Melacak Asal-usul Ajaran Tasauf



Tasauf Versi Orientalis

Sir William Jones seorang oreintalis (ahli ketimuran) asal Inggris yang ditugaskan di India melahirkan karya, On the Mystical Poetri of the Persians and Hindus, buku ini terbit di London pada tahun 1807, di kemudian hari diketahui kalau ternyata inilah karya perdana yang mengupas masalah tasauf versi Barat. Para orientalis Barat tidak sedikit yang terjun mengkaji latar belakang sejarah dan seluk-beluk tasauf dalam Islam, dengan ragam motivasi, mulai sekadar iseng-iseng, terpesona, kagum, tuntutan akademis, hingga motivasi politis.

Dari sekian banyak pengkaji, maka lahirlah ragam teori tentang asal-usul tasauf. Teori pertama mengatakan, ajaran tasauf merupakan “produk samping” dari persinggungan Islam dengan agama-agama yang lebih senior di sekelilingnya. Salah seorang penggagas teori ini adalah Margaret Smith. Orientalis asal Inggris ini menyimpulkan bahwa tasauf Islam sebagian besar telah dipengaruhi oleh ajaran Mistisisme Kristen. (Margaret Smith, Early Mysticism in the Near and Midle East, 1931). Teori kedua, bahwa tasauf Islam besar kemungkinan berasal dari ajaran Upanishad dan Vedanta Hindu, hal tersebut dapat dilacak dengan menyelami ajaran hindu yang mengetengahkan perlunya menjauhi atau bahkan meninggalkan sama sekali ragam kenikmatan jasadiah demi meraih kesucian dan ketenangan jiwa (moksa). Eksponen teori ini diwakili antaran lain oleh Alfred von Kremer, R.C. Zaehner, dan Max Horten. (R.C. Zaehner, Hindu and Muslim Mysticism, 1960). Teori kegita berpendapat, ajaran sufi banyak dipengaruhi oleh tradisi Hellenisme abad pertengahan, dengan alasan bahwa dontrin-doktrin yang dikembangkan kaum sufi mayoritas dapat ditemukan presedennya dalam tradisi mistik dan gnostik Yunani. Teori ini termasuk favorit, namun para pengusung teori ini tidak sepakat, apakah seluruh amalan para sufi berasal dari tradisi Hellenisme atau hanya pada teoritisnya saja. Dengan alasan bahwa pengaruh tradisi Yunani bukan terdapat pada aspek praktisnya, melainkan pada aspek teoritisnya saja, ini dapat dibuktikan lewat jejak-jejak Neo-Platonisme dan Aristotelianisme justru lebih nampak dalam bangunan pemikiran para tokoh sufi ketimbang dalam manual praktis yang mereka tulis untuk para murid. Jadi hanya pada sisi teosofi tasauf merupakan produk spekulasi Yunani “Sufism on its theosophical side is mainly a product of Greet speculation”, pengusung teori ini adalah Stephen bar Sudaili, Simon Magus, R.A. Nicolson, dll. Teori keempat, berusaha menjadi penengah dari tiga teori sebelumnya dengan menyatakan bahwa ajaran sufi adalah mixing atau amalgamasi dari pelbagai ajaran esoteris yang terdapat dalam tradisi Islam, Hindu, Budha, Zoroastrianisme, Kristen, Neo Platonisme, dan Gnostisisme. Alasannya, tidak ada kebudayaan dan pradaban yang berdiri sendiri dan lahir di ruang hampa. Setiap tradisi pasti terpengaruh dan mengambil dari tradisi yang sedia ada. Teori ini diusung oleh Martin Schreiner dan Ignaz Goldziher.

Terang sekali kalau seluruh teori yang dipaparkan para orientalis tersebut menunjukkan bahwa ajaran sufi adalah ‘barang impor’ dari luar Islam lalu bermetamorfosis dengan ragam perubahan seperti penggantian termonologi, penambahan dan penyempurnaan, dengan justifikasi dari ayat-ayat Alqur’an atau Hadis yang mereka pahami secara sembrono. “Teori Pengaruh” ini berakar dari asumsi keliru (sesat) bahwa jika terdapat kesamaan atau kemiripan pada dua tradisi yang mirip, maka sudah pasti terdapat kaitan sejarah antar keduanya. Asumsi ini menjadi justifikasi terhadap pendapat mereka bahwa tradisi agama yang muncul belakangan pasti telah menjiplak tradisi kepercayaan sebelumnya “the later in point of time must surely be devided from the erlier”.

Tasauf dalam Pandangan Islam
Hingga hari ini, para peneliti dari kalangan muslim, termasuk para palaku dan penikmat ajaran tasauf belum memiliki kesepahaman tentang asal-muasal kata “tasauf”. Baik dari sisi etimologi (bahasa) maupun terminologi (istilah). Mereka masih tetap berselisih pendapat tentang pengambilan kata tasauf, apakah berakar dari kata ash-shafa’ (bening), ash-shuf (kain wol), ash-shuffah (penghunu emper mesjid), dan ash-shaf (barisan).

Menurut Syaikh Abdul Qadir Jailani, ulama besar kaum sufi, sekaligus pengasas Tarekat Qadariyah, besar kemungkinan kata sufi itu terambil dari ash-shafa’ ar-ruh (kejernihan jiwa), beliau berkata, “Seorang sufi adalah orang yang jernih batinnya dan secara lahir mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (Fath ar Rabbani, hal. 207). Namun pendapat ini dibantah oleh Ibnu Taimiah dengan argumen bahwa kata at-tashawwuf itu disandarkan kepada kata ash-shuuf (memakai kain wol), “Orang salaf (terdahulu) menamakan orang yang ahli dalam agama dan ilmu dengan al-Qurra’ (pembaca), lalu masuk dalam kelompok para ulama dan ahli ibadah. Kemudian setelah itu muncul nama ash-Shufiyah al-Fuqara’ (orang-orang sufi yang fakir), dan nama as-Shufiyah dinisbatkan kepada pemakaian shuf (kain wol) dan inilah yang benar.” (Majmu’ al Fatawa, X, hal. 369). Tapi sekali lagi, seorang ulama sufi kenamaan Al Qusyairi, dalam kitabnya “Arrisalah” menyatakan bahwa istilah tasauf tidak ada padanannya dalam bahasa Arab, baik dengan cara pengkiasan maupun pengambilan, tetapi kata itu hanya sebagai julukan alias gelar saja. 

Ada pun dari segi terminlogi, kendati mereka berbeda namun pada dasarnya memiliki kemiripan, bahwa subtansi dari ajaran tasauf adalah membersihkan jiwa dengan totalitas dalam beribadah, sebagaimana yang dikemukakan oleh Bapak Sosiologi Ibnu Khaldun, “Tasauf adalah beri’tikaf untuk beribadah, uzlah kepada Allah, menjauhkan diri dari gemerlapnya dunia dan perhiasannya, serta berzuhud dari apa yang diterima oleh kebanyakan orang, seperti kesenangan, harta, dan pangkat, serta menyendiri untuk menikmati ibadah,” pendapat ini diamini oleh Sahal bin Abdullah seorang Syaikh sufi, ia berkata, “Tasauf adalah orang yang bersih dari kotoran, penuh dengan pemikiran, mengasingkan diri kepada Allah dari manusia, baginya antara emas dan debu tidak ada bedanya.” Kecuali itu Ibnu Taimiah mengatakan bahwa seorang sufi yang jujur adalah yang menghususkan dirinya pada zuhud dan ibadah dalam aspek yang mereka berijtihad di dalamnya, orang jujur adalah termasuk mereka yang menempuh jalan sufi.”

Kesimpulan
Dari pemaparan kedua blok di atas, disertai dengan argumentasi kedua belah pihak, nampaknya pendapat dari kalangan peneliti Islam seperti Ibnu Taimiah dan Ibnu Khaldun atau dari pelaku ajaran sufi sendiri sebagaimana Syaikh Abdul Qadir Jailani dan Al Qusyiri lebih bisa diterima.  Jadi, dapat kita simpulkan bahwa ajaran tasauf memang murni bersumber dari Islam, bukan ajaran Thaghut (setan?) sebagaimana yang ditulis saudari Ayu Bella Fauziah (Tribun Timur, Jumat 9 Maret 2012), kecuali jika yang bersangkutan memahami tasauf versi orientalis lewat “Teori Pengaruh”  maka itu dapat diterima. Namun  asal-usul dan akar katanya tidak ditemukan dalam bahasa Arab, apalagi dari Alqur’an dan Hadis, melainkan istilah itu merupakan julukan atau gelar. Dari segi subtansi ajaran tasauf sangat terpuji, selama berada dalam kemurniaanya, seperti taat beribadah, berakhlak mulia, rajin berzikir, dan jujur, serta jauh dari gemerlapnya hiruk-pikuk kemewahan dunia. Ajaran ini sangat cocok dipraktikkan oleh umat Islam Indonesia yang sangat konsumtif dan hedonis, serta bagi mereka yang menganggap bahwa uang adalah segala-galanya. Wallahu a’lam!

Ilham Kadir, B.A., Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar, Peneliti di Lembaga Penelitian & Pengkajian Islam (LPPI) Perwakilan Indonesia Timur.

dimuat juga di Harian Fajar Makassar, Jumat 27 April 2012

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More