Indahnya Bantaeng Tanpa Syiah



Tepat pukul 21.23 roda mobil meninggalkan paving blok halaman masjid Sultan Alauddin yang akan membawa kami ke Bantaeng, kota kabupaten di Sulawesi Selatan yang terletak 3 di bawah Makassar, tepatnya bertetangga dengan kota Jeneponto. Perjalanan kali untuk mengisi Seminar Islami “Ajaran Syiah Dalam Sorotan Ahlus Sunnah wal Jama’ah” yang akan dibawakan oleh Ketua LPPI Perw. Indonesia Timur, KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc.

Tak terasa kota Gowa kami lewati, kemudian Takalar, Jeneponto dan akhirnya kami tiba di Bantaeng pukul 02.15dan langsung menuju rumah Ust. Badawi untuk menginap malam harinya. Sebelum tidur Ust. Said, sapaan akrabnya, mendirikan shalat tahajjud beberapa raka’at berdzikir kepada Allah untuk menambah kekuatan. Karena salah satu manfaat dzikir adalah Allah akan menambahkan kekuatan di atas kekuatan yang telah kita miliki.

Masjid Nurul Huda Bantaeng, kel Tappanjeng, kec. Bantaeng menjadi tempat kami shalat shubuh berbaur dan bersilaturrahmi dengan kaum Muslimin di sana. Seusai shalat, Ust. Said memberikan taujihat dan wejangan kepada jamaah, di antaranya, anjuran untuk beramal dengan sungguh-sungguh disertai doa karena Nabi Ibrahim ketika membangun tidak lupa berdoa kepada Allah agar amalannya diterima. Ustaz melanjutkan dengan menjelaskan sifat seorang laki-laki (pejuang) yang disebutkan dalam Al-Qur’an. 

Pertama, sang lelaki itu suka kebersihan, suka wudhu yang dengannya dosa-dosa akan berguguran  dan anggota tubuh kita yang dibasuh wudhu kelak akan bercahaya di hari kiamat dan kaum Muslimin akan dikenali dengan tanda itu, dan juga menyukai kebersihan jiwa, karena Allah mencintai orang yang suka taubat dan suka membersihkan diri (jiwanya). Membersihkan hati lebih penting, karena orang yang hatinya kotor dan dipenuhi noda hitam akan sulit menerima kebenaran. Manusia hendaknya meniru nabi Adam, dimana ia taubat setelah melakukan sebuah dosa dan jangan meniru sikap Iblis ketika berdosa ia langsung sombong dan akan mengajak hamba-hamba Allah ikut jalannya yang sesat.

Kedua, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh harta dan anaknya dari berdzikir kepada Allah, sebagai contoh, ketika ada panggilan shalat “Allahu Akbar” maka hendaknya kita meninggalkan semua pekerjaan karena Allah mahabesar dan semua yang sedang kita kerjakan itu adalah hal remeh dan kecil. Orang yang memakmurkan masjid lebih terjamin keimanannya (QS. At-Taubah:18) masjid adalah Syiar Allah, mengagungkannya termasuk dari ketakwaan hati.

Ketiga, sifat laki-laki yang Allah puji berikutnya adalah lelaki yang memenuhi janjinya terhadap Allah, dimana dulu kita semua pernah berjanji, Alastu birabbikum qalu balaa syahidna, Allah berfirman, Bukankah Aku ini Tuhanmu? Manusia menjawab, Iya benar kami bersaksi. Seorang sahabat ada yang menyesal dan merasa sangat rugi ketinggalan ikut perang Badar, akhirnya ia bertekad jika kelak ada peperangan lagi, ia akan mengikutinya. Ketika tiba perang Uhud ia langsung terjun dan menjual dirinya kepada Allah untuk mendapatkan Surga. Akhirnya ia syahid, tak kurang 80 luka bersarang pada tubuhnya, hingga tak dapat dikenali, kecuali oleh kerabatnya. 

Mari kita hidup dengan keyakinan! Yang tidak hidup dengan keyakinan adalah hewan, Ya’kuluuna kama ta’kulul an’am……fannaru matswan lakum, mereka makan sebagaimana hewan juga makan……maka neraka adalah tempat tinggalmu. Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa liya’budun, Tidaklah Aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk menyembahku.

Hidup untuk memperjuangkan Islam Syara’a lakum minad dini ma washsho bihi musa…..an aqimud dina, Allah mensyariatkan dalam agama ini apa yang telah diwasiatkan kepada Musa….tegakkanlah Agama. Hidup kita adalah jihad, jidah kita adalah dakwah, karena dakwah adalah jalan dan metodenya umat Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Perumapaan bahaya Syiah, Sekumpulan anak-anak main bola kemudian dipanggil makan kue kemudian langsung memakannya tanpa cuci tangan karena tidak tahu bahaya kuman, berbeda dengan seorang dokter yang tahu betul bahaya kuman dan bakteri, sebentar saja ingin menyentuh pasien mungkin langsung memakai sarung tangan atau memakai anti septic. Seperti inilah gambaran orang yang tahu  dan yang tidak tahu gambaran bahaya Syiah. 

Seminar Islami
Gedung Balai Kartini menjadi pilihan panitia melaksanakan Seminar Islami “Ajaran Syiah Dalam Sorotan Ahlus Sunnah wal Jama’ah”, selain karena tempat ini terletak di jantung kota, gedung ini juga sangat representatif untuk acar besar seperti ini. Warga Bantaeng menyambut acara ini dengan antisias, terbukti tak kurang dari 800 orang membanjiri gedung Balai Kartini.

Setelah dibuka oleh moderator beberapa tokoh memberikan sambutannya dan akhirnya dibuka  oleh Sekda Kab. Bantaeng, dalam sambutannya beliau mengharap ada rekomendasi yang bisa dihasilkan dari seminar ini yang kemudian akan dipakai sebagai pedoman bagi masyarakat Islam.

Ust. Muh. Said Abd. Shamad, Lc, memulai dengan muqaddimah bahwa Allah mencintai orang yang paham agama, Man yuridillahi bihi khairan yufaqqihhu fiddin, Barang siapa yang Allah inginkan kebaikan maka Allah akan pahamkan ia dalam agama

Masuk surga bukanlah hal yang mudah, Rasulullah saw pernah membuat satu garis lurus di hadapan para sahabat, kemudian mengatakan, “Ini jalan Allah yang lurus”, kemudian Rasulullah saw melanjutkan dengan membuat garis-garis yang banyak menyimpang dari jalan lurus tadi, “Ini adalah jalan yang banyak, tidak ada satu jalan pun melainkan ada setan yang mengajak padanya” komentar beliau terhadap garis-garis yang banyak tadi, kemudian dibacakanlah ayat, Wa anna hadza shirathii mustaqiiman fattabi’uhu wa la tattabi’ as-subul fatafarrqa bikum ‘an sabilih, Inilah jalanku yang lurus maka ikutilah ia, dan janganlah ikuti jalan-jalan yang banyak itu, kelak egkau akan berpecah-pecah dari jalan-Nya. 

Shirathal Mustaqim adalah jalan ke surga, sedangkan jalan yang menyimpang itu yang akan membawa kita ke Neraka.

Pada kesempatan ini Ust. Said menyampaikan presentasinya dengan landasan MUI, karena MUI adalah lembaga yang dipercaya oleh pemerintah dan masyarkat.        

Kenapa kita menyoroti Syiah dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ada ukuran dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah, yaitu Ma ana ‘alaihi wa ash-haabi, Jalan yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya, inilah jalan selamat yang dijamin oleh Rasulullah saw ketika terjadi perpecahan umat.

Penyimpangan Syiah
Kejadian pembakaran pesantren Syiah di Sampang Madura akhir tahun 2011 merupakan konflik Islam-Syiah dan menjadi isu nasional. Namun mengapa itu bisa terjadi, inilah yang dijelaskan oleh Ust. Said mengutip penjelasan MUI Sampang, bahwa sudah lama sebenarnya pihak Syiah dilarang untuk berdakwah disana karena banyak ajaran pokok yang sangat jelas bertentangan dengan prinsip Islam, (1) Syahadatnya menjadi tiga, yaitu ditambah wa asyhadu anna ‘aliyyan waliyullah, Dan saya bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah (2) Shalatnya hanya tiga waktu, shubuh, dzuhur dan ashar digabung dan maghrib-isya digabung, (3) Melarang pengikutnya shalat jum’at, katanya shalat jum’at tidak wajib saat ini, nanti disaat Imam Mahdi turun barulah wajib, (4) Al-Qur’an menurut mereka tidak asli lagi, ada yang kurang yang belum terkumpul, sisanya nanti dibawa oleh Imam Mahdi.

Kemudian Ust. Said juga memaparkan tentang Jalaluddin Rakhmat, tokoh penyebar Syiah di Indonesia, dimana dia telah berani melaknat-laknat para sahabat, menghalalkan nikah mut’ah, mencela para ulama, melakukan kecurangan ilmiah dalam karya-karya propaganda Syiah-nya dan masih banyak lagi.
Terakhir Ust. Said mengemukakan rangkuman fatwa dari berbagai elemen ulama, terdiri dari MUI pusat, MUI daerah, Edaran Depag dan pernyataan tokoh ulama tentang Syiah. 

MUI Pusat memfatwakan agar mewaspadai masuknya Syiah di Indonesia karena perbedaan pokoknya dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah. Doktrin utama yang sudah banyak dipraktekkan olah Syiah Indonesia difatwakan HARAM oleh MUI Pusat. 

Ada pedoman dari MUI Pusat tentang 10 kriteria aliran sesat, menurut Badan Silaturrahmi Ulama Pensatren Madura kesepuluh criteria itu telah dianut dan diamalkan oleh Syiah, khususnya di Indonesia.
MUI daerah seperti Jawa Timur dan kota Madura mengeluarkan fatwa bahwa Syiah atau dengan nama samaran Mazhab Ahlul Bait adalah sesat dan menyesatkan.

Juga beberapa pernyataan penolakan dari para tokoh ulama di Indonesia seperti KH. Hasan Basri, KH. Hasyim Asy’ari dan ulama level Sulawesi Selatan seperti KH. Muh. Nur, KH. Sanusi Baco, Lc, dan Prof. Dr. KH. M Farid Wajdi.

Edaran Depag tahun 1983, yang menyatkan bahwa semua ajaran Syiah (yang telah disebutkan dalam rincian surat edaran tersebut, termasuk Syiah Imamiyah) itu tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Seperti biasa, seminar diakhiri dengan sesi tanya-jawab, dan Alhamdulillah peserta sangat antusias dengan materi yang disampaikan Ust. Said hafizhahullah.

Tak menunggu terlalu lama setelah itu kami langsung beranjak ke Masjid Raya Bantaeng, setelah shalat zhuhur Ust. Said berdiri menyampaikan kultum memberikan nasehat, jalan yang selamat adalah jalan ma ana ‘alaihi wa ash-haabi, di luar koridor ini semua sesat dan menyimpang seperti, Ahmadiyah, Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme agama, Syiah dan selainnya. Kemudian mempersempit pembicaraan tentang penyimpangan dan kesesatan Syiah, kejadian Suriah pada hari ini, Nikah mut’ah, sikap resmi Muhammadiyah menolak Syiah dan pernyataan Prof. Yunahar Ilyas bahwa di negara mana pun Syiah masuk pasti terjadi konflik horizontal di tengah masyarakat.

Akhirnya Ust. Said menutupnya dengan perkataan seorang sahabat, Jabir bin Abdullah, “Jika umat yang akhir-akhir telah melaknat umat yang pertama (sahabat), siapa yang punya ilmu hendaknya ia nyatakan ilmunya karena orang yang menyembunyikan ilmu pada hari itu bagaikan orang yang menyembunyikan Al-Qur’an yang diturunkan oleh Nabi Muhammad saw ”

Indahnya Bantaeng Tanpa Syiah
Tepat pukul 14.40, kami meninggalkan Ust. Badawi menuju Makassar, di awal perjalanan dan masih di kab. Bantaeng, hati kami berdecak kagum melihat keindahan dari pemandangan yang kami tangkap, di sisi kiri kami ada pantai, di sebelah kanan kami terdapat sawah yang membentang luas diselimuti warna hijau menyusul setelahnya pemandangan gunung yang biru dari kejauhan, berkali-kali memuji Allah atas kemahabesaran-Nya membentuk alam seindah ini, kami berharap mudah-mudahan keindahan ini tidak dipudarkan oleh virus Syiah. 

Setelah masuk waktu shalat ahsar kami singgah di kab. Jeneponto, usai shalat Ust. Said sebagaimana biasa, memohon izin untuk mengisi kultum kepada jamaah, yang intinya mengingatkan kepada kita semua agar hidup di dunia ini dengan tujuan untuk bersungguh-sungguh mengusahakan kemajuan agama Allah. Perjalanan setelah itu dilanjutkan menyusuri Jeneponto, Takalar dan kami shalat maghrib di kab. Gowa, di sana Ust. Said juga memberikan kultum.

Sekitar 10 menit sebelum shalat Isya kami sampai di kantor LPPI di Jl. Prof. Abd. Rahman Basalamah, Alhamdulillah di masjid Sultan Alauddin kajian rutin Syiah sedang berlangsung, mudah-mudahan Islam ini bisa kita jaga kemurniannya, jangan sampai ada tangan-tangan jahat yang ingin merusak Islam dari dalam.

Laporan oleh: Muh. Istiqamah, Wakil Sekretaris LPPI Indonesia Timur

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More