KONSPIRASI IRAN-ISRAEL, PETAKA RAKYAT SURIAH


Oleh:Mamduh Farhan al-Buhairi

Orang-orang syiah yang berefouria, berteriak girang, karena beranggapan revolusi Tunisia dan Mesir terinspirasi oleh revolusi Khomeini di Iran, secepat kilat mendapat tamparan keras dari revolusi Suriah yang hingga saat ini masih berlangsung. Media massa Syiah masih saja gencar memberitakan apresiasi dan ucapan selamat Republik Iran kepada rakyat Negara-negara Arab atas tumbangnya pemimpin-pemimpin mereka yang tiran.
Ucapan selamat diucapkan oleh diplomat-diplomat Iran yang datang silih berganti. Menurut asumsi mereka, revolusi Musim Semi Arab (Arab spring) yang berlangsung merupakan awal kebangkitan yang menyusung spirit revolusi Iran. Tangan pejabat-pejabat Persia tersebut masih terjulur untuk berjabatan, ketika tiba-tiba mereka dikejutkan dengan fakta kontradiktif yang fenomenal, Revolusi Suriah menentang rezim al-Asad yang notabene mendapat dukungan penuh dari Negara Syiah Iran.
Setelah itu para paranormal Teheran pun mengungkapkan –sebagaimana sejarah panjang mereka dengan keberadaaan paranormal tersebut- bahwa suriah merupakan kasus yang berbeda. menurut mereka konflik yang terjadi antara rakyat Suriah dan pemerintahan Asad bukanlah revolusi tetapi 'fitnah' yang ditunggangi oleh para kriminal yang didukung oleh tentara bayaran dari luar.



Juru bicara Iran dalan siaran pers mereka menekankan beberapa isu terkait revolusi suriah. Antara lain mereka menyebutkan bahwa pemeberontakan Suriah tidak memiliki latar belakang yang sama dengan revolusi-revolusi lain yang terjadi di kawasan Arab, akan tetapi ini adalah krisis yang ditimbulkan oleh pihak asing. Propaganda ini jelas bertujuan untuk menyerang dan melemahkan posisi para oposan dan tentara revolusioner secara diplomatis dan politis, mengilustrasikan bahwa pemerintah Suriah hanya meredakan krisis yang ditimbulkan oleh para perusuh, oleh karena itu pemerintahan Asad tidak dapat dismakan dan tidak pantas berakhir serupa dengan pemerintahan terguling lainnya.
Semua upaya penggiringan opini yang dilakukan oleh Iran ini untuk membungkam gerakan revolusi dan mengamankan kekuasaaan saudara kandung mereka, rezim Asad. Faktanya peristiwa pembantaian yang hingga saat ini masih berlangsung, korban dan darah yang tertumpah, sama seperti kasus Irak, adalah orang-orang Sunni. Karena para pencetus ide manipulatif "Kompromi sunnah dengan Syiah" tidak mengenal cara berinteraksi dengan orang-ornag yang tidak sepaham dengan mereka kecuali dengan membantai, hanya cara itulah yang mereka kenal. Bahkan mereka melakukannya dengan cara yang paling keji, tidak membedakan antara perempuan dan laki-laki, tidak memperdulikan wanita tua dan anak-anak kecil yang lemah.
Pada bagian perbatasan lain Suriah berbatasan dengan Israel. Dan dapat dikatakan tak satupun apresiasi dan kata-kata dukungan yang keluar dari mulut zionis terhadap revolusi Arab Spring (Musim Semi Arab). Sudah barang tentu mereka tidak akan mengucapkan selamat atas tumbangnya sekutu-sekutu meteka satu persatu. Persoalan yang mereka hadapi dengan tumbangnya para tiran tersebut tidaklah sebesar persoalan siapa yang akan menjadi pengganti mereka yang akan datang, karena revolusi yang terjadi secara jelas menggambarkan perlawanan dan kemenangan kelompok Islamis.
Israel yang semenjak awal menunjukkan kecemasan mereka terhadap revolusi Arab, semenjak dini menyadari sejauh mana ancaman energy revolusi yang memutar balikkan keadaan di sekitarnya. Mereka mengerahkan segala kekuatan untuk mencegah wilayah timur jatuh dalam tempo yang singkat dan berharap mereka mampu bertahan sampai para petinggi Israel dapat mengambil alih langkah-langkah strategis mengatasi permasalah mereka.
Pesan misi mereka, melalui satelit  dengan cepat sampai ke pusat-pusat kekuasaaan Barat. Karena Barat –bukan hanya Amerika- memiliki kepentingan yang sama dengan Israel. Maka begitu Tel Aviv meringis, rintihan mereka langsung didengar oleh Eropa. Kita dapat menyaksikan sikap Barat yang berbeda dengan sebelumnya. Mereka segera mengeluarkan resolusi bahwa Suriah tidak sama dengan Libya, bahkan NATO dengan tegas bersumpah tidak akan turut campur di Suriah karena masalahnya berbeda.
Dari fakta tersebut kita sesungguhnya menyaksikan kepentingan bersama Teheran dan Tel Aviv, Iran dari satu sisi mencemaskan resiko berkuasanya Arab yang didominasi Ahlusunnah. Hal ini tentu mengancam pengaruh mereka yang cukup kuat terhadap Suriah , hubungan politik dan militer yang saat ini berlangsung erat dengan Damaskus terancam putus.
Jika hal itu terjadi, secara otomatis akan mempersulit hubungan mereka dengan Hizbullah, karena letak geografis Suriah berbeda antara Iran dan wilayah kekuasaaan Hizbullah. Kondisi ini juga mengancam eksistensi dan peran stratergis Iran saat ini di kawasan teluk. Bahkan dapat berdampak  timbulnya gejolak dalam geresi Iran melawan rezim represif Khomeini. Semua peristiwa ini bertepatan dengan saat semakin dekatnya pemilu legislatif Iran di awal tahun depan.
Sementara Israel sebagaimana dikatakan oleh Amos Gilad kepala Dewan Keamanan dan Politik di bawah departemen pertahanan Zionis mengatakan bahwa sesungguhnya kejatuhan rezim Asad akan menimbulkan bencana besar yang mengancam Tel Aviv, dengan kemunculan –apa yang mereka sebut- imperium Islam di kawasan tersebut yang terdiri atas: Mesir, Jordania, dan Suriah. Ini akan memaksa Israel berhadap-hadapan secara terbuka dengan kaum muslim di berbagai front yang pastinya akan merugikan dan menyulitkan posisi mereka. Inilah menagpa Gilad berani menghadang revolusi Suriah untuk menggulingkan Basyar al-Asad yang keberadaannya sangat menguntungkan Tel Aviv.
Saya termasuk orang yang mempercayai teori konspirasi, bahkan dalam hati sangat yakin karena banyaknya bukti-bukti valid yang menjelaskan hubungan rahasia yang langgeng antara Teheran dan Tel Aviv yang dikuatkan oleh fakta-fakta sejarah masa lalu hingga saat ini. Menurut hemat saya sikap Iran yang sejalan dengan Israel ini mustahil tidak mengagendakan kerjasama Teheran dan Tel Aviv untuk melahirkan kesepakatan membungkam revolusi rakyat Suriah. Meskipun Iran berkoar-koar tentang kesiapan dan kesiagaan mereka untuk menghadapi serangan militer Israel, sebagaimana koar-koar Zionis Israel mempermasalahkan program nuklir Negara Persia tersebut serta sesumbar untuk melancarkan serangan militer.
Betapa pun kolaborasi makar Majusi-Zionis tersebut, kami sesungguhnya berkeyakinan bahwa rezim Asad akan segera runtuh dengan izin Allah Rencana jahat itu hanya akan menimpa orang-orang yang merencanakannya itu sendiri. [Q.S. father: 43]. (Majalah Qiblati Edisi 09 th. VII Sya'ban 1433 H, hal. 6)     
  

1 komentar:

Saya juga berpandangan sama dengan artikel ini ...

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More