Kejujuran Intelektual


SEORANG ilmuan boleh saja salah dan keliru. Namun, cacat yang mungkin cukup fatal bagi seorang ilmuan jika ia sengaja berdusta. (Prof. Dr. H. Mohammad Baharun, M.H., Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI Pusat). Banyak kaum muslimin saat ini dikejutkan oleh isi surat Rektor Unpad Bandung no: 9586/UNG. RKT/KU/2012, terkait klarifikasi mengenai Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (JR) tertanggal 23 April 2012.

Dalam surat tersebut  Rektor Universitas Pajajaran Bandung, Prof. Ganjar Kurnia menyampaikan bahwa:
1. Bapak Jalaluddin Rakhmat belum memiliki gelar Guru Besar di Unpad Bandung.
2. Untuk gelar Doktor (Dr), secara administratif pihak Unpad belum menerima ijazahnya.
Surat klarifikasi tersebut ditandatangani langsung Rektor Unpad Bandung, perguruan tinggi tempat JR tercatat sebagai tenaga pengajar tetap pada Fak. Ilmu Komunikasi.

Karena data ini otentik, maka kami berharap agar JR yang malang-melintang di Indonesia, khususnya di Makassar dengan gelar Prof. dan Dr. di UIN Alauddin, Masjid Markaz Islami, atau dalam ragam pertemuan ilmiah lainnya seperti seminar, diskusi, ceramah umum, dan orasi ilmiah bisa menjelaskan di mana gelar itu dicapai dan asalnya.

Kami memandang pasti ada tempat lain di mana JR memperoleh dua gelar tersebut. Oleh karena itu, sungguh elok jika JR bisa memberikan klarifikasi terkait titel Dr dan Guru Besar tersebut.



Direktur Iranian Corner di Unhas yang juga pengurus IJABI sangat memuji JR tentang akhlak dan cinta, “Isu akhlak dan cinta untuk ukuran Indonesia, saya kira ulama dan cendekiawan yang paling intens membicarakan dan membahasnya hanyalah Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat. Dia berhasil meyakinkan kita bahwa akhlak dan cinta adalah sesuatu yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan pribadi, sosial, berbangsa, dan bernegara juga dalam beragama.” (Mazhab Akhlak dan Cinta, Fajar-Kamis, 28/02/2008).

Bahkan mantan Direktur dan Asdir 1 PPs UIN Alauddin yang lalu, saat JR diterima sebagai mahasiswa by research oleh PPs UIN menyebut JR dengan gelar Prof. Dr. di mana-mana, dan dengan nada keras sambil mengkritik orang-orang yang menolak program doktoral JR di UIN Alauddin.

Kami pernah mengingatkan ketua IJABI Sulsel tentang gelar guru besar JR. Namun, tidak digubris dan dalam pamflet serta spanduk IJABI, JR tetap ditulis dengan gelar Prof. Dr. dalam acara Asyuranya. Masyarakat menunggu klarifikasi dari pihak IJABI tentang gelar Prof. Dr. terhadap JR tersebut.

Kami juga harapkan keterangan dari pihak PPs UIN Alauddin Makassar tentang gelar Prof. Dr. JR sebagai bukti dari visi misi UIN menjadi pusat keunggulan akademik dan intelektual yang mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan, serta mengembangkan akhlak mulia, kapasitas potensi dan kepribadian muslim Indonesia yang lebih berperadaban.

Kalau tidak, masyarakat Islam akan berprasangka buruk kepada pejabat tinggi UIN terkait yang telah bertindak dan berbicara secara tidak jujur. Kami tutup surat ini dengan pesan Prof. Dr. Azhar Arsyad, “Bahwa kecemerlangan studi harus dibingkai dengan tatanan etika dan moralitas serta kepribadian yang mulia (akhlaqul karimah), sehingga tidak karena atas nama kecerdasan, intelektual, reformasi, demokratisasi, dan transparansi, kita mengenyampingkan tatanan moral dan etika,” (Pesan Jami’ah Alauddin pada wisuda ke-54, periode Desember 2008). Terakhir, kami ucapkan terima kasih atas dimuatnya surat dari pembaca ini.  

H.M. Said Abd. Shamad, Lc.
Ketua LPPI Makassar & Anggota
Komisi Dakwah MUI Makassar


Tulisan ini dimuat di Harian Fajar Makassar, hal 5, Rabu, 9 Mei 2012 (http://www.fajar.co.id/read-20120508232218-kejujuran-intelektual)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More