Islamisasi Di Sulawesi Selatan; Peran Raja Dan Ulama


 
Menurut catatan sejarah, hubungan diplomatik antara kerajaan Majapahit di Jawa dengan kerajaan-kerajaan Bantayan alias Bantaeng, Luwu, Uda (pulau Talaud), Makassar, Butun (Buton) dan Salaya (Selayar) di Sulawesi (Celebes) telah terjalin cukup lama. Pada abad ke-16 orang-orang Bugis-Makassar berperan penting dalam peperangan melawan Belanda di Jawa. Selain dikenal mahir berkelahi menggunakan senjata tajam seperti badik, keris, dan sebagainya, mereka juga memiliki kesetiakawanan yang tinggi –sebagaimana digambarkan dalam kisah-kisah wayang di Jawa. Jejak kongkrit pengembaraan mereka masih kita temui di Jogjakarta, Riau, Singapura, Brunei Darussalam, Johor, Pahang dan Selangor (Malaysia).   
               
Awal Masuknya Islam di Sulawesi Selatan
Setelah kerajaan Malaka (Malaysia) jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 dan arus niaga di pulau Jawa menurun  maka pusat perdagangan Nusantara berpindah ke Makassar di bawah pemerintahan kembar Gowa-Tallo, daerah ini lalu dijadikan sebagai the Second Malacca.
 
Sebagai Bandar niaga terbesar di Nusantara, maka berdatanganlah para pedagang dari berbagai penjuru, mulai pebisnis dari belahan bumi Nusantara maupun yang datang dari luar, seperti India, Persia, Arab, Afrika, Cina, dan Eropa. Para pedagang tersebut masing-masing datang dengan latar belakang yang berbeda, beda budaya, bangsa,  bahasa, kepercayaan, dan seterusnya. Yang jelas saat itu Makassar sudah termasuk salah satu dari pusat tata niaga kelas dunia yang sangat diperhitungkan.

Datangnya pedagang yang beragama Islam memiliki cerita tersendiri, diperkirakan para pedagang inilah yang pertama kali memperkenalkan Islam baik dalam skala Nusantara maupun skala lokal di Makassar. Sejarah yang sangat masyhur tetang masuknya Islam di Sulawesi Selatan adalah yang terdapat dalam Lontara Latoa (kronik) yang dikenal sebagai priode Galigo. Saat itu masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis dan Makassar, memiliki kepercayaan terhadap dewa yang disebut Dewata Seuwae (Tuhan Yang Maha Esa), sisa-sisa kepercayaan ini masih dapat disaksikan hingga kini pada masyarakat Lotang dan Kajang di Bulukumba.

Disebutkan bahwa awal kedatangan Islam secara terang-terangan di Sulawesi Selatan adalah dibawa oleh tiga dai berasal dari Minangkabau yang terkenal dengan Datu’ Tellue atas perintah dari Raja Johor ketika itu, meraka adalah: Abdul Qadir Datuk Tunggal dengan julukan Datuk ri Bandang,  Sulung Sulaeman sebagai Datuk Patimang, dan Khatib Bungsu sebagai Datuk ri Tiro.

Ketiga Ulama di atas menggarap lahan yang berbeda, Datuk ri Bandang menggarap kerajaan kembar Gowa-Tallo dan Datuk Patimang menjelajah ke kerajaan Luwu sedang yang terakhir adalah Khatib Bungsu yang masuk berdakwah pada masyarakat di daerah Tiro yang kini termasuk daerah Bulukumba dan kemudian hari beliau diberi gelar sebagai Datuk ri Tiro, untuk mengabadikan nama tempat beliau  berdakwah.

Ketiga para dai di atas memiliki metode atau cara yang berbeda antara satu sama lain, mereka berdakwah sesuai situasi, kondisi dan toleransi pada obyeknya. Khatib Bungsu alias Datuk ri Tiro misalnya, melihat fenomena masyarakat daerah Tiro Bulukumba terdiri dari para penganut faham animisme atau percaya pada hal-hal yang berbau mistik maka beliau memperkenalkan agama Islam dengan menggunakan metode dan ajaran tasawuf disertai dengan pendekatan kultural. Masyarakat setempat dapat menerima ajaran agama Islam dengan sukarela dan tanpa ada paksaan sedikit pun, berbeda dengan para sejawatnya Abdul Qadir Datuk Tunggal alias Datuk ri Bandang dan Sulung Sulaeman sebagai Datuk Patimang, mereka berdua ini berdakwah dengan metode struktural, metodenya jelas berbeda dengan pendekatan kultural, karena untuk menebarkan pengaruh kepada Sang Raja jelas tidak mudah. Keberhasilan kedua dai tersebut dalam mempengaruhi para penguasa untuk menerima agama Islam sebagai agama kerajaan merupakan sebuah keahlian yang harus selalu dikenang.

Raja yang pertama menerima Islam sebagai agamanya adalah Raja Tallo yang bernama I Mallingkang Daeng Mannyonri, Karaeng Tumenanga ri Bontobiraeng. Baginda juga merangkap jabatan sebagai Tumabbicara Butta (Mangkubumi) Kerajaan Gowa. Menurut catatan lontara dan berbagai buku sejarah di Sulawesi Selatan bahwa tanggal resmi penerimaan Islam sebagai agama pada malam Jumat 22 September 1605 atau 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah. Setelah resmi masuk agama Islam maka baginda langsung mendapatkan gelar sebagai Sultan, dan juga diberi nama Islam, nama resminya menjadi, Sultan Awwalul Islam. Tidak berapa lama kemudian Raja Gowa ke-14 yang bernama I Manngerengi Daeng Manrabia, turut memeluk Islam dan bergelar Sultan Alauddin. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa dan Tallo telah selesai di-Islamkan dengan diadakannya shalat Jumat secara berjamaah pertama di Tallo pada tanggal 9 Nopember 1607, bertepatan dengan 19 Rajab 1016 H.

Setelah Kerajaan kembar Gowa-Tallo menjadi kerajaan Islam dan raja-rajanya memperoleh gelar Sultan maka secara otomatis kerajaan ini telah menjadi pusat penyebaran Islam di daerah Sulawesi. Raja Gowa sebagai penguasa super power di daerah sulawesi mulai menampakkan pengaruhnya dengan menyerukan kepada seluruh raja-raja yang ada di sulawesi supaya menerima Islam sebagai agama tunggal, disamping itu memang sudah ada semacam konsensus antara raja-raja di Sulawesi Selatan bahwa, “Barang siapa yang menemukan jalan yang lebih baik, maka ia berjanji akan memberitahukannya pada raja-raja sekutunya”. Puncaknya pada tanggal 9 November 1667 Sultan Alauddin secara resmi mengeluarkan dekrit yang isinya menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan dan masyarakat Sulawesi Selatan

Setelah Sulawesi Selatan dapat diislamkan, maka tibalah gilirannya Sultan Alauddin yang juga berprofesi sebagai dai bersama Karaeng Matoaya (Mangkubumi) yang juga pamannya sendiri memperluas pengaruh dan wilayah melalui islamisasi pada kerajaan-kerajaan di sebelah Timur dan sebagian sebelah Barat. Bahkan supremasi dan dominasi Kerajaan Makassar meliputi separuh Nusantara, dari Sulawesi, Berau, dan Kutai (Kalimantan Timur), Nusa Tenggara minus Bali (karena sebelumnya telah terjadi perjanjian persahabatan antara kedua belah pihak), Makassar, Marege (Australia Utara), dan gugusan pulau Tinibar. Perluasan pengaruh dan dominasi Kerajaan Islam Makassar inilah menjadi cikal bakal munculnya Republik Indonesia yang kekuasaannya mempersatukan Nusantara dari Sabang sampai Marauke, dari Pualu Migas di sebelah Utara dan Sumba di sebelah Selatan.

Kerajaan dengan pasukan tempur yang tangguh dan tak tertandingi plus gencarnya dakwah yang dilakukan oleh kerajaan Gowa-Tallo sebagai pemegang hegemoni politik dan supremasi di daerah Sulawesi atau Nusantara bagian timur menjadikan mereka dengan mudah menundukkan para raja yang enggan mematuhi dekrit. Kerajaan yang memeluk Islam karena kalah dalan peperangan adalah Sidenreng Rappang dan Soppeng pada tahun 1609, menyusul Wajo tahun 1610, dan terakhir adalah Bone pada tahun 1611 M.
 
Pada umumnya Islam berkembang di Sulawesi Selatan dengan proses akulturasi, damai, dan apa adanya, di samping menghormati konsensus di atas,  mereka juga cepat beradaptasi dengan kepercayaan ini, walaupun terdapat kerajaan yang pada mulanya enggang langsung menerima Islam sebagai agama Istana dan rakyat namun itu tidak seberapa. Wallahu A’lam!

(Ilham Kadir, BA., Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar & Peneliti di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Indoneisa Timur)

dimuat juga di Harian Fajar Makassar, Jumat 4 Mei 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More