Ada Apa Dengan Syiah di Pare-pare? (bag. 2-habis)


Laporan Kunjungan ke Sidrap & Pare-Pare 15-16/6/12

Kunjungan ke MUI Sidrap
Rombongan LPPI dan panitia serta tokoh masyarakat setempat mengadakan kunjungan ke secretariat MUI kab Sidrap. Perjalanan hanya sekitar sepuluh menit dari masjid agung Sidrap,. Rombongan LPPI terdiri dari Ust. Said, Ust. Lukman, Muhammad Nur (panitia) dan Sulfandy (staf LPPI). Rombongan tokoh masyarakat terdiri dari Ir. Pelita Umar (Pengurus Muhammadiyah Sidrap, Anggota DPRD sidrap), Syahruddin Laupe (Kepala bag. Adm Negara Sidrap), serta pemimpin pondok pesantren al muslimun ganie. Dalam audiensi, ini dijelaskan tentang upaya-upaya yang sebaiknya dilakukan untuk menjaga aqidah umat, salah satunya ialah usulan kepada MUI Pemda Sidrap agar membuat surat edaran agar ajaran syiah ini dapat di waspadai oleh masyarakat. Usulan ini diterima dengan baik oleh KH. Matta Abdullah yang merupakan ketua MUI Sidrap. Pertemuan yang berlangsung hanya 20 menit ini berlangsung dengan baik, rombongan kembali ke masjid agung untuk melaksanakan shalat dhuhur. Waktu telah menunjukkan pukul 13.03 setelah shalat duhur. Setelah itu, rombongan rehat dan kembali ke tempat menginap, untuk persiapan ke Ponpes Al Iman sore nanti.

Taklim/ Pengajian di ponpes Al Iman Sidrap
Rombongan LPPI dan ust. Lukman berada dalam sebuah mobil menuju ke Ponpes Al Iman. Kami meninggalkan tempat menginap pada pukul 15.15 wita, dan Alhamdulillah tiba dengan selamat pada pukul 15.55, rombongan kemudian shalat ashar berjamaah di masjid Ponpes Al Iman. Acara dimulai oleh protocol, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci al quran. Acara kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan kultum singkat dari 2 orang santriwan dengan berbahasa arab. Setelah itu, protocol mempersilahkan Ust. Said untuk memberikan nasehat kepada para santri.

Beliau membuka ceramah dengan memberikan kabar gembira bahwa kegiatan menuntut ilmu, yang didalamnya dibacakan ayat-ayat allah, rahmat akan meliputi dan malaikat pun akan mengelilinginya, sebagaimana sabda rasulullah yang sering kita dengarkan. Setelah itu beliau mengangkat kisah lukmanul hakim dan semangatnya dalam belajar hingga dijuliki al hakim atau bijaksana meski pekerjaannya adalah seorang penggembala. Lukmanul hakim yang dikenal memiliki cirri fisik serba berkekurangan berjuang keras untuk menjadi anak yang cerdas hasil dari ikhtiar dan doanya maka ia dianugrahi Allah kebijaksanaan dan kepiawaian dalam memberi nasehat. Hingga nasehat lukmanul hakim diabadikan dalam al quran. Satu hal yang penting ialah kemuliaan terkadang harus ditempuh dengan kepahitan terlebih dahulu. Kepahitan dalam menjalani jalan menuju kemuliaan. Dan sikap bersungguh-sungguh itulah yang akan memperoleh ganjaran yang terbaik bula sebaik kesungguhan kita. Sesuai firman Allah

 
dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Setelah menjelaskan hal tersebut beliau kemudian memberikan nasehat seputar tazkiyatun nafs. Beliau mengutip surah asy-syams: 9
  
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
Beliau kemudian menjelaskan, keutamaan bersihnya jiwa sseorang, bahkan Allah swt dalam surah asy-syams bersumpah beberapa kali tentang keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya. Jiwa yang suci itulah yang tidak tercemari oleh penyimpangan-penyimpangan akidah atau keyakinan. Sebagaimana sabda rasulullah yang membuat suatu garis lurus kemudian membuat garis-garis menyimpang disisi kiri dan kanannya, maka rasulullah menjelaskan bahwa ini Setelah itu beliau, juga menjelaskan tingkatan 3 nafsu yang terdapat dalam al quran; nafsu ammara bis su, nafsul lawwamah, dan nafsul muthmainnah. Beliau kemudian menutup taklim sore hari itu dengan member semangat agar tetap menjaga dan terus termotivasi untuk menghafal al quran. Pukul 17. 35 rombongan langsung menuju masjid at taqwa untuk shalat maghrib dan menyampaiakn taklim di sana. 

Taklim Masjid At Taqwa
Rombongan LPPI meluncur ke masjjid at Taqa di kota Rappang, masjid ini merupakan masjid yang dikelola oleh Muhammadiyah rappang. Ust. M. Said Abd. Shamad, Lc yang merupakan ketua LPPI juga merupakan anggota majelis tarjih pimpinan wilayah muhammadiyah sul-sel. 

Rombongan tiba di masjid at taqwa beberapa menit sebelum azan maghrib di kumandangkan, sekitar pukul. 18.00 wita. Rombongan kemudian bersiap untuk shalat maghrib. Setelah shalat maghrib dan jeda beberapa menit berdzikir maka, salah seorang pengurus masjid at taqwa mengumumkan bahwa akan diadakan taklim pada mala mini, yang akan dibawakan oleh anggota majelis tarjih PW Muhammadiyah Sulsel, beliau juga menjelaskan bahwa materi yang akan disampaikan berkisar masalah akidah dan peikiran yang sedang marak berkembang. Setelah itu pengurus masjid mempersilahkan pemateri untuk menyampaikan ceramahnya di atas mimbar.

Ust. Said Abd. Shamad, memulai penyampaian materinya dengan menerangkan tentang kematian dan kuburan serta hal-hal yang terkait dengannya. Satu hal yang digaris bawahi ialah bahwasanya hidup kita didunia ini hanya sekali, kemudian akan data hari pertanggung jawaban dan pembalasan atas segala amal perbuatan kita. Maka, salah satu yang sangat perlu diperhatikan dalam kehidupan ini ialah adanya akidah yang benar seehingga kehidupan dunia dan akhirat yang akan kita jalani akan berakhir dengan baik. 

Setelah itu beliau mulai menyinggung tentang al firqatun najiyah, yang juga terdapat dalam buku himpunan tarjih Muhammadiyah, beliau menerangkan tentang akidah dan kelompok yang selmat didunia dan diakhirat ialah al firqatun najiah atau dikenal dengan ahlus sunnah wal jamaah. Inilah tolak ukur yang juga dipegangi oleh MUI sebagai institusi yang menaungi seluruh ormas dan forum keislaman di Indonesia. Bahkan dalam salah satu fatwa MUI tentang Masail Asasiyah wathaniyah disebutkan bahwa: 

“perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan umat islam merupakan suatu yang wajar, sebagai konsekwensi dari pranata “ijtihad” yang memungkinkan terjadi perbedaan” lalu beliau menyebutkan point ketiga dan ke-empat yaitu: “3. Dimungkinkannya perbedaan pendapat di kalangan umat islam harus tidak diartikan sebagai kebebasan tanpa batas, 4. Perbedaan yang dapat ditoleransi adalah perbedaan yang berada dalam majal al ikhtilaf (wilayah perbedaan). Sedangkan wilayah yang diluar majal al ikhtilaf tidak dikategorikan sebagai perbedaan, melainkan sebagai penyimpangan; seperti munculnya perbedaan terhadap masalah yang sudah jelas pasti” kemudian point terakhir menjelaskan tentang parameter atau pengertian tentang majal al ikhtilaf; “majal al ikhtilaf adalah suatu wilayah pemikiran yang masih berada dalam koridor ma ana alaihi wa ashhabiy, yaitu faham keagamaan ahlus sunnah wal jamaah dalam pengertian yang diperluas.”

Setelah menyebutkan point fatwa MUI pusat tersebut, ust. Said kemudian menjelaskan tentang peristiwa perbedaan pendapat sahabat nabi dalam menafsirkan makna sabda nabi yang melarang shalat sebelum sampai ke bani Quraizhah. Setelah keduanya menemui rasullullah maka beliau membenarkan kedua pendapat sahabatnya, karena didasarkan atas cara ijtihad mereka yang benar.beliau kemudian mulai menyinggung bahwa segal perbedaan yang berada di luar majal al ikhtilaf seperti yang ada pada putusan MUI maka perbedaan tersebut tidak diketegorikan sebagai perbedaan pendapat tetapi penyimpangan. Beliau kemudian mulai mencontohkan beberapa bentuk perbedaan pendapat yang masih dapat diterima dan dapat ditoleransi karena berada pada majal al ikhtilaf. Namun beliau memaparkan adanya perbedaan pendapat atau penyimpangan yang saat ini sedang marak berkembang di masyarakat. Pemikiran ahmadiyah, JIL dan paham Pluralisme agama merupakan contoh-contoh konkret dengan banyak permasalahan yang mereka sampaikan. Namun tak kalah pentingnya ialah pengaruh syiah yang juga sekarang sedak merebak dikalangan masyarakat saat ini, yaitu paham syiah. 

Ust. Said Abd. Shamad, yang juga wakil ketua PD Muhammadiyah Makassar ini kemudian, menjelaskan perbedaan perbedaan poko antara ahlus sunnah dengan syiah serta fatwa MUI mengenai paham syiah dan pengharaman ajaran syiah berupa nikah mutah yang  dinilai sebagai alat propaganda syiah. Penyimpangan tersebut beliau rinci satu persatu mulai dari syahadat yang bertambah menjadi tiga kalimat dengan tambahan “wa asyhadu anna aliyyan waliyyullah”  tidak mewajibkan shalat jumat, menghalalkan nikah mut’ah, waktu shalatnya hanya 3 kali yaitu; subuh, dhuhur dan ashar digabung, maghrib dan isya digabung, padahal mereka tidak dalam keadaan musafir serta sederet penyimpangan yang lainnya. Beliau kemudian juga menyinggung permasalahan pembakaran pesantren syiah di sampang Madura awal tahun ini. Dimana MUI Jatim telah mengeluarkan fatwa kesesatan ajaran syiah; serta menurut hasil peneliltian dan fakta lapangan membuktikan b ahwa sepluh criteria ajaran sesat versi MUI pusat telah dilakukan, dipraktekkan dan disebarkan didalam masyarakat ahlus sunnah.

Setelah menjelaskan dengan mendetail seluruh persoalan diatas maka, beberapa menit sebelum azan isya digunakan untuk Tanya jawab dengan jamaah masjid at taqwa.rombongan kemudian meninggalkan masjid at taqwa setelah shalat isya berjamaah dan dzikir serta berdialog beberapa saat. Setelah rehat dan bersiap untuk menuju pare-pare rombongan LPPI kemudian melakukan dialog ringan dengan pengurus DPD WI Sidrap mengenai masalah keummatan. Maka sekitar pukul 22.20 wita rombongan berangkat menuju pare-pare.

Kegiatan Tabligh Akbar di Pare-pare
Setelah shalat subuh di masjid at Tarbiyah Muhammadiyah Pare-pare. Ust. Said Abd. Shamad yang juga anggota majelis tarjih Muhammadiyah Sulsel, kembali memberikan pengajian seputar menjaga akidah umat dan mewaspadai ajaran syiah. Seusai shalat subuh beberapa pengurus masjid berdialog ringan dengan beliau untuk menentukan langkah taktis untuk mewaspadai paham syiah. Tabligh akbar dengan tema yang sama “ada apa dengan Syiah” dijadwalkan pukul 09.00 pagi di masjid Quba Pare-pare. Setelah kembali ke tampat menginap di pare-pare rombongan kemudian rehat dan bersiap untuk menuju masjid Quba pare-pare. Rombongan tiba pada pukul 09.04 wita. 

Acara dibuka dengan menampilkan video tentang hubungan Amerika Iran, dan yahudi/zionisme  serta video tentang ajaran syiah yang meragukan keotentikan alqur’an. Pada pkl. 09 25 maka protocol telah membuka acara. Acara kemudian diisi dengan sambutan oleh ketua panitia. Setelah sambutan, maka moderator maju bersama pemateri ke tempat yang telah disediakan. Moderator dengan tegas memberikan aturan untuk menjaga kondisi yang terkendali saat materi dilangsungkan serta saat Tanya jawab agar acara berjalan dengan baik. 

Setelah itu moderator mempersilahkan ust. Said Abd. Shamad, Lc untuk memberikan materi tabligh akbar. Man yuridhillahu bihi kahiran yufaqqihu fiddin. Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Dia akan dipahamkan agama. Membuka tabligh akbar yang dimulai pukul 09.34 wita. Beliau kemudian menjelaskan pentingnya pemahaman dan akidah yang baik dalam agama agar memperoleh berbagai kemaslahatan didunia dan di akhirat. Selanjutnya beliau kemudian menceritakan dengan detail kisah nabi Adam as dan Istrinya yang berada di Syurga serta godaan setan yang tidak henti-hentinya menghampiri mereka. hingga akhirnya Adam dan Istrinya terusir dari syurga. Sebelum itu, iblis telah terusir dari syurga karena tidak mau menuruti perintah Allah swt. Maka iblis pun bersumpah akan menyesatkan seluruh anak adam dan iblis berjanji akan sedikit dari bani adam yang bisa bernyukur. Didalam ayat al quran kisah ini terekam dengan baik. 

Iblis yang terusir dari syurga juga telah bersumpah akan menggerakkan seluruh pasukan untuk menghalangi manusia ke jalan Allah, dari depan, dari kanan dari kiri dan dari belakang QS. Al A’raf: 17. Ust. Said kemudian memaparkan penjelasan serangan syetan dari berbagai arah dalam tafsir ibnu katsir. Arah kanan diatikan sebagai serangan berupa syubhat, arah depan berupa keragu-raguan tentang akhirat, arah kiri berupa serangan syahwat. Salah satu arah yang ditempuh setan untuk menyesatkan manusia ialah dengan syubhat (keragu-raguan terhadap agama). Saat ini menurut beliau syubhat sudah semakin marak. Beliau kemudian menjelakan dengan singkat tentang ahmadiyah, pluralism agama dan liberalism agama yang melemparkan begitu banyak syubhat kepada masyarakat hingga tidak sedikit yang tertipu olehnya. Selain itu, syubhat yang tidak kalah hebatnya datang dari kaum syiah. Beliau kemudian mulai merinci beberapa penyimpangan –penyimpangan syiah. Beliau kemudian mulai menjelaskan mengenai fatwa MUI tentang Syiah serta langkah langkah untuk membendung pengaruh Syiah.  

Dialog diakhiri Tanya jawab hangat dengan para peserta hingga menjelang shalat dhuhur. Usai shalat dhuhur rombongan bertolak kembali ke makassar.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More