“ISLAM LIBERAL 101”



Kamis, 21 Juni 2012, Makassar Movement Indonesia Tanpa JIL bekerjasama dengan BEM Fakultas Ilmu Kesehatan (FKM) UIN Alauddin Makassar, memilih Gedung Lecture Theater menjadi tempat berlangsungnya acara Bedah buku “Islam Liberal 101”. Menghadirkan Akmal Sjafril sebagai penulis sekaligus  pembedah pertama dan Guru Besar UIN, Prof. Muh. Qasim Mathar sebagai pembedah kedua.
Definisi Islam Liberal sendiri kata Akmal tidak jelas, karena pengusung Islam Liberal tak pernah memberi defenisi yang disepakati bersama. Islam itu tunduk dan Liberal itu bebas, jadi dua kata yang berbeda arti ini tak bisa didefinisikan secara tepat, kalau mau bebas, sejauh mana kita bisa bebas. Islam itu fleksibel, contoh, di saat safar kita diberi keringanan untuk bisa melaksankan shalat dhuhur di waktu ashar, bukan berarti melaksanakan shalat tidak pada tempatnya, namun inilah sisi fleksibel syariat kita di mana banyak kemudahan yang kita dapatkan di dalamnya. Ketika dipaksa dan diancam oleh orang kafir, maka nyatakan saja kekafiran, itu tidak mengapa, asalkan hatinya tetap dalam keimanan, ini fleksibel dan rukhshah dari Allah.

Mengapa penulis memberi judul buku karya saya ‘Islam Liberal 101?’ (satu kosong satu)? Karena 101 adalah kode untuk mata kuliah dasar dalam dunia perguruan tinggi. Jadi sebenarnya buku ini diperuntukkan khusus bagi orang awam, yang tidak tahu menahu tentang Islam Liberal.

Menurut pria kelahiran Bogor ini, Ada 6 landasan Islam Liberal, dan yang dijelaskan hanya yang pertama karena itulah yang sangat fundamental dan menjadi inti, yaitu membuka pintu ijtihad pada semua lini mulai dari muamalat, ibadat hingga ilahiyat atau ketauhidan. Dalam masalah muamalat mungkin tidak mengapa dilakukan ijtihad, masalah ibadat mungkin ada tapi itu sedikit, namun dalam perkara ilahiyat tidak ada ruang ijtihad, sumber kita hanya wahyu berupa Al-Qur’an dan hadis. Tidak ada yang pantas berbicara tentang Allah kecuali diri-Nya sendiri. Dalam Al-Qur’an disebut Allah Maha melihat, tugas kita sebagai hamba harus yakin bahwa Allah Maha melihat. Tidak perlu bertanya apakah mata-Nya dua, tiga atau berapa? Apakah besar atau kecil? Atau bagaimana? Ini bukan tugas kita. Karena tidak ada wahyu yang menjelaskan itu.

Kualitas Intelektual
Menurut alumni ITB Bandung ini, ijtihad oleh pengusung liberal ditarik terlalu lebar sehingga mengguncang sendi-sendi agama dan syariat Islam. Dalam menjelaskan, langsung menggunakan studi kasus yang ada di lapangan, tidak bermuluk-muluk dengan penjelasan filosofis, sebagai contoh, seorang dari mereka mengatakan, “Apa susahnya Allah membuat surga bagi masing-masing agama?” jawabannya tentu tidak susah, semuanya Allah bisa lakukan, membuat semua orang di dunia ini muslim Allah-pun bisa dan mampu, namun Allah tak berkehendak itu, satu surga hanya untuk Islam. Allah sudah menjelaskan mana jalan lurus dan mana yang bengkok dan menyimpang.

Jangan tertipu dengan mitos  bahwa JIL itu intelek dan ilmiah,” sambung Akmal. Mari kita buktikan, “Kalau tidak menyembah Allah saja diperbolehkan oleh Allah, apalagi sekadar maksiat,” begitu kata Ulil Absar Abdallah, pendiri Jaringan Islam Liberal. Biasanya orang-orang yang berpemikiran seperti ini mengambil ayat “Faman sya’a fal yu’min wa man sya’a fal yakfur, Siapa yang ingin maka berimanlah dan siapa yang ingin maka kafirlah. Begitu dalilnya. Jadi Allah juga membolehkan kita untuk memilih pilihan kedua untuk menjadi kafir.

Padahal ayatnya tidak sempurna sampai di situ, sebelumnya berbunyi,Katakanlah kebenaran itu datang dari Tuhanmu,dan lanjutannya berbunyi “Sesungguhnya kami sediakan neraka bagi orang-orang zalim itu, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-Kahfi, 29).

Lalu untuk menguatkan isu pluralisme, dipakailah ayat, “Lakum diinukum wa liya diin, Bagimu agamu dan bagiku agamaku.” Ditafsirkan bahwa agamaku dan agamamu jika saling toleransi dan pengertian maka itu benar semuanya.

Padahal di awal surat itu berbunyi “Ya ayyuhal Kafiruun, Wahai orang-orang kafir!” kata Akmal, pantaskah seseorang disapa dan disambut hangat dengan kalimat Wahai orang-orang kafir? Ini kan bentuk penghinaan dan perendahan Allah kepada orang-orang Kafir, dan kemudian selanjutnya, Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah dan tidak pula kamu menyembah apa yang aku sembah

Islam Liberal tidak berkembang di ITB dan Universitas Indonesia, sebaliknya Islam Liberal kebanyakan berkembang itu di fakultas-fakultas filsafat yang tempatnya bermain logika dan mengenyampingkan wahyu. Orang-orang ilmiah itu tidak mau dibodoh-bodohi.” Papar Sang Penulis.
Itulah pemaparan dari penulis buku “Islam Liberal 101” ini. Karena waktu sudah mendekati salat zuhur tanpa berpanjang, sang moderator dari Celebes TV mempersilahkan Prof. Muh. Qasim Mathar berbicara. 

“Mengapa waktu shalat zuhur dipersempit?, di Makassar itu kira-kira setengah empat baru azan Ashar, kita sepakati dulu sampai jam berapa kita berhenti dialog?” Prof. Qasim memulai pembicaraan. “Jam satu seperempat,” jawab moderator.
 
Akhirnya disepakatilah waktu tersebut. Meskipun agak mengguncangkan di awal pembicaraan namun kita akui ini benar, “Al-Muslimuna ‘ala syuruthihim, Kaum Muslimin itu terikat pada kesepakatan mereka”, akhirnya pembicaraan dilanjutkan. 

“Kalau di perkuliahan saya, ada mahasiswa yang mau izin shalat Ashar ketika azan berkumandang,  maka saya persilahkan keluar karena itu mazhabnya,” lanjut guru besar pemikiran UIN Alauddin ini.

Pengeritik Islam kebanyakan mengkritik Islam karena dia mencampuradukkan antara Islam normatif dengan Islam sosiologis, oleh karena itu Islam Liberal hadir dalam rangka “melawan” Islam fundamentalis. Sebagai contoh, masalah poligami, dalam Al-Qur’an, nyaris seseorang itu tidak bisa adil, karena dikatakan “Jika kamu takut berlaku adil maka nikahilah satu saja atau hamba sahayamu, yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya,” pengeritian Islam sering melihat ketidakadilan orang yang melakukan poligami. Olehnya para pembaharu itu melihat monogami suami-istri itulah yang ideal, hanya ulama yang banyak melakukan poligami, lanjut kolumnis jendela langit Koran Fajar ini.

Yang tidak tepat adalah ketika poligami yang dilakukan orang tidak berjalan sesuai aturannya maka tidak obyektif jika syariat poligaminya yang dipandang tidak ideal, juga merendahkan kedudukan para ulama yang seakan-akan doyan yang enaknya saja. Ulama tidak seperti manusia biasa, kedudukannya lebih tinggi di sisi Allah, hanya ulamalah yang takut kepada Allah, “Innama yahksyallaha min ‘ibadihil ulama”, sebagai seorang intelek dan cendikia hendaknya mempunyai adab terhadap mereka.

Mazhab Islib (Islam Liberal) dan Mazhab Isfun (Islam Fundamentalis), keduanya adalah dua kutub Islam yang ekstrim, Prof. Qasim melanjutkan. Definisi liberal kita sudah tahu, yaitu ingin bebas, dan ini tidak sejalan dengan Islam yang bermakna tunduk, taat dan patuh. Fundamentalis adalah orang yang kokoh memegang teguh ajarannya sesuai yang terdapat dalam wahyu, Al-Qur’an dan hadis. Apakah orang seperti ini bisa dikatakan ekstrem?

“Siapa yang ingkar terhadap thagut-thagut dan beriman kepada Allah maka ia telah memegang erat tali yang kuat yang tak akan putus” (Al-Baqarah, 256) jika orang memegang kokoh tali yang kuat itu apakah dikatakan juga fundamentalis?

Bung Karno, seorang yang fundamentalis membela negaranya, membela konsep yang dia punya untuk memerdekakan Indonesia, apakah beliau juga dikatakan fundamentalis dengan makna kolot dan kaku terhadap prinsip yang dia pegang?

“Jika definisi agama itu adalah menurut yang dikatakan kitab suci, ini yang obyektif. Namun jika agama itu adalah menurut penganutnya, ini subyektif. Tidak adil menilai sebuah agama jika dilihat dari pelaku-pelaku pemeluknya, lihatlah ajaran dan muatan yang dibawa oleh agama itu, inilah sikap yang adil dan bijak.” tutur cendikiawan kontroversial Sul-sel ini.

Jika kita membaca penjelasan Prof. Qasim di atas tentang poligami, agaknya sikap beliau kurang obyektif, juga berseberangan dengan penjelasan beliau tentang definisi agama yang obyektif. Beliau menilai poligami menjadi tidak ideal karena banyak yang tidak adil terhadap istri-istrinya. Bukankah agama itu dinilai dari kitab sucinya? Jadi yang pantas dikritik adalah pelakunya bukan ajarannya.

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, seorang ahli tafsir, tidak ada tafsir yang sungguh-sungguh selesai, lanjut beliau. 

Ini tentu saja ungkapan yang benar, namun bisa saja dipahami keliru jika meninggalkan begitu saja penafsiran-penafsiran para ulama yang sudah ada dan mencoba berijtihad dalam ruang yang tidak pantas, di mana wahyu sudah menjelaskan tentang itu, namun mau mencoba berijtihad dengan akal yang sangat terbatas tanpa syarat-syarat yang telah disepakati para ulama yang muktabar.

Ungkapan ini bermakna bahwa untuk seratus persen selesai itu belum, namun jika sembilan puluh delapan persen mungkin sudah selesai atau angka sedikit di bawah itu. Apalagi tidak semua ayat Al-Qur’an yang perlu penafsiran mendalam, banyak ayat bahkan mayoritas ayat di dalam Al-Qur’an yang muhkam (maknanya jelas dan penafsirannya hanya satu), mungkin ada perbedaan penafsiran namun itu ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan pada jenis yang berbeda bukan perbedaan yang saling bertentangan).

Lihatlah, sudah bermiliyaran dan triliyunan umat Islam yang mengambil faedah dan hidayah  dari penafsiran para ulama sejak zaman mereka di abad-abad awal Islam.
 
Ulama tafsir pada zaman dahulu bisa saja kekurangan metode dalam menafsirkan Al-Qur’an, buktinya pada zaman kini ditemukan penafsiran dengan metode maudhu’i (tematis) yang lebih bagus, lanjut beliau. 

Mari kita coba bandingkan tafsir zaman dulu dengan tafsir  saat ini, tafsir zaman kini yang memakai metode tematis belum ada yang dijadikan rujukan utama umat Islam, bandingkan dengan tafsir zaman dulu seperti Tafsir Ath-Thabari, tafsir Ibnu Katsir, tafsir Al-Baghawi, tafsir Al-Qurthubi, daftarnya terus berlanjut.

Terakhir  adalah perkataannya, “Al-Quran mengandung banyak kebenaran. Kebenaran yang potensial diketahui oleh generas-generasi setelah kita.

Jika dipahami bahwa ada beberapa ayat yang mengandung isyarat ilmiah yang bisa diungkapkan melalui penelitian yang dilakukan oleh generasi setelah kita ini mungkin saja bisa terjadi dan terbuka peluangnya. Sebagai contoh, ayat di surat ar-Rahman yang mengatakan bahwa “Marajal Bahraini yaltaqiyan. Bainahuma barzakhun la yabghiyaan,  Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Penelitian terbaru membuktikan bahwa di dalam laut ada dua unsur air yang kelihatan tidak terpisah, bercampur. Namun setelah diteliti ternyata unsur air tawar tidak bisa menyatu dengan air laut yang asin, itulah pemisah yang tidak terlihat. Ini lebih cocok penafsirannya daripada penafsiran bahwa keduanya pernah bersatu namun dipisahkan oleh tanah genting namun setelah digali kedua air yang tadinya berpisah itu kemudian bersatu, seperti terusan Suez dan Panama.

Inilah maksud kebenaran yang potensial yang mungkin saja diketahui oleh generasi setelahnya, dan ini tidak berkaitan dengan keimanan. Para sahabat pun tanpa harus tahu penafsiran ini mereka terima dengan lapang dada wahyu yang datang dari Allah, tanpa ada tanya-tanya dan bantah-membantah, olehnya mereka dipasangkan gelar sebagai generasi terbaik sepanjang abad. Keimanan mereka yang begitu kokoh bagaikan gunung yang tak tergoyahkan mampu menerima kebenaran yang gunungpun akan hancur berantakan ketika menerima itu.

Jika yang dimaksud bahwa kebenaran yang potensial diketahui oleh generasi-generasi berikut adalah yang berkaitan dalam masalah iman dan ibadah maka ini tak mungkin. Alangkah ruginya Nabi Muhammad saw berdakwah dan menyampaikan risalah Allah namun ternyata hanya setengah yang dipahaminya, kemudian setengah yang lainnya diungkap dan baru diketahui oleh ulama-ulama berikutnya, bukankah ini vonis gagal kepada Nabi, padahal Allah telah katakan “Wa in lam taf’al famaa ballaghta risalatahu”. Semuanya sudah disampaikan oleh sang nabi, agama ini terang dan jelas, malamnya bagaikan siang, tidak ada yang menyimpang darinya kecuali pasti ia hancur.

Selain buku “Islam Liberal 101” yang dipamerkan, panitia juga membagikan buletin #Indonesia Tanpa JIL, di dalamnya ditampilkan banyak celotehan dan kicauan keanehan, kerusakan, dan kehancuran berpikir para pengusung ‘Islam Liberal yang ada di situs jejaring social, di antaranya, Saidiman Ahmad, “Setahu saya hanya satu kali Tuhan mengabulkan doa para pengguna jalan agar tidak macet di Jakarta, yaitu pada lebaran,”, Luthfi Asy-Syaukanie, “Puasa itu menhan nafsu. Bagaimana orang kalau nafsuuu banget pengen puasa?”, Moh. Guntur Romli, “Beragama dengan mental budak, maka obsesinya cuma berharap surga, dan terhindar dari siksa kubur dan neraka,” Syukran Anim, “Shadaqah ialah pemberian secara sukarela tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ciuman dengan non mahram termasuk contohnya,” Saidiman Ahmad menambah, “Sering ditanya, kalau anak anda gay, lesbian, Ahmadiyah, dst, apakah anda akan biarkan? Jawaban saya pasti, ya, saya akan biarkan”. Yang begini ini dikatakan intelek? Ilmiah?, dan filosofis?Ini tak lain hanyalah hawa nafsu.

Terakhir pertanyaan seorang mahasiswa di Unhas kepada Akmal, “Apa hubungannya Liberalisme dengan Zionisme?”, Akmal menjawab, “Saya tidak tahu hubungan pastinya bagaimana, namun yang jelas Islam liberal itu bagaikan kue lezat, yang dimakan oleh semua orang yang benci kepada Islam, seperti orientalis, yahudi, dan aliran sesat. Jawab Akmal tegas.

Penulis: Muh. Istiqamah, Mahasiswa Syariah STIBA/ Wakil Sekretaris LPPI Makassar
 (LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More