Ada Apa Dengan Syiah di Sidrap? (bag. 1)



Laporan Kunjungan ke Sidrap & Pare-Pare 15-16/6/12

Berdasarkan undangan dari panitia tabligh akbar dan schedule yang diberikan, maka rombongan Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) berangkat meninggalkan Makassar pada pukul 22.15 WITA. Tabligh Akbar yang diadakan di Rappang dan Pare-Pare bertema; “Ada Apa dengan Syiah?”Sebelumnya keberangkatan dijadwalkan pada pukul 21.00 WITA, namun karena adanya undagan ketua LPPI untuk menghadiri pertemuan di DPP Wahdah Islamiyah bersama Syaikh Dr. Khalid as Sabt maka keberangkatan tertunda. Robongan LPPI dari makassar terdiri dari M.Said Abd. Shamad, Lc (ketua LPPI), Sulfandy (staf LPPI) dan Muhammad Nur (perwakilan Panitia Pengantar).

Setelah mengadakan perjalanan sekitar 4 jam, maka pada pukul 02.32 Pagi rombongan tiba di kota Rappang, rombongan diterima oleh panitia dan menginap di Ruko (rumah toko) milik panitia disekitar pasar rappang. Rook ini berdekatan dengan masjid al ikhlas, tempat yang dijadwalkan Ust. Said akan memberikan taklim/ pengajian subuh. Rombongan kemudian beristitarahat sejenak sambil menunggu subuh.

Taklim Subuh di Masjid Al Ikhlas Rappang
Setelah shalat subuh di masjid Al Ihklas Rappang pada pukul 05.15 WITA , panitia mengumumkan bahwa akan nada pengajian dari ketua LPPI,  Ust. Said Abd. Shamad, Lc sesuai jadwal yang telah diumumkan sebelumnya. Pengajian dimulai. Ust. Said dengan mengemukakan ayat-ayat terkahir dalam surah al kahfi yaitu:
  
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. Demikianlah Balasan mereka itu neraka Jahannam, disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok. (QS. Al Kahfi: 103-105)

Beliau yang juga merupakan ketua LPPI IndTim dan Simpatisan WI, kemudian menjelaskan ayat tersebut bahwa ada orang –orang yang telah sia-sia perbuatannya didunia namun merasa merekalah yang telah berbuat yang paling baik di dunia ini. Beliau mencontohkan seorang yang bernama rabiatul ‘adawiyah. Rabiatul adawiyah pernah berdoa: “ yaa Allah jika aku menyembahmu karena mengharap surgamu maka jauhkanlah aku dari surgamu, yaa Allah jika aku menyembahmu karena takut nerakamu maka masukkanlah aku ke nerakamu’ 

Inilah salah satu ungkapan ‘adawiyah yang terkenal karena menurutnya kemurnian niat dan ibadah itu hanya mengharapkan keridhaan Allah bukan yang lainnya. Secara lintas lalu, mungkin sebagian orang akan terpesona dan memuja karena kemurnian niatnya yang begitu besar sampai tidak ingin surga dan mau masuk neraka karena hanya berharap keridhaan Allah saja. Namun jika ditimbang dalam sisi syariat maka pernyataan ini adalah kesiasiaan bahkan kekeliruan yang mungkin tidak disadari oleh ‘adawiyah. Salah satu, doa yang sering dipanjatkan Rasulullah Saw adalah doa memohon surga dan dijauhkan dari azab neraka. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah sendiri memerintahkan kepada Rasulnya untuk berdoa demikian dan menyuruh kita menjadikan beliau Saw sebagai teladan. Maka, dari ini kita dapat mengetahui kekeliruan ‘adawiyah. Keridhaan Allah tidak bertentangan dengan doa memohon surga dan dijauhkan dari siksa neraka, karena Rusulullah saw juga mencontohkannya. Bahkan keridhaan Allah itu akan diperoleh di Surganya, maka kita diperintahkan untuk memohon surga yang juga berarti kita memohon diridhai Allah Ta’ala. Beliau kemudian menjelaskan dengan berhasa bugis beberapa penyimpangan kaum yang memakai tarekat tertentu dan aliran tasawuf ekstrim. Selanjutnya beliau mengutip surah at taubah ayat 111-112

       
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat*, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat Munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
*Maksudnya: melawat untuk mencari ilmu pengetahuan atau berjihad. ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa.

Beliau kemudian menjelaskan betapa Allah sangat pemurah, dengan ayat ini kita memahami bahwa Allah yang memberi segala sesuatu kepada kita namun Allah juga yang membeli itu semua dengan bayaran yang tak ternilai, surga. 

Taklim ini kemudian berlanjut dengan menjelaskan secara mendalam tentang orang-orang yang menjual dirinya kepada Allah beserta ciri-cirinya. Setelah taklim/ pemaparan materi, maka diadakan Tanya jawab dan dialog hangat seputar keummatan hingga pukul 06.30 WITA. 

Setelah shalat isyrak, dzikir pagi dan berdialog dengan jamaah masjid setempat, maka rombongan kembali ke tempat menginap. Rombongan tiba sekitar pukul 07.00 WITA, kemudian sarapan, rehat dan bersiap siap menuju tabligh akbar di Masjid Agung Rappang yang dijadwalkan pada pukul 09.00WITA.

Tabligh Akbar “Ada Apa Dengan SYIAH?” di Masjid Agung Rappang
Rombongan berangkat dari tempat menginap, pukul 08.50 Wita menuju Masjid Agung Rappang. Rombongan terdiri dari Ust. M.said Abd. Shamad, Lc, ust. Lukman (imam masjid al Ikhlas), Muhammad Nur (panitia Pengantar) dan Sulfandy (staf LPPI). Rombongan tiba di Masjid Agung Rappang pkl 09.30.

Setelah rombongan tiba, acara pembukaan segera digelar karena telah molor sekitar setengah jam. Protocol membuka, kemudian dibacakan ayat suci al quran, kemudian sambutan dari ketua panitia. Ketua panitia adalah Ir. Muhammad Palita Umar. Dengan lantang beliau mengemukakan latar belakang pengadaan tabligh akbar ini yang tidak lain untuk sosialisasi hasil fatwa MUI dan menjaga akidah umat, beliau juga membacakan fatwa MUI tentang paham syiah. Setelah sambutan, materi mengenai syiah dibawakan oleh Ust. Said Abd. Shamad, Lc setelah dipersilahkan oleh protocol. 

Ust. Said Abd. Shamad, Lc merupakan salah seorang anggota MUI Makassar bidang dakwah, beliau juga adalah seorang pengurus Muhammadiyah di daerah makassar, serta aktif sebagai ketua LPPI (lembaga penelitian dan pengkajian islam) IndTim. 

Beliau membuka tabligh akbar dengan menerangkan tentang shirathal mustaqim (jalan yang lirus), dimana kaum muslimin selalu memohon hal tersebut dalam setiap shalat, dengan membaca surah al-fathihah. Hal ini, merupakan tanda bahwa shirathal mustaqim adalah ssesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap muslim, beliau juga mengutip hadis tentang terpecahnya umat islam dalam 73 golongan, dan hanya satu yang dijamin selamat langsung masuk surga. Golongan tersebut ialah golongan yang menjadikan Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai rujukan dalam beragama. Hal ini juga sama dengan penamaan al firqatun najiyah yang juga disebut dalam tarjih muhammadiyah. Golongan yang selamat tersebut juga dijelaskan dengan hadis yang lain dengan golongan ang mengikuti sunnah Rasulullah saw dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk.

Setelah menjelaskan tentang kelompok yang selamat, beliau kemudian menjelaskan mengapa mengikuti pemahaman sahabat dalam ber-islam menjadi penting. Keutamaan sahabat Nabi saw dipaparkan melalui hadis dan Qiyas beliau. Jika para kiayi kita dulu mempunyai murid langsung yang begitu baik keislamannya, maka apatah lagi Rasulullah yang langsung mendidik para sahabatnya, maka beliau tentunya dapat menghasilkan murid-murid yang memiliki keutamaan yang besar dibandingkan hasil didikan seorang kiai. Kemudian beliau juga menyebut surah al fath ayat terakhir tentang Rasulullah dan murid/ sahabat beliau yang beliau didik dan diumpamakan sebagai tunas:
  
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud*. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

* Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka.
Selain itu beliau juga memaparkan ayat 100 dari surah at taubah:
ลก 
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Dari ayat-ayat ini kita dapat mengetahui bahwa para sahabat adalah orang-orang yang telah berhasil di didik oleh rasulullah sehingga merekapu diridhai oleh Allah subhanahu wata’ ala. Bagi kita umat setelah masa Rasulullah dan sahabatnya di anjurkan untuk merujuk kepada mereka, mengikuti cara pemahaman mereka agar termasuk orang-orang yang diridhai oleh Allah sesuai ayat 100 surah at taubah tersebut. Dan orang yang mengikuti sunnah Rasul dan sahabat beliau saw juga dikenal dengan nama Ahlus sunnah wal jamaah. inilah penjelasan singkat ketua LPPI IndTim.

Belaiu kemudian mengutarakan keheranannya terhadap sebagian kelompok yang malah selalu menjelek-jelekkan para sahabat Nabi saw, bahkan melaknat para murid langsung dari Rasulullah saw seperti Abu Bakar dan Umar. Mereka inilah syiah. 

Syiah yang berkembang saat ini dan berasal dari Iran ialah Syiah Imamiyah, itsna Ayariah, atau syiah 12 imam atau memakai nama samaran mazhab Ahlul bait. Mereka inilah yang setiap tahunnya memperingati hari kematian Husein radhiyallahu anhu, pada setiap hari asyuro. Setelah menerangkan dengan panjang lebar mengenai perkembangan syiah dan penyimpangannya, maka beliau mulai menjelaskan tentang pandangan MUI yang resmi sesuai hasil fatwanya yang terkumpul dalam buku kumpulan fatwa MUI terbitan MUI pusat di Jakarta. Beliau menjelaskan alasan berupa dalil, ayat al quran, hadis Rasulullah, pertimbangan fiqih dan maslahat mudharat akan bahaya dan perbedaan pokok antara ahlussunnah dan syiah, setelah itu sampailah fatwa MUI kepada kesimpulan agar mewaspadai masuknya pemahaman dan ajaran yang didasarkan atas paham Syiah tersebut. Selain itu terdapat pula fatwa MUI tentang ajaran khusus dari syiah yaitu nikah mut’ah. Fatwa mengenai nikah mut’ah juga melalui berbagai pertimbangan dalil, dan maslahat mudharat, serta indikasi sebagai alat propaganda syiah di Indonesia maka MUI pusat menolak ajaran syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus hingga akhirnya fatwa tersebut sampai pada kesimpulan mengharamkan nikah mut’ah dan merekomendasikan agar pelakunya di bawa kepihak yang berwajib agar diproses secara hukum.

Setelah menjelaskan keputusan MUI tersebut beliau juga mengutip pendangan resmi dua ormas besar yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Bahwa keduanya menolak paham dan ajaran syiah. Pihak muhammadiyah menolak paham syiah dari hasil sidang pleno dan disampaikan melalui majalah tabligh PP Muhammadiyah. Sementara itu, pendiri NU KH. Hasyim Asyari’ dalam bukunya dengan sangat tegas menolak paham dan ajaran syiah. Selain itu, ust. Said melanjutkan, bahwa  MUI jawa timur telah emngeluarkan fatwa sesat terhadap paham dan ajaran syiah. Hal ini terkait dengan kasus pembakaran pesantren syiah di sampang, Madura, Jawa Timur. Berdasarkan peristiwa tersebut, MUI Jatim mengadakan penelitian terhadapa ajaran syiah ini. Hasilnya, 10 kriteria ajaran sesat yang telah dikeluarkan MUI Pusat, seluruhnya telah dilakukan dan disebarkan oleh ajaran syiah. Akhirnya seluruh MUI daerah Jatim bermusyawarah berdasarkan berbagai fakta dilapangan dan penelitian,  menetapkan bahwa paham syiah sesat dan menyesatkan. Beliau kemudian menutup materi tabligh akbar ini dan menghimbau agar mewaspadai penyebaran ajaran syiah ini guna menjaga akidah umat. 

Tabligh akbar kemudian dilanjutkan dengan Tanya jawab dengan peserta. Seorang maju untuk mengajukan pertanyaan.  Dan mengemukakan pendapatnya bahwa forum ini tidak obyektif, karena tidak menghadirkan kubu yang dituduh(syiah) sebagai narasumber pembanding, ia mengutip perkataan prof. Qasim Mathar bahwa jika kita ingin obyektif melihat sesuatu maka kita harus membandingkan kedua hal tersebut, dan tidak berpihak. Dengan nada keras si penanya menutup pertanyaannya. Ia kemudian ingin meninggalkan forum, kemudian ditanya akan kemana oleh panitia, ia lalu menjawab dengan sinis, bahwa ia tidak boleh dilarang, panitia merasa tersinggung dengan jawabannya dan seeolah si penanya hanya ingin ‘melempar pertanyaan untuk mengacau’ bukan untuk memperoleh jawaban. Maka salah seorang jamaah yang naik pitam menghampiri si penanya dan mendorongnya dari depan, sebelum sempat memukul seluruh peserta serentak berdiri, pemateri menghimbau agar tidak ada tindak kekerasan, beruntung seorang panitia dengan sigap melerai keduanya hingga perkelahian tidak terjadi, namun situasi sudah tidak kondusif lagi. Pemateri kemudian menjawab pertanyaan itu, jika seandainya si penanya ingin mengakomodasi pertemuan atau dialaog maka datangkanlah tokoh syiah yang ia maksud, misalnya  Jalaluddin Rakhmat atau penggiat syiah yang lainnya.

Penanya kedua, mengaku sebagai orang yang baru belajar tentang syiah dan sunni, ia kemudian dengan tegas menganggap masalah sunni syiah itu hanyalah masalah furuiyyah saja. Karena menurutnya berdaarkan info yang ia dapat dari berbagai media seperti internet atau youtube, ada pernyataan atau fatwa MUI pusat, dari prof. Umar shihab bahwa sunni syiah itu hanya berbeda dalam amsalah furuiyyah saja, terlebih. Dalam youtube ada pula pernyataan Dr. Yusuf Qardhawi yang  semisal dengan pernyataan Prof. Umar shihab, dan jangan memecah belah umat dengan isu sunni-syiah.

Suasana mulai kembali memanas, para peserta sudah tidak duduk dengan manis lagi mendengar pertanyaan dan jawaban, namun kelompok kelompok yang terjadi sudah dilerai. Pemateri sempat memberikan jawaban bahwa pernyataan umar shihab adalah murni pernyataan pribadi beliau, bukan pernyataan resmi MUI pusat, beliau kemudian menyebutkan bahwa dalam kumpulan fatwa MUI pusat ditegaskan untuk mewaspadai syiah karena ia berbeda dalam hal pokok dengan ahlussunnah, selain itu, mengenai Dr. Yusuf Qardhawi pemateri memperlihatkan buku yang ditulis oleh yusuf Qardhawi dimana didalamnya beliau menulis bahwa jika memang syiah inginberdamai maka, syiah harus mengakui keotentikan al quran, syiah harus menghentikan ritual dan acara yang melaknat para sahabat, syiah tidak boleh menyebarkan ajarannya di kalangan ahlus sunnah demikian pula sebaliknya, kaum ahlussunnah tidak akan mengganggu dan menyebarkan ajarannya dikalangan syiah. Jika hal ini tidak dilakukan, maka persatuan tidak akan mudah terwujud. Hal inilah yang merupakan perbedaan pokok kita dengan syiah, karena peristiwa dari berbagai Negara menunjukkan jika syiah sudah mulai menyebar maka konflik horizontal akan sangat mudah tersulut, seprti di Pakistan dan Irak, juga Suriah saat ini.

Setelah kondusi yang semakin tidak kondusif itu terjadi, maka Tanya jawab dihentikan dan ketua panitia segera mengambil alih acara dan dengan tegas menerangkan bahwa acara ini adalah murni untuk menjaga aqidah umat, jika memang ada yang ingin mengadakan dialog maka panitia siap memfasilitasi. Tabligh akbar ini berakhir tepat pukul 12.31 wita, rombongan LPPI disertai panitia lalu mengadakan kunjungan ke MUI Sidrap.

 bersambung insya Allah



0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More