syiah Iran beraliran Itsna ‘Asyariah, Syiah yang berkuasa di Suriah (rezim Asad) adalah sekte Nushairiyah.
Tindakan kejam dari biadab rezim Asad menghadapi tuntunan rakyat Suriah yang berawal secara damai seharusnya dapat pula menyadarkan kita hakikat Syiah yang sesunggunya. Kebencian yang mereka pendam terhadap Ahlusunnah begitu menyala-nyala di balik sikap ramah dan basa-basi mereka ketika menyerukan rekonsiliasi Syiah-Sunnah.
Melalui tulisan ini saya memaparkan secara ringkas propel dan latar belakang rezim Asad an-Nusairiyah yang berkuasa di Suriah.

            MENGENAL SEKTE NUSHAIRIYAH
           
Nusairiyah merupakan kelompok kebatinan yang muncul pada abad ke-3 Hijriyah. Pada pengikutnya termasuk kelompok Syiah radikal yang mendakwakan adanay unsure ketuhanan pada Ali bin Abi Thalib t. Tujuan mereka yang sesungguhnya ialah menghancurkan Islam dan mengorak simpul-simpulnya. Sepanjang sejarah mereka selalu berkolaborasi dengan para agresor yang menyerang bumi kaum muslimin. Penjajah Prancis sengaja menyematkan nama ‘Alawin (keturunan Ali) kepala Suriah sebagai kamuflase menutupi identitas mereka yang sebenarnya, Syiah Rafidhah Kebatinan.

SEJARAH BERDIRI DAN TOKOH-TOKOH PENTING
 Pendiri sekte ini ialah Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair al-Bashriy an-Numairiy (wafat 270 H), semasa dengan tiga orang imam Syiah, masing-masing: Ali la-Hadiy (imam ke-10), al-Hasan al-‘Askariy (imam ke-11) dan Muhammad al-mahdiy (imam ke-12 yang fiktif).
Ibn Nushair menyatakan dirinya sebagai pintu penghubung dengan imam al-Hasan al-‘Askari, sebagai pewaris ilmunya, sebagai hujjah dan marja’ (referensi) bagi orang-orang Syiah berikutnya. Fungsinya sebagai marja’ dan penghubung tetap berlaku setelah imam Mahdi menghilang.
Ibn Nushair juga menyatakan diri sebagai nabi dan Rasul, bersikap ekstrim dalam memuliakan para imam mereka. Bahkan menisbahkan ketuhanan kepada mereka.

PEMIKIRAN DAN KEYAKINAN
·         Penganut Nushairiyah mengakui Ali bin Thalib t sebagai Tuhan. Menurut mereka, penjelmaan Ali yang bersifat rohani dengan fisik jasmani yang fana seperti halnya penjelmaan Jibril sebagai manusia biasa. Penjelmaan Ali sang Tuhan sebagai manusia tidaklah dilakukannya melainkan untuk menyenangkan makhluk hambanya.
·         Anehnya, meskipun mereka berlaku ghuluw (kestrim) dalam memuliakan Ali t, bahkan menganggapnya sebagai Tuhan, ternyata mereka juga mencintaI Abdurrahman bin Muljam (pembunuh Ali t) dan memanjatkan doa meminta rida Tuhan untuknya dengan alasan dia telah membebaskan lahut (unsur Tuhan) dari kungkungan nasut (fisik makhluk). Mereka juga menyalahkan orang-orang  yang mengutuk Abdurrahman bin Muljam.
·         Menurut mereka, Ali t bersemayam di awan setelah keluar dari jasad yang mengungkungnya. Jika ada awan yang melintas, mereka pun mengucapkan, “Assalamu ‘alaikum Abal Hasan”. Mereka juga menganggap petir adalah suara Ali t, dan kilat adalah cambukannya.
·         Mereka meyakini bahwa Ali t menciptakan Muhammad r, Muhammad r menciptakan Salman al-Farisi, Salman menciptakan lima orang yatim yang memiliki kedudukan dan tugas tertentu. Mereka itu:
-          Miqdad bin al-Aswad, mereka menganggapnya sebagai tuhan dan pencipta seluruh manusia dan bertugas menurunkan petir;
-          Abu Dzar al-Ghifariy, betugas mengatur orbit planet dan bintang;
-          Abdullah bin Rawahah, bertugas mengatur udara dan mencabut nyawa;
-          Utsman bin Mazh’un, bertugas mengatur pencernaan, suhu tubuh dan penyakit manusia;
-          Qandar bin kadan, betugas meniupkan roh kepada jasad.
·         Mereka memiliki satu malam, yang mana para laki-laki dan wanita barcampur baur dalam kegelapan seperti hanya kelompok Rafidhah.
·         Mereka mengultuskan tanaman anggur, melarang keras mencabut atau memotong karena merupakan penghasil khamer yang mereka sebut nur (cahaya) .
·         Mereka juga shalat lima kali dalam sehari. Tetapi dengan rakaat yang berbeda tanpa sujud, dan kadang-kadang ada gerakan yang menyerupai rukuk.
·         Mereka tidak mengenal shalat jum’at, tidak mementingkan thaharah (bersuci) baik berupa wudhu maupun mandi junub sebelum menunaikan shalat.
·         Mereka tidak memiliki mesjid tempat shalat berjama’ah, tetapi hanya shalat di rumah masing-masing. Shalat mereka pun diiringi bacaaan-bacaan berisi khufarat.
·         Mereka tidak mengakui ibadah haji. Menurut mereka ibadah haji ke Mekah merupakan perbuatan kafir dan penyembahan  berhala. Oleh karena itu presiden Suriah tidak pernah melaksanakan ibadah haji sepanjang hidupnya, demikian juga dengan ikon Rafidhah yang juga tidak pernah melaksanakan kewajiban ini seperti Khomeiniy dan Sistaniy.
·         Tidak mengakui kewajiban dan syariat zakat sebagaimana kita kenal. Mereka hanya membayarkan seperlima harta kepada para syaikh mereka.
·         Puasa menurut mereka identik dengan menahan diri dari menggauli wanita selama bulan Ramadhan, mereka tetap makan dan minum.
·         Sangat membenci para Shahabat, mengutuk keras Abu Bakar, Umar, dan Utsman y .
·         Mereka memiliki sejumlah keyakinan menyimpang yang disembunyikan dan tidak dinyatakan ternag-terangan. Sebagian keyakinan tersebut bahkan tidak akan diterima oleh orang-orang jahat sekalipun, seperti keyakinan mereka bolehnya menikahi mahram yang dipraktekkan di kalangan mereka. Ini bahkan dijadikan sebagai salah satu pokok agama mereka, meskipun ssangat bertentangan dengan fitrah manusia. Mereka juga melarang para wanita untuk mempelajari agama dan melaksanakan ibadah.
·         Menurut mereka akidah memiliki dua sisi, batin dan zahir. Dan hanya merekalah –menururt mereka- yang  mengetahui aspek batin yang tersembunyi tersebut.
Mereka mengetahui:
-          Hakikat  puasa ialah menjaga rahasia tiga puluh orang laki-laki dan tiga puluh orang perempuan.
-          Zakat mewujudkan diri pada sosok Salman al-Farisiy t;
-          Hakikat jihad adalah melontarkan kutukan kepada para musuh dan orang yang membuka rahasia lawan-lawan mereka.
-          Wilayah (perwalian) ialah loyalitas kepada dinasti Nushairiyah dan membenci lawan-lawan mereka.
-          Syahadat merupakan isyarat kepada rumus "ع, س,  م " yang merupakan symbol dari Ali, Muhammad, dan Salman, menyerupai sembahan orang-orang Cina Budha melambangkannya dengan "pao" dan mereka yakini sebagai trinitas.
-          Alquran merupakan pengantar untuk mengajarkan keikhlasan kepada Ali, kemudian Salman al-Farisiy dengan mewujudkan diri sebagai Jibril mengajarkan kepada nabi Muhammad r;
-          Shalat merupakan simbol  nama dari lima orang, yaitu: Ali, Hasan, Husain, Fathimah, dan Muhsin yang mereka yakini sebagai rahasia yang tersembunyi. Menurut mereka Muhsin (yang tidak pernah ada) gugur dari kandungan fathimah. Menyebut nama-nama tersebut menurut mereka telah sama dengan mandi wajib dan berwudhu.
·         Hari raya: mereka memiliki sejumlah hari besar yang secara umum menggambarkan keyakinan-keyakinan yang terkandung dalam akidah mereka. Hari raya tersebut antara lain:
-          Hari raya Neroz, yaitu tahun baru Persia.
-          Hari raya al-Ghadir, hari al-Firasyi, dan Ziarah 'Asyuro pada tanggal 10 bulan Muharram memperingati kematian Husain di Karbala.
-          Hari Mubahalah atau hari Kisa', pada tanggal 9 rabiul al-Awal memperingati ajakan Nabi r kepada orang-orang Nasrani Najran untuk bermubahalah.
-          Idul Adha, menurut versi mereka pada tanggal 12 Zulhijjah.
-          Ikut merayakan seluruh hari-hari besar Nasrani.
-          Merayakan hari kematian Umar bin al-Khattab, sebagai bentuk suka cita.

Sumber-sumber Akidah dan Pemikiran Mereka.
·         Mengadopsi pagan kuno. Mereka memuliakan bintang-bintang dan planet-planet, mereka menganggapnya sebagai tempat bersemayan imam Ali t.
·         Terpengaruh filsafat plato.
·         Mengadopsi filsafat majusi dalam membentuk akidah dan keyakinan.
·         Mereka juga mengambil keyakinan Nasrani, meyakini trinitas, dan menghalalkan khamar.
·         Mengadopsi akidah wihdatul wujud dan reinkarnasi dari agama-agama di India dan Asia Timur.
·         Mereka termasuk Rafidhah ekstrim, oleh karena itu pemikiran mereka memiliki banyak kesamaan dengan akidah Syiah Itsna 'asyariyah yang menyimpang.


Pandangan Ulama Terhadap Sekte Nusairiyah
            Ulama sepakat bahwa pengikut Nushairiyah termasuk kafir yang tidak boleh dinikahi, sembelihan mereka tidak halal dimakan, jika mereka meninggal tidak boleh dishalatkan dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin, dan tidak boleh ditugaskan menjaga perbatasan dan benteng-benteng pertahanan (kaum Muslimin).

Penutup

Dari uraian di atas dapat kita lihat bahwa tidak ada alasan sesungguhnya untuk menaruh simpati sedikit pun kepada rezim Asad yang berkuasa di Suriah saat ini. Tidak ada alasan untuk tidak peduli dengan perjuangan rakyat Suriah yang notabene Ahlusunnah melawan rezim yang tiran. Tidak terlihat tanda-tanda serius dunia internasional untuk peduli dengan perjuangan rakyat Suriah yang tertindas kecuali sebatas retorika diplomasi.
Setelah itu semua para pejuang mengangkat panji perjuangan mereka "Yallah laisa lana ghairuka yallah" (ya Allah tidak ada yang dapat kami andalkan selain engkau ya Allah). Sementara di pihak rezim Assad yang didukung penuh oleh Iran meneriakkan slogan "lailaha illa Basyar" (tiada tuhan selain Basyar). Media-media elektonik internasional berulang kali menayangkan video tentara rezin Assad memerintahkan para tahanan, setelah menyiksa mereka, untuk mengakui bahwa Basyar Asad adalah tuhan mereka dengan mengatakan "lailaha illa Basyar" kemudian mereka sujud kepada fotonya.
Selama berlangsung revolusi hingga hari ini loyalis Rezim yang tiran ini memaki Tuhan para revolusioner. Kepada para tawanan mereka mengatakan, "terkutuklah tuhanmu" iwal 'iyadzu billah.
Demikian potret rezim Assad yang berkuasa di Suriah, yang mengerahkan semua kekuatannya untuk menumpas rakyat yang hanya menuntut perbaikan kebebasan berpendapat dan penghidupan yang lebih layak. Mereka ditumpas dengan kejam hanya karena mereka Ahlusunnah wal Jamaah. Dianiaya dan disiksa tanpa belas kasih, mereka memenggal kepala anak-anak setelah mereka culik, wanita-wanita muda direnggut kehormatannya.
Semua kekejian dan kekejaman mereka lakukan untuk membungkam revolusi rakyat yang menuntut kebebasan dan kehidupan yang lebih baik. Mereka menyangka dengan tindak represif ini mampu membatasi gerak tuntunan rakyat yang semakin kuat. Tidak mungkin sangkaan mereka itu menjadi nyata karena kemenangan hanyalah milik Allah.
Meskipun didukung oleh Iran dan Hizbulata (pelesetan dari Hizbullah yang juga Syiah) di Libanon, mereka tidak akan mampu menghentikan perlawanan kelompok pejuang yang telah menjelma menjadi revolusi terbesar pada masa belakangan ini.
Sejarah akan mencatatnya dengan huruf-huruf yang bercahaya menjadi kata-kata yang terbuat dari emas.
Akhirnya saya tutup dengan menyampaikan slogan perjuangan rakyat Suriah "Yallah laisa lana Ghairuka yallah"
(ya Allah tidak ada yang dapat kami andalkan selain engkau ya Allah)

Majalah Islam Internasional Qiblati Edisi 09 th. VII hal 09. 
                                                                                                                                                                        

1 komentar:

maha besar allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan isinya.
maha besar allah yang telah memenangkan umat islam.
mudah2an saudara2 kita yang islam di suriah segera memperoleh kemenangan.
aminn.......

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More