Irshad Manji dan Kebebasan Akademik



Sekelompok massa masuk ke ruang diskusi kemudian meminta acara dibubarkan. Mereka terus masuk sambil menendang piring, gelas, melempari kaca jendela perpustakaan yang ada di ujung pendapa. Beberapa peserta dipukuli, salah satunya adalah Emily Rees, warga negara Perancis, teman Irshad Manji, tangan kanannya terkena pukulan dengan tongkat besi saat ia berusaha mengabadikan peristiwa yang ‘anarkis’ itu dengan handycam, bahkan alat perekam digital tersebut sempat dibanting dua kali di lantai oleh salah seorang massa. Sekitar tujuh orang peserta diskusi membuat lingkaran untuk melindungi dan menyelamatkan Irshad Manji dari serbuan massa. Polisi baru datang kemudian dengan mobil setelah para penyerang meninggalkan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS). Mereka membawa korban yang terluka ke rumah sakit Angkatan Udara Harjo Lukito. Ada tujuh orang yang terluka (5 perempuan dan 2 laki-laki). Dua orang di antaranya harus dijahit karena mengalami luka sobek di bagian kepala dan  bagian pelipis mata. Peristiwa di atas berlangsung saat diskusi buku Allah, Liberty, and Love karya Irshad Manji di (LKiS) Jalan Sorowajan baru, Banguntapan, Bantul, pada hari Rabu 9/5/2012 lalu.

Namum penolakan di atas terhadap acara Irsyad Manji bukanlah yang pertama karena empat hari sebelumnya peristiwa serupa juga hampir terjadi. Tapi karena polisi bertindak cekatan dengan membubarkan acara sebelum massa datang bertindak. Bahkan Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Imam Sugianto menegaskan tindakan aparat yang membubarkan acara peluncuran buku Allah, Liberty and Love karya Irshad Manji di Galery Salihara no 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dinyatakan tak menyalahi aturan. Namun karena alasan keamanan sehingga acara dibatalakan oleh pihak kepolisian. “Saat acara dimulai, warga dan ormas seperti FBR, Forkabi, FPI Jakarta Selatan datang ke tempat itu, kurang lebih sebanyak 100 orang, berencana menghentikan bahkan menyerang,” ujar Imam. Kemudian penulis buku dievakuasi dari lokasi untuk keselamatan. Saat itu di antara peserta diskusi adalah pendiri Tempo Goenawan Mohamad dan Ketua Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat sekaligus petinggi Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdala, juga terpaksa dievakuasi.


Lain halnya dengan kedua tempat di atas, dunia kampus juga menolak acara diskusi Irshad Manji, yang bertema “Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral", di Kampus Universitas Gajah Mada (UGM),  dibatalkan oleh pimpinan Universitas.  Dalam akun twiternya, Irshad Manji menyebut, Rektor UGM-lah membatalkan diskusi yang akan diselenggarakan di Center  for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) –pasca sarjana UGM tersebut. 

Satu-satunya acara Irshad di Indonesia yang lolos dari pembatalan dan penolakan adalah yang berlangsung di sebuah hotel di Solo. Acara ini sukses karena tidak ada pemberitahuan secara terbuka oleh pihak panitia. 

Bukan saja di Indonesia penolakan demi penolakan terhadap acara Irshad terjadi, tapi di Malaysia pun juga demikian sebagaimana yang terjadi di kampus Universitas Islam Internasional Malaysia (IIUM), Penolakan tersebut langsung dari Rektor IIUM sendiri Prof Dato 'Seri Dr Zaleha Kamaruddin beberapa hari sebelum acara digelar yang rencananya berlangsung di lantai 2, Mini Auditorium, kampus IIUM Selangor Malaysia pada 14 Mei lalu.

Lalu, Siapakah Irshad Manji? Mengapa ia begitu dibenci? Dia dikenal sebagai tokoh feminis Islam asal Kanada. Ia pernah disebut koran The New York Times sebagai "mimpi terburuk Osama bin Laden." Wanita kelahiran Uganda dengan campuran India Mesir ini menuai kontroversi lantaran pemikirannya soal interpretasi baru Islam yang dia sebut "Islam Reformasi." Ia juga dikenal menghormati kaum homoseksual dan mendukung pernikahan sesama jenis, bahkan ia sendiri mengaku sebagai penikmat persetubuhan sesama jenis alias lesbian. Majalah Ms. menobatkan dia sebagai “Feminis Abad ke-21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”. Dalam bukunya (edisi Indonesia), Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini, dicantumkan pujian pada sampul depan,”Satu dari Tiga Muslimah Dunia yang Menciptakan Perubahan Positif dalam Islam.” Bahkan aktivis liberal Nong Darol Mahmada pernah menulis artikel di Jurnal Perempuan (edisi khusus Lesbian, 2008) berjudul, Irshad Manji, Muslimah Lesbian yang Gigih Menyerukan Ijtihad. Katanya, ”Manji sangat layak menjadi inspirasi kalangan Islam khususnya perempuan di Indonesia!”

Kedatangan Irshad ke Indonesia yang berkedok bedah buku hanyalah salah satu dari sekian rangkaian kegiatan yang rencananya akan diselenggarakan, namun inti utamanya adalah ia datang untuk membebaskan para wanita dan laki-laki yang selama ini merasa keinginan seksual sesama jenisnya dibungkam oleh undang-undang dan norma-norma agama serta adat. Pendek kata wanita yang juga dijuluki sebagai Intelektual Islam ini adalah sangat mendambakan agar pernikahan sesama jenis sebagaimana di Barat juga berlaku di Indonesia. Alasan utamanya adalah hak asasi dan “kebebasan akademik”. Untuk itulah aktivis lesbian yang juga seorang muslimah ini berusaha agar bisa memasarkan idenya di kampus-kampus, termasuk UGM Jogjakarta dan IIUM Selangor Malaysia.

Bicara soal kebebasan dalam bidang apa pun, tentu kita sepakat, bahwa  di setiap kampus, dan di komunitas atau lembaga mana pun, pasti diterapkan “ kebebasan” secara terbatas.  Kebebasan selalu dibatasi dengan hukum  formal atau norma-norma tertentu yang hidup di tengah masyarakat, yang biasanya tidak tertulis.  Meskipun tidak tertulis, seorang mahasiswa biasanya tidak berani memanggil dosennya dengan nama si dosen saja. Padahal, tidak ada larangan untuk itu.

Soal “kebebasan akademik”  di dalam kampus, sudah diatur dalam pasal 22,  UU Sisdiknas, UU No. 20/2003: “Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan  ilmu pengetahuan pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara otonomi keilmuan.” Jadi, kebebasan akademik dan kebebasan mimbar, seharusnya berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks inilah kita bisa menilai, apakah tepat  mengundang seorang Irshad Manji ke lembaga pendidikan seperti Perguruan Tinggi (Islam).  Tentu akan  muncul berbagai pendapat, yang bisa jadi saling berlawanan, tergantung ‘pandangan alam’ (worldview) si pengamat masalah.

Hemat penulis homoseksual dan lesbian adalah kelainan seksual dan penyakit yang harus diobati. Pakar kedokteran jiwa, Prof. Dr. Dr. Dadang Hawari, dalam bukunya, Pendekatan Psikoreligi pada Homoseksual, mengatakan bahwa kasus homoseksual tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan melalui proses perkembangan psikoseksual seseorang, terutama faktor pendidikan keluarga di rumah dan pergaulan sosial. Homoseksual dapat dicegah dan diubah orientasi seksualnya, sehingga seorang yang semula homoseksual dapat hidup wajar, dan bagi mereka yang merasa dirinya homoseksual atau lesbian dapat berkonsultasi kepada psikiater yang berorientasi religi, agar dapat dicarikan jalan keluarnya sehingga dapat menjalani hidup ini dan menikah dengan normal.

Namun, jika ide-ide “nyeleneh” Irshad Manji sang lesbi tetap membumi maka lambat laun anak cucu Adam akan punah atau azab Allah datang menerpa tanpa pandang bulu. Wallahu A’lam!

(Ilham Kadir, Mahasiswa Pascasarjana UMI Makassar & Peneliti LPPI Indonesia Timur)






0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More